Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
247. Artis Pengganti


__ADS_3

Berita pembunuhan Renita Martin beredar luas ke seluruh penjuru kota. Stasiun-stasiun televisi berlomba memberitakan kejadian mengerikan yang terjadi dini hari tadi. Mereka menyebut bahwa seorang psikopat gila menghabisi seorang aktris horor di kediamannya. Tak terkecuali Gilda, ia sudah melakukan siaran langsung di sekitar lokasi kejadian, walau info yang didapat tidak sepenuhnya lengkap. Yang jelas, ia harus tampil di depan publik pagi ini.


"Pemirsa, kota kita tercinta ini kembali diguncang peristiwa pembunuhan seorang aktris yang sudah tak asing lagi, yaitu Renita Martin. Setelah pekan lalu kita dikejutkan oleh pembunuhan Anita Wijaya dan Daniel Prawira, kembali pembunuhan ketiga terjadi. Sampai saat ini polisi masih mengusut siapa yang beratanggungjawab atas peristiwa ini, serta motif apa dibaliknya. Sampai berita ini dilaporkan, belum ada keterangan resmi dari kepolisian. Rumah Rnita masih ditutup dan tidak diperkenankan siapa pun untuk memasukinya. Selain terbunuhnya Renita, sampai saat ini pula keberadaan adik korban juga belum diketahui nasibnya. Serang polisi wanita yangs edang menyelidiki kasus ini juga dilaporkan menghilang. Kami akan terus menyampaikan perkembangan terakhir kasus ini.


Gilda Anwar, melaporkan langsung dari tempat kejadian!"


Klik!


Laura mematikan siaran televisi itu. Ia menoleh ke arah Henry yang sedang minum kopi di sampingnya. Parasnya mendadak cemas, melihat Henry yang tengah bersantai, seolah tak ada kejadian apa-apa.


"Renita mati ..." ucap Laura sambil menatap tajam ke arah Henry.


"Ya, ini mengerikan sekali. Tapi nggak ada hubungannya denganku kan? Tadi malam aku memang tak ada di rumah, tapi bukan berart aku membunuh Renita. Lagian aku nggak ada urusan dengan dia," ucap Henry dengan tetap santai, menyeruput cangkir kopinya..


"Aku bertemu dengannya," ucap Laura kemudian.


"Kamu ketemu Renita? Ngapain kamu ketemu dia?" tanya Henry.


"Siang sebelum Renita dibunuh, aku sempat bertatap muka dengannya di resto langganan Renita. Ia bercerita tentang ketidaksukaannya pada Rianti, istrimu Bang," kata Laura.


"Bukannya mereka berteman cukup akrab?" tanya Henry.


"Kupikir awalnya juga begitu, Bang. Kupikir mereka juga cukup akrab, ternyata Renita menjelek-jelekkan Rianti di depanku. Aku bingung, siapa yang salah dan benar, jadi aku enggan menanggapi. Aku sempat marah kepada Renita, dan tahu-tahu kini ia telah mati .... "


"Hmm, bukan kamu kan pembunuhnya?" tanya Henry penuh selidik.


Laura menggeleng cepat seraya membela diri," Tentu bukan! Aku tadi malam tidur cepat karena kepala pusing. Sama sekali nggak tahu kalau ada peristiwa buruk ini. Ya aku memang kesal dengan Renita, tapi aku sama sekali nggak ada pikiran untuk bunuh dia!"


"Oke ... oke. Lupakan saja masalah itu. Aku kesini pagi-pagi hanya untuk menghindari Rianti, jadi aku nggak mau mood-ku rusak gara-gara berita pembunuhan ini. Ah ... entahlah, mungkin aku akan segera menceraikannya, agar kita bisa segera bersama," ucap Henry sambil mengerling ke arah Laura.


"Maaf Bang, aku nggak mau jadi biang keretakan rumah tangga kalian. Setiap aku keluar rumah, banyak wartawan gosip mengerubuti dan menanyakan seputar kedekatanku dengan Abang. aku harus jawab apa? Mobil abang parkir di depan rumah saja sudah menjadi sorotan wartawan. Aku bukan pelakor, Bang! Aku nggak mau!" tegas Laura.


"Ah, sudahlah! Kamu jangan dengerin media dan nggak usah pedulikan media. Mereka itu hanya cari sensasi dan bahan berita, jadi kadang nulis berita nggak benar. Kamu nyantai saja. Nggak usah ambil pusing!"


"Nggak ambil pusing gimana sih, Bang? Itu sangat menggangguku. Keluargaku juga telepon tentang kebenaran berita itu. Masyarakat sudah terbentuk opini bahwa aku merebut Abang dari Rianti. Aku jengah mendengar itu. Masalahnya ini berkaitan dengan kerjaan juga. Bisa-bisa kontrakku diputus gara-gara aku dibenci masayarakat, seolah-olah aku ini perebut laki orang!" ucap Laura dengan kesal.


"Kamu tenang saja lah Laura! Aku juga pusing. Kamu pikir kamu saja yang pusing? Jadwal kerjaku berantakan gara-gara Ollan menghilang. Bahkan beberapa kegiatan harus di-cancel. Ini sangat merugikanku. Aku berusaha cari Ollan, karena dengar-dengar ia sedang disembunyikan polisi. aku akan cari keberadaannya!" ucap Henry.


"Sebenarnya fiarasatku agak tak enak, Bang! Setelah aku runut kejadian dari kematian Pak Daniel, kemudian pembunuhan terus berlanjut kepada Anita, Ollan, walau gagal, dan kemudian sekarang Renita jadi korban. Aku khawatir kita semua akan mendapat jatah kematian berikutnya. Pelaku pembunuhan itu, aku yakin adalah salah seorang dari 10 orang yang berada di studio film, saat Pak Daniel tewas. Bagaimana menurutmu?" tanya Laura.


"Mungkin juga sih ... mungkin. Bisa jadi pembunuh itu memang salah satu dari orang-orang itu, tetapi apa motifnya? Mengapa seolah kematian kita ini begitu penting?" tanya Henry.

__ADS_1


"Entahlah. Kondisi seperti ini membuatku tak percaya dengan siapa pun, termasuk dengan Bang Henry!"


"Kau pikir aku pembunuh mereka semua?" tanya Henry.


"Mungkin saja, kan bisa saja. Mungkin Bang Henry punya masalah pribadi dengan Pak Daniel, itu bisa jadi motif. Atau mungkin kedekatan Anita dengan Pak Daniel juga bisa jadi motif. Kemarahan Abang dengan Ollan juga bisa jadi motif, nah ... sekarang Renita. Mungkin ada alasan tersendiri, sehingga Renita dibunuh," terang Laura.


"Astaga! Pola pikirmu sekarang sudah mirip polisi ya, Laura!"


Laura tak menjawab. Sebenarnya ia merasa kurang nyaman kalau Henry sering-sering mampir ke rumahnya, apalagi kalau keberadaan Henry diketahui pihak lain. Namun, ia tak bisa mengusir Henry.


"Abang pulang saja ya. Kondisi lagi kurang baik. Apalagi ada peristiwa pembunuhan . Hal ini membuatku sedikit nggak nyaman," ucap Laura pada Henry.


"Oke ... oke. Aku akan pergi dari rumahmu, tapi nggak akan pulang. Lebih baik aku sementara tinggal di villa. Sepertinya aku harus menghindari ini semua. Nanti kalau situasi reda, aku akan kembali ke kota lagi," kata Henry.


"Jangan! Jangan kesana Bang!"


"Kenapa memangnya?"


"Ollan hampir mati di villa itu. Masa Abang mau juga kesana? Gimana kalau si pembunuh itu tahu dan menyusul ke sana? Villa itu terpencil dan sepi. tentu mudah sekali jika ada orang yang hendak berniat jahat. Mending Abang sewa penginapan aja sementara," saran Laura.


"Itu villa-ku, Laura. Aku sering tinggal di sana dan semuanya aman. Lagian aku kan beda dengan Ollan. Pasti bisa lah aku tangani semuanya!"


Laura tak berkata apa-apa lagi. Henry terlihat sangat santai dengan berita-berita pembunuhan ini. Bahkan ia seolah tak terpengaruh. Laura menatap Henry, karena ia sedikit takut dengannya. Sementara, Henry juga berpikir bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Laura.


***


"Tok ... tok ... tok!"


Terdengar suara pintu kamar diketuk. Ia yakin yang datang adalah Riky, karena ia sudah membuat janji untuk bertemu di pagi hari. Walaupun begitu, ia tetap waspada, khawatir orang lain yang datang mengunjungi. Ia melangkah ke arah pintu hotel. sembari mengintip dari lubang pintu. Ya, yang datang memang Riky.


"Masuk!"


Faishal segera memerintahkan Riky untuk masuk, sebelum keberadaannya diketahui orang lain. Riky datang emmbawa kantung palstik berwarna hitam. ia gaka takut masuk ke dalam kamar hotel itu. Ia tak mendapati Melani ada di sana.


"Maaf Bang, aku sedikit terlambat. Abang dengar berita pagi ini? Renita Martin tewas dibunuh. Ini sedikit mengagetkanku. satu-persatu teman kita tewas," kata Riky takut-takut.


"Teman? Sejak kapan Renita Martin jadi temanku? Persetan dengan Renita Martin! Aku tak bersimpati dengan artis sombong seperti dia. Jadi berita kematian dia sama sekali nggak mempengaruhiku," kata Faishal.


Riky manggut-manggut. Ia duduk di tepi ranjang, kemudian meletakkan bungkusan itu di dekat bantal. Ia sangat paham dengan watak Faishal yang sombong dan angkuh. Hal itu pun diakui oleh para fans-nya. Biarpun begitu, Faishal memiliki banyak penngemar dari kalangan perempuan.


"Apa jumlahnya sudah pas?" tanya Faishal.

__ADS_1


"Abang bisa hitung nanti," jawab Riky.


Ia melihat paras Faishal yang tampak serius. Pria itu mengambil bungkusan yang diletakkan di dekat bantal, seraya menatap tajam ke arah Riky. ia khawatir kalau-kalau Riky mempermainkannya. Ia dapati Riky yang terlihat canggung dan tak nyaman. Sekilas ia melihat ada bercak kehitaman di baju Riky. Ini membuat Faishal sedikit heran.


"Apakah yang di bajumu itu bercak darah?" tanya Faishal dengan curiga.


"Bu-bukan, Bang! Ini ... ini noda bekas kecap. Aku tadi sarapan mi dan tak sengaja kecapnya terpercik di bajuku," ucap Riky sambil menutupi bajunya segera.


Faishal mengernyitkan kening, tetapi kemudian mengangguk. Ia membuka isi bungkisan itu, ternyata iainya adalah lembaran-lembaran uang yang diikat karet. Faishal tersenyum sedikit.


"Lima puluh juta kan? Tidak lebih tidak kurang!" ucap Faishal.


Riky mengangguk. Ia tak berkata apa-apa, yang jelas ia merasa gelisah dan ingin segera meninggalkan kamar hotel itu. Ia menatap tajam ke arah Faishal. Muncul kebencian dalam hatinya, yang tak bisa ia sembunyikan. Bagaimanapun, ia masih berusaha menutupi perasaannya.


***


Widya kembali gelisah. Berita mengenai kematian Renita Martin sontak menghebohkan studio film yang mengguakan Renita sebagai bintang utama. Pagi-pagi, sutradara baru itu sudah terlihat kelabakan, mengingat syuting sudah berjalan separuh jalan. Hal ini juga mengakibatka kru lain ikut gelisah, karena ini juga menyangkut  pekerjaan mereka. Jika proyek film terhenti, maka lahan kerjaan mereka juga ikut terhenti. Hal ini lah yang meresahkan Widya.


Kematian Renita yang cukup sadis, terus terang sangat mengganggu Widya. Apalagi ia menemukan sebuah borgol di ruang kerja Guntur. Selama ini mengenal Guntur sebagai sosok pendiam dan tak banyak omong. Guntur adalah sosok yang teramat misterius bagi Widya.


"Kamu kenapa, Wid? Kok kelihatan gugup?" tanya Guntur dari dalam ruang kerjanya.


"Aku ... aku sedikit bingung, Gun! Kematian Renita membuatku terpukul," kata Widya.


"Hmm, tenang saja, palingan pak sutradara juga tidak akan mengehentikan produksi film ini begitu saja. Renita boleh mati, tetapi film akan jalan terus. Itulah kunci sukses dunia hiburan. Jadi kamu jangan khawatir," kata Guntur.


"Memangnya film bisa terus lanjut tanpa Renita?" tanya Widya.


"Widya, kok kamu lugu banget sih. Semua di dunia ini akan jadi lebih gampang kalau ada uang. Jangankan Renita yang mati, Pak Daniel mati saja semua beres. Hanya saja, memang film itu tak ada niat untuk dilanjutkan. Jadi semua udah beres kok," kata Guntur.


"Beres gimana, Gun?" tanya Widya penasaran.


"Aku tadi pagi sudah dengar  kasak-kusuk dari sutradara kalau peran Renita akan digantikan dengan artis lain, jadi kamu nggak usah risau. Renita bukan satu-satunya artis yang bisa berakting horor dengan baik. Banyak kok bakat-bakat lain yang kita enggak tahu. Jadi kamu nggak usah sok sedih gitu. Kemarin kamu tau nggak! Si Renita berulah pas syuting, merajuk minta syuting dihentikan. Nah, daripada bikin repot dan rugi kan mending dia nggak usah dipake sekalian. eh, pagi ini dengar berita kalau dia mati. Yah, itu sih kebetulan banget," papar Guntur.


"Jadi siapa yang bakalan gantikan Renita, Gun?" tanya Widya.


"Artis kesayangan yang lagi naik daun gara-gara gosip .... "


"Siapa?"


"Laura Carmellita!"

__ADS_1


***


__ADS_2