
Kegiatan Aninda sehari-hari pun seperti sudah terjadwal. Mulai dari membaca buku-buku dan kuliah serta membantu kedua orangtuanya hingga malam hari nya menjelang tidur. Intensitas bertemu antara Dio dengan Aninda pun semakin berkurang karena kesibukan kedua nya menjelang hari pernikahan.
Sedangkan Dio pun nampak sangat sibuk dengan persiapan pernikahan nya mulai dari mencari wedding organizer yang handal yang dapat di booking dalam waktu dekat. Serta menyebar undangan pernikahan mereka baik itu untuk kerabat, relasi bisnis orang tuanya, maupun teman kampus Dio dan Aninda.
Ditempat yang berbeda nampak seorang wanita yang sedang membaca undangan pernikahan dari Dio tersebut nampak marah dan kesal.
"Bagaimana mungkin Dio lebih memilih menikah dengan wanita kampungan dari pada aku yang merupakan teman sekampusnya dan putri seorang pejabat! Arrgh!! Sialann!!"
Vania terlihat mengamuk di dalam kamar tidurnya ketika mendapati sebuah undangan pernikahan dari seseorang yang sangat ia cintai tersebut. Seluruh barang-barang berharga di dalam kamar nya tersebut nampak hancur berserakan karena amarah dari seorang Vania yang tidak dapat dikontrol lagi.
"Aku harus membuat rencana! Agar bisa memikatmu untuk menjadi milikku selamanya!" pekik Vania.
Dengan segera Vania pun nampak mengambil hp nya dan menelepon seseorang. "Kemarilah!" bentaknya di dalam telepon.
Tak lama kemudian datanglah seorang lelaki ke dalam apartemen Vania tersebut. Lelaki tersebut pun nampak mengedarkan seluruh pandangan nya dan melihat apartemen Vania yang terlihat sangat mirip dengan kapal pecah.
"Kamu kenapa honey?" tanya lelaki tersebut dengan sangat kawatir kepada Vania.
"Kamu tidak ada hak untuk bertanya atas apa yang terjadi kepada ku! Ingat bahwa aku lah yang telah membiayai seluruh biaya operasi adik kamu satu-satunya itu dan kamu pun telah menyetujui untuk menjadi pemuas ku! Lakukanlah, puas kan aku malam ini. Lakukan lah dengan lebih gila dari pada yang kita lakukan kemarin!" ucap Vania dengan arogan nya dengan melempar topeng wajah bergambar muka Dio yang nampak sedang tersenyum.
Lelaki tersebut pun segera menuruti perintah Vania dengan segera melucuti seluruh pakaiannya dan me muas kan Vania hingga Vania pun me rin tih dengan sangat keras.
"Keluarkan di dalam!" titah Vania yang sebenarnya sedang membuat sebuah rencana untuk memiliki Dio seutuhnya.
Lelaki tersebut pun dengan sepenuh hati memasukkan seluruh cairan kental miliknya tersebut ke dalam milik Vania hingga Vania pun nampak terkulai lemas.
"Kamu memang cocoknya menjadi gigoloku. Ingat! Jangan katakan hubungan kita ini kepada siapa pun! Pergilah!" ucap Vania dengan memberikan segepok uang kepada lelaki tersebut.
Lelaki tersebut pun nampak memunguti pakaiannya kembali dan segera mengambil uang yang diberikan oleh Vania tersebut.
Sedangkan Vania pun tak lama kemudian nampak tertidur pulas dengan senyum yang terlihat mengembang di wajahnya dengan memimpikan Dio yang telah berhasil ia miliki sepenuhnya.
Hingga tak terasa hari pernikahan Aninda dan Dio pun sudah mendekati hari nya dan keduanya pun nampak di pingit oleh kedua orang tua nya.
Dio pun nampak di larang keras untuk keluar dari rumah apalagi untuk sekedar menemui Aninda yang sedang di pingit.
Hingga malam harinya menjelang sehari sebelum pernikahan Dio dan Aninda tiba, nampak telepon genggam nya Dio nampak bergetar berkali-kali.
"Kenapa sih Vania selalu menerorku terus menerus!" gerutu Dio dengan segera mengangkat telepon tersebut.
"Dio ... tolong datanglah kemari. Ak-aku sedang berada di club' malam tak jauh dari rumah kamu di Jogja. Tolong temani aku sebentar saja sebelum kamu menikah dan di miliki wanita lain seutuhnya," ucap Vania yang nampak setengah mabuk disertai dengan dentuman musik yang terdengar sangat kuat tersebut.
"Bisa tidak sih kamu jangan menggangguku terus menerus Van?" tanya Dio dengan wajah sebal di dalam telepon nya tersebut.
__ADS_1
"Datanglah kemari untuk terakhir kali nya. Setelah itu aku tidak akan mengganggu kamu lagi," ucap Vania dengan tegas seolah apa yang dia katakan adalah sebuah kesepakatan.
"Baiklah, aku akan kesana. Wanita jangan suka mabuk-mabukkan dan keluar masuk club' malam seperti itu!" bentak Dio yang kemudian menutup telepon nya dan segera keluar dari rumahnya tersebut.
"Dio! Mau kemana kamu??" tanya sang mama dengan setengah berlari mendekati putra nya tersebut.
"Mau ketemu teman kampus bentar ma. Bentar saja ya ma?" ucap Dio yang kemudian menancapkan gas nya untuk segera pergi dengan begitu saja tanpa menunggu jawaban dari mama nya tersebut.
Tak lama kemudian Dio pun telah tiba di club' malam tersebut dan nampak mencari dimana Vania berada. Nampak Vania yang sedang berjoget ria dengan pakaian minimnya tersebut dengan di kelilingi oleh beberapa lelaki yang nampak menatap buas ke tubuh Vania tersebut.
Dio pun segera menarik Vania dari kerumunan lelaki hidung belang tersebut dan mengajaknya segera keluar dari tempat tersebut.
"Jangan pulang dulu! Temani aku minum sebentar saja," ucap Vania dengan menggandeng paksa Dio menuju ke tempat duduknya semula.
Vania pun terlihat memesan minuman yang baru dan menyodorkan nya untuk Dio.
"Minumlah. Hargai pertemuan terakhir kita dengan meminum pemberian dariku untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum kamu menikah," ucap Vania dengan meminum minuman di gelasnya hingga tandas tak bersisa.
Sedangkan Dio pun juga terlihat menenggak minuman tersebut hingga habis untuk menghargai keinginan Vania tersebut.
"Sudah aku habiskan. Ayo aku antar pulang. Kemana kamu menginap?" tanya Dio dengan sesekali memegangi kepala nya yang nampak terlihat sangat berat dan tak lama kemudian Dio pun nampak terjatuh.
Vania pun dengan sigap memapah Dio dengan langkah tertatih serta dengan menyunggingkan senyum liciknya. Dengan segera Vania pun memapah Dio memasuki mobilnya dengan di bantu oleh petugas keamanan yang ada di sana.
Vania pun segera membuka cd dan membangunkan milik Dio yang tak kunjung juga tegak berdiri menjulang dan masih nampak tetap loyo juga walaupun telah Vania lakukan dengan berbagai cara.
"Untung saja, sebelum aku terbang menuju kemari aku sudah meminta lelaki miskin itu untuk memberikan tanda di seluruh tubuhku," ujar Vania dengan meneteskan tinta warna merah di kasurnya tersebut agar terlihat seperti darah perawan nya yang telah terenggut.
Vania pun kemudian membuat ruangan nya tersebut terlihat acak-acakan begitu juga dengan penampilan nya bersama Dio.
"Sebentar lagi kamu akan resmi menjadi milikku sayang," ucap Vania dengan memeluk tubuh Dio yang sudah tidak mengenakan apa pun itu di balik selimut keduanya.
Pagi harinya di kediaman Dio pun nampak di hebohkan oleh keberadaan Dio yang tidak diketahui. Dari semalam Dio pun tidak nampak pulang kembali kerumah orangtuanya hingga menjelang subuh.
Tak lama kemudian seluruh keluarga Dio dan Aninda pun mendapatkan notifikasi video berantai atas keberadaan Dio semalam yang nampak berada di dalam club' malam bersama seorang wanita.
Papa Dio pun nampak terlihat sangat marah begitu juga dengan keluarga Aninda yang nampak begitu terkejut melihat kelakuan calon menantu nya tersebut.
Dengan cepat papa Dio pun meminta orang suruhan nya untuk mencari keberadaan Dio dan segera menelepon pihak calon besan nya tersebut dan terlihat menenangkan keluarga Aninda melalui sambungan telepon.
Tak berapa lama papa Dio pun mendapatkan informasi jika Dio sedang menginap di sebuah hotel tak jauh dari lokasi club' malam yang ia kunjungi tersebut.
Dengan emosi yang membara lantas papa serta mama Dio dan beberapa orang kepercayaan nya pun segera menuju ke hotel tersebut.
__ADS_1
Begitu juga Aninda yang nampak menyusul di dampingi kedua orang tuanya begitu mendapat kabar jika Dio bermalam di hotel untuk mengurangi rasa cemas akan nasib pernikahan putrinya tersebut.
Papa Dio pada akhirnya berhasil membujuk petugas hotel untuk membuka kan pintu kamar yang sedang Dio tempati tersebut dengan kunci cadangan yang lain.
Seluruhnya pun nampak memasuki kamar hotel tersebut dengan langkah tergesa. Alangkah terkejutnya orang tua Dio, Aninda serta orang tua Aninda yang melihat Dio nampak tertidur dengan seorang wanita dengan kamar yang sangat berantakan serta baju yang berserakan dimana-mana.
Papa Dio pun dengan cepat menampak Dio dan menarik paksa Dio akan segera terbangun dari mimpi indahnya tersebut.
"Anak kurang ajar!" pekik papa Dio dengan melayangkan tinju serta tendangan nya secara bertubi-tubi.
Sedangkan Aninda pun nampak syok dan seluruh tubuhnya pun rasanya terasa sangat lemas melihat calon suaminya yang seharusnya beberapa jam lagi mengikrar kan ijab kabul untuk menikah bersamanya pun telah tidur dengan wanita yang tidak ia kenal sama sekali.
Disisi lain Vania pun pura-pura terbangun dan menangis tersedu-sedu melihat keadaan nya tersebut.
"A-apa yang telah terjadi kepadaku??" ucap Vania berakting seoalh terkejut dan segera menyingkap tubuhnya di balik selimut yang menutupi tubuhnya.
Vania segera menutupi tubuhnya dengan selimut hotel dan pura-pura berjalan dengan langkah tertatih.
"Awww, sakit dan nyeri sekali," pekik Vania dengan melangkah tertatih mendekati mama Dio.
Seluruh pandangan mata pun tertuju pada noda darah yang ada di atas kasur tersebut hingga membuat mama Dio pun limbung dan di pegangi oleh kerabat yang lain.
Dio pun tak kalah terkejut dengan apa yang terjadi kepada nya tersebut. Sedangkan kedua orang tua Aninda pun nampak geram.
"Kita batalkan saja pernikahan ini!" ucap Ayah Aninda dengan emosi yang berkecamuk di dalam tubuhnya.
Papa Dio pun segera menghampiri calon besan nya tersebut dan menenangkan nya.
"Pak Dirga, maafkan putra kami. Pernikahan Aninda dengan Dio tetap akan kita langsung kan sekarang juga," ucap Papa Dio dengan berusaha membujuk calon besan nya tersebut agar pernikahan tidak jadi batal.
Namun detik itu juga nampak Vania yang tidak terima dengan keputusan papa Dio tersebut dengan berteriak histeris.
"Tidak om! Tidak bisa! Dio pun telah menodai kesucian ku! Bagaimana jika sebentar lagi ternyata aku mengandung anak dari Dio??! Bagaimana dengan nasibku? Dio pun harus segera menikahi ku! Kalian tidak boleh mengabaikan ku!" teriak Vania dengan menangis histeris.
Hingga tak lama kemudian nampak Vania segera menghubungi kedua orangtuanya melalui sambungan telepon dengan tangis yang semakin menjadi dan membuat orang tua Vania pun naik pitam.
Sedangkan papa Dio pun menjadi sangat bingung dan rasanya kepala nya pun terasa mau pecah.
"Ba-baiklah Dio, kita sudahi saja hubungan kita saat ini juga. Pernikahan saya batalkan. Ayah ibu, mari kita segera pulang," ucap Aninda dengan terbata karena dirinya tidak kuasa menahan air matanya agar tidak lirih begitu saja melihat kenyataan menyakitkan yang kembali terjadi kepada nya.
Aninda dan kedua orang tuanya pun nampak keluar dari hotel tersebut begitu saja tanpa menghiraukan ucapan keluarga Dio yang seolah menahan mereka untuk tidak membatalkan pernikahan nya.
"Aninda! sayang! Tunggu! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!" teriak Dio yang tidak ditanggapi Aninda dan keluarga Aninda sama sekali yang telah menjauh dari hotel tersebut.
__ADS_1