
" Makan dulu, dan jangan membantah, ok?" ucap Biyan pada Mitha.
Wanita itu segera mengambil bungkusan plastik dan satu cap minuman hangat dari tangan Abiyan.
" Terimakasih Pak," ucapnya dengan lirih.
" Ingat segera di makan, aku tidak mau kamu sakit, kasihan Dimas." Biyan menasehati Mitha dan sekilas pria itu memegang kepala Mitha yang di lapisi kerudung hitam lalu mengajaknya pelan, setelah itu pria itu mengikuti Selly yang sudah ada di sebelahnya.
***
Sudah dua jam Mitha menunggu di luar ruangan rawat inap, bahkan wanita itu sudah sholat dan makan tetapi belum juga Dimas di nyatakan untuk pindah ruangan, akhirnya Mitha mencari seorang perawat untuk melihat anaknya, sebab Mitha sudah tak tahan lagi melihat keadaan putra semata wayangnya itu.
Akhirnya Mitha pun di persiapkan masuk ke dalam setelah Dimas terbangun memanggil namanya.
Perasaan haru menyelimuti hatinya, Mitha lalu duduk di sebelah bocah itu dan menggenggam jemari kecil itu dan tersenyum walaupun hatinya menangis.
" Dimas tatut Bu ( Dimas takut Bu)" ucap bocah berusia tiga tahun itu, dengan selang yang menancap di pergelangan tangannya, dia ketakutan.
" Ibu ada di sini nak, menjaga kamu jadi kamu jangan takut ya ibu tadi habis sholat, tidak kemana-mana kok, jadi Dimas tidak perlu takut sayang." Hibur Mitha, dengan tersenyum manis pada bocah kecil itu, walaupun air matanya mau meleleh tak tertahankan.
" Sekarang Dimas bobo saja ya? Ibu menunggu Dimas di sini," ucap Mitha sambil menggenggam jemari bocah kecil itu, Dimas hanya mengangguk, bocah itu begitu menurut perkataan ibunya.
Tubuh Mitha lelah sekali, dan matanya sangat lengket, dan setelah melihat Dimas tertidur akhirnya Mitha pun ikut tertidur juga, kepalanya di letakkan di atas ranjang yang Dimas tiduri.
__ADS_1
Mitha terbangun kala ia merasakan tangan kekar meraba pundaknya.
" Bangun sayang," terdengar suara berat yang membangunkan dia, rasanya seperti mimpi, tapi kok seperti nyata, Mitha tak dapat membuka kelopak matanya, matanya terpejam lagi saking lelah di tubuhnya.
" Kita pindah kamar dulu Dek," kali ini Mitha mendengar lagi suara itu dengan jelas, bahkan di dekat telinganya hingga membuat dia tersadar dan membuka matanya dengan paksa, lalu dia baru sadar bila dia sekarang berada di sebuah rumah sakit bersama dengan Dimas, bahkan di sana ada seorang Dokter cantik dan dua orang perawat yang tenga memperhatikannya, Mitha tersipu malu wajah yang tadinya masih ngantuk berat, dalam sekejap tubuhnya langsung seperti tersengat aliran listrik, Mitha jadi berdiri dan menggeser tubuhnya, walaupun rasa kantuk masih mendera.
" Maaf ya ganggu tidur kamu, kita pindah dulu, habis itu kamu bisa tidur lagi sayang" ucap biaya tanpa malu-malu bersikap romantis di depan Dokter Selly dan para perawat itu.
Akhirnya mereka semua sudah berada di kamar ruang VVIP, Mitha hanya bisa pasrah saja dengan semua kebaikan Abiyan, percuma Mitha memprotes.
" Makanlah, ini kamu belum makan malam kan?" kata Biyan sambil mengulurkan bungkusan nasi ke arah Mitha yang sedang duduk di sofa ruang tersebut.
" Makasih Pak, hm... boleh saya bicara Pak?" ucap Mitha yang sudah tak tahan lagi untuk bertanya.
" Masalah Itu, anu itu-" Mitha masih ragu buat mengatakan dengan jujur.
" Jangan takut aku tidak akan menggigit kamu Mitha." Balas Biyan sambil mengawasi wanita cantik itu.
" Tadi Pak, itu m... Bapak mengatakan pada Dokter cantik itu, bahwa saya m..." tak selesai juga Mitha mengatakan, dia masih tak enak untuk berucap.
Matanya hanya mengerjap beberapa kali dan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, Biyan mengerti apa yang di maksud Mitha.
" Kamu keberatan dengan pernyataan aku itu?" memang itu adanya Mitha, aku langsung jujur saja pada kami, bahwa aku ada hati pada kamu, bahan sejak lama." Tutur Biyan menjelaskan, sambil mata Biyan menatap Mitha dengan lembut.
__ADS_1
" Aku memang sudah lama menyimpan perasaan padamu Mitha, jadi aku mohon terimalah lamaran aku ini, walaupun ini terkesan mendadak dan tak pada tempat nya tetapi apa yang aku lakukan tulus, dan semua memang seperti yang mungkin kamu rasakan juga." Ucap Biyan yang penuh percaya diri.
" Tapi Pak, bagi saya ini terlalu cepat, dan maaf bukannya saya tidak suka sama Bapak, tetapi apa pantas Bapak yang seorang pengusaha kaya raya bersanding dengan wanita kampung seperti saya ini Bapak tidak malu?" balas Mitha dengan menunduk wanita itu malu dengan pernyataan Biyan, dia cukup shock dengan kejujuran Biyan padanya, awalnya Mitha pikir mereka hanya bersandiwara saja sebab Dokter Selly mengenal Biyan dengan baik, atau bahkan Dokter cantik itu suka sama Biyan.
" Aku bukan orang seperti yang kamu pikirkan Mitha, aku tak pernah melihat pada latar belakang yang kamu miliki, yang penting bagiku, wanita yang bersamaan dengan aku nanti adalah wanita yang sholehah dan dapat mengurus aku dan anak-anak kelak, bagiku itu sudah cukup." Tutur Biyan.
" Kasih saya waktu Pak, saya rasanya masih trauma dengan pernikahan, saya pernah merasakan hidup tak enak di rumah mertua, dan dengan laki-laki yang tak setia." Ucap Mitha dengan jujur.
" Akan aku tunggu Mitha, tapi aku harap terima lah aku sebagai calon suami kamu, maaf aku memaksa, sebab aku tak mau kalau ada pria lain yang datang pada kamu dan tiba-tiba meminang kamu, aku tak terima, itu saja pesanku." Ucap Biyan pada Mitha, secara tidak langsung Biyan memaksa Mitha untuk menerima dia sebagai suaminya, dan itu membuat Mitha jadi bertambah takut saja, sebab terkesan Pria itu begitu egois padanya.
" Tapi pak, saya-" ucapan Mitha terpotong.
" Sudah terima semuanya ya, kamu hanya butuh waktu saja untuk memikirkan semuanya, dan aku akan menunggu, tapi aku harap jangan lama-lama mikirnya, sebab aku tak kamu di gantung seperti jemuran" ucap Biyan sambil terkekeh dan di balas senyum manis oleh Mitha.
" Jangan sampai mantan suami kamu dan istrinya berulah lagi pada kamu, dan lebih parah lagi mantan mertua kamu pasti akan terus menyambangi kamu bila tahu kamu sekarang sudah sukses, aku tahu keluarga mantan suami kamu itu seperti apa, mereka bukan orang yang bisa di ajak bicara baik-baik, dan satu lagi mereka tak tahu bila kamu dan Andra sudah pisah." Ucap Biyan menjelaskan, seolah dia tahu mengenai mantan mertuanya itu.
Memang setelah perceraian antara Mitha dengan Andra, sempat terjadi percekcokan, itu semua di sebabkan karena Mitha menuntut Andra uang nafkah yang sudah lama tak di berikan, lantas pria itu mengancam akan memaksa Dimas untuk tinggal bersama dengan dia, padahal anak sambung Andra sendiri saja juga tak terurus apalagi meminta Dimas tinggal bersama dengan dia, mau jadi apa Dimas nanti. Dan Andra pikir supaya dia tak mengeluarkan uang untuk Dimas, maka dari itu Andra memaksa mengambil Dimas dari Mitha.
" Akan Mitha pikirkan Pak, secepatnya Mitha akan kasih jawaban." Ucap Mitha dengan mantap, Mitha juga harus memikirkan masak-masak semuanya, sebab dia tak mau kegagalan terulang kembali untuk kedua kalinya, Mitha sudah lelah, apalagi sekarang pria yang meminang dia bukan pria sembarangan, dia lebih dari ekspektasi nya, Mitha takut akan lebih parah lagi dari sebelumnya.
Tetapi kalau dia sendiri terus tanpa ada pria yang melindungi dia, pasti dia akan di tekan oleh Andra dan istrinya itu, lebih-lebih Wulan itu sering mencuci bajunya di tempat Mitha tetapi tak pernah membayar, dan itu membuat Mitha jadi geram.
Andra dan Wulan malah semakin menjadi-jadi, Mitha pikir berpisah dengan Andra semuanya akan selesai tetapi malah menjadi seperti ini.
__ADS_1