
Perut Naina sudah semakin besar... kehamilan nya sudah menginjak bulan ke 8,terpancar jelas di wajah keluarga Hardiansyah karena penerus keturunan akan segera hadir ditengah-tengah mereka.
Aryo menunjukkan sedikit perhatian nya mengingat naina yang sedang hamil kadang merasa kesusahan karna perutnya yang semakin besar.
Pun dengan erlita walaupun dia tak menunjukkan rasa cemburunya di depan semua orang tapi dikala sendiri dia meneteskan air matanya.
Dia merasa iri dengan kehamilan naina,dia merasa naina sebagai wanita yang sempurna tak seperti dirinya.
Walaupun begitu kasih sayang dan cinta Aryo padanya tak pernah berubah.
satu hal yang membuat dia merasa terus di hargai dan disayangi dikeluarga itu.
#####
"Er.....apa ada masalah dikantormu"...tanya aryo sambil memeluk istrinya di balkon kamar mereka.Erlita hanya menoleh dan tersenyum.
"Jangan begini......aku sedih melihat mu sedih"... lanjut aryo sambil membalikkan tubuh Erlita dan menarik nya ke dalam pelukannya.
Seketika tangis Erlita pecah... airmata yang dia tahan sekian lama tumpah juga.
Dia terisak di pelukan suaminya.seakan tau apa yang membuat istri nya menangis aryo hanya dia dan menepuk lembut punggung sang istri.
"Apa aku salah ar....?"
"Apa aku salah kalo merasa cemburu dengan kehamilan naina...?"tanya erlita disela2 tangisannya.
"Dia akan memberi keluarga ini keturunan ar.... seorang cucu yang di idamkan oleh mama"
"Dia anakmu er....anak itu akan jadi anakmu....kau tau itu...ku mohon jangan bersedih?"aryo sambil menghapus air matanya istrinya.
Aryo membawa Erlita ke ranjang dan membaringkan di sana...dia ikut serta naik sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Tidurlah....kau pasti lelah".
Sesaat kemudian Erlita terlelap.aryo hanya bisa termenung dan tak bisa memejamkan matanya.
'Maafkan aku er..... maaf kan aku nai'.
#####
"Kau pulang sore mas...?" tanya naina ketika melihat aryo masuk ke kamarnya.
"Hemmm...aku tidak ada kerjaan jadi pulang sore.."
"ini..." sambil menyodorkan tas plastik berisi sesuatu.
"Waaahhh....ini martabat kesukaan ku mas?darimana mas tau?"
mata naina berbinar melihat martabak yang berlogo restoran tempat dia bekerja dulu
memang makanan yang paling di sukai naina martabak di sana...dia merasa disitulah martabat yang paling enak.
"hemm...iya mas..disitu dulu aku kerja sebelum aku menikah dengan mas.."jelas naina sambil mengunyah martabak nya.
"pelan-pelan makannya nai...."..kata aryo sambil mengelus puncak kepala istri mungilnya itu, kemudian dia jongkok di depan naina...
"Haloo...apa kabar anak ayah?" sambil mengelus perut buncitnya naina.
"Apa kalian sehat..."
Naina hanya tersenyum sambil memakan martabat nya.dia merasa senang karena anaknya diperhatikan oleh aryo.
"kak er...katanya keluar kota ya?"naina.
__ADS_1
"hemm.....ada klien yang harus di temui disana.
"sepi sekali tidak ada kak Erli"....ucap naina sambil memajukan bibir mungil nya.
Aryo yang melihatnya hanya tersenyum simpul sambil melepaskan dasi dan jas kerjanya.
"Aku akan mandi dulu...".aryo pun meranjak ke kamar mandi.
"Kau mau kemana?"..tanya aryo sambil sibuk dengan laptop nya.
"aku mau makan mas... akhir2 ini aku sering laper.. padahal ini belum jam makan malam"
"duduklah...biar aku ambilkan"...ucap aryo serambi keluar dari kamar dan beberapa menit kemudian masuk membawa nampan yang beeisi makanan dan jus buah.
"makanlah....jangan biarkan si kecil ini kelaparan" ucap aryo sambil mengelus perut naina.
Naina menatap aryo...ada binar dimatanya,dia senang aryo perhatian padanya lebih tepatnya perhatian pada bayi di dalam perutnya.
kemudian naina makan dengan lahapnya tanpa menyisakan sedikit pun.
"Apa mas akan kembali ke kamar?"..tanya naina ketika melihat aryo menenteng laptop nya dan akan keluar kamar.
"Bolehkah aku minta dipeluk malam ini?...maksudku...aku....hemmm aku"..naina tak melanjutkan perkataannya,dia tak sanggup lagi menatap manik mata suami nya yang bahkan tak terbaca sedikit pun
Aryo meletakkan kembali laptop nya di meja rias dikamar itu,lalu dia naik ke ranjang... diraihnya kepala naina dan membawanya ke pelukannya.
"Tidurlah...."
Naina hanya dia sambil melihat mata suaminya,mereka saling memandang sebelum aryo menarik kepala naina ke dalam dadanya.
"tidurlah..." perintah aryo lagi.
__ADS_1
'Tinggal beberapa minggu lagi... ya waktu ku tinggal beberapa minggu lagi, setelah itu kita tak akan bertemu lagi mas....aku boleh sedikit egois kan pa...'..batin naina seakan berbicara dengan mendiang papanya.
bersambung.....