
"Bagaimana Zam?" tanya Ferdi.
Disinilah Ferdi bersama Krisna, dokter Darius dan Rista, Mereka berada di ruang kerja Abizam, saking kalutnya Krisna tak berpikir bahwa dia bisa melacak keberadaan Naina lewat ponselnya.
"Tunggu!! ponselnya tidak bisa dihubungi? bagaimana bisa kita melacak nya?" tanya dokter Darius.
"Tidak ! aku tidak akan melacak lewat ponsel nya tapi lewat kalung yang dipakai Naina!" kata Abizam sambil mengotak-atik laptop di depannya.
Ya setelah kehilangan Naina saat dia berumur 10 tahun silam, Om Alex papa Abizam membuatkan Naina dan Kayla kalung yang di dalamnya terdapat alat pelacak yang sudah di modifikasi buatan Alex sendiri waktu itu.
"Kita hanya berharap Naina menekan tombolnya atau berada dekat dengan api!"
"Apa maksud kamu zam?" tanya Ferdi.
"Kalung itu harus di hidupkan dengan menekan berlian yang ada di liontin nya atau bila berada dekat dengan api secara otomatis akan menyala sendiri! begitulah cara kerjanya! atau bisa juga dia menyala sendiri dengan jarak kurang dari 2 kilometer dari alat ini!" ucap Abizam sambil menunjuk kan alat pelacak miliknya.
"Berarti sia-sia dong!!" pasrah Krisna.
"Tidak juga kak! aku masih bisa mengusahakan nya tapi memakan waktu yang cukup lama! semoga Naina tidak apa-apa!!"
"Ooh Tuhan!!" kata Krisna sambil menyandarkan punggungnya sofa.
"Ooh shit!!!" teriak Ferdi sambil berdiri dan mondar-mandir tak karuan!.
Melihat bagaimana tegangnya Ferdi, keringat dingin terus bercucuran di dahi Rista, dia terlihat sangat takut bagaimana pun orang yang di cari adalah sepupunya, secara otomatis dia akan terseret dalam kasus ini.
Rista berpikir keras dimana kira-kira Cerry membawa dokter Naina, Rista berpikir setelah mendengar apa yang dikatakan Abizam bahwa alat yang ada di leher Naina akan menyala sendiri bila jaraknya kurang dari 2 kilo meter.
"Tuan!" panggil Rista.
"Apa??!!" jawab ferdi, yang mana membuat Rista semakin gemetaran. Melihat Rista yang takut pada Ferdi, Krisna menengahinya.
"Fer!!"
"Ada apa nona Rista?" lanjut Krisna
"Se-sebaiknya ki-kita ke daerah Kemuning saja tuan,sa-saya pernah melihat Cerry di daerah itu, ba-barang kali alat itu bisa bekerja di sa-sana!!"
kata Rista tergagap saking takutnya.
"Baiklah! sebaiknya kita berangkat kak!" kata Abizam yang ikut menyimak kata-kata Rista.
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi dengan dua mobil, karena dokter Darius tau Rista sangat ketakutan melihat Ferdi dia meminta Rista untuk ikut di mobilnya.
perjalanan menuju tempat yang dikatakan Rista memang cukup jauh, sampai akhirnya mereka berada di depan sebuah lapangan luas dan tiba-tiba.
tit..tit...tit....tit....
alat yang di bawa Abizam berbunyi menunjukkan reaksi dari alat pelacak tersebut.
"Kak!! lihat!!" tunjuk Abizam pada Krisna.
"Cepat lacak zam!!"
Setelah beberapa saat mengotak-atik laptop Abizam akhirnya berhasil melacak keberadaan dari Naina.
"Berhasil kak!! 1 kilometer dari sini!"
"Perbesar lokasinya zam!!" ucap Krisna tak sabar.
"Kamu tau dimana ini?" tanya Krisna pada Rista.
Rista memperhatikan di layar laptop itu mencoba mengingat di mana lokasinya, terdapat sebuah alamat yang tertera di layar laptop.
"ayo kita kesana!" perintah Ferdi.
Di tempat Naina di sekap..
"Kalo begitu mari bekerja sama!" kata Naina lagi.
"Kau mau membodohi ku? kau ingin lepas dari ku dokter?"
"Tidak Katrina! kita bisa bekerja sama!! bagaimana? aku akan membantu Cerry mengontrol dirinya!"
"mengontrol dirinya? hahahahhaah kalo Cerry bisa mengontrol dirinya itu artinya aku akan lenyap dokter!!! trus menurutmu bagaimana aku bisa melindungi Cerry dari semua orang yang berbuat kejam padanya!! hah??!!"
"Aku tak pernah bisa muncul jika berada di sana dokter!ditengah keluarga nya!! kau tidak tau bagaimana kejamnya mereka dokter!! dan kau mau melenyapkan aku?? kau sama jahatnya dengan mereka dokter!!" teriaknya kembali.
Naina merinding tiba-tiba, dia benar-benar tidak paham dengan semuanya, yang dia lakukan sekarang hanyalah mencari celah akan kelengahan Katrina, Naina masih bersikap tenang sambil membujuk Katrina dan berusaha melepaskan tali di kaki dan tangannya.
Katrina sudah tidak terlalu fokus pada Naina, dia terlihat frustasi namun beberapa saat kemudian dia berjalan ke ujung apartemen disana ada tongkat baseball,dia berjalan pelan untuk mengambil tongkat itu, Naina yang melihat nya dengan susah payah melepaskan tali di tangan kanannya, dia menarik-narik tali itu dengan kuat sampai ada bagian dari tangannya yang terluka dan mengeluarkan darah segar.
Naina yang merasa Katrina akan berbuat nekat padanya masih berusaha membuka tali itu dengan paksa.Naina tak mau mati konyol di apartemen itu di tangan seorang pengidap penyakit D.I.D yang notabenenya masih pasien nya sendiri, Satu tali di kakinya terlepas.
__ADS_1
Sayangnya Katrina melihat apa yang dilakukan oleh Naina, dengan senyuman di bibirnya Katrina menyeret tongkat baseball itu balik menuju ke arah Naina.
"Apa yang kamu lakukan dokter?"
"Jangan macam-macam Katrina! aku mohon!"
wajah Naina yang sudah sangat ketakutan.
"Setelah kau, aku akan membereskan dokter Darius itu dokter! dia sudah terlalu lama ikut campur dalam hidup kami!"
Katrina mengangkat tongkat baseball di tangannya dan mengayunkan nya ke arah kepala Naina, dengan insting membela dirinya Naina menendang Katrina dengan satu kaki yang sudah terlepas tadi.
Katrina yang tak menyangka akan ada perlawanan dari Naina terjungkal ke belakang.
"Kau benar-benar membuat aku marah dokter!!!" teriaknya.
Katrina kembali berdiri dan kembali mengarahkan tongkat baseball nya kepada Naina karena perlawanan Naina sudah bisa di baca Katrina, satu pukulan mendarat di kepala Naina, darah segar mengalir di pelipis Naina, rasa pusing mulai melanda di kepalanya.
"Bagaimana dokter Naina? masih mau melawan?"
Naina hanya menatap lemah ke arah Katrina, entahlah apa yang ada di pikirannya saat ini, melawan dalam keadaan terikat rasanya sangat sulit bagi Naina,
Tiba-tiba airmata nya meleleh, dia teringat sang anak..
"Kamilaa!" ucapnya lirih.
"kak Krisna"
Pandangan mata Naina semakin gelap, dia memandang ke arah Katrina yang mulai buram di matanya.
"Tolong aku Katrina!.... tolonglah aku...!"
ucap Naina terdengar lirih dan sangat lemah.
klontang.......
suara sesuatu terjatuh di lantai dan tiba-tiba....
"Hiks.....hiks.....hiks..... seseorang tolong......hiks......a-ada yang berdarah di sini.... hiks...."
bersambung
__ADS_1