Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
141. Dendam Kesumat


__ADS_3

Sedan putih itu memasuki tempat parkir yang berada di bawah gedung apartemen menjulang tinggi. Gerry terpaksa mengikuti arah yang telah ditunjukkan sosok itu. Ia sadar, apabila bertindak konyol akan fatal akibatnya. Saat ini ia sedikit heran, karena ia tidak pernah tahu tentang apartemen ini.


“Ini apartemenmu?” tanya Gerry.


“Kenapa memangnya? Aku menyewa apartemen ini empat hari lalu karena biaya sewanya murah. Tempatnya juga agak terpencil di pinggir kota. Jadi kadang aku menggunakan juga untuk beristirahat. Sekarang keluar lah dari mobil dan bersikap seolah tak ada apa-apa. Setelah ini kita akan naik lift!” ucap sosok itu.


“Apa yang harus kulakukan di apartemenmu?” Gerry terus bertanya.


“Nanti juga kamu akan tahu, Ger! Ada seseorang yang menunggumu di sana. Aku sedang menyiapkan sebuah skenario yang akan sedikit mengejutkan. Jadi turuti saja alurnya, dan jangan banyak tanya!”


Gerry merasa penasaran. Firasatnya mengatakan, skenario yang sedang dirancang oleh sosok ini bukanlah hal yang baik. Bagaimanapun, ia harus mengikuti saja alur yang memang sudah disiapkan untuknya.


Ia turun dari mobil, sementara sosok itu berjalan di belakangnya dengan waspada. Mereka menaiki lift, menuju ke kamar yang sama dipakai untuk menyekap Nayya. Sosok itu mengeluarkan kunci dengan gantungan berbentuk hati, kemudian mereka masuk ke dalam apartemen.


Gerry terkejut mendapati sosok Nayya di sana, sedang terbaring di atas ranjang dengan paras lesu dan sedih. Nayya juga tampak terkejut kehadiran mereka. Ia langsung duduk seraya menatap mereka dengan tatapan heran.


“Aku yakin kalian sudah saling kenal, jadi aku tak perlu memperkenalkan diri kalian masing-masing!” ucap sosok itu.


“Mengapa kamu menculik dia juga? Bukankah dia nggak bersalah?” tanya Gerry.


“Nggak bersalah? Kamu hanya tidak tahu siapa sebenarnya gadis ini. Aku tahu apa yang dilakukannya di masa lalu. Hanya saja selama ini dia berpura-pura suci. Tapi tentu saja aku tidak akan membeberkannya di sini. Yang jelas, semua kesalahan itu harus dibayar tunai!”


Gerry terdiam. Kesalahan apa pula yang dibuat oleh Nayya, sehingga sosok ini menculiknya? Ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ditatapnya Nayya dalam-dalam. Gadis itu tampak letih, dengan mata sayu karena kurang istirahat. Ada rasa iba menyeruak di hati Gerry, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan nyawanya sendiri pun dalam bahaya.


“Kalian sementara akan tinggal di sini, sementara aku ada urusan di luar sana. Besok akan menjadi hari yang panjang buat kalian, dan juga buatku. Jangan kaget, mungkin kota ini akan semakin ketakutan. Apalagi kematian polisi wanita itu benar-benar akan mengguncang. Tak akan ada tempat aman di kota ini,” ucap sosok itu.


“Kejahatanmu itu nggak akan bertahan lama! Ya, aku memang punya salah padamu, tapi itu sudah lama dan kuanggap sudah selesai. Aku tidak menyangka kalau kamu masih menyimpan api dendam itu di hatimu. Padahal aku sudah melupakannya.”


Nayya akhirnya membuka suara. Sosok itu tersenyum. Baru kali ini Nayya membuka suara semenjak hari pertama penyekapannya. Selama ini gadis itu memilih diam, tapi kali ini ia harus bersuara karena ia sekarang tahu alasan mengapa sosok yang ia kenal itu menculiknya.

__ADS_1


“Aku orangnya pendendam, Nayya. Aku tidak mudah melupakan orang-orang yang pernah menyakitiku. Sekarang bukan waktunya untuk memaafkan, tetapi sekarang adalah waktu untuk membayar semua kesalahan yang telah kamu lakukan. Termasuk kamu, Gerry! Jangan dikira kamu tidak bersalah. Akan kubeberkan semua yang kamu lakukan, tetapi tidak sekarang. Aku lega karena Alma telah mati. Kamu tahu rasanya kehilangan orang yang kamu cintai kan?”


Pandangan sosok itu beralih ke arah Gerry.


“Sebenarnya Alma tidak bersalah kan?” tanya Gerry.


“Ya! Alma tidak bersalah! Aku membunuhnya agar kamu dapat merasakan rasa sakit ketika kehilangan orang yang kamu sayangi. Sama seperti aku saat kehilangan orang yang kusayangi juga!”


“Tetapi bukankah itu nggak adil?”


“Kamu pikir apa yang mereka lakukan kepadaku juga adil? Persetan dengan keadilan! Aku akan menuntut keadilan dengan caraku sendiri. Jadi jangan salahkan aku kalau satu-persatu dari kalian akan mati. Kalian semua bersalah kepadaku!”


“Kamu ... kamu sakit. Jiwamu sakit!”


“Aku nggak peduli, Gerry! Sekarang diamlah! Setelah ini aku akan keluar karena ada hal lain yang akan kukerjakan. Buatlah diri kalian nyaman di apartemen ini, karena mungkin nyawa kalian nggak akan lama lagi!


***


Sementara, di atas trotoar, Reno masih duduk sambil menopang dagu, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.


“Sudahlah, tak perlu dipikir terlalu dalam. Kematian Fani bukan salahmu kok,” ucap Dimas menenangkan.


“Ya, aku sadar Dim. Yang membunuh Fani adalah manusia biadab itu, tetapi aku lah yang memberi perintah Fani untuk mengawal Gerry. Dan kini, Fani telah meninggal sedangkan Gerry belum jelas keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah mati. Kasus ini semakin pusing dan bertumpuk-tumpuk.


Bayangkan! Belum selesai kasus Jenny terpecahkan, muncul kasus Alma. Belum lagi terpecahkan, tiba-tiba dikejutkan dengan berita hilangnya Nayya. Lalu, seorang wanita muda mati di Kampung Hitam. Dan sekarang, Fani, kemudian Gerry. Aku cemas, siapa berikutnya?”


Dimas manggut-manggut. Ia memahami apa yang dirasakan oleh Reno. Ia hanya bisa terdiam karena tidak bisa memberi solusi apa pun.


Drrrt!

__ADS_1


Sebuah pesan masuk di ponsel Reno. Rupanya si pembunuh itu kembali mengirim pesan singkat.


“Lagi pusing ya Pak? Santai saja, itu semua baru awal. Setelah ini akan ada banyak darah tertumpah. Kusarankan jangan pernah memejamkan mata atau lengah. Karena ketika Anda lengah, maka akan ada satu nyawa mati sia-sia!”


Reno membaca pesan itu, kemudian menunjukkan kepada Dimas. Keduanya saling berpandangan dengan paras serius. Sampai saat ini, mereka masih dibuat kebingungan dengan ulah pembunuh itu.


“Kita harus bergerak cepat, Ren!” bisik Dimas.


“Aku sudah hampir putus asa. Ini jelas berbeda dengan kasus kastil tua. Kota ini sungguh luas, dan pembunuh itu bisa bersembunyi di mana saja. Berkali-kali melacak, tetapi selalu gagal. Korban tak berdosa terus berjatuhan. Sungguh, aku merasa gagal!” gumam Reno.


“Jangan bilang begitu, Ren. Aku yakin kita dapat memecahkan kasus ini.” Dimas berusaha menenangkan.


Drrrtt!


Tiba-tiba ponsel Reno berbunyi lagi. Sebuah pesan baru dikirim oleh sosok pembunuh itu dari nomor yang berganti-ganti.


“Kalian pasti lelah. Jangan khawatir, aku tak akan mudah ditemukan. Jangan duduk bertopang dagu di atas trotoar seperti itu, Pak Polisi. Berdirilah, dan hadapi aku dengan bersemangat!”


Pesan itu sontak membuat Reno kaget. Ia terhenyak dari duduknya. Ia menunjukkan lagi pesan itu pada Dimas.


“Dia dapat melihat apa yang kita lakukan! Dia berada di sekitar tempat ini!”


Reno langsung melihat sekeliling. Tempat itu begitu sepi. Ia melihat setiap pohon yang berdiri, barangkali ada sosok yang bersembunyi di sana. Tak lama, Reno memerintahkan semua anggota polisi untuk menyisir sekitar tempat itu.


“Sisir sekitar tempat ini dalam radius satu kilometer! Jangan ada yang terlewat!” perintah Reno.


Dimas juga ikut turun tagan. Dia melangkah untuk memeriksa keadaan sekitar. Pembunuh itu dapat mengawasi gerak-geriknya. Ia yakin, pasti ia berada tak jauh dari tempat kejadian perkara ini.


***

__ADS_1


__ADS_2