
Zia yang merasa terpukul karena kembali di nodai oleh Ryu pun menangis hingga pagi.
Sayup-sayup Ryu pun mendengar suara tangis Zia yang membuat dirinya segera terbangun dari mimpi indah nya.
Ryu pun menatap tubuh nya yang ternyata masih dalam keadaan polos dan tidak memakai sehelai baju pun.
Bayangan kejadian semalam pun berlalu lalang di kepala Ryu hingga dirinya pun kembali mengingat bagaimana dirinya yang getol memaksa dan menodai Zia kembali.
Dengan cepat Ryu pun memakai baju nya kembali dan segera menghampiri Zia yang masih terlihat menangis sesenggukan.
Karena terlalu syok, hingga kini Zia pun terlihat masih dalam keadaan polos dan belum memakai pakaian apa pun.
Ryu begitu terbelalak mendapati tubuh Zia yang di penuhi oleh bekas percintaan. Seluruh tubuhnya pun meninggalkan jejak kemerahan dengan warna yang masih sangat jelas.
"Zi--Zia ... maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab. Aku ingin menikahimu setelah ini. Kamu jangan menangis lagi, oke?" ucap Ryu mencoba menenangkan Zia agar tidak terus kembali menangis.
"Jangan sentuh aku! Jangan dekati aku! Pergi!" bentak Zia dengan menghempas tangan Ryu yang terlihat ingin menyentuh pundaknya.
"Tidak Zia! Aku tidak akan pergi! Kali ini maafkan aku! Aku merasa sangat menyesal atas apa yang telah aku lakukan," ucap Ryu dengan mendekap erat tubuh Zia.
Tangis Zia pun berubah menjadi semakin kencang.
"Kenapa kamu masih melakukan hal ini kepada ku lagi dan lagi, Ryu? Salahku apa? Kamu sama sekali tidak mencintaiku, jadi untuk apa kamu terus melakukan hal kejam seperti ini kepada ku? Apa nanti yang harus aku katakan kepada calon suami ku kelak jika mengetahui diriku yang sudah tidak lagi perawan? Huhuhu ..." ucap Zia dengan terus menangis.
"Kamu hanya akan menikah denganku! Tunggu aku disini! Aku akan meminta izin kepada kedua orang tua ku untuk segera datang melamar ke rumah mu! Aku mencintai mu Zia! Aku ternyata sudah sangat mencintaimu. Jadi aku mohon jangan lagi menghindar dariku," ucap Ryu dengan memegang kedua tangan Zia yang masih nampak bergetar.
"Ayo segera berganti pakaian. Aku akan segera mengantarkan kamu kembali ke kediaman orang tua kamu," ucap Ryu dengan mengambilkan satu set baju untuk di pakai Zia.
"Aku tidak ingin menikah dengan mu. Jangan lagi temui aku. Pulanglah," ucap Zia dengan menatap ke arah lain.
Rasa cinta yang sedari dulu ada di hati Zia untuk Ryu pun sayang nya kini telah berubah menjadi rasa benci.
__ADS_1
Benci untuk kembali melihat wajah Ryu yang dengan tega menodai diri nya untuk ke dua kali nya.
Mendengar ucapan Zia yang begitu mudahnya menolak dirinya pun membuat Ryu mengepalkan ke dua tangan nya.
"Baiklah, biar kedua orang tua kita yang datang secara langsung menuju ke apartemen mu kemari," ucap Ryu dengan segera menyambar ponselnya dan segera menelepon papa nya.
"Hallo, pa. Aku ingin segera menikahi Zia secepatnya. Tolong papa urus dengan cepat. Karena aku telah menodai Zia untuk kedua kalinya. Papa jangan marah lebih dulu. Ryu siap untuk di hukum, namun yang terpenting adalah nikahkan Ryu dan Zia dengan segera," ucap Ryu di dalam telepon dengan cepat dan segera mematikan sambungan telepon nya.
"Hallo! Hallo!" pekik Akio di seberang telepon begitu mendengarkan ucapan putra nya tersebut yang mengatakan telah menodai Zia untuk ke dua kali nya.
Amel yang melihat suaminya terlihat marah pun segera mendekat.
"Pa, apa yang terjadi??" tanya Amel.
"Putramu! Dia telah menodai Zia untuk kedua kali nya dan minta untuk segera di nikahkan! Astaga ma!"
"Karma perbuatan ku yang dulu kenapa seolah di ikuti oleh Ryu?? Padahal beberapa bulan yang lalu pun Ryu menolak mentah-mentah perjodohan nya dengan Zia. Tapi kenapa sekarang jadi begini ceritanya?? Aku seperti tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan Dio karena ulah Ryu!" ucap Akio dengan berapi-api.
Sedangkan Ryu pun terlihat menunggu panggilan nya tersambung dengan nomer ponsel milik papi Zia.
"Hallo," ucap Papi Zia di seberang telepon.
"Hallo, Pi. Maafkan semua kesalahan yang telah Ryu perbuat kepada Zia. Ryu ingin segera menikahi Zia karena Ryu telah menodai Zia untuk ke dua kali nya. Ryu baru bisa memohon restu kepada Papi melalui sambungan telepon karena Ryu tidak ingin meninggalkan Zia seorang diri di dalam apartemen dalam keadaan syok," ucap Ryu dengan menahan debaran di jantung nya terus berdetak sangat cepat karena takut akan reaksi yang terlontar dari Papi Zia tersebut.
Baru Ryu akan melanjutkan ucapan nya pun terlihat telepon nya sudah di matikan secara sepihak oleh Papi Zia.
"Anak Akio brengsek! Harus aku beri pelajaran yang setimpal kalau perlu harus aku potong burung miliknya itu!" ucap Dio dengan menggebrak meja makan yang membuat seluruh orang yang hadir di meja makan tersebut menjadi sangat terkejut.
"Papi kenapa marah??" tanya Aninda dengan wajah cemas.
"Zia telah di nodai oleh Ryu untuk kedua kali nya katanya! Ayo mami kita segera bertindak lebih cepat!" ucap Dio dengan segera menyambar kunci mobil nya.
__ADS_1
"Bik, saya nitip Zizi untuk di antar ke sekolah bersama pak sopir ya. Saya ada perlu mendadak soalnya," ucap Aninda kepada sang art kepercayaan nya.
"Baik, Non," ucap sang art dengan cepat.
Sedangkan Zey yang mendengar ucapan kedua orang tua nya tersebut pun segera mengikuti kedua orang tua nya dengan mobil yang berbeda.
Sedangkan Amel dan Aninda kini tengah berbalas pesan dengan cepat. Kedua pasangan masing-masing tersebut pun terlihat melajukan mobilnya menuju ke apartemen milik Zia.
Hingga kedua pasangan tersebut pun terlihat sampai di basement mobil dengan bersamaan.
Kini Dio pun menatap Akio dengan tatapan membenci. Sedangkan Akio pun sama sekali tidak berani menatap Dio yang terlihat sangat kecewa dan marah terhadap nya itu.
"Setelah ini didiklah anakmu dengan benar!" bentak Dio kepada Akio dan kemudian segera menuju ke unit apartemen yang Zia tinggali.
Dengan mudah Dio pun masuk ke dalam apartemen tersebut dan menemukan sang putri yang masih meringkuk ketakutan.
Pandangan mata Dio pun kemudian tertuju pada Ryu yang juga nampak kacau dan seketika itu juga Dio menghajar Ryu tanpa ampun.
"Kenapa kamu membuat putriku seperti itu! Apa yang ada di dalam otak kamu hah?! Bukankah kamu telah menolak mentah-mentah perjodohan kamu dan putriku! Lantas maksud kamu dengan menodai putri ku untuk kedua kalinya itu apa?!" teriak Dio dengan masih menghajar tubuh Ryu dengan penuh kesetanan.
Ryu pun tidak berani untuk membalas sedikit pun pukulan serta caci maki dari papi Zia karena memang dirinya yang bersalah disini.
Hingga tubuh Ryu pun terlihat lebam semua serta mengalir darah dari hidung dan mulut Ryu yang membuat Amel dan Aninda tidak tega melihatnya.
"Papi hentikan! Kamu bisa membunuh Ryu jika emosi masih menguasai hati kamu. Kekerasan bukan lah solusi nya!" teriak Aninda berusaha meredam dan menarik tubuh suaminya.
"Dio, aku mohon jangan pukuli Ryu lagi. Biarkan Ryu menikah dengan Zia. Setelah itu, kami berjanji untuk membuat Ryu mencintai Zia seumur hidupnya hingga kakek nenek ..." ucap Amel dengan berlutut memohon kepada Dio.
"Kamu pikir dengan menikah maka semuanya akan mudah termaafkan begitu saja?! Tidak bisa! Aku tidak ingin memberikan restuku kepada anakmu yang telah menolak putriku dan kemudian menodainya!!" ucap Dio dengan sangat lantang.
Mendengar kalimat penolakan dari Papi Zia pun membuat Ryu menjadi semakin pias karena langkah nya untuk menikahi dan memiliki Zia pun terhalang oleh restu papi Zia akibat perbuatannya tersebut.
__ADS_1