Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Kehidupan yang Baru


__ADS_3

Ayah, Ibu beserta Aninda pun mendekap seluruh barang berharga yang mereka miliki. Aninda pun mengajak kedua orang tua nya untuk menuju ke ATM terdekat sebelum benar-benar pergi dari kota tersebut.


Aninda pun segera menggesek seluruh isi ATM yang ia miliki dan begitu juga dengan ke dua orang tua nya. Ketiga nya pun nampak terlihat begitu lesu dan kacau melihat apa yang terjadi dengan keluarga nya dalam waktu semalam.


Tak luput Aninda pun segera menginstruksikan kepada kedua orang tuanya untuk menjual alat komunikasi yang mereka miliki agar tidak bisa lagi di lacak oleh siapa pun.


Lantas ketiga nya pun segera menaiki bus yang akan membawa keduanya ke luar pulau jawa menuju ke pulau Kalimantan. Pulau tersebut lah yang menjadi harapan hidup ayah Aninda demi kelangsungan hidup keluarga nya yang baru.


"Kita akan segera menuju ke rumah om Harso, meminta bantuannya untuk menghilangkan jejak kita dari manusia-manusia serakah itu," tutur ayah Aninda kepada anak istrinya.


Ibu dan Aninda pun nampak menganggukkan kepala mereka dengan lemah dan hanya menurut dengan apa yang suaminya katakan.


Harapan Ayah Aninda satu-satunya adalah berlindung di bawah naungan adik kandungnya yang merupakan perwira tinggi TNI di Kalimantan.


Perjalanan pun mereka tempuh selama sehari semalam. Hingga ketiga nya pun tiba di rumah om Harso dan di sambut dengan hangat oleh anak istri dari adik ayah Aninda tersebut.


Om Harso pun nampak tergopoh-gopoh menyambut kakak kandungnya yang selama ini sangat berjasa membantunya hingga menjadi seorang perwira tinggi dan di segani oleh banyak orang.


"Mas Dirga kenapa kesini enggak berkabar lebih dulu kepada kami? Biar kami bisa menyiapkan keperluan kalian dengan sebaik mungkin. Kenapa mas Dirga terlihat sangat kusut begitu?" tanya Harso kepada saudara kandung satu-satunya tersebut dengan wajah cemas.


Ayah Aninda pun segera menceritakan awal mula kejadian hingga mereka yang di ancam akan di bunuh jika tidak segera menghilangkan jejak.


Om Harso pun nampak sangat geram melihat keluarga nya di usik seperti itu.


"Mas Dirga kenapa baru bercerita sekarang? Kenapa juga mas Dirga kemarin mesti melarangku untuk datang ke pernikahan keponakan ku satu-satunya dan berimbas di khianati hingga di ancam seperti itu??"


"Aku sekarang sudah menjadi orang terpandang dan di segani oleh banyak orang. Ini juga berkat mas Dirga yang menyekolahkanku hingga menjadi perwira seperti sekarang ini. Jadi jangan lagi merasa sungkan atau takut untuk meminta bantuanku mas. Sudah waktunya aku membalas budi untuk mas Dirga sekeluarga," ucap Om Harso dengan menggebu-gebu dengan menahan amarah melihat keluarga nya disakiti hingga di ancam seperti itu.


"Aku hanya ingin meminta tolong kepadamu, tolong buatkan kami identitas baru dan hilangkan jejak pelarian kami dari mereka yang telah mengancam anak istriku. Setelah itu kami akan berpindah tempat mencari sebuah pulau kecil yang tidak di jangkau oleh hiruk pikuk kehidupan orang dikota," ucap Ayah Aninda dengan memohon kepada adiknya tersebut.


"Mas, kalian tidak perlu merubah identitas pun aku sanggup melindungi kalian!" ucap Om Harso dengan tegas.


Namun ayah Aninda pun dengan cepat segera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak ingin melibatkan keluarga kalian lebih lanjut. Aku hanya ingin hidup tenang dengan identitas yang baru dan di tempat yang baru juga. Jika kamu ingin membantuku, maka bantulah kami dari jarak jauh saja sudah cukup," ucap ayah Aninda dengan raut wajah yang nampak sangat lelah.


"Yowes mas, tak turuti kekarepanmu iki. Sebelum identitas kalian yang baru itu jadi, maka kalian harus tetap tinggal di rumahku ini yang sudah pasti terjamin keamanannya," ucap om Harso mengalah dan tetap mendukung apapun keputusan kakaknya tersebut.


Ayah Aninda pun nampak menganggukkan kepalanya dan bisa bernafas dengan lega. Tante Mirna yang merupakan istri Om Harso pun segera menyiapkan kamar untuk keponakan dan kakak iparnya tersebut dan menjamunya dengan sangat baik.

__ADS_1


Aninda pun merasakan lebih tenang dan lebih lega saat sudah berada jauh dari kampung halaman nya yang membuatnya terus mengingat kenangan buruk yang datang bertubi-tubi kepadanya.


Aninda pun telah bertekad bulat untuk tidak akan jatuh cinta kepada lelaki manapun agar tidak mengalami kesalahan yang sama secara berulang kali apalagi sampai membahayakan keluarga nya.


"Aku bertaubat kepada mu Ya Allah, maafkan segala dosa yang telah hamba mu ini perbuat," ucap Aninda di sela sujud malam nya tersebut.


Air mata pun nampak mengucur deras dan Aninda pun terus merutuki kebodohan yang pernah ia lakukan.


Hingga beberapa hari kemudian Aninda beserta keluarga nya pun telah mendapatkan identitas baru dengan nama yang baru dan alamat yang baru.


Nama Aninda pun telah berubah menjadi Liliana, sedangkan sang ayah pun berubah nama menjadi Santoso, dan sang ibu yang berubah nama menjadi Riana.


Ketiga nya pun telah berpindah tempat di sebuah pulau kecil yang dekat dengan pulau Kalimantan atas arahan dari om Harso.


Om Harso juga lah menghilangkan jejak keluarga kakak nya tersebut dan membantu mencarikan sebuah tempat yang jauh dari jangkauan internet, ataupun alat elektronik canggih lain nya agar keberadaan nya tidak mudah terlacak oleh orang-orang handal yang pandai meretas sistem.


Aninda pun nampak memangkas rambut nya dengan sangat pendek dan selalu membalurkan muka nya dengan lumpur ataupun sesuatu yang membuat wajah Aninda itu menjadi lebih jelek dan sama sekali tidak ada yang ingin meliriknya.


Begitu juga dengan kedua orang tua Aninda yang mengikuti cara putri semata wayangnya tersebut untuk membuat wajah mereka terlihat jelek dan berpenampilan seadanya.


Kini ketiga nya pun tinggal di sebuah rumah panggung yang dekat dengan bibir pantai. Pak Santoso pun mulai belajar menjadi nelayan kecil, sedangkan istrinya yakni Bu Riana pun nampak membuat kerajinan dari anyaman bambu yang dibantu oleh Liliana.


Namun pagi itu nampak kepala Liliana pun terasa sangat pening, hingga perutnya pun terasa sangat mual.


Dengan cepat Liliana pun segera menuju ke bilik kamar mandi untuk memuntahkan isi di dalam perutnya tersebut.


"Hueekk!! Hueekk! Hueekk!!" Liliana pun terus memuntahkan isi di dalam perutnya hingga tanpa sisa.


Namun mual dan muntahnya pun tak kunjung reda hingga membuatnya sangat tersiksa. Ibu Riana yang melihat putrinya mual dan muntah pun menjadi sangat panik.


"Kamu kenapa nak?" tanya ibu Riana dengan memijat tengkuk leher Liliana dengan perlahan.


"Aku tidak tahu Bu, kepalaku rasanya sangat pusing. Serta perutku yang rasanya sangat mual," ucap Liliana dengan jujur kepada kedua ibunya tersebut.


Jantung ibu Liliana pun berdetak sangat kencang. "Apa mungkin putriku sedang hamil?" gumam ibu Liliana dengan wajah yang berubah menjadi sangat pias.


"Apa kamu sudah menstruasi Li?" tanya Ibu Liliana dengan perlahan berharap agar praduga ya tersebut adalah salah.

__ADS_1


Liliana pun nampak bingung kapan terkahir dirinya menstruasi. Dan yang ia ingat terkahir kali menstruasinya hanya terjadi sehari saja.


"Liliana lupa Bu ..." jawab Liliana dengan lirih dan wajahnya pun berubah menjadi pucat pasi takut jika ternyata dirinya selama ini tengah berbadan dua.


"Apa kamu sudah pernah melakukan hubungan badan dengan Dio?" tanya ibu Liliana secara langsung yang membuat Liliana pun nampak takut untuk menjawab sejujurnya atau berbohong kepada ibunya.


"Jawablah sejujurnya. Maka ibu dan ayah yang akan mencarikan solusi untuk jalan keluar kamu nduk," ucap Ibu Liliana dengan menahan gemuruh emosi di dadanya.


Liliana pun nampak mengangguk dengan pelan dan seketika langsung berlutut di kaki ibunya tersebut.


"Maafkan Liliana Bu ... Liliana bodoh hingga melakukan hal hina yang membuat ibu dan ayah semakin malu dan menderita. Huhuhuhu," ucap Liliana terus menangis sesenggukan dengan memegangi kaki ibunya memohon ampun kepada ibunya tersebut.


Air mata Ibu Liliana pun nampak jatuh luruh menangis dalam diam nya. Hingga tak berapa lama ayah Liliana pun nampak pulang dari menjala ikan dan nampak terkejut melihat istri dan anaknya yang sedang menangis.


"Ada apa ini?" tanya Ayah Liliana dengan wajah cemas.


Liliana dengan cepat pun berlutut di hadapan sang ayah dan segera meminta pengampunan kepada ayahnya tersebut.


"Ayah, maafkan Liliana yang telah membuat dosa besar yang membuat Ayah dan Ibu semakin malu memiliki anak yang tidak berguna dan tidak berbakti kepada Ayah dan Ibu," ucap Liliana dengan berlutut di hadapan kedua orang tuanya tersebut.


Ayah Liliana pun nampak terkejut dan paham dengan arah pembicaraan putrinya tersebut. "A-apa Liliana sedang hamil?" tanya Ayah Liliana dengan terbata-bata dan menyiapkan mental dan fisiknya agar tidak begitu terpukul kembali.


Liliana dan sang Ibu tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Pak Santoso tersebut.


"Baiklah, ayo kita periksakan Liliana ke bidan desa terdekat. Jika Liliana benar-benar hamil maka katakanlah jika Liliana adalah korban pemerkosaan oleh orang yang tidak di kenal," ucap Ayah Liliana dengan menghirup nafas sebanyak-banyaknya agar bisa kembali menerima kenyataan.


Tak berapa lama ketiga nya pun nampak sampai di rumah bidan desa yang ada di pulau tersebut. Nampak kedatangan keluarga Liliana di sambut dengan hangat oleh bidan desa tersebut.


"Yang ingin di periksa berbaringlah kemari. Biar ibu periksa. Tidak usah malu-malu," ucap Bu Bidan desa tersebut dengan tersenyum ramah kepada Ibu, Ayah dan Liliana.


"Putri saya Bu, tadi pagi putri saya mengalami mual dan muntah serta kepala nya terasa sangat pening," ucap Ibu Liliana dengan menggandeng Liliana untuk segera berbaring di brankar pasien.


Liliana pun segera berbaring dengan jantung yang terus berdetak dengan cepat.


Bidan tersebut pun segera memeriksa denyut nadi serta meraba perut Aninda yang memang sedikit lebih berisi.


"Seperti nya putri ibu mengalami morning sickness di trimester awal kehamilan nya iya Bu. Akan saya resepkan vitamin untuk menguatkan janin serta pil penambah darah," tutur Bidan desa tersebut dengan cepat hingga membuat Ayah, Ibu dan Liliana pun nampak sangat syok.

__ADS_1


"Benar-benar Ha-hamil??" ucap Ayah, Ibu dan Liliana dengan serempak dengan wajah yang terlihat semakin tak karuan.


__ADS_2