
Sore hari nya, terlihat Zey tengah menapaki tangga menuju ke kamar nya yang berada di lantai atas.
Zia yang melihat keberadaan kakaknya yang baru menampakkan batang hidung pun segera menghentikan langkah kaki kakaknya tersebut.
"Kak Zey masih suka clubbing?? Kenapa harus membolos kuliah juga sih kak?? Ayuna pun sudah menunggu kakak sedari pagi agar bisa berangkat kuliah bersama," ucap Zia dengan menatap jengkel ke arah kakak nya tersebut.
"Mulai besok kalian berangkatlah berdua. Jangan lagi menungguku," jawab Zey dengan terus melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Brakkk!!
Zey pun terlihat membanting pintunya dengan sangat keras. Hingga membuat Zia terjingkat karena kaget.
"Astaga, punya kembaran satu kenapa juga kelakuan nya seperti itu??" gumam Zia dengan melangkah menjauh dari pintu kamar milik kembaran nya tersebut.
Di dalam kamar, Zey pun terlihat terus menghela nafas nya. Dirinya pun merasa jika ada beberapa ingatan yang hilang di dalam diri nya semalam.
"Hahhh ... kenapa susah sekali untuk mengingat kejadian semalam," ucap Zey dengan menghela nafas panjang.
Dengan cepat Zey pun terlihat berbicara dengan seseorang di dalam telepon nya tersebut.
"Semalam? Apa kamu lupa jika kamu telah membuat kita berdua kewalahan menarik tubuh mu untuk menjauh dari tempat DJ cantik semalam itu? Untung saja kamu tidak di seret paksa oleh pengawal yang di tempatkan di dekat DJ tersebut," jawab Ramos di seberang telepon.
"DJ siapa? Yang biasanya menjadi DJ tetap itu?? Untuk apa aku mendekati DJ dengan ukuran buah da-da yang sangat tidak lazim itu?? Menjijikkann," ucap Zey dengan bergidik ngeri membayangkan jika diri nya mendekati DJ yang sering memamer kan ke dua mochi nya yang terlihat seperti ukuran buah semangka tersebut.
"Hahaha, lucu ... kamu lucu. Bukan DJ yang itu. DJ yang semalam aku ceritakan. Ah, pasti kamu lupa kan dengan obrolan kita semalam. Biar aku kirim kan poto DJ semalam itu. Matikan dulu teleponnya jika sudah tidak ada pertanyaan lagi," tutur Ramos di dalam teleponnya tersebut.
"Ya, baiklah. Aku tutup dulu telepon nya," jawab Zey dengan segera mengakhiri panggilan teleponnya tersebut.
__ADS_1
Tak lama kemudian motif pesan pun masuk ke dalam ponsel Zey. Dengan cepat Zey pun membuka pesan tersebut dengan mata yang membola.
"Bukan kah ini Clara?? Bagaimana bisa Clara menjadi DJ di club malam? Kenapa Clara memilih menjadi seorang DJ ketimbang melanjutkan kuliah nya di Prancis?" gumam Zey perasaan semakin tak karuan.
Dengan cepat Zey pun terlihat menelepon nomer milik Ramos lagi. Perasaan Zey pun semakin gelisah karena di deringan ponsel yang pertama Ramos pun tidak menjawab telepon nya.
Hingga di panggilan kedua terdengar suara Ramos menjawab telepon dari Zey dengan nada kesal.
"Hallo!" bentak Ramos yang tengah sibuk bersama dengan seorang wanita yang sedari dulu disukai nya.
"Kamu ada info tentang wanita yang menjadi DJ semalam atau tidak??" tanya Zey dengan raut penasaran dan cemas.
"Berdasarkan informasi yang aku terima, wanita itu bukan berprofesi sebagai DJ asli. Melainkan teman dekat dari pemilik club malam yang sering kita datangi itu yang memang iseng ingin meramaikan club malam tersebut serta hanya unjuk kebolehan saja. Sudah puas belum dengan jawaban ku? Aku sedang sibuk berkencan! Jadi jangan ganggu aku lagi!" teriak Ramos dengan sebal dan segera mematikan ponsel nya tersebut.
Sedangkan Zey pun terlihat bernafas lega kala mendengar penuturan sahabat nya tersebut jika DJ yang di maksud bukan lah seorang DJ asli yang sering wara-wiri di club malam.
Kali ini Zey memesan minuman non alkohol dan keberadaan nya di club malam tersebut hanya untuk mencari informasi tentang DJ semalam yang sangat mirip dengan wajah sang mantan kekasih.
Setelah mengorek banyak informasi melalui sang bartender, terlihat raut wajah khawatir di dalam diri Zey tersebut.
"Jadi pemilik club malam ini adalah orang Jepang? Apakah Clara berada di Jepang?" gumam Zey dengan segera melenggang keluar dari club malam tersebut.
Zey pun telah kembali di kediaman orang tua nya. Terdengar suara-suara canda tawa ringan pun menggema di ruang keluarga yang juga terlihat sosok Ayuna di antara keluarga nya tersebut.
"Hai, Kak Zey," sapa Ayuna dengan tersenyum ramah ke arah Zey.
"Duduklah sini bergabung bersama kita Zey," ucap sang Mami.
__ADS_1
"Zey capek, Mi. Mau tidur lebih dulu. Besok mau Konsul bimbingan skripsi bab terakhir," jawab Zey dengan muka kusutnya tersebut.
"Bagus putra Mami memang paling ambisius soal akademik. Setelah lulus kamu pun harus mau memegang kendali perusahaan milik papi kamu yang baru dan ada di Jepang. Semangat skripsi nya!" ucap sang Mami dengan setengah berteriak.
Zey pun terlihat mengangguk dan segera menaiki tangga menuju ke lantai atas dimana kamar nya berada.
Sedang kan Ayuna pun terlihat sedih mendengar ucapan mami Aninda yang mengatakan jika Zey akan memegang kendali perusahaan milik Papi Zey yang ada di Jepang.
"Kak Zey setelah lulus kuliah berarti akan bertolak ke Jepang, Mi?" tanya Ayuna dengan wajah yang kurang bersemangat.
"Iya, kata papi nya sih seperti itu. Ayuna jangan khawatir, nanti kan Zey masih sering kembali ke Indonesia," jawab Aninda dengan berusaha memberikan jawaban yang cukup enak untuk di dengar oleh Ayuna yang sedari dulu telah menyukai putra nya tersebut.
Mendengar jawaban mami Aninda yang terlihat seperti mengetahui perasaan nya serta memihak dirinya pun membuat Ayuna tersenyum kembali.
"Iya, Mami. Semua juga demi masa depan Kak Zey nantinya," ucap Ayuna kemudian.
Sedangkan Zia pun terlihat malas kembali jika membahas skripsi. Akhir-akhir ini rasanya dirinya malas untuk berangkat ke kampus.
Tanpa sepengetahuan siapa pun Zia pun lebih sering membolos walaupun dirinya sebenarnya sudah berada di area kampus dimana tempat dimana dirinya menimba ilmu selama ini.
Alasan nya karena diri nya saat ini sedang malas untuk kembali bertatap muka dengan Ryu. Seseorang yang Zia sukai sedari kecil yang juga satu fakultas dan satu kelas dengan dirinya.
Seseorang yang tak kunjung mengungkap kan rasa cintanya untuk Zia. Namun selalu saja menghalangi langkah Zia untuk berdekatan dengan pria lain nya yang berusaha memikat hati Zia.
Hingga Zia pun merasa jengah dengan tingkah Ryu. Puncak ke rasa benci nya Zia untuk Ryu adalah satu bulan yang lalu. Dimana Ryu menolak dengan tegas tentang kelanjutan perjodohan antara dirinya dengan Zia.
"Kenapa jika Ryu masih menunggu dan mencari keberadaan Rossaline sang cinta monyet nya dulu namun juga harus bersusah payah menjauh kan diriku dengan beberapa pria yang terlihat dekat dengan ku?" gumam Zia di dalam hati dengan pandangan mata menerawang jauh.
__ADS_1
"Aku kan juga ingin merasakan apa nama nya itu pacaran! Bukan hanya berdiam diri ditempat sambil melihat dirinya menemukan pujaan hati nya yang dulu. Mana mungkin aku mau dibodohi Ryu seorang diri. Baiklah, diam-diam aku harus menyeleksi siapa saja yang berusaha mendekati dan memilih salah satu yang terbaik, keren, setia dan kaya," gumam Zia di dalam hati nya lagi dengan semangat yang membara.