
Sudah sebulan lebih kami menjadi pasangan suami-istri, sudah seperti biasa Mas Biyan bertingkah layaknya pasangan pengantin baru yang maunya di kamar melulu, hingga membuat aku risih sendiri, sebab kadang ga kenal waktu saja, baru kali ini melihat pria yang selalu bersikap tegas di luar sana, kalau di rumah bucin minta ampun.
Waktu terus berjalan, kehidupan rumah tangga kami adem ayem, setiap hari aku menyiapkan semua kebutuhan Mas Abiyan sebelum berangkat kerja, aku kembali menjalani profesi aku sebagai seorang istri seperti dulu, melayani dan menyiapkan semua kebutuhan Mas Biyan, bahkan kadang Mas Biyan minta bekal dari rumah, karena dia sudah terlanjur cocok dengan masakan yang aku buat sendiri, sebab aku selalu memasak buat Mas Biyan dan Bi Pur yang biasanya masak hanya membantu saja, Alhamdulillah masakan aku cocok di lidah suamiku itu, jadinya tiap hari Mas Biyan minta di bawakan bekal dari rumah saja tiap harinya.
Setelah mengurusi suami aku tinggal mengurus anak-anak, terutama Malika yang tak mau lepas dari aku, sementara Mbak Siti yang aku suruh mengawasi Dimas saja, sebab Dimas tak terlalu rewel, dia selalu asik dengan mainan yang di peroleh dari sang Papa, Mas Biyan terlalu memanjakan Dimas, dia sering membelikan anak lelakiku itu mainan yang macem-macem, yang harganya tak murah.
Jujur suka sekali sebab banyak mainan yang di belikan oleh mas Biyan kebanyakan mainan edukatif dan membuat Dimas semakin kreatif saja, maka dari itu Mbak Siti tinggal mengawasi Dimas saja saat ini.
Ponsel baru yang di berikan Mas Biyan dengan logo apel di gigit itu berbunyi.
__ADS_1
Terlihat nama di layar ponselku seorang yang sudah menjadi suamiku itu telpon.
" Assalamualaikum Dek." Ucapnya ketika aku mengangkat telpon darinya.
" Wa'alaikumsalam Mas? ada apalagi Mas?" tanyaku to the points padanya, sebab sudah tiga kali dia telpon aku terus, dan ada-ada saja yang di tanyakan oleh dia itu, bahkan barang sepele bisa jadi obrolan yang panjang, aku kadang bertanya dalam hati, siapa yang mengurusi kerjaan kantor kalau tiap telpon pasti durasinya panjang sekali.
" Aduh galak amat sih Yank, belum juga di colok sudah ngegas gitu." Candanya di ujung telpon sana.
" Bukan begitu Yank, ini Mas mau mengabarkan kalau Mas hari ini pulang telat, ada sedikit masalah di kantor jadinya lembur deh." Tutur Mas Biyan menjelaskan.
__ADS_1
" O... begitu, ya sudah kalau begitu Mas jangan lupa sholat dan makan malam sekalian ya, nanti takutnya terlambat dan sakit malahan." Ucapku menasehatinya.
" Ia sayang Mas akan ingat terus nasehat kamu itu, Mas nitip anak-anak ya Dek, Mas akan segera pulang bila urusan sudah selesai." Ucapnya menjelaskan.
Lalu Mas Biyan pun mengakhiri perbincangan kami, aku menghembuskan nafasku dan menggeleng kan kepalaku, ada-ada saja Mas Biyan itu, gumam ku dalam hati. lalu aku pun bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju teras samping menyusul anak-anak, di mana anak-anak sedang bermain di sana bersama Mbak siti dan Lastri, sambil menikmati cemilan sore ini.
Dan ketika aku berjalan menelusuri ruang keluarga, ponsel aku berbunyi lagi.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal sama sekali.
__ADS_1
Lalu akupun membuka kiriman gambar tersebut dengan penuh rasa penasaran yang tinggi, namun ketika aku melihatnya mataku terbelalak seketika, melihat foto dari seseorang yang tak aku kenal itu rasanya aku tak percaya, tetapi jelas sekali gambar di foto itu adalah seseorang yang aku cintai saat ini, dengan seorang wanita yang di sampingnya tidur tanpa sehelai benangpun di tubuhnya itu, tanpa di komando air mataku sudah mengenang dan luruh begitu saja, aku urungkan langkahku untuk menuju taman samping dan kembali ke dalam kamar, sebab aku ingin menenangkan diri sejenak.