
"Bagaimana Zam?" tanya Ferdi
"Semakin jelas! di sana!"
"Benar itu adalah apartemen lama keluarga Cerry tuan!" kata Rista.
"Apa kamu ingat unit nya?" tanya Krisna.
"Saya hanya ingat lantai 5 tuan, nomor berapa unitnya saya tidak tahu! saya lupa!"
Sampai akhirnya mereka tiba di parkiran apartemen tersebut.
"Kak itu mobil Nai!!" kata Ferdi
"Ayo segera kita cari dia!"
Mereka berlari masuk ke dalam area apartemen tersebut, berkomunikasi sebentar dengan security di sana dan ada 2 security yang mengikuti mereka mencari keberadaan Naina.
setelah naik ke lantai 5 ,radar milik Abizam menunjukkan satu tempat dimana kalung Naina berada, dan artinya Naina ada didalam sana.
ting...tong...ting...tong...
Berkali-kali Rista memecet bel dan memanggil nama Cerry, namun nihil tak ada jawaban dari dalam.
"Apa pihak apartemen ada yang bisa membuka darurat pintu ini?"
"Ada tapi itu memerlukan waktu lama!"
"Tunggu! kau membawa bedak?" tanya Krisna pada Rista.
"Bawa pak!" Rista mengeluarkan bedak dalam tasnya, setelah menyerahkan bedak dari tas nya Krisna menghancurkan bedak tersebut dan mencoba menaburkan tipis-tipis dengan saput yang kebetulan ada di tas Rista, dengan sedikit kesabaran dan kemampuan yang dia miliki Krisna, akhirnya dia dapat melihat nomor terakhir yang di pencet di tombol kunci apartemen tersebut. karena tak terlalu banyak digit yang di pakai memudahkan mereka untuk mencoba membuka pintu apartemen tersebut.
Dengan hati-hati dan berpikir cukup lama, Krisna mencoba memecet tombol tersebut, percobaan pertama gagal! dengan keringat dingin yang mulai keluar karena cemas dengan istrinya Krisna mencoba sekali lagi, dan gagal lagi.
”Kak jangan cemas! sabar kita pasti bisa" ucap Abizam menenangkan suami sepupunya tersebut.
Percobaan ketiga, setelah memasukkan nomor demi nomor akhirnya..-tit- tanda kunci apartemen bisa di buka, dengan tergesa-gesa Krisna membuka lebar apartemen tersebut dan.....
"Hiks.....hiks.....hiks..... seseorang tolong......hiks......a-ada yang berdarah di sini.... hiks...."
seorang gadis meringkuk di depan Naina yang sudah tak bergerak di kursi dengan ikatan di tangan dan kakinya.
"Nai!!!......sayang...bangun...sayang..... Nai...." Krisna berusaha membangunkan Naina yang sudah tak bergerak lagi.
"Kak bawa langsung ke rumah sakit!" teriak Ferdi
Dengan segera Krisna melepaskan ikatan tali yang membelit Naina, dan membopongnya keluar dari apartemen di ikuti Abizam.
Ferdi menangani situasi yang ada di apartemen.
Ferdi yang belum paham dengan situasi hanya diam menyaksikan seorang gadis meringkuk dan coba ditenangkan oleh Rista dan dokter Darius.
__ADS_1
"Hiks.....hiks.....hiks..... seseorang tolong......hiks......a-ada yang berdarah di sini.... hiks...."
kicau gadis itu tiada henti.
"Nadia.... Nadia.... Nadia ini dokter Darius! Nadia ingat!" kata dokter Darius lembut, namun gadis itu masih dengan kicauan nya dan tak memperdulikan dokter Darius.
"Nadia dengar!! sudah tak ada lagi yang sakit! sudah tak ada lagi yang berdarah! lihat..ayo lihatlah!"
"Dokter..." Cerry menatap sang dokter dan akhirnya pingsan ditempat.
Dokter Darius meminta Ferdi untuk membantu mengangkat Cerry keluar dari apartemen dan dilarikan di rumah sakit, rumah sakit yang sama di mana Naina di larikan tadi.
"Maaf tuan Ferdi, maafkan sepupu saya! tolong jangan memperpanjang masalah ini ke kantor polisi! saya mohon tuan Ferdi!" Rista memohon kepada Ferdi agar melepaskan sepupunya, bagaimana pun bila menjadi Cerry dia adalah sosok gadis yang baik, tapi entah kepribadian yang mana yang telah menculik dokter Naina,pikir Rista.
"Benar tuan Ferdi!saya yang akan menangani pasien saya sekarang!" bela dokter Darius.
"Baiklah saya tak akan memperpanjang masalah ini lagi! kalo gitu saya permisi!" pamit Ferdi karena ingin menemui Naina dan Krisna.
"Terimakasih tuan Ferdi terimakasih!" ucap Rista berulang kali.
Ferdi meninggalkan mereka berdua menuju ruang rawat Naina, di sana masih ada Abizam dan Krisna yang setia ada di samping istrinya.
"Bagaimana zam?" tanya Ferdi setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah bisa di atasi, untung nya pukulannya tidak terlalu kuat jadi tak ada cidera serius!" terang Abizam.
"Fer! jangan kasih tau mama dan papa dulu! takutnya mereka merasa cemas!" pinta Krisna.
"Kakak tenang saja!" jawab Ferdi.
"Tidak apa-apa kami tinggal?"
"Pulanglah aku tidak apa-apa!"
"hubungi aku bila ada sesuatu yang penting kak!" saut Ferdi.
Akhirnya Abizam dan Ferdi meninggalkan Krisna di sana, Ferdi mengantar Abi sampai ke rumahnya karena Abi bilang tak ingin kembali ke kantor.
"Tumben ikut ke sini Fer?" tanya Belinda istri Abizam sekaligus sahabat Ferdi.
"Nih nganterin si Abi!"
"lhooo mobil kamu mana sayang?"
"dikantor ntar biar di bawa sopir ke sini"
" Ya udah ya aku balik!"
"makasih fer!"
"okey...aku juga makasih!"
__ADS_1
********
"Kay cepat siap-siap pesawat kamu akan berangkat nanti malam!"
"Ya ma lagian ini juga masih lama ma.."
"ya paling gak siap kan baju dingin kamu, disana sudah mulai musim dingin!"
"Ya ma..."
"Eno... Rio..sini sayang!!... dengarkan jadi anak yang patuh ya selama mami pergi okey?"
ucap Kayla pada si kembar seakan mereka tau apa yang di bicarakan sang mami.
"Berapa lama kamu rencananya disana?"
"Satu minggu ma tapi kak Ferdi hanya mengantar saja, kemungkinan kak Ferdi hanya dua hari di sana! dia bilang kerjaan kantor lagi banyak! kasihan Amar dan Adel!"
"Ya udah siap-siap gih!! jangan mainan terus sama si kembar!"
"Ya maaa..." senangnya hati Kayla hari ini, sebentar lagi Ferdi mengabulkan keinginan untuk bisa bertemu dengan Haris suaminya.
Ditempat lagi, Ferdi sedang berdiri bersandar di mobil miliknya dengan kaca mata hitam nya di depan sebuah kampus, hari ini dia sengaja menunggu Raisya pulang dari kampus nya.Dari kejauhan nampak Raisya datang bersama ketiga temannya, disana Ferdi melihat satu orang lelaki yang berada di samping Raisya. Raisya tidak sadar kalo ada Ferdi yang memperhatikan gerak gerik nya bersama teman-temannya. melihat Raisya begitu akrab dengan lelaki itu, timbul rasa cemburunya, kemudian dengan percaya diri Ferdi berjalan mendekati Raisya.
"Siang sayang....." ucap Ferdi sambil melingkarkan tangannya di pinggang Raisya dan mencium pelipis kiri Raisya.
Raisya merasa kaget, begitu pula dengan ketiga temannya, apalagi satu orang lelaki yang tak lain adalah Dito, teman kampusnya yang tengah mengejar cinta Raisya.
"Pamit pada teman-teman kamu sayang, kita akan pergi sekarang!"
Raisya masih tidak paham akan situasi ini, dia masih binggung memandang lekat ke arah ferdi.
Namun tak urung juga Raisya pamit pada teman-temannya.
Disinilah Raisya sekarang di cafe tempat dulu Ferdi menolak dia,di tepi danau buatan tersebut.
Ferdi memeluk Raisya dari belakang, jantung Raisya seakan mau copot sampai kakinya hampir tak bisa menopang berat badannya.
"Aku akan pergi menemui kak Haris nanti malam!"
"Aku berharap kak Haris akan semakin baik keadaannya"
Raisya hanya diam, dia benar-benar binggung apa maksud dari Ferdi, Lelaki ini benar-benar bisa mengobrak-abrik hatinya. Ferdi membalikkan tubuh Raisya dan mengangkat dagu Raisya yang tengah tertunduk.
"Setelah memastikan keadaan kak Haris baik-baik saja! pulangnya aku akan melamar kamu! kamu mau kan?"
Raisya meneteskan airmata nya seketika, dia berharap ini bukan mimpi!! ini bukan hayalannya seperti biasanya. benar! dia berharap ini nyata, Ferdi melamarnya, berarti cintanya terbalaskan.
"Heii dasar anak kecil!! kenapa malah menangis!!" ucap Ferdi sambil menarik Raisya ke dalam pelukannya.
"I love so much Raisya!!"
__ADS_1
bersambung....
#oohh so sweet bang Ferdi!!!!!#