
Tiga hari sudah berlalu sejak kepergian mama erlita,namira yang masih larut dalam kesedihannya,,enggan untuk meninggalkan rumah besarnya dan alex mengijinkan namira untuk bermalam di sana tentunya dengan ditemani dirinya dan anak-anak.
namira memegang erat arloji kuno itu,disana sekarang terpasang 3 wajah yang tampak ceria,ya....foto aryo yang diapit oleh 2 orang wanita,erlita dan naina.
Namira nampak tersenyum melihat ke arloji ditangannya namun matanya berkata lain, matanya malah mengeluarkan airmata.drama kehidupan keluarga besarnya yang cukup mengagumkan baginya,entah siapa yang harus disalahkan atau dihadiahi sebuah penghargaan atas kehidupan yang diberikan kepada seorang aryo.
Kecintaannya pada sang kekasih erlita dan kepatuhan pada sang mama, membuat aryo menyeret serta naina dalam hidupnya.
alih-alih sebuah bencana yang datang karena telah memadukan istri pertamanya erlita tapi kebahagiaan yang di dapatkan aryo dari naina walaupun hanya sekejap mata,bukan hanya aryo,erlita dan sang nyonya besar membuat rencana.. nyonya Ratna juga di buat bahagia dengan adanya seorang naina.
Kisah yang sangat romantis, mengharukan dan bercampur kesedihan menjadi satu dalam biduk rumah tangga aryo,erli dan naina.Jatuh cinta untuk kedua kalinya bagi aryo bahkan mungkin di dunia ini tak banyak orang yang mengalami hal seperti aryo, mencintai dua wanita dengan sama besarnya seperti aryo kepada naina dan Erlita.
Namira merasa sangat bahagia telah dilahirkan di keluarga Hardiansyah,tanpa naina mungkin saja namira tak akan pernah hadir di dalam keluarga ini.
berbeda dengan kenzo yang lebih tegar menghadapi kepergian sang mama,kini dia sudah menjalani aktivitas ke kantor seperti biasa.
kenzo memang lebih terlihat kuat daripada kedua sodaranya.
Lain kenzo lain pula kenan,si bungsu kini tengah terbaring lemas di ranjangnya.3 hari semenjak kepergian mama erlita,kenan mengalami demam tinggi,dokter menyatakan kalo kenan hanya shock dan kelelahan saja hingga tubuhnya tak mampu bertahan dan akhirnya mengalami demam.
"sayang.....bangunnn makan dulu ya" syila menguncang tubuh suaminya, waktunya kenan untuk minum obat,syila merawat suaminya dengan telaten dan anaknya sedang di asuh oleh pengasuh nya.
"aku tidak laper syil" jawab kenan lirih.
__ADS_1
"kalo kamu terus begini bagaimana kamu bisa sembuh sayang,...aku yakin mama akan sedih ngeliat kamu kayak gini"
"kamu benar syil..." mendengar kata mama kenan bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
"nai...mana? aku lama gak liat nai" tanya kenan mencari anaknya.
syila tersenyum dan melihat lekat ke arah kenan, sedetik kemudian dia mengecup kening suaminya itu.
"nai sama bibi pengasuh...
makanya sayang cepet sembuh,biar bisa main sama nai" jawab syila.
"maaf sudah merepotkan kamu sayang...aku
hanya belum percaya mama pergi" lolos lagi air mata kenan mengingat sang mama.
"iya sayang....aku tau...sudah ya..makan dulu abis itu minum obat"
"kasihan asisten mu sayang,dia mungkin kesulitan tanpa kamu di kantor"
"lagi pula nai juga menanyakan kamu terus".
Perlahan kenan menghabiskan bubur di tangan syila dan meminum obatnya.
__ADS_1
#####
Seorang lelaki bertubuh kekar duduk jongkok diantara makam orang-orang yang disayanginya,lama dia disana hanya memandang dan mengelus batu nisan orang-orang yang dia kasihi.
Dia adalah Richo, seseorang yang menjadi alasan keberadaan naina di dalam keluarga Hardiansyah,alasan bagi sang mama yang dengan tega membuat seorang naina berkorban dengan seluruh jiwa dan raganya,bahkan bisa di bilang menjual anak gadisnya untuk kesembuhan anak laki-laki nya.
Richo diam dan merenungi nasibnya,kadang dia menyalakan dirinya sendiri, andaikan dia tidak sakit-sakitan maka sang kakak tak perlu berkorban,kadang juga bisa menerima takdir hidupnya dan kakak tercintanya,andai naina tidak masuk dalam keluarga Hardiansyah mungkin tak akan ada namira dan si kembar, semuanya sudah diatur oleh sang Pencipta, begitulah Richo berdamai dengan takdirnya.
"kak nai,kak er,mas aryo.....dan mama-mama maaf Richo banyak menyusahkan kalian,kalian semua berjuang demi aku,membuat aku bertahan hidup sampai sekarang, pengorbanan kalian tak akan pernah aku sia-siakan,aku berjanji akan hidup dengan baik dan menjaga mereka dengan baik juga"
"terimakasih untuk setiap pengorbanan kalian, terimakasih karena telah memberikan aku kehidupan yang lebih panjang"
"khususnya kamu kak nai,... terimakasih untuk setiap pengorbanan mu kak,dari kecil kakaklah panutan hidupku, kekuatan hidupku untuk lebih bertahan lama"
"Tanpa pengorbanan naina,richo bukanlah siapa-siapa,bahkan mungkin richolah yang akan berakhir di bawah batu nisan ini terlebih dahulu sebelum kalian"
Richo berdiri, memandang ke-lima batu nisan itu, airmata yang menetes di pipinya dihapusnya pelan.
"Damailah disana kak...mas..ma...dan kami akan bahagia disini".
Richo pergi seakan meninggalkan kesedihan yang dia kubur di dalam taman makam itu juga,dia berjanji akan menjaga orang-orang yang disayanginya,itu bagaikan sebuah amanah yang di tinggalkan oleh erlita,orang yang terakhir pergi.
Richo berjalan menjauhi makam mereka,semenit kemudian dia berbalik badan memandang kebelakang,dia membayangkan di atas makam itu,erlita,aryo,naina dan kedua mama tengah berdiri, tersenyum dan melambaikan tangan mereka seakan berpamitan.
__ADS_1
Richo tersenyum......lama dia memandang makam itu,kemudian pergi berlalu dari sana.
End.