Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
174. Secarik Kertas


__ADS_3

Udara dingin di perkebunan terasa menusuk kulit. Walau sudah memakai jaket, Dimas masih bisa merasakan tubuhnya membeku. Ia sedang duduk di teras depan, ketika dini hari mulai menyapa. Ia gelisah menunggu Pak Paiman yang tak kunjung tiba. Sebenarnya matanya pun mulai meredup, tetapi ia tak boleh abai dengan tanggung jawab yang dibebankan di pundaknya. Ia harus memastikan bahwa kondisi rumah isolasi tetap aman.


Suasana juga terasa sangat sepi. Dimas mengambil sebatang rokok yang biasa ia simpan di saku celana. Sebenarnya, ia bukan perokok, tetapi rasa sepi seperti ini memicu hasrat untuk menghisap rokok. Tak lama, asap mengepul dari mulutnya. Ia menikmatinya, sembari menatap berkeliling. Malam ini terasa sepi dan mencekam. Rasanya tak sabar menunggu kedatangan Pak Paiman.


“Maaf, Pak! Saya sedikit terlambat!”


Tiba-tiba Pak Paiman datang dari arah samping rumah dengan sedikit tergopoh. Ia memakai jaket kulit imitasi warna hitam yang terlihat kusam, dan penutup kepala. Ia juga berbekal sebuah senter besar di tangan.


“Nggak apa-apa, Pak. Saya suka duduk di sini menikmati udara malam,”ucap Dimas.


“Pak Dimas bisa istirahat, biar saya gantikan untuk berjaga sampai pagi hari.”


Pak Paiman mempersilakan polisi itu untuk beristirahat di kamar, mengingat Dimas belum beristirahat sejak tadi.


“Bapak nggak apa-apa saya tinggal sendiri?” tanya Dimas.


“Nggak apa-apa kok, Pak. Sudah biasa,” ucap Pak Paiman.


Dimas mengangguk-angguk. Terpaksa ia matikan rokok yang tinggal separuh di tangannya. Ia melangkah menuju ke dalam rumah untuk pergi ke kamar. Ia memang sangat lelah, mungkin rebahan sebentar bisa sedikit meregangkan otot yang kelelahan.


Kamar Dimas berada di lantai satu, bersama kamar para penghuni pria yang lain. Sedangkan kamar para gadis sengaja ditempatkan di lantai dua agar lebih aman. Ketika ia hendak masuk, ia terkejut karena kamarnya terbuka sedikit. Ia berusaha untuk berpikiran positif, mungkin tadi Bu Mariyati sedang membersihkan kamar, lupa untuk menutup pintu dengan rapat.


Lagipula, Dimas merasa tak ada barang berharga di kamarnya, karena setiap hari ia bergantian dengan Reno, jadi tak perlu berbekal baju atau dokumen penting lainnya. Ia hanya menumpang tidur di rumah isolasi ini, jadi ia berpikir semua akan aman saja.


Dimas ingin segera tidur malam itu, agar bisa bangun pagi dalam keadaan segar. Namun, tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang diletakkan di atas meja. Kertas kecil, seperti sebuah sobekan dari sebuah buku tulis bergaris. Dimas merasa heran. Segera ia ambil secarik kertas itu, kemudian ia baca dengan saksama tulisan yang tertera di atas kertas.

__ADS_1


Kadang hidup dan mati seperti dua sisi mata uang. Saling berdekatan. Kadang kita merasa akan hidup selamanya, tetapi siapa sangka kalau esok hari ajal menjemput? Beberapa orang yang hidup memang pantas mati. Tergantung sebesar kesalahan yang pernah ia lakukan. Jadi siapa yang akan mati setelah ini? Albert Einstein atau Marilyn Monroe?


“Astaga!”


Dimas sangat terkejut melihat tulisan yang sengaja diletakkan di atas meja kecil dekat tempat tidurnya. Jadi memang benar, ada seseorang yang menyelinap masuk kamarnya, kemudian meletakkan tulisan itu di atas meja agar mudah terlihat. Tapi apa maksudnya?


Tulisan tangan itu terlihat rapi, seperti tulisan perempuan. Namun, Dimas tak berani menyimpulkan, karena ada beberapa tulisan pria yang lebih rapi daripada tulisan perempuan. Lalu apa maksud dari tulisan ini? Apakah pembunuh itu sedang memberi petunjuk, siapa yang akan mati berikutnya?


Dimas merasa ini seperti teka-teki. Siapa yang dimaksud dengan Albert Einstein? Dan siapa pula Marilyn Monroe? Bukankah dua orang terkenal itu sudah lama mati? Apakah pembunuh itu sengaja memberi petunjuk bahwa yang mati berikutnya adalah ....


Dimas tidak mau berspekulasi lebih jauh. Ia mencoba menganalisis tulisan rapi itu. Tulisan itu ditulis dengan cermat, tanpa ada kesan terburu-buru. Ia tidak pandai membaca psikologi seseorang berdasar tulisan tangannya. Mungkin dia harus mencari tahu, dengan membaca sampel tulisan tangan dari masing-masing penghuni rumah.


Kembali pikirannya melayang pada Albert Einstein dan Marilyn Monroe. Bukan tak ada maksud penulis ini menyebut dua nama orang terkenal itu. Pasti ada maksud tersembunyi yang dibelakangnya. Albert Einstein adalah seorang pria, dan Marilyn Monroe adalah seorang wanita. Apakah yang diincar berikutnya adalah seorang pria atau wanita?


Dimas kemudian mengidentifikasi bahwa Albert Einstein dikenal sebagaia tokoh yang cerdas. Apakah yang diincar berikutnya adalah seorang pria yang cerdas? Sedangkan Marilyn Monroe dikenal sebagai seorang wanita yang menarik dan sedikit nakal. Jadi apa maksud semua ini? Dimas tak bisa berpikir lebih jauh. Ditambah, matanya mulai meredup. Efek minuman isotonik yang ia minum tadi telah menghilang efeknya. Ia berpikir, bahwa ia akan melanjutkan memikirkan hal ini esok hari. Otaknya sudah terlalu lelah dijejali banyak masalah hari ini.


***


Pak Paiman bukanlah seorang yang pandai membela diri. Untuk itu, ia memperlengkapi dirinya dengan sesuatu untuk bertahan hidup apabila ada kejadian tak terduga yang terjadi. Malam ini ia memilih untuk berpatroli daripada tinggal di dalam rumah. Sejak tadi, istrinya mengeluh soal kucing yang hilang. Pak Paiman merasa agak terganggu dengan keluhan-keluhan itu. Bukannya ia tidak sayang dengan kucing itu, tetapi ia berpikir lebih realistis. Kalaupun terjadi apa-apa dengan kucing itu, Pak Paiman merasa semua itu wajar saja. Ia tidak terlalu merasa terganggu.


Pak Paiman memulai berpatroli dari halaman depan, menuju samping rumah yang banyak ditanami tanaman hias, kemudian beranjak ke halaman belakang. Dari seluruh bagian rumah, halaman belakang adalah tempat yang paling menyeramkan. Selain karena masih banyak tanaman dan semak, lampu di halaman belakang tak terlalu memadai sehingga kesan angker sangat jelas terasa.


Pak Paiman menyorotkan senter ke segala arah, menyinari setiap sudut halaman. Beberapa tikus sebesar kucing berlarian adalah pemandangan biasa yang sering terlihat. Pak Paiman tak begitu peduli dengan hal itu. Tiba-tiba matanya menangkap seseorang di dekat kamar mandi. Sosok itu kelihatan sedikit gelisah. Buru-buru Pak Paiman menghampiri.


“Siapa di situ?” tanya Pak Paiman sambil menyorotkan cahaya senter ke arah muka sosok yang berdiri di depan kamar mandi.

__ADS_1


“Saya, Pak!”


Sosok itu menutupi muka dengan kedua tangan. Ia terlihat mengenakan baju hangat warna marun dan berkacamata. Pak Paiman mengenali bahwa sosok itu adalah salah seorang penghuni rumah yang sedang diisolasi.


“ Mas Alex?” tanya Pak Paiman lagi, setelah mengetahui siapa yang sedang berada di sana.


“ Iya Pak. Ini saya. Saya nggak bisa tidur dari tadi. Entahlah, saya merasa kurang tidur di tempat ini. Selalu terbangun menjelang dini hari. Ini saya hendak ke kamar mandi,” ucap Alex.


“Kalau perlu apa-apa bilang ya Mas?” tawar Pak Paiman .


“Iya, Pak. Jangan khawatirkan saya. Lebih baik Bapak kembali berpatroli saja. Maaf ya Pak!”


Alex kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Pak Paiman tak mau berprasangka apapun. Ia hendak melanjutkan patroli ke dalam rumah. Ia sadar, bahwa mungkin ada seseorang di dalam rumah yang ebbas berkeliaran tanpa sepengetahuannya. Semenjak sistem CCTV dirusak, ia harus lebih waspada dan meningkatkan keamanan.


Bagian pertama yang ia periksa adalah dapur. Konon, dapur ini adalah bagian yang disebut-sebut paling angker, karena beberapa penghuni merasa dikejutkan oleh beberapa hal aneh. Sebenarnya, Pak Paiman sudah paham akan hal itu, tetapi ia tidak mau menanggapi lebih jauh. Ia merasa hal-hal aneh yang terjadi adalah sesuatu yang wajar. Ia sendiri banyak mengalami hal aneh di rumah tua ini, tetapi ia tidak mau ambil pusing. Selama mereka tidak mengganggu, Pak Paiman tidak merasa terganggu.


Selepas dari dapur, Pak Paiman menyusuri lorong yang memisahkan dapur dengan ruang makan. Justru menurut Pak Paiman, ruang makan adalah tempat yang lebih menyeramkan. Ruang makan terlihat lebih luas, dengan lampu gantung dan peralatan makan antik yang dipajang rapi di lemari kaca. Penah suatu kali ia mendengar suara alat-alat makan itu berdenting seperti dipakai untuk makan, tetapi setelah dicek, tak ada seorang pun di sana.


Setelah selesai dari ruang makan, Pak Paiman memeriksa setiap ruangan di lantai satu. Semua kamar dalam keadaan tertutup dan terkunci. Pak Paiman menduga semua penghuni di dalam kamar itu tengah terlelap. Ia berharap agar tak terjadi hal buruk malam ini, sampai menjelang pagi. Kegelapan adalah sesuatu yang sempurna dalam melakukan aksi kejahatan. Ia tidak mau itu terjadi malam ini.


Setelah semua dipastikan aman, ia memeriksa lantai dua. Di lantai ini adalah kamar para gadis. Ia mengarahkan senter ke sekeliling bagian rumah di lantai dua. Kemudian ia beranjak ke balkon. Semua tampak sepi dan senyap, tak ada yang mencurigakan. Suara burung hantu jelas terdengar dari atas balkon. Bahkan suara kepakan sayapnya pun juga jelas terdengar.


Pak Paiman memastikan bahwa semua aman dan tidak ada yang aneh. Ia hendak turun kembali ke lantai satu, tetapi ia sayup-sayup terdengar suara yang mencurigakan dari ruang keamanan. Ruangan itu adalah ruang CCTV yang tak dipakai lagi. Ia menduga, apakah Dimas yang sedang berada di sana di jam dini hari begini?


Pak Paiman merasa penasaran. Ia mendekati ruangan itu perlahan, agar bisa menyergap kalau-kalau memang ada penyusup di sana. Saat ia mendekati ruangan itu, mendadak suara-suara aneh itu terhenti. Pak Paiman juga mengehentikan langkahnya. Sejujurnya, ia merasa sangat tegang. Ia pernah menghadapi makhluk halus, tetapi kalau menghadapi seorang psikopat, tentu saja itu adalah hal lain. Ia beranikan dirinya untuk kembali mengendap.

__ADS_1


Tiba-tiba, sesosok bayangan hitam mendorongnya ke samping hingga terjatuh. Entah dari mana sosok itu datang, atau mungkin dia sudah menunggu kedatangan Pak Paiman. Senter di tangan Pak Paiman terjatuh. Sosok itu bergerak cepat. Kegelapan membuat ia tak dapat dikenali!


***


__ADS_2