
Sesuai dengan saran Ibunya, nampak Amel yang berusaha berlapang dada memaafkan kesalahan Dilla di masa lampau.
Pagi hari nya Amel pun segera mengajak suaminya menuju ke rumah Dilla dan mampir terlebih dulu ke sebuah store yang menjual keperluan bayi untuk Amel berikan kepada Dilla. Setelahnya kedua nya pun segera menuju ke rumah orang tua Dilla.
Nampak kedatangan Amel dan suaminya tersebut di sambut hangat oleh kedua orangtua Dilla.
"Ayo masuk nduk, masuk lah ke dalam kamar Dilla langsung nggak papa. Ibu mau mengambilkan camilan untuk kalian lebih dulu," ucap Ibu Dilla dengan ramah masih seperti dahulu kala.
Amel pun nampak mengangguk dan segera melangkah masuk ke dalam kamar Dilla dan di ikuti oleh sang suami.
Amel pun mengetuk perlahan pintu kamar Dilla dan segera masuk ke dalam kamar milik Dilla tersebut.
Pandangan kedua nya bertemu. Kedua nya pun nampak tertegun dengan pemikiran masing-masing.
Amel yang begitu terkejut melihat tubuh Dilla nampak terlihat lebih kurus. Padahal seharusnya yang terjadi adalah pada umumnya tubuh wanita setelah melahirkan akan nampak menjadi lebih gemuk. Namun berbeda dengan Dilla terlihat lebih kurus dan wajahnya pun terlihat seperti tidak terawat sama sekali.
Begitu juga dengan Dilla yang nampak terkejut dengan kedatangan Amel dengan seorang lelaki tampan dan perut Amel yang terlihat agak buncit tersebut.
"Am-amel ..." ucap Dilla dengan terbata menahan haru karena Amel masih mau untuk bertandang dan menjenguk dirinya.
Amel yang melihat keadaan Dilla yang begitu memprihatinkan pun tanpa basa-basi lagi langsung memeluk sahabatnya tersebut.
"Maafkan kesalahan ku terhadap kalian. Aku telah berdosa besar yang telah lancang mengambil yang bukan seharusnya menjadi milikku. Ak-aku telah menuai akibat dari apa yang telah aku perbuat Mel. Huhuhu. Ka-kak Dewa ternyata tidak berubah sama sekali dan masih mudah tergoda dengan wanita lain di saat kehamilanku yang sudah terlihat membesar,"
"Ak-aku baru mengetahui perselingkuhan kak Dewa baru-baru ini hingga diriku yang harus menerima caci maki banyak perkataan menyakitkan untukku hingga aku telah memutuskan untuk pulang kembali ke rumah orang tua ku Mel. Ak-aku baru tahu bagaimana rasa sakitnya dikhianati oleh orang yang amat kita cintai. Rasa sakit yang dulu Aninda terima pasti lebih sakit dari apa yang aku rasakan saat ini," ucap Dilla dengan menangis tergugu hingga bayinya yang tadinya terlihat tertidur dengan pulas pun nampak terlihat menangis dengan keras.
__ADS_1
"Oweekk ... oweekkk ... owekkk,"
Bayi kecil mungil tersebut seolah merasakan apa yang sedang ibunya rasakan hingga terlihat terus gelisah dan menangis walaupun Dilla telah berusaha membuat bayi nya tersebut terdiam kembali.
"Sudahlah Dill kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak. Kita sudah memafkan kalian. Jangan banyak berfikir yang bisa berdampak terhadap bayi kamu itu. Coba ajari aku cara menggendong bayi mungil kamu itu. Siapa tahu dengan aku yang menggendong bayi mungilmu itu bisa membuat bayi mu merasakan nyaman dan berhenti untuk menangis," ucap Amel dengan berjalan mendekat ke arah Dilla.
Kemudian Dilla pun dengan cepat mengajari Amel bagaimana cara menimang bayi yang baik dan benar.
Dan benar saja, bayi Dilla tersebut pun nampak segera berhenti menangis dalam dekapan Amel.
"Sayang, lihatlah. Aku sudah berhasil menggendong bayi dengan benar. Lihatlah bayinya sudah terdiam dan tidak menangis lagi. Aku sudah sangat cocok untuk menjadi seorang mama sayang!" pekik Amel dengan senang ke arah suami nya.
Akio pun mendekat ke arah istrinya tersebut dan mengelus pipi mungil bayi tersebut.
Dilla yang melihat bagaimana cara suaminya Amel yang begitu perhatian terhadap sahabat nya tersebut pun menjadi turut senang. Karena setidaknya sahabat nya tersebut berhasil menemukan pendamping yang tepat dan sangat menyayanginya.
"Namanya baby Zidan," jawab Dilla dengan tersenyum kearah Amel dan baby nya.
"Jadi nama kamu adalah baby z ya sayang," ucap Amel kepada bayi mungil tersebut yang nampak telah terlelap dalam mimpi indahnya di gendongan Amel.
"Bagaimana kabar Aninda?" tanya Dilla dengan spontan.
Mendengar pertanyaan Dilla tersebut membuat wajah Amel berubah menjadi sedih kembali.
"A-anin ..." ucap Amel dengan nada tercekat karena menahan kesedihannya yang tak kunjung menemukan keberadaan sahabat nya tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Dilla pun memiliki firasat yang tak enak melihat raut muka Amel yang terlihat akan menangis.
"Anin dan kedua orang tua nya menghilang sehari setelah pernikahan nya dengan Dio kandas Dil. Huhuhu ... aku pun tidak tahu dimana Aninda beserta kedua orang tuanya berada," tutur Amel dengan menangis tersedu-sedu dan kemudian menceritakan kisah keduanya selama ini.
Dilla pun terlihat meneteskan air mata nya kembali dengan menangis tersedu-sedu dan keduanya pun terlihat saling menguatkan.
"A-andaikan aku dulu tidak egois, pasti nasib Aninda tidak akan seperti ini," ucap Dilla dengan terbata dan tampak mengusap air matanya.
"Jika Aninda bersama kak Dewa pun mungkin nasibnya juga masih akan terlunta-lunta karena sifat kak Dewa yang tidak berubah sama sekali Dil. Yang penting kita telah di jauhkan dengan orang-orang yang tidak menghargai kita. Kita doakan bersama semoga kita cepat bertemu kembali dengan Aninda ya Dil. Semoga dimana pun Aninda berada selalu daalm perlindungan-Nya," ucap Amel yang kemudian di amiini oleh Dilla dan Akio.
Sedangkan di rumah orang tua Dio. Keributan pun terjadi kembali ketika Dio masuki pintu rumah. Terlihat Vania yang menghadang tubuh Dio dan memukul Dio dengan brutal.
"Vania! Apa yang kamu lakukan!" bentak Dio dengan segera menjauh dari Vania.
"Kamu kenapa tidak bisa menghargai keberadaan ku Dio?! Kenapa kamu masih terus mencari pelacurr murahan itu?!" pekik Vania yang membuat Dio bergeming.
Dio pun nampak terlihat mendekat ke arah Vania dan mencekik leher Vania tersebut. "Ucap kan sekali lagi jika kamu berani!" bentak Dio yang kemudian menghempaskan tubuh Vania ke arah sofa.
"Akhhh ... uhukk ... uhukk. D-dio kenapa kamu tega mencekik ku yang sedang mengandung buah hati kita dan lebih membela pelacurr murahan itu," ucap Vania dengan nafas tersengal dan masih terdengar mengumpati Aninda.
Dio dengan sangat geram kembali mendekati Vania dan kemudian melayangkan tamparan keras kepada Vania.
"Plakkk!! Plakkk!! Plaakk!!" tiga kali tamparan pun mendarat di pipi Vania hingga pipinya tersebut terlihat memar dan air mata Vania pun mengucur dengan derasnya.
"Yang pelacurr murahan itu kamu! Aku sama sekali tidak peduli mau bayi yang kamu kandung itu bayiku ataupun bayi pria lain! Karena sejak dulu hingga sekarang aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap mu!"
__ADS_1
"Perlu kamu ingat!! Jika setelah ini aku menemukan kamu adalah dalang di balik kejadian dihotel malam itu dan ternyata kamu tidak sedang mengandung anakku terlebih kamu ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Aninda beserta kedua orangtuanya, maka jangan harap kamu bisa hidup enak di dunia ini!!" ucap Dio dengan menghempaskan tubuh Vania dengan sangat keras hingga tubuh Vania pun jatuh tersungkur di lantai.