Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
386. Dua Letusan


__ADS_3

Tatapan Stella berubah nanar, menatap tajam ke arah Nadine yang berada di hadapannya. Di tangan kanan Stella tergenggam sebuah pistol, sedangkan di tangan kiri tergenggam sebuah benda tajam. Amarahnya begitu membara, karena Nadine telah menghabisi Jeremy. Mungkin ia masih bisa memaafkan saat dia dilempar ke dalam jurang, tetapi dalam hati Stella bersumpah akan membalas siapa pun yang menghabisi Jeremy.


"Aku sangat mencintai Jeremy, dan kamu tahu betul akan hal itu, Nadine. Namun dengan tega kamu hancurkan kehidupan kami demi memuaskan ambisi gilamu. Manusia seperti dirimu memang tidak layak hidup di muka bumi ini. Alasan apa pun tidak bisa dibenarkan, apalagi mengatasnamakan Suci yang jelas-jelas sudah meninggal. Kita memang berteman lama, Nadine. Namun, kamu rusak hubungan kita dengan kejahatan keji yang telah kamu lakukan. Jadi bersiaplah! Hari ini adalah terakhir kamu melihat diriku, dan bahkan hari ini adalah hari terakhir kamu melihat dunia!" ucap Stella dengan suara bergetar menahan segala rasa yang meluap di dadanya.


"Cih, aku tidak yakin kamu berani bunuh aku, Stella! Kalau polisi tahu kamu membunuhku, pasti kamu juga akan kena jerat hukum, dan tentu saja penjara akan menantimu. Padahal sangat disayangkan, mengingat dirimu masih cantik, dan mampu menarik perhatian pria mana pun. Kamu dapat mencari pengganti Jeremy dengan mudah. Apa kamu mau menghabiskan sisa waktumu di penjara?" ejek Nadine.


"Lebih baik aku di penjara daripada membiarkan manusia sepertimu tetap hidup. Kalau perlu kita bisa tinggal di penjara yang sama, agar aku bisa menghajarmu setiap hari. Kesalahanmu sudah terlalu fatal Nadine. Siapa yang menabur angin, maka ia akan menuai badai. Jadi jangan harap kamu bisa lolos kali ini!" ucap Stella.


"Oya, Hahaha! Aku takut sekali mendengar ucapanmu Stella. Kamu sama lemahnya dengan yang lain di sini. Kamu sama lemahnya dengan Mariah, perempuan sok bijak itu. Kamu juga sama pengecutnya dengan Maya, yang diam-diam merebut suamiku, dengan berpura-pura hamil. Aku tahu semuanya! Kuharap mereka berdua membusuk di neraka! " oceh Nadine sambil tertawa mengejek.


"Diam kau, Nadine! Jangan jadikan semua itu sebagai pembenaran untuk membunuh banyak nyawa tak berdosa. Kini saatnya kamu membayar semua kesalahan yang kamu lakukan. Aku akan mengakhiri petualangan jahatmu. Kau ada kata-kata terakhir sebelum mati?"


Stella mengacungkan senjata ke arah kepala Nadine,sementara wanita itu terus meronta, berusaha melepaskan diri dari borgol yang membelenggu tangannya.


"Ayo tembak aku, pengecut! Kotori tanganmu itu dengan darahku. Ayo, kamu pasti bisa! Kamu bilang dirimu adalah penakluk alam, Tentu bukan perkara sulit meledakkan peluru itu di kepalaku. Ayo, jalan*g! Muntahkan saja peluru itu tepat di otakku biar meledak isi kepalaku. Tunggu apa lagi?" tantang Nadine.


Perasaan Stella semakin berkecamuk tidak karuan, apalagi mendengar kata-kata Nadine yang seolah menyulut emosi yang ada hatinya. Entah mengapa ia ragu. Dalam pikirannya tiba-tiba muncul wajah Jeremy yang tersenyum teduh kepadanya sambil menggelengkan kepala, lalu berturut muncul paras Lidya, Aditya, dan juga Farrel. Stella merasa gamang. Sesaat lagi ia akan tarik pelatuk pistolnya.


"Ayo Stella, lakukan! Kamu bukan pengecut kan? Ayo tembak aku!" Nadine terus memancing.


Stella masih berpikir keras. Dendam yang membara seolah bertarung dengan sisi malaikat dalam pikirannya. Dilihatnya paras Nadine yang tertawa mengejek, seolah meremehkan Stella.

__ADS_1


"Ayo Stella, buktikan kalau kau bukan seorang .... "


Dooor!


Dooor!


***


Setelah mencemaskan keadaan Nadine, Ryan memutuskan untuk mencari Nadine ke dalam kastil. Tujuan utamanya adalah ruang baca, seperti yang dikatakan Juned tadi bahwa Nadine tengah menjalani sesi interogasi di sana. Walaupun. kondisi gelap, ia memanfaatkan cahaya dari nyala lilin yang ia ambil dari dalam kamar. Ia keluar kamar, mengendap menyusur koridor menuju ruang baca.


Sebelum sampai ke ruang baca, ia merasa tidak enak, karena ia dapat melihat asap tipis yang keluar dari pintu ruang baca, serta bau seperti benda terbakar. Ia khawatir telah terjadi hal yang tak diinginkan dalam ruang baca. Apalagi ia merasakan suasana yang begitu hening, seolah tak ada seorang pun dalam ruang baca.


"Nadine?"


"Mana Nadine?" tanya Ryan dengan spontan, saat melihat ketidakberadaan Nadine.


Semua mata yang ada di situ memandang ke arah Ryan. Mereka heran dengan kemunculan Ryan secara tiba-tiba. Terakhir kali mereka mendengar kabar bahwa Ryan menghilang dan belum diketahui rimbanya, kini tiba-tiba muncul begitu saja. Kemunculan Ryan kali ini cukup mengejutkan, sehingga Edwin segera mendekati Ryan untuk mengorek keterangan darinya.


"Kamu ... kamu dari mana, Ryan?" tanya Edwin sambil melihat Ryan dari ujung rambut ke ujung kaki.


"Ceritanya panjang, Win. Mana Nadine?" tanya Ryan tak sabar.

__ADS_1


"Nadine? Ini juga cerita yang panjang untuk diceritakan, Ryan. Mending kamu duduk di sini saja bersama kami. Saat ini Pak Dimas dan Pak Reno tengah menangani Nadine. Jadi kita tunggu saja dia di sini," saran Edwin.


"Tidak, Win! Aku mau tahu di mana Nadine! Katakan padaku di mana dia!" desak Ryan.


"Di ruang bawah tanah, Ryan! Cari saja dia kalau kau mau!" cetus Rosita menimpali..


"Aku akan cari dia!"


Ryan tak mau membuang waktu untuk berlama-lama bersama mereka. Yang ada di pikirannya saat ini hanya istrinya. Bagaimanapun, ia tak ingin melihat hal buruk pada istrinya, walau ia tahu Nadine adalah dalang di balik segala kekacauan yang terjadi. Ryan masuk ke ruang bawah tanah melalui pintu rahasia di ruang baca, setelah Rosita menunjukkan jalan rahasia itu.


***


Suara dua kali letusan pistol terdengar pula di telinga Dimas yang sedang menyusur lorong. Firasatnya menjadi tak enak mendengar suara letusan pistol. Ia khawatir seseorang akan terluka lagi di dalam ruang bawah tanah. Setengah berlari ia hendak menuju sumber suara letusan. Namun, belum sempat ia melangkah jauh sebuah suara memangil namanya.


"Dimas!' panggil suara yang tak lain adalah Reno yang baru saja menemukan keberadaan Dimas.


"Reno, cepat kita harus periksa suara tembakan itu. Suara itu berasal dari lorong sebelah. Ayo cepat!"


Dimas tak mau banyak berbasa-basi melihat kehadiran Reno. Kedua polisi itu segera memburu ke arah sumber suara letusan yang sepertinya tidak jauh. Mereke berbelok ke arah lorong sebelah kiri, tempat suara ledakan itu berasal.


Lorong yang mereka lalui terlihat sunyi. Suara letusan itu seolah menghilang ditelan kesunyian lorong bawah tanah. Dimas bersiap-siaga dengan pistol, terus maju menyusur lorong. Sementara  Reno memeriksa tiap pintu bilik, siapa tahu ada sesuatu di balik pintu bilik yang berjajar-jajar itu.

__ADS_1


Beberapa meter di depan, mereka melihat sebuah pintu bilik yang terbuka. Mereka segera mendatangi bilik itu untuk memeriksa. Ternyata dugaan para polisi itu benar. Mereka mendapati sosok Stella yang berdiri dengan paras lunglai, menatap sosok Nadine yang ada di hadapannya. Di tangannya masih tergenggam sebuah pistol yang ujungnya masih berasap!


***


__ADS_2