
"Nak Dio mau kemana??" teriak Abah Saleh segera memanggil Dio yang terlihat melangkah keluar dari rumah nya tersebut.
Seketika Dio pun kembali tersadar kembali dari rasa penasaran yang terus menghantuinya untuk segera mengikuti wanita yang sedang di bicarakan oleh Abah Saleh tersebut.
"Sa-saya ..." jawab Dio dengan terbata dengan wajah yang terlihat linglung dan bingung.
"Kamu penasaran dengan Liliana??" tanya Abah Saleh secara langsung yang dengan mudah bisa membaca raut muka Dio tersebut.
Dio pun terlihat mengangguk. Entahlah kenapa dirinya sangat penasaran dengan sosok Liliana yang tengah hamil tersebut.
Mungkinkah karena Dio terlihat tertarik karena Liliana tengah mengandung seperti hal nya dengan Aninda yang sangat di rindukan nya tersebut.
"Baiklah, nanti ikutlah Abah untuk sholat berjamaah di mushola satu-satunya di kampung ini. Sehabis sholat magrib Liliana akan mengajar mengaji di mushola tersebut," ujar Abah Saleh.
"Baik Abah. Saya akan menuju tempat penyewaan alat-alat untuk snorkeling lebih dulu. Karena siang ini saya izin menyelam melihat keindahan alam bawah laut," tutur Dio.
"Apa sebaiknya nak Dio tidak beristirahat lebih dahulu? Pasti lelah kan karena semalaman tidak tidur?" tanya Abah Saleh.
"Saya akhir-akhir ini memang agak susah untuk bisa tidur, Abah. Maka dari itu saya sengaja mencari kesibukan untuk membuat tubuh saya lelah agar nanti malam saya bisa tertidur dengan lelap," jawab Dio dengan sejujurnya karena dirinya pun sulit untuk memejamkan matanya karena dirinya yang sebenarnya yang sedang frustasi karena tak kunjung juga menemukan keberadaan Aninda.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Namun hati-hati jika cuaca terlihat mulai mendung nak Dio harus segera naik ke daratan," tutur Abah Saleh yang terus mengingatkan Dio.
Dio pun terlihat mengangguk dan segera menuju ke pinggiran pantai tersebut dan terlihat menyewa alat-alat untuk snorkeling.
Setelah itu Dio pun segera menyelam ke dalam lautan tersebut yang terlihat sangat menakjubkan tersebut.
Dio yang telah terbiasa melakukan snorkeling pun menjadi lupa waktu karena snorkeling di pulau tersebut sangat lah berbeda dengan di pantai-pantai yang lain.
Hingga menjelang sore hari Dio pun baru naik menuju ke bibir pantai.
Penduduk yang menyewakan alat-alat snorkeling tersebut akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah melihat kemunculan Dio setelah melakukan snorkeling selama berjam-jam tersebut.
"Saya kira mas nya ini tadi tenggelam. Perasaan saya pun sempat merasa was-was karena takut jika ternyata mas nya ini tenggelam karena menyelam nya pun terlihat sangatlah lama. Hampir saja saya memanggil warga sekitar untuk mencari keberadaan mas nya ini di dalam lautan sana," ucap pemilik penyewaan alat-alat snorkeling tersebut.
Dio yang mendengar penuturan pemilik alat-alat snorkeling yang di sewa nya pun terlihat tersenyum kecil.
"Iya maaf pak, saya sudah terbiasa melakukan snorkeling jadi ya lupa jika telah menyelam sangat lama. Hehehe," tutur Dio dengan membayar alat-alat sewa nya tersebut.
"Ini kebanyakan mas," ucap pemilik tersebut.
__ADS_1
"Sisanya berarti rezeki bapak," jawab Dio dengan kemudian berlalu dari tempat tersebut.
Dio pun segera melangkah kembali menuju ke rumah Abah Saleh. Setelah sampai di rumah Abah Saleh, Dio pun kemudian membantu anak buah Abah saleh untuk mengangkat hasil panen sayuran dari warga setempat untuk di masukkan ke dalam bak mobil terbuka.
Sedangkan disisi pekarangan rumah Abah Saleh yang lain lagi pun terdengar gelak tawa dari beberapa warga yang juga terlihat sedang mengantri untuk menjual ikan hasil tangkapan mereka ataupun ikan yang telah mereka keringkan yang siap di jual kepada Abah Saleh.
Sayup-sayup Dio pun mendengar suara lelaki yang tidak asing lagi baginya.
"Kenapa aku seperti mendengar suara Ayah Aninda disini? Astaga, kenapa rasa bersalah ini terus menerus menghantuiku hingga diriku yang mendengar suara orang lain berbicara pun terlihat sangatlah mirip dengan suara Ayah Aninda," gumam Dio yang kemudian terlihat mencari arah sumber suara.
Sayangnya Ayah Aninda yang telah selesai menjual ikan kering nya tersebut pun terlihat telah berbalik badan dan segera kembali untuk pulang.
Sehingga Dio pun hanya bisa menatap punggung Ayah Aninda tersebut dengan wajah heran. Dio pun kemudian mencoba bertanya dengan salah satu karyawan Abah Saleh tersebut.
"Pak? Apakah bapak-bapak yang barusan menjual ikan nya disini itu bernama Pak Dirga?" tanya Dio kemudian.
"Yang barusan itu mas?" tanya karyawan tersebut dengan menunjuk tubuh Ayah Aninda yang terlihat semakin jauh.
Dio pun kemudian menjawab dengan anggukan kepala.
"Bukan mas, itu nama nya Pak Santosa. Memangnya mas nya ini kenal dengan Pak Santosa?" tanya karyawan tersebut kepada Dio.
"Seperti tidak asing pak. Namun saya tidak mengenal nama Pak Santosa. Yasudah Pak, saya permisi lebih dahulu," pamit Dio dengan raut muka kembali kecewa.
Sedang disisi lain, Liliana pun merasa tidak enak badan dan terlihat gelisah. Ibu Riana yang melihat gelagat tubuh putrinya yang nampak seperti kesakitan pun segera mendekat.
"Kamu kenapa nduk?" tanya Ibu Riana dengan raut muka cemas melihat wajah putrinya yang terlihat berkeringat tersebut.
"Badan Lili capek Bu. Rasanya pegal-pegal semua," jawab Liliana dengan jujur.
"Yasudah nduk Ibu bawakan minyak kayu putih dulu dan membuat parem untuk di balurkan ke tubuhmu yang terlihat capek," ucap Ibu Riana dengan segera menuju ke dapur.
Tak lupa Ibu Riana pun terlihat menyeduhkan jahe hangat untuk putrinya tersebut.
Tak lama kemudian Ibu Riana pun terlihat membawa satu nampan yang berisi dengan jahe hangat, parem serta minyak kayu putih.
"Kamu liburlah dulu untuk mengajar ngaji di mushola ya nduk. Ingat jika kamu sedang mengandung. Kasihan bayi kamu jika tenaga kamu terus kamu gunakan untuk bekerja," tutur sang Ibu.
"Baiklah Bu, malam ini Liliana libur untuk mengajar ngaji di mushola," ucap Liliana.
__ADS_1
Setelah itu Liliana kemudian pun kembali merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak.
Sedangkan Dio dan Abah Saleh pun telah terlihat berada di mushola dan terlihat menunaikan ibadah sholat magrib.
Hingga sholat magrib berjamaah selesai Abah serta Dio masih terlihat duduk di teras mushola tersebut dengan menunggu kedatangan Liliana.
"Kemana nak Liliana? Kenapa hari ini mushola terlihat sepi?" tanya Abah kepada pengurus mushola tersebut.
"Mbak Liliana katanya sedang masuk angin Bah. Jadi mengajinya di liburkan sehari," jawab sang pengurus mushola yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh Abah Saleh.
"Yasudah kalau begitu ayo kita kembali ke rumah lebih dulu nak Dio," ucap Abah Saleh.
"Saya ingin menghirup udara malam terlebih dahulu Bah. Abah pulanglah lebih dulu tak apa," jawab Dio.
"Yasudah, kamu menghirup udaranya jangan sampai larut malam," ucap Abah Saleh yang kemudian berjalan kembali menuju ke rumah nya.
Sedangkan Dio pun segera bergegas berjalan menuju ke arah pantai.
Disisi lain, Liliana pun terlihat duduk di atas batu di dekat bibir pantai tak jauh dari rumah nya tersebut.
Liliana pun terlihat menatap hamparan ombak dengan tatapan sendu seperti biasanya.
Liliana juga sesekali terlihat mengusap air matanya yang jatuh begitu saja. Kemudian Liliana pun kembali menangis dengan tergugu di atas bebatuan tersebut.
Sedangkan Dio yang telah tiba di pinggiran pantai pun sayup-sayup mendengar suara seorang wanita yang tengah menangis tergugu.
"Siapa yang menangis seperti itu hingga tangisan nya pun terlihat bersahutan dengan suara deburan ombak?" gumam Dio.
Tak ingin rasa penasaran terus menghantuinya, kemudian Dio pun segera melangkah mencari sumber suara tersebut.
Hingga Dio pun nampak kembali tertegun dengan apa yang dilihatnya kali ini.
"Kenapa wanita yang sedang menangis di atas batu itu sangat mirip dengan Aninda? Apakah ini hanya halusinasi ku saja?" gumam Dio dengan mengusap mata nya lagi dan lagi agar tidak salah melihat.
Dengan perasaan berdebar, Dio pun segera melangkah mendekat ke arah wanita tersebut dan betapa terkejutnya Dio ketika pandangan mata keduanya telah bertemu.
"A-Aninda ..." gumam Dio dengan hati yang semakin berdebar dengan kencang dan segera melangkah dengan cepat menuju ke arah Aninda berada.
Sedangkan Liliana sendiri yang melihat keberadaan Dio yang tak jauh dari nya pun terlihat sama terkejutnya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku bisa bermimpi bertemu dengan Dio kembali disini? Apa ini adalah mimpi?" gumam Liliana yang kemudian terlihat menangis semakin kencang.
"Huhuhuhu ..." Aninda pun terlihat menangis dengan semakin kencang serta memukul-mukul keras dada nya yang terasa sangat sesak tersebut.