
" Ia Mas istirahatlah aku akan menyiapkan baju dan bekal untuk Mas Andra." Balasku sambil aku tersenyum ke arahnya dan bergegas keluar menuju dapur untuk membuatkan kopi dan menggoreng telur untuk bekal suamiku itu, sebab hanya telur makanan spesial buat kami.
Jarum jam sudah menunjukkan angka setelah tujuh, aku lekas membangunkan suamiku itu dengan lembut.
" Mas bangun Mas" seruku sambil aku mengguncang bahunya perlahan-lahan, tubuhnya meringkuk memunggungi ku sambil memeluk Dimas.
Tubuh Mas Andra perlahan menggeliat dan berbalik ke arahku, dan mata sayu itu menatapku penuh dengan kesedihan.
" Ia Dek," balasnya dengan seulas senyum menghiasi wajahnya yang masih kuyu itu, sementara Dimas masih terlelap dalam tidurnya, biasanya bocah kecil itu bangun ketika meminta susu saja di waktu dini hari.
Aku ulurkan handuk ke arah Mas Andra ketika pria tampan itu bangkit dari duduknya, lalu dengan keadaan badan yang masih lemas, Mas Andra melangkahkan dengan gontai menuju kamar mandi, aku menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu, sesaat aku terdiam sejenak dan tak lama kemudian aku kembali sibuk sebagai seorang istri.
Sementara Mas Andra mandi aku menyiapkan baju untuk dia kerja, tas jinjing yang di bawahnya tadi aku buka dan aku keluarin semua baju Mas andar satu persatu.
Aku yang belum mempunyai lemari pakaian sementara meletakkan baju-baju itu di dalam tas dan koper saja.
Baju kerja Mas Andra yang agak kusut aku setrika supaya terlihat rapih, sebab baju itu sepertinya di masukkan asal saja ke dalam tas jinjing, jadi membuat kusut saja.
" Ini Mas bajunya aku setrika lagi, soalnya tadi kusut banget" ucapku sambil aku ulurkan baju itu ke arahnya yang baru selesai mandi.
" Terimakasih Dek," ucapnya sambil tersenyum, namun senyum itu terlihat begitu getir sekali, sepertinya masalah keluarga dia belum selesai juga, aku tak tega ingin menanyakan hal itu, sebab aku juga tak siap bila Mas Andra mengeluh uang kepadaku, harusnya dia tahu posisi aku lagi seperti apa, jadi dari pada nanti membuat ribut aku mendingan diam saja.
Aku menunggu dia ngomong saja, sebab aku juga tak bisa membantu dia, hanya do'a saja yang bisa aku lakukan untuk membuat dia menjadi lebih semangat, hanya itu yang bisa aku lakukan nanti.
Sembari Mas Andra berganti baju aku mengelar tikar untuk tempat sarapan pagi ini, setelah semua ku siapkan tak lama kemudian Mas Andra keluar dari kamar seperti biasa dengan baju yang rapih dan wangi, dan kemudian dia ikut duduk bersila di atas tikar yang aku siapkan.
__ADS_1
Untuk sarapan pagi ini aku siap sayur bayam dan tempe goreng, sementara lauk telur aku sisihkan untuk bekal dia nanti.
" Ayo makan dulu Mas, dan ini kopinya sudah masih anget kok, soalnya sudah sedari tadi aku menyeduhnya." Ucapku sambil aku menuangkan nasi ke dalam piring dan aku ambilkan lauk sayur dan tempe.
" Makasih ya sayang," ucapnya dengan senyum yang sumringah, Mas Andra makan begitu lahapnya hingga tandas, kasihan suamiku itu sepertinya dia kelaparan.
" Alhamdulillah" ucapnya syukur pada makanan yang telah membuatnya kenyang, aku hanya membatin kalau dari kemaren Mas Andra pasti belum makan.
" Kapan Mas terakhir makan?" tanyaku sedikit ragu padanya.
" Aku hanya makan siang saja Dek di kantor, dan ketika pulang dari kerja sampai rumah tak ada makanan apapun di atas meja, lalu aku langsung tidur saja, sebab mau masak mie pun tak ada, terus Mas terbangun sebelum subuh, lalu berkemas, dan membuka ponselku untuk melihat share lokasi kamu berada, langsung saja Mas ke sini, sebab sudah kangen sama kalian."Ucapnya dengan semangat, sepertinya tenaganya sudah pulih setelah menghabiskan sarapan nya walaupun dengan menu seadanya, aku mengulum senyum melihat dia bertenaga lagi.
" Lha memangnya pada di rumah sakit Mas? sampai-sampai tidak sempat masak semua?" tanyaku dengan ragu.
Aku mendengar keluhannya hanya tersenyum tipis saja, aku tak bisa berkata-kata, aku tak mau membuat masalah lagi, cukup diam dan memperbaiki diri sendiri.
" Mas akhirnya pinjam uang kantor untuk menutup biaya Bowo dengan orang yang di tabrak, sebab Mas hanya mendapat pinjaman separuh nya saja, dan itu nanti di potong dari gajiku tiap bulannya, jadi sisanya aku tak mau tahu, terserah mau di carikan ke mana oleh Sinta, aku sudah lelah dengan mereka." Ucap Mas Andra sambil tertunduk lemas.
" Sudahlah Mas, jangan di pikirkan lagi sekarang saatnya untuk berangkat kerja, ini bekalnya jangan lupa di bawa." Ucapku memecah keheningan, aku kasihan sebenarnya sama suamiku itu, tetapi sepertinya suamiku itu tampak serba salah pada keluarga dia, tapi mau gimana lagi aku juga tak sanggup di jadikan pembantu gratisan di sana.
Mas Andra lalu bangkit dan menerima kotak nasi yang sudah aku siapkan, lalu dia berjalan ke arah kamar seperti biasa mencium kening anaknya yang masih tidur dengan lelap, setelah itu dia mengambil tas yang ada di atas lantai, karena kami memang belum memiliki apa-apa untuk sekedar membeli bangku, yang terpenting bagiku peralatan usahaku sudah aku beli dan segera aku pakai buat mencari uang nantinya.
" Jaga diri baik-baik ya Dek, Mas pergi dulu," ucapnya," Dan maaf Mas belum ada uang yang untuk kamu" imbuhnya sambil menundukkan mukanya, dia tampak malu terhadapku.
" Tak apa-apa Mas, yang terpenting semoga kita di beri kesehatan dan bisa bekerja untuk masa depan." Jawabku sebijak mungkin, aku tak mau mengguruinya sebab aku tahu dia juga punya tanggung jawab kepada ibunya.
__ADS_1
Lalu aku mencium tangannya dan mengantar suamiku sampai di depan pintu, setelah dia pergi dengan motornya aku melangkah masuk ke dalam dan membereskan sisa-sisa sarapan pagi ini.
Setelah itu membereskan peralatan masak dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pekerjaan nanti, aku buru-buru ke depan sebab aku mendengar suara tukang sayur yang teriak-teriak di depan rumah sana.
" Mendingan aku belanja di tukang sayur keliling itu dari pada aku ke pasar." Gumamku dalam hati.
Ketika aku keluar dari halaman rumah, di sebelah rumah sudah ada tukang sayur yang sudah di kerumuni ibu-ibu sekitar sini.
" Selamat pagi ibu-ibu semua," sapaku pada ibu-ibu yang tengah memilih sayuran itu.
" Selamat pagi juga mbak." balas wanita paruh baya yang bertubuh gempal padaku yang aku kenal sebagai Bu RT di sini, sebab kemarin aku sudah berkunjung ke rumah beliau, yang rumahnya selisih dua rumah dari rumah kontrakan aku ini.
Waktu itu aku datang dengan temanku Titi untuk memberikan data kependudukan aku sebagai calon penghuni di kampung ini.
" Ayo sini mbak Mitha kita belanja bareng -bareng" serunya sambil memperkenalkan aku kepada ibu-ibu yang ada di sana, dan dengan senang hati aku menyambut perkenalan itu.
" Dan saya biasa di panggil Kang Asep Mbak Mitha" seru Kang Asep yang belum di perkenalkan sama Bu RT.
" Aduh maaf Kang kelewatan tadi, seru Bu RT dengan tawanya yang khas, sejauh ini aku masih nyaman di sini, sebab ini pertama kali aku menyapa mereka semua.
" Terimakasih Ibu-ibu semua sudah menerima saya sebagai sebagai warga sini, dan semoga saya di terima dengan baik." seruku sembari pamit untuk segera pulang takutnya Dimas terbangun nantinya.
" Sama-sama mbak Mitha" balas ibu-ibu di sana hampir bersamaan.
Aku dengan cepat masuk ke halaman rumah, takut bila Dimas sudah bangun dan mencari aku.
__ADS_1