
Beberapa hari di rumah sakit membuat kondisi Mama Richo semakin melemah, Erlita yang banyak merawat Mama Richo dan juga Richo, dia benar-benar menempati janjinya pada Naina, Erlita sibuk sendiri dengan ketiga anaknya dan juga Mama dan adik Naina, tentu saja dengan bantuan dari Daniel. Aryo tak dapat di andalkan, dia larut dalam kesedihannya dan penyesalan akan kematian Naina, bahkan hampir setiap hari Feri asisten nya yang membawa berkas-berkas perusahaan ke rumah. Nyonya Ratna tak bisa tinggal diam, dia tak mau perusahaan nya hancur karena ulah Aryo.
Usianya yang tak lagi muda membuatnya sering kali kecapean,namun dia tetap lah nyonya besar Hardiansyah! nyonya yang terlihat anggun dan tanpa celah, dia memerankan nya dengan sangat baik, terlihat baik-baik saja dan tenang menghadapi segala hal.
"Bagaimana keadaan Mama saya dok?" tanya Erlita
"keadaannya melemah nyonya!" kata sang dokter
Erlita hanya terdiam, setelah beberapa kemudian,dokter kembali menjelaskan tentang keadaan Mama Richo. Dengan gontai Erlita keluar dari ruangan dokter, seperti biasa dia akan menuju tangga darurat dan terduduk disana, Erlita menangis sesenggukan sambil menutup mulutnya rapat-rapat, Dia merasa bebannya sangat berat tanpa ada yang ikut memberinya semangat.Aryo sibuk dengan penyesalan nya, sedangkan Erli,harus mengurus ketiga buah hatinya, Mama Richo dan juga Richo seorang diri.
Tak pernah ada yang tau, tubuh Erlita yang semakin kurus, karena terlalu banyak yang di pikirkan nya, tak ada yang pernah tau tangisannya selalu mewarnai hari-hari nya.Di saat dia sangat lelah, dia hanya akan memeluk Richo sebagai ganti Naina, Erlita melihat wajah yang sangat mirip dengan Naina itu sebagai penguat dirinya, dengan melihat Richo, janjinya pada Naina akan selalu dia ingat dan tentu saja secara otomatis dia akan mengingat si kembar dan Namira yang masih sangat membutuhkan nya.
__ADS_1
ceklek.....
Erlita membuka kamar rawat Mama Richo, dia melihat Richo sedang duduk sambil melihat acara televisi.
"Kakak!" panggil Richo ketika melihat Erli datang.
"Sudah makan?" tanya Erlita sambil mengelus kepala Richo pelan.
"Tidak! kakak baik-baik saja! hanya kurang tidur, kadang-kadang si kembar ngajak kakak begadang!!" bohong Erlita di ikuti tawa kecilnya, Richo yang belum paham akan hal seperti itu hanya mangut-mangut saja.
"Ini kakak bawa kan laptop, di situ sudah kakak isi beberapa permainan,biar kamu gak bosan!" kata Erlita, membuka laptop tersebut dan menunjukkan cara penggunaan nya. Richo memandang wanita yang ada di sampingnya itu, kemudian dengan perlahan dia memeluk Erlita, mendapat perlakuan seperti itu dari Richo, Erlita menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
"Kakak orang yang hebat!!! kak Nai pasti sangat bangga pada kakak!" ucap Richo,
ya akhirnya dia tau semua nya dari Daniel, tentang siapa Aryo, siapa Erlita dan apa yang terjadi pada mereka. Entah mengapa Erlita serasa di tenangkan oleh Naina, tatapan sejuk mata Richo membuat pecah tangisan Erlita. Dia memeluk erat Richo sambil menangis sesenggukan, Erlita bahkan lupa, kalau Richo hanya seorang remaja berusia 11 tahun, yang mungkin saja tak bisa membantu nya atau memberikan nasehat pada nya, Richo hanya bisa memeluk nya erat sebagai penyemangat.
"Kakak akan kuat!!! kakak janji Richo!! kakak akan kuat!!" ucap Erlita lirih, Dia mengalihkan pelukannya dan tertidur di pangkuan Richo,dengan pelan Richo menepuk punggung wanita yang sudah di anggap nya kakak itu, perlahan Erlita tertidur, dia cukup lelah dengan rutinitas sehari-hari nya.
"Terima kasih kak Erli, terima kasih!" ucap Richo lirih.
"terima kasih Kak Nai, bahkan setelah kakak pergi, kakak masih memberi aku pengganti kakak yang juga sangat baik!! terima kasih kak Nai kau masih memikirkan aku!" batin Richo.
bersambung.......
__ADS_1
Terima kasih telah sabar membaca kelanjutan ceritanya, walaupun up nya gak menentuππππππ