Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
S2. Kegelisahan Aninda


__ADS_3

Zia pun telah di bawa kembali ke kediaman orang tuanya, begitu juga dengan Ryu.


Ada perbedaan yang sangat mencolok di antara keduanya. Yakni, Zia di bawa pulang kembali ke kediaman orang tua nya dengan penuh kasih sayang serta rasa iba.


Sedangkan Ryu di bawa kembali pulang ke kediaman orang tua nya dengan di seret paksa oleh Akio dengan segala sumpah serapah yang keluar dari mulut Akio untuk putra sulung nya tersebut.


Setelah sampai di rumah orang tua nya pun Ryu masih di berikan pukulan bertubi-tubi oleh papa nya.


"Aku sangat malu memiliki putra seperti mu! Aku pun sudah tidak memiliki muka lagi di hadapan Dio serta Aninda! Kamu merusak segala nya!" ucap Akio dengan terus memukuli putra nya tersebut.


Sedangkan Ryu pun sudah tergeletak di lantai tak berdaya karena terus mendapatkan serangan bertubi-tubi.


"Huhuhu ... kenapa aku melahirkan putra seperti mu Kio," ucap Amel dengan berlinang air mata.


"Hukuman apa yang pantas untuk putra sulung kita agar tidak kembali mengulang kesalahan nya kembali, Ma?" tanya Akio kepada Amel dengan raut wajah frustasi.


Terlihat Ryu melirik sang mama dengan air mata yang terus menetes di sudut matanya.


"Ma ... Pa ... maafkan Ryu," ucap Ryu dengan lirih karena menahan rasa sakit dan perih dia sekujur tubuhnya.


Sedangkan Amel pun menatap wajah putra nya tersebut masih dengan tatapan kecewa dan amarah yang terus bergejolak di dalam dada nya.


"Jika mama boleh menyumpahi mu, maka keinginan mama hanya satu. Mama ingin kamu merasakan rasanya menjadi impoten agar milikmu tidak bisa kembali menodai Zia atau pun wanita lain nya! Kamu bukan lagi putraku!" ucap Amel dengan segera berlalu menuju ke kamar nya dengan air mata yang terus menganak sungai.


Amel pun tidak menyangka jika memiliki putra nya tersebut berani memperkosa anak gadis sahabat nya hingga dua kali.

__ADS_1


"Mama tahan emosi mama. Kita Carikan solusi yang tepat untuk Ryu. Kita bujuk Dio lebih dulu agar segera memberikan restu kepada putra kita untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut," ucap Akio dengan terus mengelus punggung istrinya yang masih nampak terlihat menangis sesenggukan.


"Ma--Mama malu pa untuk kembali bertatap muka di hadapan Dio serta Aninda. Huhuhu ... pasti mereka kecewa dengan kita dan putra kita," ucap Amel.


"Hari ini kita biarkan Dio beserta keluarga nya memulihkan jiwa dan raganya. Esok berikut nya baru kita berkunjung ke rumah Dio untuk melamar Zia. Entah di terima atau tidak, yang penting kita telah berusaha," ucap Akio yang telah menetralkan segala kekacauan di hatinya akibat perbuatan Ryu.


Amel pun masih terlihat bimbang mendengar penuturan suaminya tersebut.


"Bagaimana jika lamaran kita di tolak?" tanya Amel dengan raut wajah sendu.


"Wajar sekali jika lamaran kita di tolak. Namun kita tidak boleh menyerah hanya karena sekali di tolak. Berkali-kali di tolak pun kita harus tetap berusaha lagi. Kalau perlu langsung kita datang kan saja penghulu kerumah Dio beserta mahar dan lain nya," ucap Akio yang telah siap dengan segala konsekuensi yang akan di hadapi nya.


Mendengar penjelasan suami nya yang terdengar sangat gentleman pun membuat Amel bersemangat kembali untuk mendapatkan menantu secantik dan sebaik Zia.


Dengan segera, Amel pun terlihat menelepon seseorang.


"Iya, saya pesan parcel yang biasa di buat hantaran melamar mempelai wanita. Saya mau nya semua nya yang terlihat mewah dan berkualitas serta besok pagi harus sudah di antar ke rumah saya," ucap Amel di dalam telepon.


Setelah selesai menelepon seorang penyedia jasa pembuatan hantaran pun Amel terlihat bisa bernafas lebih lega.


"Besok pagi kami akan berkunjung ke rumah kalian untuk melamar Zia dengan maksud baik. Tolong beri tahu kan kepada Dio tentang kunjungan kami besok," bunyi pesan chat yang Amel kirim ke Aninda.


Aninda yang merasa kan ponselnya bergetar pun segera membuka ponsel canggih nya tersebut.


Dengan cepat Aninda pun membaca pesan tersebut. Ada rasa cemas dan khawatir setelah membaca pesan Amel tentang maksud kedatangan nya esok hari.

__ADS_1


"Pi ... " ucap Aninda dengan lirih kepada suaminya tersebut.


"Ada apa?" tanya sang suami dengan masih terus menyeruput kopi hitam buatan istrinya untuk meredakan rasa kecewa dan marah di dalam hati nya.


"Besok Amel serta Akio akan datang kemari untuk melamar putri kita," ucap Aninda nada yang terdengar halus agar tidak membuat suami nya kembali emosi.


"Katakan jika kita menolak lamaran nya dan jangan lagi menginjakkan kaki kemari," ucap Dio dengan nada yang di buat sestabil mungkin agar tidak kembali emosi.


"Tapi Pi ... niat mereka itu kan baik untuk datang bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuat Ryu kepada Zia. Jika kita menolak lamaran mereka, lantas lelaki mana lagi yang mau menikahi putri kita yang kesucian nya telah ternoda??" tanya Aninda dengan nada tinggi serta air mata yang mulai menggenang di kedua mata nya.


"Ini zaman modern, Mi. Banyak lelaki yang sudah tidak lagi memandang wanita dari segi kesucian nya saja. Anak rekan bisnis Papi pasti mau menerima kondisi dan kekurangan putri kita itu kok," ucap Dio dengan memegang ke dua pundak istrinya tersebut.


"Kenapa Papi bisa sepercaya itu jika anak dari rekan bisnis Papi mau menerima apa ada nya putri kita? Itu sama sekali belum bisa di pastikan, Pi! Bisa jadi mereka hanya memanfaatkan keadaan kita yang saat ini sedang maju pesat!" tutur Aninda dengan nada yang semakin memekik.


"Kamu tahu apa tentang bisnis, Mi? Aku lebih tidak yakin lagi dengan anak Amel dan Akio itu. Ryu apa pernah sekalipun menunjukkan rasa cinta nya untuk Zia?? Apa Mami pernah melihat nya??" tanya Dio dengan nada menggebu-gebu.


"Jadi Papi menghinaku tidak paham tentang bisnis?! Papi tidak berhak menolak lamaran itu! Putri kita lah yang berhak menentukan! Mami benci dengan Papi!" teriak Aninda dan dengan segera keluar dari kamar tersebut dan segera menuju ke lantai bawah dimana kamar tamu berada.


Aninda pun segera mengunci pintu kamar tamu tersebut dan menangis sejadi-jadinya.


Ketakutan di hati Aninda akan bayangan masa lalu nya pun bermunculan kembali. Dirinya pun takut jika setelah ini putri nya hamil dan suaminya kekeh tidak kunjung memberikan restu.


Bagaimana pun juga hamil tanpa dampingan seorang suami pastinya sangat lah berat. Karena dirinya pernah sekali mengalami hal tersebut.


Dan Aninda pun tidak ingin kisah masa lalu nya yang kelam tersebut terulang kembali kepada putri nya, Zia.

__ADS_1


__ADS_2