Pengorbanan Naina

Pengorbanan Naina
Kesedihan Raisya


__ADS_3

Ferdi setia menunggu sang istri di ruang rawat di rumah sakit tersebut, Raisya belum sadarkan diri setelah tindakan kuret yang terpaksa harus di lakukan oleh dokter. sedangkan Ferdi sibuk merangkai kata-kata untuk menyampaikan semua nya pada Raisya ketika Raisya nanti tersadar. Sebenarnya Raisya tak sadar kalo dia sedang mengandung namun Ferdi merasa tak mampu menyimpan rahasia itu dari sang istri. Beberapa saat kemudian, papa Kenan, papi Kenzo dan mama Nayla datang, mereka segera di sambut Ferdi dengan senang dan lega! melihat sang anak terbaring dengan luka di wajahnya membuat mama Nayla menangis tersedu-sedu. Dia terus saja tak habis pikir kenapa orang tersebut begitu kejam pada sang putri.


Kenan yang mendapat informasi dari Ade bahkan Ferdi belum memakan apapun dari pagi berniat mengajak Ferdi untuk makan dulu.


"Aku gak laper pa!" ucap Ferdi lirih sambil memegang tangan sang istri.


"Tapi kamu harus makan Fer! apa mau kamu ikutan sakit? trus kalo kamu sakit gimana kamu bisa jagain Raisya!" ucap sang papa, dan rupanya tanpa di minta Ade sudah membawa makanan untuk Ferdi makan, Ferdi hanya memengang tangan Raisya, sedangkan makanan nya utuh tak tersentuh.


ceklek...suara pintu di buka dan rupanya itu mama Syila


"Mama.....!" panggil Ferdi sendu, dan segera sang mama memeluk anaknya tersebut.


"Sudah tidak apa-apa!! semuanya akan baik-baik saja!" ucap mama Syila, melihat ada nasi yang belum tersentuh akhirnya mama Syila bertanya apa Ferdi belum makan, Ferdi hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan sang mama.


mama Syila menyuapi Ferdi dengan telaten, tangan Ferdi bahkan dengan setia memenggam tangan sang istri.


drt...drt....drt....


Rupa nya Naina menelpon dia juga sangat khawatir dengan keadaan Ferdi dan Raisya.


"haloo Fer! kamu gak papa? gimana keadaan Raisya?" tanya Naina cemas pada sahabat juga sodara angkatnya itu.


"Aku baik Nai, sudah jangan cemas! Raisya yang belum sadarkan diri tapi dia sudah baik-baik saja, doanya ya Nai!"


"Iya....."saut Naina

__ADS_1


"hallo kak!" ternyata Kayla juga ada di sana bersama Naina


"Kay!!"


"Bagaimana? apa kakak baik-baik saja? Raisya? apa dia baik-baik juga?" kata Kayla tak kalah cemas nya pada Kakak lelakinya itu.


"Aku baik bocil!! Raisya juga baik-baik saja sebentar lagi siuman" kata Ferdi, dengan segera mama Syila meminta anaknya menyerahkan ponselnya.


"Halo Kay, Nai sudah dulu ya buat kan kakakmu istirahat!"


"Iya ma... ati-ati ma! jaga kak dengan baik ya ma!"


tut.... sambungan terputus, bersamaan dengan itu tangan Raisya yang dipegangnya bergerak-gerak.


"Abang hiks....hikss.....hiksss....abang! Raisya..." ucap Raisya mengingat kejadian yang menimpa diri nya.


"sudah semua akan baik-baik saja!" ucap Ferdi seraya naik ke ranjang rumah sakit dan memeluk istrinya tanpa mempedulikan semua orang yang ada disana.semua orang merasa lega dengan sadarnya Raisya.


Raisya yang tak menyangka orang tua dan mertuanya ada di sana masih sibuk menenggelamkan wajahnya ke dalam dada sang suami sambil terisak mengingat bagaimana Damar memperlakukan dirinya.


"sudah tidak apa-apa sayang!" ucap Ferdi.


"Sya..." panggil sang mama, dan mendengar suara sang mama Raisya mengurai pelukannya pads sang suami, dsn betapa senangnya dia melihat mama dan papi nya di sana juga. Ferdi akhirnya turun dari ranjang dan membiarkan mama Nayla melepaskan rindu pada sang istri, papi Kenzo mendekati mereka berdua dan mereka saling berpelukan bertiga. Ferdi rasanya tak tega memberikan informasi terkait janin yang ada di dalam kandungan Raisya yang sudah di kuret.


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya ! mama dan papi akan pulang dulu, besok pagi mama akan kesini membawa sarapan buat kamu!" bujuk mama Nayla.

__ADS_1


"Iya ma...janji mama bakalan ke sini lagi?" tanya Raisya.


"Iya sayang....."


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari sana.... Raisya masih saja diam,dia merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya, kenapa dia begitu percaya pada orang yang mengaku sebagai orang suruhan Ferdi, padahal selama mereka menikah Ferdi tak pernah menyuruh siapapun menjemput istrinya kecuali Ade yang bodyguard yang juga sopir Ferdi sendiri.


Ferdi melihat Raisya yang terdiam, menyimakkan rambut Raisya yang berantakan.


"Maaf" ucap Raisya lirih.


"Maafkan aku! hiks...hiks...kalo saja aku lebih waspada! kalo saja aku tak bodoh hiks....hiks...aku..aku..!"


perkataan Raisya terpotong karena Ferdi naik ke ranjang dan membawanya ke dalam dekapannya, dia membiarkan Raisya meluapkan rasa sakit hatinya.


Ferdi terus saja membelai yang istri, hingga tak butuh waktu lama, Raisya tertidur kembali, dia pandangan i wajah lebam yang istri, tanpa terasa air mata Ferdi keluar,dia menangis nasib sang isteri, menangis kebodohannya karena tak bisa menjaga istrinya dengan baik. Ferdi mengelus perut rata sang istri dan kembali meneteskan airmata nya, andai dia lebih waspada tentu saja apa yang selama ini Raisya harapkan hadir dalam rahimnya tak akan terpaksa mereka buang! Ferdi masih belum punya keberanian menjelaskan semuanya pada Raisya, Ferdi tak ingin membuat Raisya semakin bersalah begitu juga dirinya, dia tak ingin Raisya membencinya.


Wanita yang sangat dia cintai itu masih terpuruk, sesekali dalam tidurnya badannya bergetar karena menahan takut dalam mimpinya, dokter mengatakan kalo seluruh keluarganya harus memberikan support yang baik agar trauma yang di alami Raisya bisa hilang berangsur-angsur, karena trauma yang di alami Raisya masih dalam batas normal dan masih bisa di tangani oleh keluarga sendiri tanpa campur tangan dokter kejiwaan. Kembali Raisya gemetar dalam tidurnya, Ferdi memeluknya lebih erat untuk mengurangi rasa takut istrinya, bahkan semalam Ferdi tidak tidur hanya untuk memastikan istrinya tidur terlelap.


Pagi harinya, Ferdi masih memeluk sang istri, kali ini dia terlelap selepas subuh karena rasa kantuknya yang tak bisa di tahan lagi. Raisya bangun terlebih dahulu,dia mengelus pipi yang suaminya, wajah lelah nampak terlihat di sana, Raisya mengigit bibir bawahnya agar tak terdengar isak tangis dari mulut nya, Raisya sudah tau apa yang terjadi padanya, tentang janinnya! tentang kuret paksa yang di alaminya, dia tau semuanya! sebelum benar-benar membuka matanya semalam, Raisya sudah sadar namun matanya sulit untuk di buka, dia mendengar bagaimana papa Kenan dan mama Syila menasehati suaminya agak tegar dan mampu mengatasi masalahnya, dia juga mendengar bahwa sang papi mengatakan masih banyak waktu untuk bisa membuat Raisya hamil kembali.


hamil! ya.. Raisya sudah tau! bahkan siang itu adalah hari dimana dia akan memberitahu Ferdi dan papi nya sebagai kejutan. namun naas kejutannya justru tertuju pada dirinya sendiri.


"Maafkan aku abang! aku janji akan lebih hati-hati!" ucap Raisya tanpa suara, hanya sebuah isyarat dengan mulut nya saja sambil membelai wajah lelah sang suami.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2