Pengorbanan Naina

Pengorbanan Naina
70


__ADS_3

Kenan pulang dengan hati sedikit kecewa tapi ada kelegaan disana.dia menemukan titik terang keberadaan anak-anaknya, sekarang dia berharap anak-anaknya benar-benar bersama pak Rahmat yang dikenal pak Bisri tadi.


Di tempat lain..


Abizam masih berlari karena bis memang meninggalkan museum cukup jauh,pak guru yang mengejar Abizam sebenarnya sudah cukup kewalahan,karena di usianya mengejar seorang anak kecil yang menginjak remaja itu sungguh sangat melelahkan.


"Abiiii.... tunggu!!" teriak pak guru yang masih tersengal-sengal.


"aduuuhhhh aku sudah gak kuat....." ucap pak guru itu lagi..dan kini bukannya lari mengejar Abizam namun berjalan karena sudah tak sanggup lagi.


"cepat sekali larinya, sebenarnya apa yang dikejar dia sih!" gerutu pak guru yang sudah mulai tak sabar.


Seorang gadis kecil jongkok sambil menangis,Dia bahkan tak memperdulikan orang yang lalu lalang melewati.


andaikan tenggorokannya tidak sakit dia pasti bisa memanggil Abizam dengan lantang,pikirnya.


"maaf dek.... maafkan kakak, kakak memang bodoh hiks...hiks....kakak kehilangan kesempatan bertemu dengan kak Abi hiks...hiks..."


sekali lagi Naina menyalahkan dirinya sendiri, kesempatan di depan mata dilewatkan begitu saja.6bulan ini dia hidup prihatin, walaupun sebenarnya tidak bisa dikatakan memprihatinkan juga,namun untuk ukuran seorang anak berusia 10 tahun yang dari bayi hidup serba berkecukupan,hidup dengan fasilitas yang lengkap, tiba-tiba harus bekerja dan mengurus adiknya yang berusia 3 tahunan,itu menjadi sebuah beban tersendiri.


Tapi Naina tetaplah Naina, dia tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang dijalaninya,dengan setiap rengekan adik semata wayangnya.


Dan sekarang untuk ke sekian kalinya,dia menyalakan dirinya sendiri, peluang pulang ke rumah hilang sudah ketika dia tak bisa mengejar bis yang ditumpangi sepupunya Abizam,andai dia tidak bodoh dia pasti bisa mengingat no. telpon sang papa,hanya no. telepon saja dia tak ingat,bodohkan? pikir Naina,dan sekarang hanya karena tenggorokannya yang sakit dia tak bisa memanggil Abizam dengan lantang. Naina bener-bener mengutuk kebodohannya.


"Bangun!!?"


suara seseorang mengagetkan Naina.Naina masih tertunduk sambil jongkok di trotoar jalan,dimana dia berhenti mengejar Abizam tadi.


"Bangun Nai!!"

__ADS_1


"Abi???" Naina melihat keatas karena merasa mengenal suara itu.


"Ayoo...Bangun Nai!!" ucap nya lagi.


"Hiks...hiks....hiks....."


Naina bangun dan langsung memeluk Abizam,ada rasa lega dalam hatinya,seakan batu besar yang ada dihatinya selama ini telah hilang.


"hiks....hiks....Nai gak mimpi kan Bi??"


"Nai pengen pulang hiks...hiks....Nai mau pulang"


Naina menangis sejadi-jadinya,tangisan yang sebenarnya sudah lama ingin dia keluarkan,namun dia bersikap tegar kala ada disamping Kayla, Naina berpikir kalo dia meratapi dan menangisi nasibnya bagaimana nasib Kayla.


"Kita pulang Nai....kita pasti pulang" Ucap Abi menenangkan Naina.


"Bapak kenapa?"


tanya Abi setelah melepas pelukannya pada Naina,dia bener-bener tak sadar kalo gurunya sudah mengejar dia dari tadi.


"eh....semprul!! bapak sudah ngos-ngosan gini... ditanya kenapa? harusnya bapak yang tanya kenapa?" ucap guru itu yang masih mengatur nafasnya.


"oh .." jawab Abi singkat,dan begitulah Abi si irit bicara.


"eh iya...ngapain kalian peluk-pelukan ditengah jalan! hah??!! dasar anak jaman sekarang!! kecil-kecil udah main pacaran aja!! mau jadi apa negara ini! kalo generasi kayak kalian semua!!!"


"pak kita...." belum sempat Abi menuntaskan omongannya si pak guru sudah potong duluan.


"Kalo dinasehati orang tua maunya ngelunjak aja!mau buat pembelaan apa kamu hah??! Bapak kira kamu lari-lari karena ketinggalan apa gitu..ehh ladalah malah ketinggalan ceweknya!!! kok bisa kamu LDR-an!!!anak kecil kok mainnya sudah cewek-cewek an!!!

__ADS_1


Bapak aja belum punya pacar!!kamu udah main pacaran aja!! eh....lah kok curhat aku!!" ucap pak guru itu sambil tepuk jidatnya sendiri.


Abi hanya diam geleng-geleng kepala,tapi berbeda dengan Naina yang tadinya menangis sekarang cekikikan sendiri melihat tingkah gurunya Abizam.


"Sudah-sudah! Abi ayo kembali! bis nya sudah nunggu kita!"


"saya gak ikut pulang pak"


"Lhoo?? kamu tanggung jawab sekolah an bi...kita lagi study tour bukan acara keluarga kamu sendiri,main gak pulang segala, pokoknya kita pulang gak ada tapi-tapian!"


"Dia sepupu saya pak,udah 6bulan hilang,dan sekarang kami baru ketemu" terang Abi.


"Apa??!! beneran??" tanya guru itu kaget.


"iya pak,saya akan telepon orang tua saya,jadi ijinkan saya tidak melanjutkan tour pak"


Akhirnya guru tadi menelpon temennya dan menjelaskan semuanya,karena Abi merupakan tanggung jawab sekolah juga,temen sesama gurunya akhirnya mengizinkan pak Angga nama guru itu untuk menemani Abi.dan rombongan tour kembali melanjutkan perjalanannya tanpa pak Angga dan Abizam.


Naina menceritakan semuanya sambil berjalan menuju rumah yang dia tempati bersama Kayla,dia bener-bener sangat bahagia sekarang, sebentar lagi dia pasti bisa bertemu dengan papa dan mamanya,pikir Naina.


Pengorbanan Naina selama 6bulan ini dibayar lunas oleh Tuhan, kesabarannya membuahkan hasil, Abizam sepupu sekaligus sahabat terbaiknya yang Tuhan kirim untuk menjemputnya.


Bener kata mama,--kita harus berbuat baik pada siapapun,jangan mengharapkan imbalan, ikhlas aja!karena Tuhan tahu kapan Dia akan membalas kebaikan kita--itulah kata-kata yang selalu diingat Naina.


'Dan Tuhan selalu membayar nai langsung ma,entah apa itu kebaikan yang nai lakukan,nai juga tidak tau' batin Naina sambil melihat dan tersenyum pada Abizam.


'Kita pulang dek,janji kakak akan kakak penuhi' batinnya lagi.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2