Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 9


__ADS_3

POV Pramudya


Hari ini aku pulang agak malam efek dari cuti yang aku ambil menjadikan aku seperti robot saja di kantor, pekerjaan yang begitu banyak dan menumpuk baru saja selesai aku kerjakan jam tujuh malam, sementara Karina aku suruh untuk pulang duluan.


Karena ga mungkin dia menungguku sampai larut malam, sementara dia dari pagi sampai sore menjelang pulang kegiatan di luar kantor cukup banyak dan menyita banyak waktu.


Sampai di Apartemen hampir jam delapan malam.


"Maaf ya Bu, Pram lagi banyak kerjaan jadi telat pulangnya" ucapku pada Ibu.


"Ia ga apa-apa Pram, ayok kita semua makan dulu" ajak ibu pada kami semua yang sudah sedari tadi menunggu aku pulang, aku merasa bersalah pada mereka semua karena aku mereka jadi kelaparan.


setelah makan aku berinisiatif mengajak Zaenab untuk ngobrol di ruang tamu.


" Nab, bisa bicara sebentar?" ucapku dengan lirih ketika dia hendak ke dapur mengambil minum. Aku sengaja menunggu dia keluar kamar untuk segera menyelesaikan masalah kami.


" Iya bisa Mas, " jawabnya sambil menganggukan kepala dan tersenyum manis padaku, aku masih saja terhipnotis dengan senyumannya itu, senyum yang sempat aku rindukan kala itu.


"Kita duduk di balkon sana yuk" ajak ku pada Zaenab dan menunjuk arah balkon yang berada di dekat ruang keluarga, sementara yang lain sudah berada di kamar mereka masing-masing.


Di apartemen ini lumayan luas, karena termasuk dalam apartemen mewah, ada tiga kamar satu kamar utama yang aku suruh tempati Ibu dan Karina, dan dua lagi untuk aku dan satunya untuk Zaenab dan Fatimah.


Sesampai di balkon udara malam membuat aku dan Zaenab merapatkan jaket yang aku kenakan sementara Zaenab memakai cardigan.


" Aku sebelumnya minta maaf Nap, bukannya apa-apa, kamu sudah lama tidak pulang apa nanti ayah dan ibu kamu tidak mencari mu nantinya?" ucapku dengan pelan, agar dia tak tersinggung, aku ga mau dia merasa aku usir dari sini, dan aku juga tak mau dia di sini sementara status aku dan dia saja sudah jelas tak ada hubungan lagi.


" Mas, aku minggat dari rumah Mas," serunya dengan menatap aku dengan sayu, dan tatapan matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


" Hah, apa? kenapa kamu lakukan itu Nap, kamu bohong pada kami, katanya kamu sudah bilang sama kedua orang tua kamu?!" seruku tak terima, karena dia tidak jujur pada kami.


" Maaf Mas, aku ga mau kamu tinggalkan aku, aku masih sangat mencintai kamu Mas, putusnya hubungan kita itu hanya keputusan sepihak saja yaitu orang tua aku, mereka terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, terutama ibu, dia termakan bujuknya si Roy.


Dan Roy yang ingin meminang aku itu ada janji sama Ibu, dia akan membuatkan Ibu sebuah rumah mewah untuk kami, tapi aku ga mau Mas, karena aku ga Cinta sama Roy" tutur Zaenab panjang lebar sambil sesekali dia menyela air matanya meluncur tiada henti.


Aku terperangah mendengar perkataan jujur Zaenab mengenai keluarganya itu.


" Tetapi tidak bisa begini Nab, aku ga bisa menampung kamu di sini terlalu lama, nanti suatu saat ibumu pasti tahu akan hal ini, dan aku ga mau membuat masalah dengan ibumu dan Roy." Jawabku jujur, Roy adalah anak orang kaya di kampung kami dia adalah pemilik sebuah mini market yang ada di kampung, selain itu dia juga salah satu anggota dewan, jadi dia bolak balik antara kota ke kampung.


Sementara Ibunya Zaenab itu orangnya terlalu banyak ikut campur akan urusan anaknya.


" Aku mohon Mas, apa Mas sudah ga cinta aku lagi? segitu mudahnya mas berpaling dariku, putus dari aku Mas langsung terima Karina sebagai Pacar, aku meragukan Cinta Mas selama ini atau jangan-jangan Mas sudah berhubungan dengan Karina sudah sejak lama!?" tuduh Zaenab yang tengah emosi dengan keputusan aku.


" B-bukan itu Nab, tak ada alasan untuk menolak Karina, dan aku sudah terlanjur kecewa juga sama keluarga kamu, tapi tolong jangan bawa-bawa Karina dalam masalah kita, aku tetap menghargai keputusan kedua orang tua kamu, aku tak bisa mengabaikan keputusan mereka, sebab pernikahan harus di landasi juga pada restu kedua orang tua." Tuturku padanya.


" Aku tetap ga mau Mas," serunya lagi.


Zaenab tersedu-sedu mendengar pernyataan Pram yang tetap membantu dia walaupun mereka telah memutuskan hubungan mereka.


" Mas, janji tetap akan membatu kami?" ulangnya lagi.


Aku mengangguk, " Ia Nab, aku janji membantu sampai kamu selesai kuliah, setelah itu aku bisa lepas tangan sebab kamu pasti sudah bisa siap kerja." ucapku memberitahu.


" B-baik Mas, aku akan pulang besuk, tetapi aku butuh uang saku untuk pulang dan uang kuliahku bulan ini serta uang untuk hidup sehari-hari belum mas kasih pada kami." Ucapnya jujur sambil menundukkan kepala tak mampu menatap mataku.


" Baik, aku siapkan besuk pagi" jawabku kemudian.

__ADS_1


" Tidurlah Nab, waktunya istirahat besuk pagi-pagi aku antar kamu ke terminal ya?" imbuhku lagi.


lalu kami beranjak meninggalkan balkon itu dan aku menutup pintu balkon rapat-rapat dan berjalan menuju kamarku.


Aku membuka pintu kamar.


Cekrek...


Aku kaget bukan kepalang melihat seorang wanita cantik duduk di pinggir ranjangku dengan bersedakep menatap aku dengan tajam. 'Duh ada bau-bau cemburu nih' lirihku dalam hati.


" Mas ngapain berduaan sama Zaenab!" serunya dengan tatapan tajam ke arahku.


" Sabar sayang, kamu jangan salah sangka dulu, Mas pikir kamu sudah tidur, kalau belum-," aku belum selesai berkata dia sudah memotong kalimatku


" Kalau belum apa hah?!" bentaknya tak sabaran mendengar jawaban ku.


" Aku hanya menyuruh dia pulang Dek Karin, supaya aku ga merasa bersalah pada kedua orang tua dia, ternyata Zaenab itu kabur dari rumah Dek, dia bohong sama kita, jadi aku ga mau ikut campur nanti aku di tuduh yang tidak-tidak padanya." Ucapku jujur.


" Bener cuma itu saja?" balasnya penuh selidik.


" Awas ya Mas, kalau kamu macem-macem, Karina ga terima!" balasnya dengan sebuah cubitan di pinggangku yang membuat aku kesakitan.


" Aduh sakit sayang" balasku sambil meringis.


" Ia, dek kamu jangan khawatir ya?" imbuhku lagi, aku mencoba untuk meredam kemarahan dia.


" Udah tidur sana gih, besuk kamu kerja kan Dek," seruku menasehati.

__ADS_1


" Oke Mas, aku ke kamar dulu ya? " lalu dia bangkit dari ranjang dan ketika di depanku dia mencium pipiku dan kabur ke kamar utama, menyusul ibuku yang mungkin sudah terlelap.


'Wah buset dapat rejeki nomplok ini' lirihku dalam hati. aku senyum-senyum sendiri mendapat ciuman pertama kali dari seorang wanita selain ibuku, aku pegang pipiku karena hampir tak percaya.


__ADS_2