
"Tidur Sya!" perintah Ferdi.
Raisya hanya diam, dia hanya berkata dalam hatinya agar membentengi hatinya sendiri dengan tembok yang semakin tinggi untuk Ferdi.
Setelah berhasil menata hatinya, dengan sikap tenang Raisya memberanikan diri berbicara dengan Ferdi setelah beberapa bulan selalu menghindari lelaki itu.
"Ngapain kakak malam-malam kesini?" tanya Raisya.
"Nengokin kamu! memang gak boleh?" ucap Ferdi lembut sambil duduk di tepi ranjang Raisya dan memandang Raisya.
'Duuhh jangan manis-manis dong!!! bisa hancur tembok penghalang aku buat kamu!!' batin Raisya, namun dia dengan pintarnya memainkan mimik wajahnya agar tak terlihat salah tingkah.
"Tidur Sya....jangan mainan hp aja! hp nya aku sita!"
ucap Ferdi dan beralih duduk ke kursi di samping ranjang tempat Raisya berbaring. mendengar hpnya di sita Raisya hanya melongo saja.
'apa-apaan ini!!! jangan sok peduli deh!!' lagi-lagi Raisya hanya berani bicara di dalam hatinya.
"Iya aku gak main hp! cuma kembaliin hp aku kak!"
Namun tiba-tiba saja HP Raisya bergetar menandakan ada seseorang yang menelpon, Ferdi mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon Raisya malam-malam begini. Ferdi mengarahkan layar ponsel itu ke arah Raisya.
"Siapa?" tanya nya dengan muka datar.
"Temen aku kak! siniin!!" ucap Raisya yang berusaha merebut hp yang ada ditangannya Ferdi.
"Temen mana?"
"Temen kampus aku!! siniin kak! pasti ada yang penting kalo dia telpon!"
"Ngapain dia malam-malam telpon anak gadis orang!! modus banget!!"
ucap Ferdi yang masih dengan wajah datarnya.
"Dito gak kayak gitu orangnya kak!! siniin!!...."
karena terlalu lama gak diangkat akhirnya panggilan pin di putuskan secara sepihak oleh si penelepon.
"Tuh kan kak!! di matiin kan! kakak resek!!" kata Raisya ketus.
"Kamu lagi sakit!! istirahat kenapa sih!! malah malam-malam mainan hp dan sekarang mau ngobrol sama temen kamu lagi!!"
"Dia bukan hanya temen aku!! dia lagi PDKT sama aku!!" ucap Raisya jujur, karena akhir-akhir ini Dito temannya memang memberikan perhatian lebih padanya.
"Dan kamu iya in aja?gak merasa bersalah sama dia?"
"apa maksud kakak? aku gak nyakitin Dito jadi untuk apa merasa bersalah!?? emang kakak!!"
"Emang aku kenapa?" ucap Ferdi yang tak sadar telah menyakiti hati Raisya dulu. karena gak mendapatkan jawaban, Ferdi akhirnya melanjutkan kata-katanya.
"Kamu kan gak cinta sama dia? ngapain kamu ngasih harapan sama dia?"
__ADS_1
"Siapa bilang aku gak cinta sama dia? dengan seringkali ketemu sama dia, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya!"
"Bohong banget kamu!! emang kamu bisa move on dari aku!!" ucap Ferdi yang memang memancing Raisya.
"Ckck....jangan terlalu percaya diri tuan!!! rasa cinta bisa hilang kalo terlalu sering memberikan luka di hati seseorang!"
"Baik!! aku ingin membuktikan kalo kamu sudah bisa move on dari aku!!"
"Tentu! sebentar lagi juga kamu akan mendengar berita kalo Raisya tidak lagi sendiri!! tunggu saja!". ucap Raisya.
"Benarkah?" ucap Ferdi sambil berdiri dari kursinya.
"Tentu saja!!"
"Beneran bisa move on dari aku?" katanya lagi yang semakin membungkuk mendekatkan wajahnya pada Raisya, jangan tanyakan bagaimana wajah Raisya, tiba-tiba wajahnya menegang, tangannya memegang selimutnya sangat erat.
'Tenang sya...tenang...jangan terpengaruh!!' batin Raisya.
"Tentu saja! kamu terlalu percaya diri kak!!"
"Aku akan membuktikan sendiri!"
ucap Ferdi sambil menarik dagu Raisya agak sedikit mendongak melihatnya, dan detik berikutnya, Ferdi sudah mel*u*maaat bibir Raisya dengan lembut, berlama-lama disana, Raisya shock dan hanya bisa diam saja!
"Coba lah untuk move on kalo bisa!!" kata Ferdi setelah melepas ciumannya.
"Istirahat lah, aku pulang dulu dan hp kamu aku sita!"
Pamit Ferdi yang kembali mengecup singkat bibir Raisya.
"Aaaaaggghhhh...... Ferdi gila!!! ferdi gila!!! kenapa sih susah banget lupain kamu!!!" teriak pelan Raisya.
"Manis banget sih bibirnya... iiihhhh tuh kan aku jadi mesum!!! semuanya gara-gara Ferdi gila!!! Raisyaaaaa jangan mesummm!!!!"
ucap Raisya sebelum menenggelamkan wajahnya dalam selimut yang di pakainya, sedangkan Ferdi sudah senyum-senyum sendiri seperti orang gila, sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
********
Drt.....drt.....drt.....
"Hallo dokter Naina!" suara di seberang sana.
"Hallo siapa ini?"
"Cerry dok! dokter bisa kita bertemu?"
"Kamu di mana Cer? kamu bisa datang ke klinik sekarang, aku sedang di sini!"
"Tidak bisa dok, aku hiks.... jatuh di kamar mandi dok!...sepupuku tidak bisa dihubungi dok! tolong aku dok! aku gak tau lagi nomor siapa yang bisa aku hubungi kecuali dokter dan sepupuku".
"Okey-okey aku akan segera ke sana! kamu share Lok aja ya!"
__ADS_1
"Iya dok makasih!" tut....
"Dokter mau kemana?" kata seorang suster yang melihat Naina terburu-buru keluar dari ruangan nya.
"Salah satu pasien ku membutuhkan pertolongan suster! oya kalo dokter Darius datang tolong kasih tau kalo aku bertemu dengan Cerry"
"Baik dokter!"
Dengan segera Naina berlalu ke parkiran dan berlalu dari sana, Naina berhenti di sebuah apotek dan membeli beberapa keperluan P3K barang kali nanti Cerry membutuhkan nya.
Setelah menerima share lok dari Cerry,dia segera meluncur ke sana dan memarkirkan mobilnya di sana, kemudian Naina segera menuju flat dimana Cerry tinggal.
Naina memencet bel, namun Cerry memberikan kode apartemen nya karena dia bilang tak bisa jalan untuk membukakan pintu, setelah memasukkan kode apartemen, Naina segera masuk dan memanggil Cerry namun dia tak menemukan di mana Cerry berada,
dan tiba-tiba....
bug....suara pukulan di bagian belakang kepala Naina, dan seketika Naina ambruk tak sadarkan diri.
*******
"Suster dimana istri saya? kok tidak ada di ruangannya?" kata Krisna menanyakan pada salah satu suster di sana.
"Dokter Naina?"
"Iya sus"
"Oh tadi pamit bertemu dengan pasiennya dok"
pada saat bersamaan, dokter Darius datang dan suster memanggil dokter berusia 40 tahunan itu.
"Ada apa sus?" tanya dokter Darius.
"Dokter Naina berpesan tadi katanya mau menemui pasiennya jadi dokter di suruh menunggu dulu"
"Pasiennya? siapa?"
"Nona Cerry!"
"Apa???" teriak Darius.
"Ada apa dok?'" tanya Krisna yang dari tadi ikut menyimak percakapan mereka.
"Cerry tak pernah meminta bertemu di luar klinik...saya takutnya itu bukan Cerry tapi....".
sedangkan di apartemen Cerry, nampak seorang wanita terduduk di kursi dan di ikat kaki dan tangannya pada kursi tersebut. beberapa saat kemudian orang tersebut tersadar dari pingsannya.
"Selamat siang dokter Naina?" sapa seorang wanita yang duduk di depannya dengan senyuman manisnya.
"Cerry?" ucap Naina lirih karena merasakan pusing akibat pukulan benda tumpu di belakang kepalanya.
"Kenalkan dokter, aku Katrina!"
__ADS_1
mendengar nama itu sukses membuat mata Naina melotot dan terlihat ketakutan.
bersambung...