Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Mendengar ucapan pembelaan dari Dio untuk diri nya pun membuat Liliana menjadi semakin kesal.


Untuk apa Dio membelaku. Setelah pengkhianatan nya di hari yang seharusnya menjadi pernikahan kita waktu itu. Jika dirinya meminta kembali lagi untuk segera menikahi ku pun membuat diriku kembali menjadi trauma akan peristiwa tersebut.


"Tidak, Abah. Tidak perlu klarifikasi lebih lanjut mengenai semua ini. Saya beserta keluarga saya yang akan pindah dari pulau ini dengan segera. Jadi tidak perlu untuk saling menyalahkan kembali," ucap Liliana dengan tegas.


Sedangkan Ayah dan Ibu Liliana pun terlihat mengangguk dengan apa yang telah menjadi keputusan putrinya tersebut.


"Baiklah, memang Liliana beserta Ayah dan Ibu akan segera pindah dari kampung ini karena kami akan segera melangsungkan acara pernikahan di kampung halaman kami, Bah," tutur Dio kepada Abah Saleh.


Mendengar ucapan Dio yang semakin melantur pun membuat Liliana beserta kedua orang tua nya melotot tajam ke arah Dio.


Sedangkan Dio yang di tatap dengan sangat tajam pun pura-pura tidak melihat akan tatapan mereka tersebut dan langsung menceritakan kronologis kejadian yang sesungguhnya dari awal hingga akhir.


"Oalah, pantas saja Nak Liliana tidak mau di dekati oleh siapaun. Pasti karena masih setia menunggu ayah dari bayi yang sedang di dalam kandungan itu," ucap salah satu warga kampung tersebut.


"Kalau kejadian nya benar seperti itu lebih baik segera kita nikahkan segera secara agama malam ini juga, Bah! Kasihan perut Liliana yang semakin hari semakin terlihat membesar tanpa seorang suami yang mendampingi," teriak salah satu warga yang lain nya lagi.


"Betul,"


"Benar,"


Seluruh warga kampung pun mendesak agar kedua nya segera di nikahkan malam itu juga.


Di dalam hati nya Dio pun menjadi sangat senang karena seluruh warga di tempat tersebut terlihat mendukung dirinya untuk segera menikahi separuh jiwa nya itu.


Sedangkan Liliana terlihat memandang kedua orang tua nya dengan raut wajah linglung dan bingung.


"Ini saya juga telah membawa surat cerai dari pihak pengadilan jika status saya memang telah berubah menjadi duda," ucap Dio dengan mengeluarkan sebuah surat cerai yang kemudian di lihat dan di baca oleh warga kampung tersebut secara bergiliran.


"Nikah kan!"


"Nikah kan!"


Seruan warga kampung pun membuat Abah Saleh mengangguk setuju untuk menikah kan Dio dan Liliana secara agama.


"Baiklah, mau tidak mau memang keduanya harus di nikah kan malam ini juga," ucap Abah Saleh.


"Ta--tapi Abah, sa--" ucapan Liliana pun segera di potong oleh Dio.

__ADS_1


"Baik Abah, kami berdua setuju. Namun nikah kan kami dengan nama serta binti Liliana yang sesungguhnya," ucap Dio yang kembali mendapatkan tatapan tajam oleh Liliana.


"Dio!" pekik Liliana.


Namun seolah seluruh semesta tidak ada yang membantu dan mendukung Liliana untuk membatalkan rencana pernikahan dadakan kedua nya tersebut.


"Baiklah, Pak Santosa yang bernama asli Pak Dirga dan Liliana yang bernama asli Aninda. Abah akan menikahkan Aninda beserta Dio yang di saksikan oleh wali Aninda sendiri beserta seluruh warga kampung di pulau ini," tutur Abah Saleh yang membuat Liliana beserta kedua orang tua nya tidak bisa menolak keputusan ketua di kampung nya yang sangat di hormati tersebut.


"Sebaiknya setelah Nak Aninda melahirkan maka segeralah menikah ulang lagi ya secara agama," ucap Abah Saleh yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh Dio dengan sangat antusias.


Hingga tak berapa lama pernikahan dadakan pun terjadi malam itu juga.


Aninda serta Dio kini telah resmi menjadi suami istri melalui pernikahan siri nya tersebut.


Dio kemudian dengan senang hati segera menelepon kedua orang tua nya.


"Hallo ..." ucap Mama Dio dengan nada lirih khas orang yang sedang mengantuk.


"Ma! Dio telah menikah!" pekik Dio di dalam telepon tersebut dengan penuh senyum.


Mama Dio yang mendengar ucapan putra nya melalui via telepon tersebut pun menjadi sangat terkejut.


"Dio tidak bercanda ma! Dio telah menikah!" pekik Dio lagi yang membuat seluruh warga kampung yang mendengar ucapan Dio pun terlihat tertawa kecil melihat tingkah konyol pemuda yang baru di kenal nya selama beberapa hari tersebut.


"Kamu menikah dengan siapa?! Jangan ngawur kamu Dio! Jangan membuat masalah lagi!" bentak sang Mama dengan penuh emosi mendengar ucapan putra nya itu.


"Dengan Aninda lah ma. Dio serius ini sudah menikah dengan Aninda di pulau Lemukung! Dio telah menemukan Aninda, Ma. Mama segera lah kemari sekarang juga. Persiap kan semua nya untuk Dio ma," ucap Dio dengan gamblang.


"Kamu serius?? Ya sudah Dio. Malam ini juga Mama dan Papa akan bertolak menuju ke sana. Segera kirim alamat nya secara lengkap," tutur sang mama di telepon tersebut.


"Baik, Ma. Akan segera Dio kirim kan lengkapnya," jawab Dio dengan cepat memutus sambungan telepon nya tersebut.


Sedangkan mama Dio pun terlihat sangat senang tak karuan mendengar kabar tersebut dan segera menghampiri sang suami yang masih terlihat membuat desain sebuah villa.


"Pa! Papa! Ayo kita segera bersiap menuju ke pulau Lemukung! Dio telah menikah Pa!" pekik Mama Dio dengan menghampiri suaminya tersebut.


"Astaga, apa yang anak itu kembali perbuat ma?? Menikah dengan siapa lagi?!" tanya Papa Dio dengan mengacak rambutnya dengan sangat frustasi.


"Menikah dengan Aninda, Pa. Dio telah menemukan Aninda disana. Dio meminta kita untuk mempersiapkan segala nya dari sini. Ayo kita bawakan hantaran untuk keluarga besan kita sebaik mungkin, Pa," pinta Mama Dio yang kemudian mendapat jawaban persetujuan dari suaminya tersebut.

__ADS_1


Malam itu juga mama dan papa Dio beserta seluruh penghuni rumah terlihat sangat sibuk mempersiapkan segalanya untuk di bawa ke pulau Lemukung.


Tak lupa mama Dio pun segera mengabari Akio jika Dio telah menikah bersama dengan Aninda di pulau Lemukung.


Akio yang mendapatkan kabar bahagia tersebut segera membangunkan istrinya tersebut untuk segera bertolak ke rumah orang tua Dio.


"Sayang, ayo bangun. Aninda dan Dio telah menikah!" seru Akio dengan menggoyangkan tubuh istrinya tersebut agar segera bangun.


"Hemm ... aku mengantuk sekali sayang. Jangan percaya, itu pasti berita palsu. Karena Dio itu bodoh hingga saat ini pun belum berhasil menemukan Aninda. Sudah lah ayo kita tidur saja," gumam Amel dengan mata yang masih terpejam.


"Ini berita asli sayang. Ini mama Dio sendiri yang mengabariku," ucap Akio yang membuat Amel secara otomatis terduduk dan melebarkan kedua mata nya.


"Benar kah yang kamu ucapkan??" tanya Amel dengan menatap tajam ke arah suaminya tersebut.


"Benar sayang! Ayo kita segera berkemas. Karena kita akan segera menuju ke pulau Lemukung bersama keluarga besar Dio," ucap Dio yang kemudian terlihat mengeluarkan koper.


Amel pun dengan sangat antusias segera mengemas pakaian yang akan di bawa nya disana. Tak lupa Amel pun terlihat memasukkan banyak sekali camilan untuk nya itu.


Tak lama kemudian kedua nya pun telah siap dan segera menuju ke rumah orang tua Dio.


Setelah keduanya sampai di kediaman orang tua Dio pun Akio segera masuk menggandeng istrinya tersebut dengan langkah tergesa.


"Ma, sudah siap? Kita gunakan pesawat pribadi milik papa Akio saja ya ma. Tadi papa mengatakan sendiri melalui sambungan telepon kepada Akio, Ma. Agar sampai disana pun bisa lebih cepat. Setiba nya di Kalimantan pun telah ada orang-orang kepercayaan papa yang telah mengatur segala akomodasi transportasi kita," ucap Akio kepada Mama Dio yang kemudian segera di jawab dengan anggukan kepala oleh Mama Dio.


Tengah malam itu juga keluarga besar Dio beserta Amel dan Akio bertolak menuju ke pulau Kalimantan.


Hingga menjelang siang hari iring-iringan mobil yang di kendarai oleh keluarga Dio pun terlihat tiba di pulau Lemukung.


Dio beserta warga kampung pun terlihat sangat antusias menyambut kedatangan keluarga Dio tersebut.


Terlihat Amel yang segera turun dari dalam mobil dan pandangan nya pun mengitari mencari keberadaan Aninda.


Dengan cepat Amel pun melangkah menuju ke arah sahabat nya tersebut yang tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah menunduk serta perut yang telah membesar itu.


"Aninnn!!!" pekik Amel yang kemudian memeluk sahabatnya tersebut dengan air mata yang berurai.


"Jadi, kamu juga sedang mengandung??" tanya Amel dengan wajah berbinar.


Aninda pun terlihat mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


"Bayi ku ini berjenis kelamin laki-laki. Jika bayi kamu nanti berjenis kelamin perempuan maka tentu saja bisa kita jodohkan sejak di dalam kandungan!" pekik Amel dengan keras yang membuat semua orang yang mendengar ucapan konyol Amel pun tertawa pelan.


__ADS_2