Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
S2. Lagi-Lagi Di Jodohkan


__ADS_3

Zia mendengar ucapan Ryu yang terdengar aneh pun mengerutkan keningnya.


Bukankah seharusnya aku yang meminta pertanggung jawaban dari nya?


Zia pun bergumam di dalam hati nya sembari menggelengkan kepala nya.


Dengan cepat Zia pun memberikan isyarat kepada sang sekretaris untuk segera keluar dari ruangan nya dan menuju ke ruang meeting.


Ryu pun terlihat melongo begitu mendapati dirinya yang ditinggal kan seorang diri di dalam ruangan tersebut.


"Wanita aneh! Huh, baiklah biar nanti aku saja yang berkunjung ke rumah kedua orang tuanya," ucap Ryu seorang diri.


Ryu pun segera keluar dari ruangan tersebut dan langsung bertolak menuju ke hotel yang biasa di gunakan nya olehnya sebagai kantornya sehari-hari.


Dirinya yang baru menginjakkan kaki di dalam hotelnya pun segera di sambut oleh sapaan hangat dari beberapa karyawan serta resepsionis nya.


Tak luput Rossaline pun juga terlihat memamerkan baju seragam baru nya yang memperlihatkan belahan dada nya. Hal tersebut pun tentu akan membuat siapun yang melihat pasti akan salah fokus untuk melihat belahan dada nya yang terlihat menyembul tersebut.


Ryu yang memandang belahan dada milik Rossaline yang terlihat menyembul pun seakan ingin muntah dan jijik.


Dengan cepat Ryu pun segera menuju ke ruangan yang selama ini menjadi tempatnya memeriksa banyak dokumen.


Ryu pun terlihat meminta sang asisten untuk menghadap ke ruangan nya melalui telepon interkom yang tersedia.


"Ada perintah apa, tuan?" tanya sang assiten dengan sigap.


"Perintahkan Rossaline untuk segera mengganti baju nya yang lebih sopan. Jika diri nya menolak, maka segera beri surat resign karena tidak mematuhi standar sop dalam hal berpenampilan di hotel yang aku jalankan saat ini," ucap Ryu dengan tegas.


Hotel yang di kelola oleh Ryu sangat menjunjung tinggi kesopanan dalam hal pelayanan. Terutama penampilan dari para karyawan nya.


Jangan sampai penampilan dari karyawan nya ada yang menyerupai wanita-wanita di club malam yang mempertontonkan bentuk tubuhnya apalagi sampai menggoda pengunjung yang akan menyewa di kamar hotel nya tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian sang asisten pun segera memanggil Rossaline dan memberikan teguran yang sangat tegas untuk nya.


"Jika di antara para karyawan disini masih ada yang menggunakan baju seperti yang kamu gunakan maka resikonya adalah akan secara langsung di berikan surat pemberhentian kerja alias di pecat. Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Silahkan kembali ke tempatmu," ucap sang asisten kepada Rossaline.


"Baik, Pak," jawab Rossaline dengan di dalam hati yang terus menggerutu.


Asisten sialann! Awas aja kamu, jika aku telah berhasil memiliki Ryu seutuhnya maka kamu lah karyawan pertama yang akan aku pecat!


Rossaline pun terus menggerutu hingga kembali ke tempatnya semula.


Lain hal nya dengan Zia yang terlihat sangat sibuk menjumpai klien baru nya dan membahas proyek kerja sama.


Begitu juga dengan Ryu yang nampak di sibukkan oleh banyak nya tumpukan dokumen dan banyaknya pertemuan dalam beberapa bulan ke depan yang membuatnya semakin sibuk.


Hingga keduanya pun saling melupakan kejadian malam tersebut akibat pekerjaan yang semakin hari semakin bertambah beban dan tugas yang mereka emban.


Beberapa hari, minggu, dan bulan pun telah berlalu. Baik Zia ataupun Ryu pun masing-masing masih terlihat sibuk dengan kerjasama denga para klien masing-masing yang telah berhasil mereka yakin kan.


Sedangkan Zidan pun telah di pecat oleh Zia karena diam-diam Zidan pun terbukti menyelengkan dana keuntungan perusahaan.


Hari-hari yang di lalui Zia pun terasa lebih nyaman dan menenangkan karena terbebas dari rasa cinta nya untuk Ryu dan telah terbebas dari rayuan palsu yang Zidan berikan untuk nya.


Setiap kali di tanya oleh kerabat kedua orang tua nya perihal pasangan pun Zia selalu bungkam. Begitu juga dengan Zey.


"Bagaimana jika kamu Papi jodohkan dengan putra rekan bisnis Papi seorang bule dari Jerman? Telah Papi selidiki jika putra teman Papi tersebut tidak memiliki riwayat apa pun yang akan menyakiti diri mu, Zia," ucap Dio di suatu pagi di saat seluruh keluarga nya sedang melakukan sarapan bersama.


Dijodohkan lagi?


Zia pun segera menghentikan kunyahan di mulut nya.


"Apa Papi yakin jika Zia tidak akan lagi di tolak oleh lelaki tersebut karena perjodohan antar dua orang tua yang terlihat sangat konyol?" tanya Zia dengan menatap wajah Papi nya tersebut.

__ADS_1


"Menurut rekan bisnis Papi, putra nya tersebut tidak menolak untuk di jodohkan dengan siapa pun karena usianya yang telah menginjak umur tiga puluh tahun. Sudah pasti putra nya sangat tampan. Terlalu sibuk berbisnis jadi melupakan soal jodoh," ujar Dio dengan segamblang nya di depan sang anak.


"Sudah tua ya Pi," ucap Zia kemudian.


"Untuk lelaki tidak ada batasan umur untuk soal pernikahan sih sebenarnya. Tidak kelihatan jika telah berumur. Kalian coba bertemu lebih dulu. Dua hari lagi katanya putra rekan bisnis Papi akan bertolak kemari dan Papi akan mengatur pertemuan kalian berdua," ucap Dio dengan menggebu-gebu.


Diam-diam sebenarnya Dio pun merisaukan soal percintaan anak gadisnya yang sebenarnya telah pantas untuk segera menikah tersebut.


Apalagi Zia yang semakin hari semakin terlihat menyibukkan diri dengan kerja dan kerja.


"Haih, papi membuatku pusing saja," gumam Zia yang nampak telah duduk di dalam ruang kerja nya tersebut.


"Lelaki mana yang mau menerima kekurangan ku yang sudah tidak suci lagi?" gumam Zia dengan raut muka bingung.


Sedangkan Ryu yang memiliki sedikit waktu senggang pun diam-diam telah masuk ke dalam ruang Zia.


"Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya Ryu dengan tiba-tiba yang membuat Zia terkejut akan suara Ryu yang terdengar menggelegar di dalam ruangan miliknya tersebut.


"Tidak ada. Ada kepentingan apalagi kamu berkunjung ke perusahaan ku?" tanya Zia dengan menatap malas kepada wajah pria yang saat ini menjadi seseorang yang sangat di benci oleh Zia.


"Kenapa kamu tidak pernah mengangkat telepon ku ataupun membalas pesan dari ku?" tanya Ryu secara langsung karena telepon dan pesan nya tak pernah sekalipun di tanggapi oleh Zia hingga membuat nya semakin resah dan galau tak menentu.


"Aku telah di jodohkan oleh orang tua ku dengan putra rekan bisnis nya. Jadi aku tidak ingin terlihat dekat dengan lelaki mana pun karena tidak ingin mengecewakan jodoh pilihan papi ku tersebut," jawab Zia dengan terus memeriksa dokumen-dokumen yang ada di meja nya tersebut.


Zia pun terpaksa menggunakan alasan tersebut karena dirinya yang kini sudah sangat malas akan sikap Ryu yang tak kunjung menunjukkan keseriusan untuknya di tambah perasaan nya untuk Ryu pun sekarang seperti sudah terasa mati rasa.


"Di jodohkan? Kamu pasti bohong!" ucap Ryu dengan sedikit memekik.


"Terserah. Jika kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan maka kamu bisa menanyakan secara langsung persoalan perjodohan ku tersebut kepada papi ku," jawab Zia dengan bergegas mengambil tas nya.


"Aku ada meeting di luar dengan segera. Jika kamu masih sangat ingin berlama-lama disini pun silahkan," ucap Zia dengan melenggang keluar dari ruangan nya tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Ryu pun nampak risau karena seseorang yang selama ini telah berhasil mencuri hatinya pun telah dijodohkan dengan orang lain.


"Astaga! Bagaimana ini??" teriak Ryu dengan setengah frustasi.


__ADS_2