Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
126. Anjing Malang


__ADS_3

Orang-orang yang berkerumun di sekitar bantaran sungai menunggu dengan penuh tanya, penasaran dengan apa yang ada di dalam karung berlumuran darah itu. Kamera Wandi juga fokus mengarah ke karung yang sudah buka polisi secara perlahan. Reno berharap cemas, agar isi karung bukan sesuatu yang ditakutinya.


Agar terlihat lebih jelas, Reno mendekat memeriksa sendiri isi karung. Potongan-potongan daging masih meneteskan darah berada dalam karung. Untuk sesaat, Reno seolah berhenti bernapas. Ia khawatir yang ia lihat adalah potongan daging manusia. Namun, ia bernapas lega karena yang berada di dalam karung itu adalah potongan daging anjing. Sepertinya itu adalah anjing yang banyak berkeliaran di jalanan.


“Ini daging anjing ....”


Opsir polisi yang membuka karung bergumam, seraya menatap Reno. Detektif itu hanya mengangguk pelan. Sementara, para penonton yang berkerumun ada yang mendesah lega, tetapi ada pula yang menggerutu kecewa. Mereka berharap mendapat pertunjukan bagus pagi itu. Satu-persatu mereka meninggalkan tempat itu, kembali beraktivitas seperti biasa.


Di antara yang kecewa itu adalah Gilda Anwar. Ia juga berharap mendapatkan berita bagus. Sayangnya, apa yang menjadi harapannya tak terkabul ketika mengetahui apa yang ada di dalam karung. Walaupun begitu ia tetap menyiarkan kepada publik mengenai penemuan itu. Ia mendekati Reno yang tengah menelepon kantor.


“Maaf, Pak. Seperti yang kita semua telah lihat, bahwa karung misterius itu berisi daging anjing yang dipotong-potong. Apakah Anda menduga ada korelasi antara karung ini dengan dua peristiwa pembunuhan sebelumnya?” tanya Gilda.


“Seperti yang kalian lihat, siapa pun yang menaruh karung itu bisa dipastikan jiwanya terganggu. Saya tidak ingin menduga apa pun, dan saya hanya akan berbicara berdasarkan fakta,” jawab Reno.


“Seperti yang pernah kami beritakan, bahwa warga kota ini makin gelisah dengan banyaknya teror yang terkait kasus pembunuhan. Apakah ada progres yang signifikan tentang dua kasus itu?” tanya Gilda lagi.


“Belum. Kami belum dapat menyimpulkan apa pun. Kedua kasus pembunuhan ini sedang kami selidiki, jadi saya harap masyarakat tidak panik atau takut. Sebab, kalau kalian takut maka penjahat itu akan menang. Dia akan memanfaatan ketakutan kalian untuk bertindak lebih jauh,” ucap Reno.


“Langkah apa yang akan diambil oleh kepolisian selanjutnya, Pak?”


“Maaf, sayai tidak akan berkomentar apa pun, karena pembunuh itu masih berkeliaran. Jadi apa pun yang akan dilakukan tidak bisa kami katakan,” jawab Reno


Ia berpikir, kali ini ia harus sedikit melunak menghadapi Gilda Anwar, karena berita ini akan tersiar di TV nasional berpengaruh seperti Channel-9. Ia tidak ingin kepolisian mendapat reputasi yang buruk akibat pemberitaan yang kurang baik.


“Satu pertanyaan lagi, Pak. Apakah ada perkembangan terakhir tentang gadis yang ....”

__ADS_1


“Maaf. Saya tidak menjawab berita yang belum pasti. Jadi kusarankan jangan mendramatisasi berita. Maaf, aku harus segera kembali ke kantor!”


Reno memotong pertanyaan Gilda. Ia tahu Gilda akan mencecar pertanyaan seputar gadis yang hilang sejak tadi malam. Reno merasa tidak perlu mempublikasikan berita itu kepada media, walaupun berita itu benar adanya. Ia memlilih bungkam, seraya pergi meninggalkan kerumunan.


Sementara seratus meter dari kerumunan orang-orang di bantaran sungai, sebuah sedan putih parkir di tepi trotoar bersama mobil-mobil lain. Di dalamnya, sesosok manusia bepakaian serba hitam tersungging, sementara di jok belakang terlihat Nayya yang masih dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal. Mereka mengawasi orang-orang yang mulai membubarkan diri dari kerumunan.


“Kamu lihat, Nay! Orang-orang bodoh itu telah termakan tipu dayaku. Mereka mengira bangkai anjing itu adalah dirimu. Tenang saja, tak ada yang benar-benar merindukanmu. Kamu pikir, teman-temanmu akan sepeduli itu padamu? Lihat! Bahkan mereka tega membuang mayat Jenny ke danau. Apakah itu layak disebut teman? Mungkin saat ini mereka tak peduli padamu!” seringai si sosok hitam.


“Bukan hanya orang-orang itu yang bodoh, tetapi juga polisi. Aku yakin, yang lebih panik atas kehilanganmu adalah polisi, karena menyangku nama baik mereka. Orang tuamu? Ya tentu saja mereka akan panik. Tapi sebulan kemudian mereka akan menutup masa lalu, bahkan membuang barang-barang pribadimu, memeluk adikmu, dan berusaha melupakan namamu. Terdengar tak adil kan?”


Seketika, Nayya teringat orang tuanya di rumah. Ia mulai menitikkan air mata. Ia tahu apa yang diucapkan sosok itu tidak benar. Ayah dan ibunya sangat menyayangi dia. Tentu mereka akan sangat kehilangan kalau dirinya benar-benar mati.


Nayya tidak menyangka sosok yang ia kenal itu akan melakukan hal ini padanya. Ingin ia berontak, tetapi sia-sia. Ikatan di tangan begitu kuat. Semakin ia berontak, maka tangannya semakin sakit. Ia hanya pasrah dengan segala yang terjadi pada dirinya.


Mobil putih itu melaju ke ruas jalan yang tak begitu ramai, menghilang di belokan jalan. Suasana pagi yang cerah, membuat penghuninya segera melupakan kejadian di bantaran sungai. Kota berdenyut seperti biasanya.


***


Tok ... tok ... tok!


Pintu kamar Rasty diketuk agak keras. Gadis itu menggeliat malas, kemudian melirik ke arah jam digital di mejanya. Ia menganggap masih terlalu pagi, padahal matahari sudah terbit dari tadi. Ia bangkit, menguap, kemudian membuka pintu dengan malas.


“Apa sih Mah! Pagi-pagi juga!” gerutu Rasty ketika dilihatnya Mamanya berdiri di depan pintu dengan tatapan tak bersahabat.


“Kamu pulang jam berapa tadi malam?” selidik sang mama.

__ADS_1


“Seperti biasa kok, Mah!” jawab Rasty cepat.


“Seperti biasa? Jangan bohong kamu! Mamah nungguin sampai jam 12 malam, tapi kamu belum pulang juga. Kamu mabuk ya? Apa pembunuhan dua teman kamu itu tidak menjadi pelajaran berharga?” cecar mama Rasty.


“Aku nggak mabuk, Mah. Ya, aku memang pulang lebih dari jam 12 karena aku nunggu taksi. Berkali-kali aku memanggil taksi tapi tak ada yang datang. Kota ini memang makin sepi, dan hal ini nggak ada hubungannya dengan pembunuhan Jenny dan Alma!” kilah Rasty.


“Kamu harus lebih fokus sama kuliahmu, Rast! Kami sudah susah-payah biayain kuliahmu, tapi kamu malah enak-enakan. Pulang pagi tiap hari. Nggak enak sama tetangga juga. Kamu mau jadi apa!” omel Mama.


Rasty mendengkus. Pikirannya terasa buntu. Ia merasa sumpek mendengar omelan mama pagi-pagi. Ia ingin membantah, tetapi ia memutuskan untuk diam. Mama masih terus mengomel panjang-pendek.


“Nanti malam, kamu tidak boleh keluar! Kamu dengar nggak berita pagi ini. Kota semakin nggak aman. Bahkan anjing juga dimutilasi. Semua orang tua melarang anak gadisnya keluar. Jadi jangan keluyuran lagi malam ini!” tandas Mama.


“Tapi Ma, aku ada janji dengan Lena dan Miranti malam ini! Aku nggak keluyuran. Kami mau belajar!"


“Lena dan Miranti terus ya? Sepertinya mereka yang membawa pengaruh buruk dalam hidup kamu. Gini aja deh, mending sementara kamu nggak usah bertemu mereka dulu. Biar nanti Mama yang telepon mereka. Ini demi kebaikan kamu, Ras!”


“Astaga! Mah, ini terlalu berlebihan. Mama nggak boleh gitu dong. Ini kan nggak adil namanya!” protes Rasty.


“Maaf Rasty. Ini yang terbaik! Mamah udah stres akhir-akhir ini. Kemarin ada polisi datang ke sini mencarimu, tapi kamu nggak ada. Mama khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Jadi kamu nggak boleh ketemu Lena dan Miranti!”


“Mah!”


“Nggak ada tawaran Rasty! Cepat mandi dan sarapan!”


***

__ADS_1


__ADS_2