Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Janji Dio


__ADS_3

"Kalian itu ngapain sih kok bikin berisik?" ucap mama yang keluar dari ruangan tempat penyimpanan gaun dengan nada sedikit marah.


"Akio yang mulai duluan ma," tutur Dio dengan mengadu ke mama Akio.


"Huh bisanya ngadu dasar anak mama manja. Cowok kok manja. Dio manja ... Dio kayak anak kecil. Wleekk wleekk. Sinii coba kejar aku kalau bisa," ucap Akio sembari berlarian seorang diri persis seperti anak kecil.


"Ma, anak mama itu kenapa sih jadi menyebalkan begitu tingkah nya kayak orang lagi kesurupan saja," tutur Dio yang tidak nampak menanggapi ocehan Akio tersebut.


"Sudah abaikan saja Kio. Jangan ditanggepin ya. Kamu duduklah di ruang tengah sambil menonton tv atau makan lah dulu," ucap mama.


"Baiklah ma," jawab Dio dengan muka yang kurang bersemangat.


Akio pun nampak melirik ke arah mana Dio melangkah dan kemudian ia pun ikut melangkah mengekor di belakang Dio.


"Kamu kenapa sih? Sudah sana lho cari kesibukan sendiri. Jangan gangguin aku!" ucap Dio dengan nada sedikit marah kepada Akio.


Akio pun nampak sedih mendengar dirinya di bentak oleh Dio dan dengan segara Kio pun melenggang pergi ketempat lain.


Sedangkan Dio kemudian menyalakan tv dan menonton berita dari channel siaran berita Jepang.


Tak lama kemudian nampak Akio membawa 1 trolly penuh berisi dengan banyak macam cemilan dan nampak menuju ke arah Dio yang tengah asik melihat tv tersebut.


Dio yang mendengar ada suara roda trolly mendekat ke arah nya pun seketika menoleh dan mendapati wajah Akio yang nampak menyebalkan tersebut.


"Astaga, mau ngapain lagi sih dia bawa camilan segitu banyaknya. Sudah macam penjual jajanan saja," batin Dio yang kemudian mengabaikan kedatangan Akio.


Akio pun menaruh seluruh camilan tersebut di atas meja yang ada di depan Dio dan kemudian Akio pun nampak duduk di sebelah Dio.


Akio pun lantas ikut menonton tv tanpa menyentuh camilan nya sama sekali. Hingga setengah jam berlalu pun belum nampak Akio membuka satu pun camilan nya dan nampak fokus melihat siaran tv di depan nya itu.


Aninda, Amel dan mama Akio yang turun dari lantai atas melihat banyak camilan di atas meja pun menjadi bingung.


"Kalian ngapain?" tanya Aninda dengan ikut duduk di sofa yang lain. Di ikuti oleh Amel dan mama Akio.


"Ini aku lagi melihat tv Nin," jawab Dio dengan cepat.


"Terus kenapa ada banyak camilan di atas meja namun di anggurin?" tanya mama Akio.


"Tanya saja sama putra tersayang mama tersebut," ucap Dio dengan melirik Akio.


"Buat Dio semua ma, biar enggak cemberut terus dari tadi," jawab Akio.


"Ngasih kok enggak bilang-bilang cuma naruh terus enggak nawarin apa-apa, huh!" jawab Dio dengan nada ketus.

__ADS_1


"Yasudah ayo di makan bareng Dio. Jangan terlalu di masukin ke hati ya ucapan Akio yang membuat kamu tersinggung," tutur mama Akio dengan membagikan camilan tersebut.


Sedangkan Dio nampak mengangguk dan menerima cemilan dari mama Akio tersebut.


"Nin, pulang yuk. Aku masih ada beberapa tugas yang belum aku selesai kan mengingat besok diriku ada jadwal presentasi laporan kuliah," ucap Dio mengajak Aninda pulang.


"Kok kalian main nya cuma sebentar saja sih?" tanya Amel.


"Enggak tau aku Mel, aku cuma ngikut Dio saja," jawab Aninda sembari melirik Dio yang nampak cemberut tersebut.


Dio pun nampak berdiri mengambil kunci mobil dan segera berpamitan dengan mama Akio dan Amel. Dio pun nampak tidak berpamitan dengan Akio dan keluar dari rumah tersebut masih dengan raut muka sebal.


"Hati-hati ya sayang," ucap mama Akio sembari melambaikan tangan.


Aninda dan Dio pun menganggukkan kepala yang nampak dari jendela mobilnya tersebut dan segera melaju keluar dari rumah keluarga Akio tersebut.


Disepanjang jalan pun Dio nampak banyak diam nya. Kemudian mobil Dio pun nampak berhenti di depan sebuah restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam tepung krispy nya yang enak tersebut.


"Ayo kita makan lebih dulu," ucap Dio menggandeng tangan Aninda dengan posesif seperti biasanya.


Aninda pun terlihat menganggukkan kepala saja. Kedua nya pun segera memasuki resto cepat saji serta memesan menu makanan dan segera mencari tempat duduk.


Waiters pun telah menyajikan makanan yang kedua pesan. Kedua nya pun memakan makanan tersebut dengan keheningan tanpa adanya obrolan.


Disaat Dio sedang mengunyah ayam krispi dengan menatap jendela kaca dari luar, Dio pun nampak membelalakkan kedua mata nya.


Dengan cepat Dio pun segera memakaikan Aninda masker dan topi agar Akano tidak melihat keberadaan Aninda tersebut.


Dio pun segera menarik tangan Aninda dengan cepat agar segera keluar dari restoran tersebut.


Dio pun nampak lega ketika kedua nya pun telah sampai di dalam mobil.


"Itu tadi pasti Akano," gumam Dio di dalam hati.


Mobil pun telah melaju keluar dari restoran cepat saji tersebut dan menuju kembali ke apartemen nya.


"Dio, aku kan makan nya tadi belum selesai? Kenapa main tarik saja sih?" tanya Aninda dengan wajah cemberut nya.


"Nanti kalau sudah sampai apartemen aku masakin ayam krispy kayak tadi," ucap Dio dengan santai nya.


Kedua nya pun nampak telah sampai di apartemen. Aninda pun segera masuk ke dalam kamar nya dan merebahkan tubuhnya tersebut.


Sedangkan Dio segera menuju ke dapur untuk memasakkan Aninda ayam krispy yang baru untuk menggantikan ayam nya yang tadi nampak belum habis di makan oleh Aninda tadi.

__ADS_1


Aninda yang mendengar suara Dio dari arah dapur dan nampak sibuk sekali itu pun dengan segera Aninda pun bangun dan membantu Dio.


"Dio, enggak usah repot langsung masak-masak lagi. Aku sudah cukup kenyang lho. Ayo kita bersantai lebih dulu," ucap Aninda sembari menarik tangan Dio.


"Kamu duduklah disofa, biar aku saja yang memasak. Aku sama sekali enggak merasa kamu repotkan kok. Sini mendekatlah dulu sebentar," ucap Dio yang kemudian memeluk Aninda dari arah belakang.


Aninda yang di peluk dari arah belakang pun menjadi salah tingkah dan tubuhnya pun rasanya menjadi nampak merinding aneh.


"Dio, lepas ... " ucap Aninda dengan lirih karena tubuh Aninda pun nampak semakin merinding dengan gelenyar aneh merasakan hembusan nafas Dio di ceruk leher nya itu.


"Sebentar saja Nin," ucap Dio dengan membalikkan tubuh Aninda secara perlahan sehingga wajah kedua nya pun nampak telah berdekatan.


Dio pun mulai men ci um bibir mungil milik Aninda tersebut. Mencium perlahan hingga ciu man pun berubah menjadi lu ma tan.


Aninda pun nampak merespon ciuman lembut dari Dio tersebut. Decapan lidah keduanya pun semakin membuat keduanya terbakar ga i rah yang menggebu.


"Nin ... " ucap Dio lirih tertahan.


"Apa kamu sudah mulai menerimaku? Aku ingin kamu segera memberikan kepastian untukku. Aku pun tidak ingin kamu di miliki oleh lelaki manapun selain diriku," papar Dio lebih lanjut.


Aninda yang mendengar penuturan Dio tersebut pun menjadi gelapan.


"Ak-aku ... sebenarnya nyaman sekali ketika berdekatan dengan mu Dio. Namun aku belum tau pasti ini perasaan cinta atau bukan," ungkap Aninda.


"Bagaimana kalau kita menjalin hubungan perlahan lebih dulu sebagai sepasang kekasih? Agar kita bisa mengetahui dan memastikan perasaan mu itu?" ucap Dio dengan wajah seriusnya.


"Bagaimana jika nanti pada akhirnya kita bertengkar kemudian putus dan hubungan kita menjadi renggang terus jadinya bermusuhan?" tanya Aninda memastikan.


"Aku bukan seperti itu Nin," jawab Dio.


Kedua nya pun nampak masih membisu dengan tangan Dio yang masih nampak memeluk pinggang Aninda.


"Gimana Nin? Jika sudah nyaman satu sama lain kenapa kita tidak menjalin hubungan lebih serius lagi? Aku janji tidak akan mengecewakan kamu apalagi menyakiti mu. Bisa mendapatkan hatimu saja sudah menjadi anugrah terindah dalam hidupku," ucap Dio dengan seraya meyakinkan Aninda.


"Apa kamu tidak akan mengingkari janji mu seperti yang lain nya?" tanya Aninda kemudian.


"Tidak akan. Kalau perlu akan aku nikahi sekarang juga kalau kamu ingin bukti keseriusan ku Nin," tutur Dio lagi.


"Jangan, aku tidak ingin terburu-buru menikah," kata Aninda.


"Terus bagaimana dengan kita? Mau kan kamu menjalin hubungan denganku?" tanya Dio dengan muka serius.


Aninda pun nampak menganggukkan kepalanya pertanda dirinya pun telah bersedia untuk menjadi kekasih Dio.

__ADS_1


"Tapi kamu janji jangan sampai menyakiti ya?" ucap Aninda dengan menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking milik Dio.


"Aku berjanji," jawab Dio dengan segera memeluk Aninda dengan erat dan kemudian kedua nya pun saling ber pa gu tan bibir dengan sangat mes ra.


__ADS_2