
Dimas tak mau menunda waktu lagi. Di awal pagi, ia sudah melajukan mobil menuju kompleks perumahan elit itu lagi. Hari ini, ia akan menelusuri rumah-rumah para artis yang ada kompleks itu. Setelah melakukan koordinasi dengan sekuriti, Dimas memulai dari cluster yang paling dekat. Ia mencatat beberapa nama artis yang mempunyai rumah di kawasan ini.
Satu-persatu ia melihat rumah-rumah mereka dengan saksama. Hampir semua rumah itu kosong dan tidak digunakan untuk tempat tinggal, hanya sekedar investasi. Ada pula yang disewakan kepada pihak ketiga. Tak ada yang aneh dari rumah-rumah itu yang terbengkalai itu. Halaman tampak tak terawat, dengan rumput-rumput yang tumbuh liar nyaris sepinggang manusia.
Dalam hati, Dimas sangat menyayangkan aset-aset yang terbengkalai itu. Para artis itu rupanya kelebihan uang sehingga seolah membeli banyak aset hanya utuk sekedar main-main saja. Dimas belum menemukan petunjuk dari beberapa rumah dari cluster yang ia periksa pertama kali. Ia mencoba mengelilingi rumah-rumah itu, dari halaman depan hingga halaman belakang. kalau-kalau menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Namun, semua masih nihil.
Ia beralih ke cluster selanjutnya, tetapi ia juga tak menemukan petunjuk penting. Semua rumah itu nyaris sama kondisinya, tak terawat dan terbengkalai. Cluster yang ia periksa kali ini adalah cluster yang sama dengan rumah Renita. Ada beberapa artis yang mempunyai rumah di cluster itu, tetapi lokasinya tak berdekatan. Namun, ada satu rumah yang menarik perhatian Dimas.
Ia sampai di sebuah rumah milik seorang artis yang letaknya tepat berseberangan dengan rumah Renita Martin. Rumah itu cukup megah, tetapi kondisinya cukup memprihatinkan. Semak dan rumput liar tumbuh di halaman, sehingga suasana terlihat angker. Dimas mempunyai firasat bahwa rumah megah ini tidak benar-benar kosong. ia pernah menemukan sejumlah bungkus cokelat di halamannya.
Hal itu membuatnya waspada. Ia mengeluarkan senjata untuk memeriksa ke dalam rumah. Ia mencoba masuk dari pintu depan, tetapi tentu saja pintu itu terkunci. Suasana senyap, tak ada suara. Ia beralih ke samping, mencari celah agar bisa masuk, tetapi hasilnya juga sama. Pintu-pintu di rumah itu semua dalam keadaan terkunci. Dimas berpindah tempat ke belakang. Ada sebuah kolam renang kecil di halaman belakang.
Kolam renang kecil itu terlihat digenangi air yang teramat kotor dengan daun-daun kering yang mengapung di atasnya. Dimas segera mencari akses masuk melalui pintu yang berada di situ, tetapi hasilnya juga sama. Semua pintu dalam keadaan tertutup dan terkunci.
"Sial!" umpat Dimas.
Matanya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah balkon yang menghadap beranda belakang. Sebenarnya balkon itu tak terlalu tinggi, tetapi tetap saja sulit kalau harus naik ke sana. ia tak hilang akal. ia berusaha mencari-cari alat yang bisa digunakan untuk naik ke atas balkon. Setelah beberapa saat mencari-cari, ia menemukan sebuah tangga yang disandarkan di tembok belakang. Tangga itu tak begitu terlihat karena tertutup barang-barang bekas.
"Ah, ini yang aku cari!"
__ADS_1
Segera ia mengangkat tangga itu, kemudian ia sandarkan pada tembok. Ia berusaha naik ke balkon dengan menggunakan tangga. Walau sedikit susah-payah, akhirnya Dimas sampai juga ke balkon. Sepertinya balkon itu menghubungkan dengan sebuah ruangan di lantai dua. Pintu juga terkunci, tetapi banyak jendela-jendela kaca di sana. Ruangan di dalam tak terlihat dari luar, karena jenis kaca yang dipakai adalah kaca Ray Ban.
Dimas menempelkan mukanya ke kaca, mengintip apa yang berada di dalam rumah. Lantai dua tampak kosong dan sepi, tak ada tanda-tanda ruangan ini dihuni. Namun, matanya tertumbuk pada sebuah botol minuman yang terletak di atas meja di dalam rumah. Botol minuman itu menyisakan air tinggal separuh. Namun, bukan itu yang menarik perhatiannya. Ada sisa cokelat tak habis dimakan di samping botol minum itu.
Firasatnya kembali menggeliat. Ia yakin bahwa ada orang yang baru-baru ini masuk ke dalam rumah megah itu. Keinginannya untuk masuk ke dalam semakin menguat. Mungkin tidak lewat pintu, tetapi ia melihat jendela kaca itu bisa dipecah. Segera ia mencari alat untuk memecahkan jendela. Yang ada di balkon hanya tumpukan batako, jadi ia ambil satu biji batako, sekuat tenaga ia hantamkan ke arah kaca.
Praaang!
Kaca jendela pecah, membentuk lubang dengan gerigi tajam. Membutuhkan kehati-hatian ekstra untuk masuk ke dalam tuangan, karena kalau tergores, tentu akan menimbulkan luka. Dimas perlahan masuk ke dalam ruangan yang pengap dan sedikit gelap itu. Suasananya teras lembap, karena jarang terkena sinar matahari dan pintu juga selalu ditutup, sehingga sirkulasi udara tak berjalan dengan baik.
Ia menuruni tangga yang berada di lantai dua itu, kemudian beranjak ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati dua orang perempuan dalam keadaan terikat dan tak bergerak di tengah ruangan!
***
"Kamu yakin arah kita benar, Wan?" tanya perempuan muda yang duduk di sampingnya.
Perempuan muda itu terlihat cantik, dengan kacamata hitam yang dipakainya. Parasnya juga terlihat bingung, melihat ke arah samping kiri-kanan. Pakaiannya tampak resmi, dengan blazer warna hitam dan rok pendek warna senada.
"Aku agak-agak lupa sih, Mbak. Tapi aku yakin jalan ini sudah benar. hanya pas nya saja aku yang lupa," ucap si pengemudi.
__ADS_1
"Kamu gimana sih, Wan. Padahal ini penting loh. Katanya nih, tadi malam rombongan para artis itu sudah dibawa ke tempat isolasi yang dulu. Nah, ini berita bagus buat kita. Kita bisa meliput secara eksklusif, sebelum TV lain memberitakan," kata si perempuan muda.
Gilda Anwar, perempuan itu, siapa yang tak kenal dengannya? Jurnalis ambisius yang rela menghalalkan segala cara untuk mencari berita, tak peduli nyawa taruhannya. Di kasus sebelumnya, jurnalis ini nyaris tewas di dalam sumur tua. Kali ini, ia belajar dari kesalahan itu. Ia tak mau jatuh ke dalam lubang yang sama.
"Oh iya aku ingat, rumah itu terletak setelah SPBU. Tadi kan kita baru lewati SPBU-nya!" ucap Wandi, sang juru kamera, merangkap sebagai sopir.
"Jangan sampai salah loh, Wan! Kalau salah, kamu kusuruh jalan kaki pulang. Pokoknya hari ini kita harus temukan rumah isolasi itu!"
"I-iya, Mbak!" jawab Wandi.
Setelah beberapa saat mengemudi, Wandi menghentikan mobil tepat di sebuah jalan kecil yang agak tersembunyi. Senyumnya melebar dengan mata berbinar-binar.
"Nggak salah lagi, Mbak! Jalan ini pasti jalan menuju ke rumah isolasi itu!" ucap Wandi.
Gilda tak berkomentar. Ia menatap sekeliling. Sepertinya Wandi benar. Ia masih mengingat jalan ini ketika ia berjalan seorang diri menyusuri, hingga pada akhirnya terperosok lubang sumur. Gilda turun dari mobil, bersiap hendak memeriksa jalan kecil itu.
"Aku perlu ikut kah, Mbak?" tanya Wandi.
"Ya iyalah! Pikirmu kalau aku ada apa-apa siapa yang melindungi? Kamu nggak belajar, saat kamu nggak ikut, aku terperosok lubang kan? Pokoknya kamu harus ikut, jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa lindungi aku!" ucap Gilda.
__ADS_1
Wandi hanya bisa mengangguk. Ia patuh terhadap ucapan Gilda. Perlahan, ia mengikuti Gilda dari belakang, menuruti ke mana saja langkah perempuan itu.
***