Pengorbanan Naina

Pengorbanan Naina
Flash back Ricko


__ADS_3

Ricko akhirnya tinggal bersama dengan Erli dan juga keponakan nya, jangan tanyakan bagaimana perasaan Erlita, dia sungguh sangat bahagia, Nyonya Ratna punya inisiatif dan juga bisa membujuk Ricko untuk tinggal bersama mereka, Dan sekarang fokus Erli beralih pada Aryo yang semakin hari semakin menutup diri, Aryo banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya, meratapi nasibnya yang kehilangan Naina.


Nyonya Ratna akhirnya mengambil alih untuk bisa membimbing Ricko juga bersama dengan asisten Aryo memegang kendali perusahaan.


"Ricko.....kamu jadi sekolah di mana?" tanya Erli saat berkumpul bersama.


"Aku masuk SMA negri aja Kak, di sana ada temen aku yang satu SMP, dan lagi dekat dengan rumah Mama" kata Ricko


Sudah hampir 5 tahun lamanya Ricko tinggal di sana, dan selama beberapa tahun ini, Aryo sedang mendapatkan perawatan dari dokter kejiwaan nya, untung saja Erli lebih tanggap dengan keadaan suaminya, rasa bersalah jelas membuat seorang Aryo depresi, sebelum benar-benar berujung pada kejiwaan Aryo, Daniel mencarikan dokter psikiater untuk Aryo atas permintaan Erlita, dan akhir-akhir ini Aryo sudah mulai berinteraksi dengan anak-anak dan juga Ricko.


"Ya udah nanti kakak antar buat pendaftaran nya" kata Erlita.


"Om Ricko.....main bola yuk!" ajak Kenan, anak laki-laki berumur 5 tahun itu memang paling ceria di antara saudaranya.

__ADS_1


"Siap Kenan!! ayoooo!"


Akhirnya mereka bermain bola di taman belakang, Namira nampak melukis di teras belakang sambil melihat Om dan adik-adiknya bermain bola. Erlita meninggalkan anak-anak dan menuju ke ruang kerja Aryo. lelaki itu lebih sering menghabiskan waktu nya di sana.


ceklek...


"Ar..... aku masuk ya?" tanya Erli, jika sedang berduaan memang Erli lebih suka memanggil Aryo dengan namanya,namun di depan anak-anak dia lebih banyak memanggil Papa pada Aryo.


"Masuklah er" saut Aryo


"Makan dulu, setelah itu kau harus minum obat" kata Erlita,


Aryo nampak memandang Erli dengan lekat, tiba-tiba saja dia mengelus pipi sang istri, perasaan bersalah pada Erlita yang dia acuhkan selama 5 tahun belakangan membuat nya seakan malu berada di depan Erlita.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Erlita pada Aryo


"Tidak..... terima kasih karena begitu sabar pada kami!"


ucap Aryo sambil memeluk pinggang sang istri yang sedang berdiri di depan nya


"Jangan berterimakasih, aku akan merasa jadi orang lain kalau kalian berterimakasih....kalian adalah segalanya" ucap Erlita.


Aryo merasa sangat beruntung mendapatkan istri dan sahabat seperti Erlita.Begitu banyak perjuangan wanita yang ada di hadapannya ini hingga membuat Aryo malu sendiri,karena rasa bersalahnya pada Naina membuat nya hampir gila dan bahkan banyak menyusahkan Erlita.


Aryo bukan nya tak tau bahwa selama ini istrinya begitu sangat menderita, lebih tepatnya penderitaan dan kebahagiaan bercampur jadi satu. Namun Aryo sendiri seakan tak ada daya untuk berdiri dan membantu sang istri.


"Maaf kan aku, aku janji kedepannya aku akan lebih memperhatikan kamu, kita akan membesarkan mereka bersama, bukan kamu sendiri!" kata Aryo sambil tersenyum dan terus memeluk sang istri.

__ADS_1


"Hemmm....terima kasih Ar, terima kasih karena telah kembali! Ingatlah...kita akan tetap menjadikan Naina sebagai kenangan kita bersama" ucap Erlita dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Aryo


bersambung


__ADS_2