
Aninda pun nampak menangis tergugu di sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Sedangkan ibunya terus berusaha menenangkan putri semata wayangnya dan ayahnya pun nampak terdiam dengan masih menyetir mobil miliknya tersebut hingga memasuki pekarangan rumahnya.
Banyak tamu dan kerabat Aninda yang nampak kebingungan melihat wajah sembab Aninda. Sedangkan ayah Aninda pun nampak membagi-bagikan seluruh makanan yang di masak untuk pernikahan putrinya tersebut kepada seluruh tetangga dan kerabat dengan menjelaskan jika pernikahan putrinya tersebut telah batal karena suatu alasan.
Batalnya pernikahan Aninda pun mencuat hingga ke seantero kampung nya dan menjadi trending topik dan bahan gossip yang empuk untuk para tetangga nya tersebut. Ada yang bersimpati, ada pula yang terlihat mencibir di belakang Aninda.
"Wahh berarti sudah dua kali ini Aninda kembali gagal menuju ke jenjang pernikahan. Yang pertama pertunangan nya yang batal karena mantannya menghamili sahabat nya sendiri. Yang kedua ini calon nya juga ketahuan selingkuh di detik-detik sakral kedua nya menuju ijab kobul," ujar salah satu tetangga nya dengan merumpi di depan teras rumahnya yang tidak jauh dari rumah Aninda.
"Iya juga ya mbak yu. Mesakne yo Aninda ayu-ayu kok men salah pilih terus," ucap ibu-ibu yang lain dengan menggendong anaknya.
"Lha ya to kuliah sampai Jepang kok masih salah pilih lelaki. Seharusnya Aninda fokus dengan pendidikan nya. Bukan langsung menerima pinangan lelaki di saat kuliahnya belum selesai juga," ujar ibu-ibu nyinyir yang memiliki dandanan paling menor di antara yang lain.
"Apa jangan-jangan Aninda itu sudah hamidun? Makanya cepat-cepat ingin segera menikah? Tapi kalau batal menikah terus piye?" timpal ibu-ibu yang mengenakan daster kotak-kotak.
Gunjingan demi gunjingan pun menyebar hingga membuat Ayah Aninda pun rasanya ikut menahan sesak didada nya melihat nasib putrinya tersebut.
Sedangkan di dalam kamar hotel yang Dio dan Vania tempati pun terjadi adu mulut antara orang tua Vania yang juga sedang berlibur tak jauh dari pusat kota Jogja pun segera datang begitu mendapat telepon dari putri kesayangannya.
Papa Vania pun segera melayangkan tinjunya kepada Dio melihat putrinya yang terlihat sangat acak-acakan dan badan yang di penuhi oleh bekas merah hasil percin taan dan bekas noda darah perawan yang tercecer di atas kasur tersebut.
__ADS_1
"Dasar lelaki bajingann! Kamu harus bertanggung jawab kepada putriku sekarang juga atau kamu aku jebloskan ke dalam penjara sekarang juga! Rasanya memasukkan kamu ke dalam penjara saja tidak cukup!" ucap Papa Vania dengan terus menendang Dio dengan sangat beringas dan terdengar jerit tangis dari mama Dio dan mama Vania dan kemudian petugas keamanan pun datang melerai keributan.
Pada akhirnya untuk menutup rasa malu di kedua belah pihak dengan terpaksa Dio pun segera di bawa ke gedung pernikahan yang telah mereka sewa untuk pernikahan nya. Sedangkan Vania pun segera di rias ala kadarnya untuk mengganti kan calon mempelai yang akan menggantikan Aninda.
"Ma! Pa! Aku di jebak! Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak mau menikah dengan Vania ma! Aku hanya mencintai Aninda! Aku hanya akan menikahi Aninda!" pekik Dio di dalam ruang ganti di gedung yang telah di sewa tersebut dan berusaha untuk melarikan diri.
Namun usahanya tersebut nampak sia-sia karena langkahnya kembali di cekal oleh sang papa.
"Bertanggung jawablah! Solusi satu-satunya nikahi Vania lebih dahulu atau kamu akan mendekam di penjara! Papa tidak mau membantu anak yang beraninya membuat papa malu!"
"Jika kamu berani melarikan diri dari pernikahan ini maka yang akan terjadi imbas masalah nya bukan hanya untukmu saja. Maka Aninda pun akan terkena dampak dari arogansi papa Vania untuk membuat Aninda dan keluarga nya menghilang dari muka bumi ini!" ucap papa Dio dengan raut muka serius karena sudah cukup tahu bagaimana arogan dan pengaruhnya keluarga papa Vania tersebut.
Ijab kabul pun berlangsung, dan Dio serta Vania kini telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Sedangkan tamu undangan yang melihat dan mendengar ijab kabul mempelai wanita nya yang berubah pun menjadi bingung. Begitu juga dengan Amel dan Akio serta keluarga besarnya yang nampak bingung ada apa gerangan. Dan dimana Aninda saat ini.
Amel pun nampak terlihat geram dan berusaha menelepon nomer ponsel milik Aninda. Namun nomer tersebut pun tak kunjung terhubung hingga membuat Amel semakin cemas dan ingin segera menampar Dio.
"Tenanglah sayang," ucap Akio dengan menenangkan istrinya tersebut agar rasa cemas dan paniknya tersebut tidak membahayakan janin yang ada di dalam kandungan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Tenang gundulmu! Lihat siapa yang sedang Dio nikahi itu?! Semudah itukah seorang lelaki mencampakkan wanita dalam waktu yang sangat singkat?" ucap Amel dengan geram dan kemudian mendekat ke arah Dio dan Vania dengan cepat.
"Dasar pelakor! Perebut calon suami orang! Rasakan pukulan aku ini!" pekik Amel dengan menerjang Vania yang nampak duduk di atas pelamaninan.
Amel pun dengan beringas menjambak dan mencakar wajah Vania dengan brutal hingga membuat heboh seluruh orang yang ada di dalam gedung tersebut. Bahkan beberapa dari tamu undangan pun merekam kejadian tersebut hingga viral.
Akio pun berusaha menahan istrinya agar menghentikan pertengkaran tersebut di bantu oleh Dio dan beberapa petugas keamanan.
"Sayang! Jangan bigini! Ingatlah bahwa kamu sedang mengandung!" pekik Akio dengan wajah frustasi melihat kebrutalan istrinya tersebut yang terus mengamuk dan masih berusaha menerjang tubuh Vania.
"Lepas! Lepaskan aku! Biar aku cekik dia sampai mati agar dia tahu rasanya hidup di alam lain karena telah menjadi pelakor!" ucap Amel dengan raut wajah yang terlihat semakin memerah serta emosi yang tidak kunjung juga reda.
Mama Akio pun segera menenangkan menantunya tersebut dengan dipeluknya dengan sangat erat. "Jangan seperti ini sayang. Jangan buat dirimu dan calon cucu mama menderita karena pertengkaran kalian yang bisa di bawa ke jalur hukum," ucap mama Akio dengan lirih yang membuat Amel pun kembali tersadar.
"Tapi ma, Amel tidak terima lelaki brengksek itu mengganti calon mempelai nya secara tiba-tiba dengan wanita lain ma. Bagaimana dengan nasib Aninda. Huhuhuhu," ucap Amel dengan menangis tersedu-sedu.
"Jika kalian masih berani menyentuh putriku maka jangan salahkan jika aku berani membawa masalah penganiayaan ini ke jalur hukum!" ucap papa Vania dengan sangat lantang yang membuat seluruh keluarga Akio melotot tajam ke arah papa Vania.
"Siapa yang berani membawa menantuku yang sedang berusaha menegakkan kebenaran untuk sahabat nya dan siap pun yang berani membawanya ke jalur hukum maka keluarga kami pun tidak akan segan membuat keluarga kalian runtuh tak bersisa!" ucap papa Akio dengan kilatan wajah menyeramkan yang membuat papa Vania pun nampak ketakutan.
__ADS_1