Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 34


__ADS_3

"Jebless..." Suara pintu yang di tutup kencang oleh Karina membuat Pram tersentak kaget, Pram tak menyangka Karina akan semarah itu, ah benar-benar kebangetan Bu Marni itu, sudah numpang terus hidupnya tetapi tak tahu diri, Pram mematung ketika mobil itu dengan cepat meninggalkan dirinya tanpa mengucap salam, boro-boro salam menatap aja endak.


Sopir yang biasanya mengantar mereka berdua ke kantor datang dengan tergopoh-gopoh dari arah garasi, dan dia segera menghampiri Tuannya itu dengan wajah pucat, dia takut kalau dirinya di salahkan karena Bu Karina pergi begitu saja tanpa Pak Pram.


"Maaf Pak Pram saya tadi habis dari toilet, tidak tahu kalau Bu Karina sudah masuk ke dalam mobil, dan tak menunggu saya dulu." Ucap Pak Bono dengan mimik muka yang ketakutan, tak biasanya Bosnya itu bersikap seperti itu.


" Tidak apa-apa Pak Bono, tolong antar saya ke kantor sekarang juga, pakai mobil yang lain" seru Pram menenangkan Pria paruh baya itu, sementara Pak Bono tak tahu kalau ada keributan kecil di dalam rumah, di kiranya Pak Bono dirinya yang salah karena pergi sebentar untuk membuang air kecil.


" Baik Pak Pram" sahut Pak Bono dengan sopan, lalu kemudian dengan terburu-buru Pak Bono mengeluarkan mobil milik Pram, dan memanasi mesinnya sebentar, sebelum melajukan mobil itu ke tempat di mana Pram kerja.


Pagi ini Pram ada rapat penting dengan piahka investor, dia sudah telat lima belas menit, ya gara-gara keributan kecil di rumah tadi.


Dengan langkah lebar Pram berjalan menuju lift tanpa menyapa resepsionis yang biasanya ia lakukan setiap pagi ketika berangkat kerja bersama Karina, dan kemudian ia menekan tombol dan menekan angka lima belas di mana rapat itu berlangsung, sebenarnya Mila sudah berada di dalam ruang rapat bersama seluruh pejabat perusahaan dan petinggi di perusahaan tersebut, tetapi itu tidak cukup, kehadiran Pram tentunya sangat di butuhkan sebab ini menyangkut dengan MOU yang telah di sepakati bersama dengan pihak investor baru.

__ADS_1


" Selamat pagi semuanya, mohon maaf saya telat" sapa Pram pada semua yang ada di ruangan sana, setelah mengangguk hormat pada semua yang telah duduk di ruang rapat itu, Pram kemudian melangkah kakinya menuju ke arah meja yang berbentuk bundar itu, dan mengambil tempat duduk di sebelah Mila sang sekretaris.


Dan meeting pun di lanjutkan dengan berbagai agenda dan penandatanganan MOU deng pihak investor.


Di sini Pak Nico sebagi pihak investor telah datang bersama dengan asistennya mengikuti rapat dan menyerahkan beberapa kelengkapan berkas dan surat perjanjian yang di butuhkan, sesuai dengan perundingan sejak awal.


Meeting pun akhirnya selesai sudah, dan beberapa pejabat Perusahaan satu persatu meninggalkan ruangan meeting begitu meeting selesai, Pram yang terlihat gelisah melirik sang istri yang sedang mengobrol intens dengan Nico sang investor baru itu, tanpa menghiraukan keberadaannya, dan dengan hati yang tak karuan, aduh melihat ini saja aku cemburu setengah mati, apa lagi Karina yang selalu di panas-panasin sama Bu marni tentang hubungan aku sama Zaenab yang katanya akan berakhir dengan sebuah pernikahan, pusing jadinya, lalu kalau aku tidak cepat bertindak dengan tegas sudah di pastikan rumah tangga aku pasti akan hancur begitu saja hanya karena mulut lemes Bu Marni.


Aku dengan sekuat tenaga menahan cemburuku itu, hingga sampai aku di sadarkan sebuah tangan yang menyentuh pundakku.


" O... ia Mil maaf " seruku kemudian, lalu dengan cepat aku mengemasi berkas-berkas yang menumpuk di atas meja, dan naasnya ini semua harus aku pelajari dan aku kerjakan secepatnya, sebab ini adalah sebuah konsekuensi perjanjian dengan pihak investor, bila semua pekerjaan harus selesai dalam waktu yang sudah di tentukan sesuai dengan perjanjian awal, kalau tidak, perusahaan akan mendapatkan pinalti yang akan membuat perusahaan kami rugi, sebenarnya keputusan yang di ambil ini cukup riskan bagi kami semua, tetapi tak ada pilihan, sebab bagi kami ingin memulihkan kepercayaan investor tidaklah mudah, maka dari itu kami mengambil keputusan yang sekiranya bisa membuat pihak investor yakin dengan kinerja Perusahaan ini, dan membuktikan bila perusahaan kami memiliki dedikasi yang tinggil.


Setelah semuanya selesai aku kemasi, aku bersama Mila berdiri, dan masing-masing dari kami membawa berkas dan laptop untuk kembali ke ruangan, sebelum meninggalkan tempat itu kami pamit kepada dua orang yang tengah asik ngobrol berdua saja di ruangan itu tanpa menghiraukan kami yang lagi sibuk beberes, sepertinya mereka hanyut dalam dunia mereka sendiri.

__ADS_1


" Maaf Pak Nicolas dan Bu Karina kami pamit dulu kembali ke ruangan" seruku dengan membungkuk hormat seperti biasanya yang aku lakukan ketika berhadapan dengan atasan ku itu.


" Oh ia Terimakasih Pak Pram, atas kerja kerasnya, semoga kerjasama kita akan sesuai dengan perjanjian dari awal." ucapnya padaku, sambil berdiri dan menepuk pundakku, pria itu sebenarnya begitu ramah pada semua orang, aku jadi kadang tak enak sendiri juga padanya, aku yang sudah mati-matian menahan cemburu, akhirnya tersenyum lebar membalas balasan hangat dari Pak Nico.


" Sama-sama Pak Nico, mohon maaf tadi saya terlambat," ucapku sekali lagi padanya, sebab aku merasa tak enak sendiri pada kebaikan pak Nico ini.


Lalu akupun berpamitan dan mengangguk hormat pada mereka berdua, aku sempat melirik Karina yang terlihat sibuk dengan ponsel yang dia pegang, sikapnya terlihat cuek padaku, membuat aku jadi merasa tak berarti baginya, dai begitu lain tak seperti biasanya, aku menghembuskan nafasku perlahan-lahan menegang sesak yang menghimpit hati ini. Ya sudahlah bukankah aku yang salah, pikir ku kemudian agar aku tak merasa berlarut-larut dalam ketidak nyamanan.


" Ayok Mil," ajak ku pada sekretaris aku itu.


" Oh ia Pak Pram," sahut Mila yang nampak terlihat kaget dengan ajakanku itu,


Setelah pamit pada Bos, aku dan Mila berjalan ke arah pintu keluar meeting ini, dan aku membukakan pintu itu buat Mila yang tengah membawa tas laptop dan berkas di tangannya, sebab aku selalu melakukan itu bila berjalan dengan wanita ataupun siapapun yang tengah bersamaku.

__ADS_1


Sebelum aku menutup pintu meeting itu terdengar celetukan dari Pak Nico yang terdengar jelas di telingaku.


" Mereka pasangan yang serasi ya Rin?" seru Pak Nico pada istriku itu, tetapi jawaban apa yang di ucapkan istriku itu aku tidak sempat mendengarnya sebab aku sudah buru-buru menutup pintu itu begitu saja, dengan perasaan yang sulit di artikan.


__ADS_2