
Jeremy terhenyak melihat pemandangan tak wajar di depannya. Isi perutnya mendadak terasa diaduk, seperti hendak keluar. Setelah semak tersibak, ia melihat tiga ekor bangkai anjing yang kondisinya sudah sangat rusak. Masing-masing bangkai itu sudah membusuk, dengan isi perut terburai dan berbelatung. Ribuan lalat berdengung-dengung mengerubuti bangkai anjing-anjing itu
"Hueek!".
Jeremy segera menutupi hidung, dan pandangan matanya mendadak berkunang-kunang. Sesaat Jeremy teringat cerita bahwa di sekitar kebun teh dan hutan itu memang dihuni oleh anjing-anjing liar. Bahkan konon anjing-anjing ini yang pernah memangsa jasad Karina Ivanova, salah seorang penulis yang terbunuh di kebun teh. Biasanya anjing itu melolong di malam hari. Namun, selama beberapa hari ini tak terdengar lolongan anjing saat malam hari. Jeremy merasa begidik. ia terjajar beberapa langkah ke belakang.
"Anjii*iingg!"
Tidak jelas lagi, apakah dia mengumpat atau menyebut nama bangkai binatang itu, yang jelas ia merasa sangat terganggu. Binatang-binatang itu mati dalam keadaan tak wajar, bukan mati karena diserang binatang lain atau sakit. Jeremy melihat ketiga anjing itu perutnya terbuka, seperti sengaja dirobek oleh benda tajam. Siapa orang gila yang melakukan perbuatan sadis seperti ini? Pikir Jeremy.
"Ada apa, Jer?" tanya Juned yang sudah bersiap menggendong Niken kembali ke kastil.
"Ada orang gila yang telah menghabisi anjing-anjing hutan di sekitar sini, entah apa maksudnya. Bau busuk ini berasal dari bangkai anjing yang sengaja dibunuh. Ayo, Jun! Kita harus segera pergi dari hutan ini. Kurasa kita sedang berhadapan dengan psikopat gila yang tak punya perasaan. Kita harus segera sampai ke kastil. Firasatku tak enak seketika melihat bangkai anjing itu!" ucap Jeremy.
Juned mengangguk. Ia tak mau membuang waktu untuk berlama-lama di tempat itu lagi. Mereka segera meninggalkan sisi hutan itu, kembali ke jalan setapak yang menuju terowongan ke dalam kastil. Dalam gendongan Juned, Niken masih tak sadarkan diri, karena ia mengalami trauma dan dehidrasi parah. Selain itu ia juga mengalami tekanan berat pada pikirannya karena cukup lama ia terikat di sebuah tempat yang sangat sepi.
"Ia masih hidup kan?" tanya Jeremy kepada Juned.
"Ya, dia masih hidup. Aku masih bisa merasakan denyut nadinya. Kamu tetap waspada, Jer. Kalau ada apa-apa, tembak saja. Kamu bisa kan?" jawab Juned.
"Eh, aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan pistol .... "
"Tarik pelatuknya saja, dan arahkan ke arah sasaran. Picingkan matamu agar tepat mengenainya. Konsentrasi. Ingat itu! Ingat jangan lengah sedikit pun! Setelah ini kita melewati lorong yang gelap. Kita nggak tahu apa yang sedang menunggu di sana. Picingkan matamu baik-baik!"
Jeremy mengangguk mendengar ucapan Juned, seraya mengamati pistol yang ia genggam. Seumur hidup, baru kali ini ia memegang pistol. Tentu bukann perkara mudah untuk menggunakan senjata yang seperti ini, tidak semudah apa yang diucapkan oleh Juned. Mendadak ia merasa tegang, padahal biasanya ia merasa biasa saja.
__ADS_1
Kedua pria itu kini telah masuk ke dalam terowongan menuju lorong yang dipenuhi bilik-bilik. Mereka memperlambat langkah agar tak menimbulkan suara-suara langkah kaki yang mungkin bisa menimbulkan suara. Pikiran mereka masih was-was kalau-kalau ada sosok lain yang berada dalam ruang bawah tanah. Degup jantung Jeremy berdetak makin cepat. Mereka menembus lorong yang terlihat gelap.
***
Mariah dimasukkan kembali ke dalam sebuah bilik yang terkunci. Ini berarti, ia harus mengulang masa lalu yang pernah ia lewati. Ia merasakan kondisi yang sama seperti saat ia disekap dalam bilik, hanya saja ini adalah bilik yang berbeda. Namun, semua bilik di ruang bawah tanah ini terasa sama. Dingin, lembap, dan mengerikan. Ia hanya bisa pasrah, sembari menunggu bantuan. Ia yakin, suaminya tak akan membiarkan dirinya menghilang begitu saja.
Mulut Mariah kembali ditutup dengan lakban hitam, agar ia tak berteriak atau menimbulkan kegaduhan. Mariah tak bisa berbuat apa-apa. Sama dengan yang telah terjadi di masa lalu, ia dibiarkan duduk pada sebuah kursi dengan kondisi tangan diikat. Mariah merasa cemas, tetapi berusaha menguasai keadaan. Ya, perasaan seperti ini pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku akan tetap hidup," gumam Mariah dalam hati.
Setelah pintu bilik dikunci, sosok itu kembali melihat Mariah dari jeruji. Kali ini sosok itu sudah memakai kostum serba hitam, sehingga yang terlihat hanya sepasang matanya. Ia tesenyum sinis seraya berkata pada Mariah.
"Anggap saja ini baru awalnya Mariah. Jangan harap kamu akan lolos dari tempat ini. Ketika suamimu menemukanmu di sini, mungkin kamu sudah membusuk. Setelah ini aku akan kembali ke kastil, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Aku akan memperdaya kalian satu demi satu, sampai dendam Suci terbalaskan!"
Tiba-tiba, sosok itu mendengar suara langkah kaki mendekat di dekat bilik tempat menyekap Mariah. Sosok berbaju hitam itu langsung bersikap waspada. Ia segera mendekat ke arah sumber suara. Rupanya suara langkah itu berasal dari lorong lain. Ia mengintip dari balik dinding di dekat tempat itu, melihat Jeremy dan Juned yang sedang menggendong Niken, berjalan perlahan dan penuh waspada. Rupanya mereka telah sampai ke lorong dekat bilik Mariah. Mereka terlihat agak tergesa menuju jalan keluar ke kastil. Mereka sama sekali tak menyadari kalau ada sepasang mata jahat yang mengintai.
Sosok itu mengendap menyusur lorong, mengikuti dua pria itu dari belakang dengan langkah pelan. Suasana sangat gelap, sunyi, dan lengang. Suara tetes-tetes air terdengar entah dari mana. Hal itu membuat Jeremy merasa tegang. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Sepertinya ia memang mendengar suara langkah yang mengikuti. Perasaan tidak enak itu semakin menguat, sehingga ia berbalik ke belakang untuk memastikan kondisi benar-benar aman. Sayangnya, kondisi gelap tak memungkinkan ia melihat sosok yang mengikutinya. Lagipula, sosok itu berjalan merapat di dinding, sehingga tidak terlihat oleh Jeremy.
Pria itu semakin merasa tegang. Ia kembali melangkah tergesa, sementara Juned semakin jauh melangkah meninggalkannya.
"Jun, tunggu aku!" ucap Jeremy.
"Segera, Jer!" ucap Juned.
Jeremy melangkah tergesa menyusul langkah Juned yang semakin cepat. Namun, sosok itu juga semakin cepat mengejar dari belakangnya. Hingga pada suatu kesempatan, Jeremy sama sekali tak sadar ketika sosok itu bergerak cepat. menancapkan sesuatu di punggungnya.
__ADS_1
Jleb!
"Aargh!"
Door!
Kepanikan terjadi seketika, karena Jeremy merasa ada benda tajam menembus punggungnya, hingga ia tak sadar melepaskan tembakan. Namun, tembakan itu tentu saja tak terarah hingga mengenai dinding lorong. Jeremy merasa kesakitan. ia roboh ke lantai yang lembap menahan sakit. Namun belum sempat ia sadar sepenuhnya, segera ia diseret oleh sosok itu menjauhi lorong.
"Juneed! Tolooong!" pekik Jeremy.
Setelah suara pekikan Jeremy terdengar membahana, suasana kembali hening. Juned berbalik, melihat arah belakangnya, tetapi ia tak melihat siapa-siapa. Jeremy begitu cepat menghilang. Jantung Juned berdegup kencang. Pikirannya langsung berkecamuk tak karuan. Ia yakin Jeremy dalam bahaya, tetapi ia sedang menggendong Niken untuk saat ini. Ia juga dalam keadaan tanpa senjata.
"Jer .... "
Juned memanggil Jeremy, tetapi tak ada jawaban. Juned tak mau ambil risiko. Ia segera mempercepat langkah menuju jalan keluar dari lorong bawah tanah.
***
__ADS_1