Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 22


__ADS_3

" Lhoo aku cari dari tadi, ternyata kalian di sini, kenapa Malika di ajak ke sini sih Siti, kamu ini ceroboh sekali sih, sini tempatnya kan kumuh tidak baik buat Malika." Seru seorang wanita cantik yang berpakaian sexy berkulit putih dan bodynya bak model saja, dandanannya yang menor persisi seperti boneka saja.


Siti dan Mitha yang berpelukan kaget di buatnya, dan mereka berdua mengurai pelukannya itu.


" Oh Bu Niken, ada apa ya Bu kok tahu kami ada di sini."Ucap Siti yang terlihat kaget sekali melihat wanita cantik itu teriak-teriak.


" Ya mau ajak Malika jalan-jalan Dong, memangnya di kira mau ngapain, ayo buruan kita segera berkemas."Seru wanita itu dengan nada ketus sekali.


" Maaf Bu, sama Pak Biyan Malika tidak boleh di bawa kemana-mana, begitu pesan Pak Biyan tadi pada saya." Ucap Siti dengan wajah yang terlihat tegang.


" Memangnya kamu siapa ngatur-ngatur saya, saya ini calon istrinya Mas Biyan, sudah ayo bawa Malaika bersama dengan aku, kita jalan-jalan ke Mall keburu siang." Seru wanita yang bernama Niken itu, kalimatnya membuat hati Mitha tak karuan, Mitha jadi tidak enak bila wanita ini adalah calonnya Pak Biyan, secara Mitha kan tidak bisa berbuat apa-apa, Malika di bawa olehnya pun aku tak dapat melarang dia.


" Tapi Bu Niken saya ijin sama Pak Biyan mau pulang dan Malika saya titipkan sama Mbak Mitha ini." Siti menjelaskan pada wanita itu.


" Masak, aku ga percaya Mas Biyan bilang begitu." Ucap wanita yang bernama Niken tersebut dengan menatap tajam ke arah Mbak Siti, dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


" Terserah Bu Niken tak percaya, tatapi Pak Biyan memberikan perintah begitu Bu dan saya tidak berani melanggar perintah itu." Ucap Siti dengan tegas, Siti sudah biasa di perlakukan seperti itu oleh Niken, secara Siti tahu persis siapa Niken itu sebenarnya.


Musang berbulu domba itulah Niken.


" Lho kenapa masih pada ribut di sini, Siti kamu ini sedari tadi saya telpon ga di angkat, dan kamu Mitha juga sama!" suara berat itu memecahkan keributan kecil, di dalam ruang tamuku yang sempit ini, aroma parfum begitu kuat memenuhi ruangan ini hingga membuat semua yang ada di ruangan itu terhipnotis karenanya, Mitha dan Siti pun saling beradu pandangan mereka tak mengerti apa yang Biyan inginkan.


" Ini lho Mas, Malika mau aku ajak jalan-jalan, e... malah di titipkan Siti di tempat seperti ini, gimana sih pengasuh kamu ini ga jelas banget." Sela Niken yang terlihat judes sama Mitha dan Siti, matanya melotot tajam ke arah kedua orang itu.

__ADS_1


" Aku yang menyuruhnya Niken, jadi kamu jangan salahkan Siti." Ucap Biyan membela Siti.


" Sebab Siti mau pulang, orang tuanya di kampung lagi sakit dan ga ada yang jagain, makanya dia tidak bisa jagain Malika dan aku suruh menitipkan Malika di sini lebih aman." Sambung Biyan menjelaskan.


" Kalau begitu biar Malika sama aku saja Mas, aku bisa mengurusinya kok, jangan di titipkan di sini, tempat saja kaya gini jorok." Ucap Niken dengan ketus, dia begitu yakin bisa mengasuh Malika, padahal Malika tak pernah mau di gendong sama Niken kalau tidak kepepet, anak itu menangis histeris bila Niken memaksanya untuk di gendong.


Niken dengan cepat mengambil Malika dari gendongan Mitha, dan Mitha pun tak bisa menolaknya sebab dia tak berhak atas Malika.


Belum sempat Malika di angkat dari gendongan Mitha, bocah kecil itu sudah menangis histeris tak mau di ajak oleh Niken.


" Tu... lihat kamu pikir Malika suka sama kamu, baru lihat kamu saja sudah nangis, kaya habis lihat hantu." Omel Biyan pada adik iparnya itu, hingga membuat mata Niken melotot tak suka pada perkataan Biyan, memang sih Biyan di kenal sebagai pria yang ceplas-ceplos.


" Aduh Mas, ya harus di biasakan dong, lagian aku kan nanti yang akan jadi ibu sambung buat Malika," ucap Niken dengan penuh percaya diri.


" Ya tak apa-apa Malika ga mau sama aku, tapi Papanya Malika mau sekali kan sama aku." Goda Niken tak mau kalah, walaupun ada Mitha dan Siti di sebelah mereka, Niken tak mau tahu dengan penolakan Biyan, wanita itu harus memiliki Abiyan jangan kalah sama Siti yang hanya orang kampung, begitu pikir Niken.


" Jangan mimpi kamu Niken, sudah ah lama-lama dekat sama kamu bisa membuat aku jadi gila, Mitha ayo berkemas baju-baju kalian, kita akan ikut mengantar Siti ke kampungnya sekalian menengok Ibu nya Siti." Perintah Biyan dengan suara beratnya, dan tentunya tanpa penolakan.


" S-saya juga ikut Pak?" tanya Mitha dengan menunjuk wajah sendiri dengan jari telunjuknya, sebab Mitha takut bila Niken salah paham pada dirinya juga, ya walaupun Mitha selalu senang bila pria itu sudah mengajak dia dan Dimas jalan-jalan bersama dengan Siti dan Malika juga tentunya.


" Kebiasaan, kamu itu selalu tanya perintahku." Gerutu Abiyan pada Mitha.


Mitha hanya tertunduk dengan omelan pria di sebelahnya itu, sambil menggigit bibirnya, sebenarnya Mitha sudah terbiasa dengan sifat Biyan yang suka ceplas-ceplos itu, namun hanya saja Mitha malu di omeli di depan Niken yang terlihat sombong itu.

__ADS_1


" Ia sudah sana, jangan banyak tanya ayo kalian siap-siap dulu, aku juga mau bersiap-siap juga."Imbuhnya kembali.


saking seringnya di ajak pergi sama Abiyan untuk urusan laundry Mitha sudah biasa mempercayakan usahanya itu pada salah satu pekerjanya itu, yang tak lain adalah teman Mitha sendiri yaitu Titi.


Tanpa banyak bicara Mitha masuk ke dalam kamar, keburu Abiyan mengomelinya di depan Niken, dan tentu saja sambil menggendong Malika dan satu tangan lagi menarik Dimas untuk di berganti baju.


" Mitha biar Dimas bersama aku saja, kamu siapkan kebutuhan Dimas saja." Seru Abiyan dari balik pintu kamar Mitha.


" O...I-ia Pak Biyan sebentar, saya gantiin bajunya Dimas dulu kalau begitu." Jawab Mitha di balik kamarnya dengan sedikit berteriak.


Setelah berganti baju dan terlihat rapih, Dimas keluar dari kamar Mitha.


" Ayo sini Nak, sama Om dulu biar Ibu ganti baju dulu ya, nanti kita jalan-jalan ke kampung lihat rumahnya Tante Siti." Seru Abiyan pada bocah kecil itu dan di sambut girang layaknya anak kecil yang mau di ajak jalan-jalan, lalu tanpa komando bocah kecil itu menghambur ke arah Abiyan yang sudah berdiri di depan pintu, dan Abiyan dengan cepat mengangkat tubuh Dimas ke dalam gendongan dia.


" Hollee halan-halan ( hore jalan-jalan) " Ucap Dimas dengan girangnya.


Niken yang sedari tadi di dekat Abiyan mengawasi kelakuan pria itu, semua kelakuan Abiyan tak luput dari tatapan Niken, hatinya bergemuruh mendengar Abiyan mau ke rumah Siti, cemburu tentu saja, aku tak akan tinggal diam aku harus ikut ke kampung bersama Mas Abiyan, begitu yang ada di pikiran Niken.


Niken tak mau kalah dari Siti, jangan sampai dia kalah saingan dengan seorang babysitter itu, banyak rencana terlihat di pikiran Niken, Abiyan harus jadi miliknya.


Abiyan melewati Niken begitu saja sembari menggendong bocah kecil itu berjalan menuju rumahnya, sambil bercanda ria dengan pria kecil itu.


Sementara itu Niken mengekori pria tampan itu di belakang dengan wajah yang terlihat kesal sekali, karena di cuekin sama Abiyan.

__ADS_1


__ADS_2