
Dio pun segera membuka kembali layar monitornya. Dio pun dengan cekatan kembali meretas email melalui surel yang biasa digunakan detektif Choi untuk menghubungi nya selain via WhatsApp.
"Apakah titik GPS nya sudah berubah atau kah masih sama berada di pulau Kalimantan dan tak jauh dari pelabuhan?" gumam Dio sembari terus menjentikkan jari-jarinya diatas keyboard.
Dio pun nampak melihat kembali titik terkahir GPS milik detektif Choi yang terbyata masih menunjukkan ditempat yang sama.
"Sepertinya aku harus bertolak ke Kalimantan dengan penuh persiapan. Namun apa yang terjadi dengan detektif Choi selama di pulau tersebut hingga saat ini tidak memiliki kabar sama sekali?" gumam Dio dengan masih terus berfikir.
"Sepertinya aku belum sempat meretas cctv yang ada di area agen bus malam tersebut. Mungkin ada petunjuk melalui cctv tersebut," ucap Dio dengan meretas kembali sistem cctv tersebut.
"Ohh benarkan seperti nya cctv nya ada yang telah menghapus nya secara permanen di hari detektif Choi bertandang ke agen bus tersebut," gumam Dio dengan mengerutkan dahi nya.
"Coba aku lihat di hari dan tanggal yang sama dimana Aninda dan kedua orang tua nya pergi menghilang," gumam Dio kemudian yang membuat Dio kembali mengerutkan dahinya.
"Benarkan jika sudah ada seseorang yang menghapus di hari dan tanggal yang sama sewaktu Aninda dan orang tua nya menghilang. Berarti ada seseorang yang telah melindungi Aninda beserta kedua orang tuanya. Namun siapa ya??" pikir Dio.
"Ah yasudahlah yang penting kini sudah ada sedikit petunjuk. Tenang Dio! Itu sangatlah mudah untukmu dalam memulih rekaman cctv yang telah di hapus secara permanen pun! Semangat!!" pekik Dio seorang diri di dalam ruang kerja nya tersebut.
Hingga berjam-jam lama nya Dio berkutat dengan layar monitor nya dalam memulihkan cctv yang telah di hapus secara permanen.
"Haih, ternyata selalu memakan waktu lama jika harus memulihkan cctv yang telah di hapus permanen! Apalagi seperti nya orang-orang yang telah menghapus cctv tersebut pun menyisipkan banyak sekali virus-virus yang membuatku cukup kewalahan. Sepertinya aku harus menemukan cara yang lebih cepat,"
"Harus kembali mengasah otakku yang sudah lama tumpul karena masalah yang terus menerus menderaku seorang diri. Huh mana Akio juga tidak setia kawan lagi. Sewaktu dia memiliki masalah apa pun itu aku tetap membantunya. Tapi baru kesalahan yang bukan sepenuhnya salahku saja sudah menjauhiku bak di telan bumi. Teman macam apa itu!" tutur Dio dengan terus mengumpati Akio.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu ruang kerja Dio.
__ADS_1
"Ttokk ... Ttokk ... Dio, ini mama," ucap sang mama dari luar.
Dio pun segera melangkah membuka pintu ruang kerja nya tersebut.
"Iya ma, ada apa?" tanya Dio perlahan.
"Ayo turun, makan bersama dulu. Ada Akio itu yang datang mencarimu dan sudah menunggu mu di ruang makan," tutur sang mama.
"Tumben sahabat rasa musuh itu masih menampakkan mukanya di saat aku sedang kesusahan ma. Aku kira Akio sudah melupakan dan sedang menertawakan kesusahan ku saat ini," ucap Dio kepada sang mama.
"Sudahlah, kamu jangan banyak berfikir. Mungkin ada alasan yang lain lagi hingga Akio pun enggan membantu mu. Kamu sendiri juga kan yang mencari masalah. Sudah tau di pingit masih saja keluyuran. Ayo cepat makan bersama dulu kita," ucap mama Dio dengan menarik lengan putra nya tersebut.
"Iya ya ma baiklah," ucap Diondengan menurut dengan apa yang mama nya katakan.
Dio dan sang mama pun telah tiba di meja makan serta Akio dan papa Dio pun juga terlihat telah menunggunya di meja makan tersebut sedari tadi.
"Sudah. Mari kita makan bersama terlebih dahulu," ucap Papa Dio yang melihat putra nya terlihat menatap penuh kekecewaan terhadap Akio dan begitu juga sebaliknya.
Mereka berempat pun segara makan dengan khidmat. Hingga makan bersama pun selesai Dio dan Akio masih terlihat berdiam diri.
"Ayo ikut aku ke ruang kerjaku. Kalau bertamu dan hanya berdiam diri disitu untuk apa tujuan kamu datang kemari," ucap Dio dengan melangkah kembali menuju ke ruang kerja nya yang terlihat di ikuti oleh Akio.
"Duduklah di kursi sana dan katakan apa tujuan mu datang kemari. Bukan kah kalian sudah tidak menganggap ku sebagai seorang sahabat?" ucap Dio dengan langsung yang membuat Akio pun kembali merasa bersalah.
"Ya maaf Dio, aku hanya menuruti permintaan istriku saja yang terlanjur jengkel terhadap dirimu yang dengan mudahnya mengganti calon mempelai wanita nya hingga membuat Aninda beserta kedua orang tua nya menghilang begitu saja setelah itu. Itu kan awal mula nya juga bagian dari kesalahan mu Dio," tutur Akio yang membuat Dio kembali terdiam.
__ADS_1
"Ya memang itu semua adalah kesalahan ku. Namun kalian sama sekali tidak mencoba bertanya kepada ku secara pribadi kan? Kalian hanya menyimpulkan jika aku itu sangat bersalah dan tidak pantas untuk di bantu oleh kalian? Benar kan?" ucap Dio yang kali ini membuat Akio pun terlihat bungkam.
"Lalu apa yang membuat mu kembali datang kemari?" tanya Dio secara apa maksud dan tujuan Akio datang secara tiba-tiba mengunjunginya.
"Aku telah mendengar dari orang suruhan ku jika istri mu itu telah kamu laporkan ke dalam penjara. Itu lah sebabnya aku kembali kesini untuk bertanya kepada mu secara langsung tentang apa sebenarnya yang telah terjadi," tutur Akio dengan gamblang.
Dio pun terlihat menghela nafas panjang dan kemudian menceritakan seluruh kebenaran yang terjadi. Akio pun nampak terkejut mendengar cerita Dio tersebut.
"Jadi bayi yang dikandung istri kamu itu bukanlah anak kandungmu?? Dan Istrimu juga lah yang telah berusaha menghilangkan nyawa Aninda beserta kedua orang tua Aninda?? Astaga, pantas saja Aninda dan kedua orang tua nya menghilang begitu saja bak di telan bumi!" pekik Akio dengan menggebrak meja kerja milik Dio.
"Iya maka dari itu aku harus segera menemukan keberadaan Aninda. Apalagi seperti nya Aninda pun tengah mengandung anakku. Asal kamu tau Kio, setiap malam pun aku nampak kesulitan tidur karena terus membayangkan bagaimana nasib Aninda di luar sana yang sedang mengandung tanpa adanya ikatan pernikahan. Pastilah sangat sulit,"
"Padahal tujuanku waktu itu mempercepat pernikahan ku dengan Aninda karena aku telah curiga jika Aninda sedang mengandung anakku ..." ucap Dio dengan lirih yang membuat Akio iba terhadap nasib kedua teman baiknya tersebut.
"Kamu sudah menemukan petunjuk apa ini? Kamu butuh apa dari ku untuk mempermudah segalanya?" tanya Akio dengan cepat.
"Ini aku sedang memulihkan rekamanan cctv. Sepertinya Aninda berada di pulau Kalimantan. Kamu bisa kan membantuku dengan mengawal kasus Vania agar aku tidak kembali kecolongan ketika aku telah berada di Kalimantan untuk mencari jejak Aninda? Orang tua Vania kan orang kaya raya. Aku takut akan berimbas terhadap nyawa kedua orang tua ku juga," ucap Dio dengan memohon kepada Akio.
"Baiklah, tenang saja jika soal itu. Biar aku perlengkapi rumah kamu ini dengan alat-alat canggih ku. Serta kendaraan yang biasa di gunakan oleh kedua orang tua mu sebaiknya diganti dengan yang full anti peluru. Biar nanti aku pinjamkan salah satu mobil ku itu untuk di pakai oleh kedua orang tua kamu. Butuh apa lagi? Pasti akan aku usahakan," ucap Akio dengan menggebu-gebu.
"Belum terpikirkan apa pun. Namun keberadaan ku nanti menuju ke Kalimantan tidak ingin diketahui dan terendus oleh siapa pun. Bisa kah kamu membantuku Kio?" tanya Dio dengan penuh harap kepada Akio.
Sedangkan Akio pun nampak berfikir dengan keras bagaimana agar mudah bepergian tanpa di curigai oleh pihak mana pun.
"Berarti kamu harus menyamar Dio. Kamu harus menggunakan identitas orang lain untuk mempermudah urusanmu. Nanti aku buatkan topeng kulit elastis dan identitas yang akan kamu pakai agar tidak di ketahui oleh siapa pun itu," ucap Akio.
__ADS_1
"Tapi berada di pulau Kalimantan itu tidak mudah sama sekali lho Dio? Ditambah disana pun akses internet nya lumayan susah. Jika kamu pergi seorang diri kesana apa itu tidak cukup berbahaya untuk mu? Bagaimana jika kamu tidak kunjung kembali setelah dari sana? Apa yang harus ku katakan kepada kedua orang tua kamu nanti nya?" tanya Akio kemudian dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir terhadap keselamatan sahabat nya tersebut.