Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
(PM 2) Bab 16


__ADS_3

Dahi ku berkerut dan menahan nafas sejenak lalu aku hembuskan lagi, seperti itu terus menerus hingga aku bisa mengatur nafasku dengan baik, sebab rasa sesak menerobos di sela-sela hati ini, aku kucek-kucek mata ini siapa tahu aku salah melihatnya, tapi rasanya tidak mungkin, mataku masih sehat walaupun kepala ku masih terasa sakit.


Mereka seperti sebuah keluarga yang begitu amat bahagia sekali, dan wajah wanita itu seperti tak asing buatku, aku sepertinya pernah sekilas berjumpa dengan wanita itu tetapi di mana ya aku lupa.


Tapi aku sepertinya tak salah melihatnya, aku menggeleng-gelengkan kepala ku aku berharap kalau aku salah lihat, apa benar pria tadi itu Mas Andra rasanya tak mungkin, tapi baju itu sama persis milik Mas Andra suamiku, perih hati ini rasa sakit di kepala ku tak sesakit hati ini, selama ini aku di buat seperti babu oleh keluarga dia aku masih bisa bertahan, tetapi sekarang kenyataannya aku melihat dia bersama wanita lain, rasanya aku tak tahan.


Air mata tiba-tiba meleleh di pipiku ini, tanpa suara hanya kedua bahuku dengan jelas terguncang karena menahan isakan.


Ya Tuhan aku rasanya tak percaya benar-benar tak percaya, aku remas gamisku kuat-kuat, dan air mataku tak henti-hentinya meleleh, sebab melihat kenyataan yang ada di hadapanku saat ini.


Aku mencoba menepis rasa sakit itu, aku berharap yang aku lihat tadi bukan siapa-siapa nya Mas Andra, tetapi bisa jadi saudara jauh yang belum pernah aku lihat sebelumnya, aku mencoba menghibur diriku ini, atau dia kembaran Mas Andra saja kali, lagi-lagi aku menghibur diri sendiri untuk menepis sesuatu yang tidak mungkin menurutku.


Ah aku akan mencoba hubungi Mas Andra saja lewat ponselku ini untuk memastikan keberadaan dia, kalau dia tak mengangkat telpon aku berarti benar fix itu bukan Mas Andra, lirihku dalam hati.


Sambil aku mengawasi orang di depanku itu dengan tatapan yang menyedihkan, masih berharap bahwa apa yang terpikir di otakku ini adalah salah, dan tidak benar.


Aku mencoba menepis pandang mataku sendiri, aku berharap aku salah liat saja, sebab tadi Mas Andra bilang kalau dia ke luar kota begitu penjelasan dia sewaktu kirim pesan kepadaku.


Aku melihat sosok itu masih di lorong yang sama dengan aku, tetapi sosok itu tengah berbincang dengan seseorang di luar kamar yang posisinya tak jauh dari kamarku hanya selisih satu kamar saja.

__ADS_1


Aku begitu penasaran akan sosok yang membelakangi aku itu.


Sedikit ragu tetapi aku akan melakukannya bahwa yang aku lihat adalah salah, aku ambil gawaiku dan aku tekan tombol nomor suamiku itu, beberapa saat nada sambung terdengar di telingaku, tapi tak kunjung dia angkat juga, lalu aku ulang sekali lagi menghubungi nomor suamiku itu, dan tersambung lagi sambil mataku mengawasi sosok yang membelakangi aku itu.


" Halo, bentar ya nanti aku hubungi kamu lagi." Ucapnya dengan cepat sambil mematikan ponselnya, tanganku gemetar aku tak percaya bila benar pria yang ada di hadapanku itu adalah Mas Andra suamiku. Tetapi siapa wanita dan anak itu apa dia saudara jauhnya Mas Andra? aku harap begitu, sebab aku selama menikah dengan Mas Andra tak sekalipun aku pernah melihatnya di dalam acara keluarga besar suamiku.


Jujur perasaanku tidak enak siapa wanita itu, duh bagaimana ini aku harus bagaimana? menyelidiki Mas Andra, tapi aku tak ada waktu untuk itu, badanku saja ini rasanya tak karuan, bagaimana menyelidikinya.


Di tengah kebimbangan dan kebingungan yang memuncak di belakang aku ada sosok yang hadir tak di undang, bagaikan jelangkung, sosok itu membuat aku terkejut dan kaget di buatnya.


" Kamu di sini ternyata, dari tadi aku cari-cari lho" seru suara berat itu membuyarkan lamunanku.


" Kamu kenapa?" tanya Pak Biyan dengan ekspresi wajah kebingungan, mata elang itu mengawasi ku, dan menatap sekeliling ketika aku memutarkan badanku.


" Saya baik-baik saja Pak" Balasku dengan posisiku saat ini berdiri membeku bagaikan patung, satu tanganku masih meremas gamis baru yang di belikan oleh Pak Biyan, dan satu tangan lagi memegang ponsel Android jadul milikku, lalu aku tertunduk.


" Ayo kita ke kamar dulu sebentar, sebab harus menunggu obat yang harus di racik untuk kamu, sekalian sambil menunggu pak Ujang menjemput kita juga, dan alangkah baiknya kita menunggu di kamar saja sambil kamu tiduran," suruhnya padaku.


" Mitha maaf aku mau keluar sebentar ya, sebab aku tadi ketemu dengan karyawan aku, katanya ortunya di rawat di sini, aku mau tengok dia sebentar, tapi kamu nunggu di kamar saja ya biar aku tak khawatir " imbuhnya lagi.

__ADS_1


" Baik Pak" Balasku tanpa menolaknya, lalu aku menunduk melewatinya, aku tak mau Pak Biyan melihat mataku sebab, sebab aku lagi tidak baik-baik saja.


POV Author.


Berlahan Mitha melangkah kan kakinya perlahan-lahan melewati Biyan, sebab dia masih merasakan sakit di bagian pergelangan kakinya, tetapi dia tahan.


Setelah sampai di depan pintu masuk ruangan Mitha berhenti sejenak, rasanya dia ingin menengok ke arah belakang dimana sang suami berada, tetapi karena di belakang ada Biyan, niat itu di urungkannya, lalu dengan perlahan-lahan Mitha masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut.


" Berbaringlah dulu, mungkin kita masih agak lama ya, tak apakan?" ucap Pak Biyan memberi tahu padaku, aku mengerti sebab Pak Biyan mau membesuk Orang tua dari karyawannya tersebut, aku juga tak dapat menolak, sebab aku juga tak enak memaksa dia untuk cepat-cepat pulang.


Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, dan berjalan ke arah ranjang, lalu aku membaringkan tubuhku di atas ranjang itu, masih dengan mukaku yang terlihat masam.


" Aku tinggal sebentar ya." Serunya sambil menutup tirai yang menjadi pembatas antar ranjang dengan ruang tamu yang ada di ruangan itu.


Tanpa menunggu jawaban dariku Pak Biyan pergi dari kamar itu, aku masih tertunduk lesu, begitu banyak pikiran berseliweran di kepala ku ini, bila itu tadi benar Mas Andra dengan- ah bahkan aku tak sanggup menyebut namanya, sebab selama ini walaupun keluarga Mas Andra kasar sekali sama aku, tetapi perlakuan Mas Andra masih dalam batas normal, bahkan masih manis terhadapku, tiap malam dia selalu memijit kakiku bila kami mau tidur, perlakuan yang manis itu yang membuat aku masih bertahan di sisinya, tetapi bila wanita di sampingnya tadi adalah orang yang hadir di tengah-tengah keluarga aku, aku tak dapat menerimanya, selama ini aku sudah cukup banyak mengalah demi Mas Andra, tetapi kalau seperti ini apa yang harus aku pertahanan.


Apa dia tak ingat anaknya Dimas, bagaimana dengan Dimas.


Di tengah aku sibuk memikirkan semuanya tiba-tiba pintu terbuka dari luar, suara berat itu menggema di ruangan ini.

__ADS_1


" Silahkan masuk" Ucap Bosnya Mbak Siti itu pada seseorang yang masih tak terlihat olehku, sebab ada pembatas antara ranjang yang aku tempati dengan pintu masuk ruangan ini.


__ADS_2