Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
388. Drama Tengah Malam


__ADS_3

Dua buah peluru bersarang di paha kiri Nadine, sehingga wanita itu langsung roboh ke lantai. Benda tajam yang ia pegang langsung terlepas dari tangannya. Ia meringis menahan sakit, tertelungkup di lantai bilik, tak bisa berbuat apa-apa. Ternyata si penembak adalah Stella. Wanita itu langsung mengambil pistol dari tangan Dimas, setelah  Tadi sempat menyerahkan pistol kepada polisi itu..Kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Hanya saja, ia tetap tidak ingin menjadi pembunuh. Ia hanya memuntahkan peluru ke arah paha kiri Nadine.


Sementara Ryan hanya bisa melongo, antara percaya dan tidak percaya. Ia bersyukur, pisau kecil itu hanya menggores perutnya. Ia tidak bisa bayangkan kalau pisau itu sampai merobek perut, dan mengeluarkan isinya, tentu dia akan meregang nyawa saat itu juga. Dimas dan Reno juga sama sekali tidak menyangka kalau Nadine akan berbuat senekat itu. Untunglah, wanita itu bisa segera dilumpuhkan.


"Kurang ajar kau, Stella! Bunuh aku bangsa*t! Bunuh aku sekalian!" racau Nadine.


Nadine menggeram penuh kemarahan, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Rasa nyeri kini menjalar di kedua kakinya. Ia mencoba bergerak, tetapi tidak bisa. Ia hanya bisa meringis menahan sakit. Darah mengucur dari paha kiri yang tertembus peluru.


"Bunuh aku! Bunuh Aku!" erang Nadine.


Stella menggeleng seraya berkata,"Kau tak akan mati semudah itu, Nadine. Maafkan aku Pak Dimas, aku terpaksa menembak wanita ini. Namun, aku sengaja tidak menghabisinya, karena kematian memang terlalu ringan untuknya. Aku ingin dia juga ikut merasakan apa yang dialami Jeremy. Suamiku mati dalam keadaan terluka dan kehabisan darah. Aku mau dia juga begitu! Kamu lihat sendiri Ryan, betapa kejinya perempuan ini. Ia khianati ketulusanmu dengan pengkhianatan. Ia tidak akan segan-segan menghabisimu. Kamu harus mati dengan cara yang sama dengan Jeremy!"


Stella mulai terbawa emosi. Dia mulai menangis, karena terbayang akan Jeremy. Sebenarnya ia ingin sekali  meledakkan kepala Nadine, tetapi ia tak mau Nadine mati begitu saja. Ia sengaja melukai kedua kaki Nadine, agar ia tak bisa bergerak ke mana-mana, agar bisa merasakan penderitaan yang dialami Jeremy.


"Oke ... oke. Kita semua sudah melihat kejahatan wanita ini. Kurasa dia tidak akan pernah bisa berubah, meski dia diampuni ribuan kali. Jadi mari kita tinggalkan dia di bilik ini dalam keadaan terkunci. Biar kegelapan dan belatung yang akan menggerogoti lukanya. Bukankah itu cukup sepadan? Dia akan sangat berbahaya kalau dibiarkan di luar. Biar dia menjadi penghuni bawah kastil ini, sampai ajal menjemputnya!" ucap Dimas.


"Tidak! Kalian nggak bisa melakukan itu! Jangan tinggalkan aku di sini!" pinta Nadine.


"Jadi tunggu apa lagi? Mari kita pergi!" ajak Dimas, tanpa mempedulikan teriakan Nadine.


Awalnya mereka ragu-ragu untuk meninggalkan Nadine, tetapi ketika Dimas melangkah keluar, satu-persatu mulai mengikuti. Yang pertama mengikuti adalah Stella, setelah menatap Nadine dengan perasaan puas. Kemudian disusul oleh Reno, dan yang terakhir adalah Ryan.


Sebelum Ryan meninggalkan Nadine, ia menatap paras istrinya dengan sedikit iba seraya berbisik," Maafkan aku, Nadine!"


"Tidak Ryan! Jangan tinggalin aku! Kamu ... kamu tidak setega itu kan? Jangan Ryan! Kumohon jangan tinggalin aku!" pinta Nadine.


Ryan menghela napas, kemudian menggeleng. Ia membulatkan tekad, mengikuti langkah yang lain untuk keluar dari bilik. Nadine semakin takut, ia ingin mengikuti langkah mereka, tetapi sayangnya ia tak bisa bergerak karena kakinya tak bisa digerakkan. Ruangan bilik tiba-tiba gelap. Pintunya tertutup dan kondisi menjadi hening.


Blaaam!

__ADS_1


"Tidaaakkk!" lengking Nadine setinggi langit.


***


Kembalinya Dimas dan Reno ke kastil disambut gembira oleh penghuni kastil yang lain. Sementara Stella, yang sengaja mengambil sekering, segera menormalkan keadaan, sehingga jaringan listrik di kastil kembali pulih. Para penghuni kastil seperti dihujani banyak kejutan hari ini. Setelah tekuak semua kejahatan Nadine, mereka dikejutkan dengan kedatangan Stella yang begitu tiba-tiba. Padahal mereka mengira bahwa wanita itu sudah menjadi korban kebiadaban Nadine.


Kehadiran Stella disambut hangat dengan pelukan-pelukan sahabatnya. Namun, Stella masih diliputi duka yang mendalam atas kematian Jeremy. Ia masih belum banyak bercerita, sehingga memutuskan untuk beristirahat saja di dalam kamar. Ia baru merasakan beratnya ditinggal Jeremy, sehingga mekasanya untuk tetap terjaga sembari meneteskan air mata. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena datang terlambat datang ke kastil, sehingga tak bisa melindungi suaminya itu.


Sementara di kamar lain, Mariah juga masih dalam keadaan lemah, terbaring di tempat tidur, dengan Ammar yang setia menunggui di sampingnya. Ammar tidak ingin terjadi apa-apa dengan Mariah, dan ia berjanji akan mendampinginya, dalam keadaan apa pun. Ia masih teringat saat kakinya mengalami cedera parah pada peristiwa di kastil sebelumnya, Mariah dengan setia mendampingi, bahkan memberi semangat sampai ia bisa berjalan kembali.


"Mimpi buruk itu telah berakhir," bisik Ammar sambil menggenggam tangan Mariah.


"Apakah Nadine sudah ditangkap?"


Ammar mengangguk, kemudian melanjutkan berbicara,"Iya, Nadine telah menerima apa yang seharusnya ia terima. Aku sudah bertemu dengan Dimas, dan dia menceritakan semua kronologis kejadian dengan sangat gamblang. Ini sungguh kasus yang mengerikan, ketika seorang sahabat dekat berubah menjadi monster tanpa kita sadari. Sekarang kau bisa beristirahat dengan nyaman, dan besok pagi kita bisa tinggalkan kastil ini dengan tenang."


Mariah terdiam. Dalam hati ia merasa lega karena pada akhirnya, semua kejahatan Nadine telah terbongkar. Ia berusaha menenangkan diri untuk saat ini. Peristiwa di ruang bawah tanah itu selalu membuatnya merasa trauma yang mendalam.Bayangan-bayangan suram menghantui di mana-mana. Ia bisa melihat arwah-arwah misterius berkelana di sepanjang koridor kastil, bahkan menjerit-jerit di bawah tanah.


"Kamu yakin?" tanya Ammar.


Mariah mengangguk. Ia tidak mau lagi ada kejadian buruk berulang di kastil tua warisan pamannya ini. Ammar hanya menghela napas, tak bisa mengintervensi apa pun, karena ia tidak punya hak. Secara penuh, kastil ini adalah milik istrinya, sehingga ia hanya bisa mendukung keputusan Mariah tersebut.


Di bagian lain kastil, tepatnya di halaman samping yang ditanami banyak tanaman hias, Di gelap malam yang sangat larut, Ryan tampak gelisah menunggu seseorang. Ia sengaja memilih tempat yang agak tersembunyi, di balik rumpun-rumpun bunga dengan kelopak berwarna ungu. Parasnya terlihat gelisah. Ia masih tak habis pikir, mengapa Nadine tega melakukan hal jahat kepadanya? Padahal selama ini ia tahu bahwa Nadine adalah pelaku dari segala kekacauan dalam kastil, hanya saja ia memilih untuk diam karena rasa cinta yang buta kepada istrinya.


""Ryan."


Terdengar suara lembut menyapa. Ryan mengalihkan pandangan ke suara yang beraasal dari seorang wanita muda berkacamata, yang tiba-tiba muncul dari balik serumpun bunga liar.


"Aku sudah menunggumu," ucap Ryan.

__ADS_1


"Aku turut menyesal atas apa yang terjadi pada Nadine. Cukup disayangkan. Kami mengenalnya selama ini, dia adalah seorang teman yang baik, tetapi sungguh tak disangka ia mempunyai sisi lain yang begitu gelap. Semoga kematiannya membawa ketenangan."


Wanita muda berkacamata itu tak lain adalah Maya yang diam-diam bertemu Ryan di halaman samping. Ryan sengaja mengundang Maya untuk bertemu di halaman samping kastil yang sepi. Rupanya ada hal penting yang ingin Ryan sampaikan.


"Dia belum mati .... " gumam Ryan.


"Maksudmu ... Nadine masih hidup?" tanya Maya penasaran.


"Iya, dia masih hidup, tapi mungkin tak akan lama. Luka tembakan di kakinya mungkin akan membusuk dan menimbulkan infeksi. Jutaan bakteri akan bersarang di lukanya, dan itu akan membunuhnya secara perlahan. Aku tidak tega, Maya. Aku tidak tega. Kau tahu aku sangat mencintainya," ucap Ryan dengan suara bergetar.


Maya hanya mengangguk perlahan. Sebenarnya ia ingin memeluk Ryan saat itu juga, tetapi mungkin hal itu tidak pantas ia lakukan, mengingat kondisi Ryan yang sedang berduka. Walau ia punya perasaan mendalam pada pria itu, ia berusaha untuk mengendalikan diri.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Maya kemudian.


"Itulah mengapa aku memintamu untuk menemuiku malam ini juga. Aku minta agar kamu segera melupakanku. Aku tidak mau kamu mengharapkan lebih kepadaku, apalagi setelah Nadine mengetahui bahwa kehamilanmu adalah sesuatu yang palsu. Maafkan aku Maya, jangan berharap apa pun. Setelah ini aku mungkin tidak akan bersedia bertemu denganmu atau mungkin dengan wanita mana pun. Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku akan meninggalkan kota ini dalam waktu yang lama untuk melupakan segala trauma yang telah terjadi" ucap Ryan.


"Kau ... kau mau kemana, Ryan?" tanya Maya dengan suara serak.


"Kamu tahu kan, aku seorang wedding singer? Seorang sepupuku di Canberra, Australia memintaku untuk datang ke sana di pesta pernikahannya bulan depan. Mungkin aku akan ke sana dalam waktu lama. Maafkan aku, Maya. Ini mungkin yang terbaik. Kita nggak mungkin sama-sama. Yang sudah kulakukan bersamamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku," bisik Ryan.


Maya hanya diam terpekur menahan tangis. Ia tak bisa berkata apa-apa. Saat ini perasaannya bercampuraduk. Ia tak tahu harus berbuat apa-apa. Namun, sekuat apa pun Maya membendung perasaan sedih, air mata tetap mengucur deras. Ia merasa hancur, sehancur-hancurnya sampai keping terkecil.


"Aku harus pergi Maya. Jaga dirimu dengan baik," ucap Ryan sambil melangkah hendak pergi meninggalkan Maya.


"Ryan ... aku ingin mengatakan satu hal kepadamu," bisik Maya.


"Apa yang ingin kamu katakan lagi, Maya?"


"Kamu adalah bajing4n terburuk yang pernah ada di muka bumi. Itu saja Ryan. Sekarang kamu boleh pergi dan tinggalkan aku!" Maya mulai dikuasai emosi, dengan lelehan air mata di pipi.

__ADS_1


Ryan hanya mengangguk. Ia bisa menerima seburuk apa pun perkataan Maya kepadanya, karena ia memang merasa bersalah. Namun, keputusannya sudah bulat. Ia meninggalkan Maya di kegelapan malam, melangkah menuju kastil, sembari berharap agar pagi cepat menjelang. Ia ingin meninggalkan kastil tua ini sesegera mungkin.


***


__ADS_2