
Ketika Mas Pram datang, ku sambut suamiku itu dengan mata berbinar, sebab aku sudah kangen banget dan ingin bermanja-manja sama dia.
Pada hal baru juga di tinggal beberapa saat, bawaannya pingin di kekep in terus maklum kami ini pengantin baru, jadi ya ga mau jauh-jauh sama dia, semenjak menikah dengan Mas Pram aku ga pernah berjauhan sama dia, bawahannya nempel terus deh kaya perangko, tak terpisahkan.
" Kok pulangnya telat Mas, " aku pura-pura merajuk padanya, sebab yang aku tahu pekerjaan di lapangan benar-benar menumpuk dan menguras banyak energi. sebab ada beberapa pekerja yang memang di berhentikan, sebab ada kecurangan penyebabnya adalah dari diri mereka sendiri.
" Maaf ya Dek, banyak kerjaan yang menumpuk, beberapa pekerjaan yang di lapangan akhirnya aku perhatikan kemarin, dan sampai sekarang belum ada gantinya." Ujar Mas Pram menjelaskan.
" Ya udah Mas ga apa-apa, sana mandi dulu, Adek siapkan bajunya ya?" ucapku sambil tersenyum, lalu ku ambil tas yang masih ada di tangan suamiku itu dan ku buka dasi yang masih melilit di lehernya itu.
" Sudah sana mandi bau acem" Ucapku yang pura-pura mengeluh kebauan dengan tubuhnya.
__ADS_1
" Ia sayang, kamu ga mau mandi lagi,?" ucapnya yang tengah menggoda aku.
" Ogah ah, nanti masuk angin yang ada sebab kelamaan mandinya, pasti akan memakan waktu lebih lama di dalam sana, bila aku ikutan mandi" jawabku dengan pura-pura kesel, sambil ku dorong tubuh kekar itu menuju kamar mandi, sebab aku sudah lapar sekali ingin makan bareng sama suamiku, dari tadi di tungguin ga pulang-pulang sih.
Selesai dia mandi lalu dia berganti baju, dan sementara makanan yang aku pesan sudah tersaji di atas meja makan,
" Ayo Mas buruan aku sudah lapar banget" gerutuku pada suamiku itu, aku benar-benar sudah lapar sedari tadi sore, mau keluar saja juga malas, ga ada teman buat di ajak jalan, dan selain itu aku juga malas nanti ketemu sama Zaenab, bisa runyam urusannya, padahal aku sudah menyuruh orang untuk membuntutinya, ah entahlah aku kenapa juga aku jadi kepo sendiri sama dia, emang dia siapa juga ga penting buat aku, tetapi rasa penasaran yang tinggi mengalahkan segala-galanya.
Usai makan malam aku sebenarnya ingin mengasih lihat video yang telah aku rekam tadi, tetapi melihat suamiku yang sudah menguap saja aku jadi tak tega, sebenarnya pingin di pijitin sama dia, tetapi ah sudahlah aku ga mau di kecapekan gara-gara memaksakan diri menuruti apa mau aku.
Menjelang dini hari aku terbangun, karena merasakan tangan kekar menyusuri tubuhku yang sudah terbalut dengan selimut tebal ini.
__ADS_1
Pergerakannya kian intens membuat aku jadi tak nyaman, aku membuka mataku yang memang masih sangat lengket sekali.
" Mas Pram mau ngapain," seruku dengan suara serak khas Bagun dari tidur.
" Maaf Dek, Mas lagi pingin," ucapnya dengan senyuman yang nakal.
" Ih... ini udah menjelang subuh Mas, nanti aja dong abis sholat, " ucapku kesel.
" Tapi Dek, ininya sudah bangun, terus gimana dong?" tanyanya balik.
" Aduh pagi-pagi buta masak udah *n Mas," ucapku gemes.
__ADS_1
Aku tak dapat menolaknya sebab kalau suami sudah minta wajib di kasih.