
Dio pun terlihat termenung di dalam kamar nya. Dirinya pun merasa bersalah dengan ke dua anaknya.
Jika dirinya tidak memaksa kan kehendak untuk membuat putri nya berpenampilan culun mungkin tidak ada kejadian pembullyan seperti itu.
"Haih ... mungkin sudah waktu nya untuk kami menetap di Bali lagi," gumam Dio.
Sedangkan Ayah Rossaline pun wajahnya nampak sangat pias begitu dirinya benar-benar di pecat secara tidak hormat dan tanpa pesangon sama sekali.
Bahkan dirinya pun sepertinya sudah terblack list dari beberapa perusahaan besar yang telah bekerjasama dengan perusahaan milik Dio's Corporation.
Ayah Rossaline pun nampak melangkah keluar dari perusahaan induk Dio's Corporation dengan langkah gontai.
Dirinya pun merutuki segala kebodohan nya yang telah memaki dan melukai anak-anak dari pemilik perusahaan dimana diri nya mengais rezeki.
Penyesalan memang selalu datang di akhir perbuatan. Menyesal pun sudah tidak ada guna nya lagi jika semua nya telah terlanjur terjadi.
Ditempat berbeda, terlihat Ryu yang nampak di marahi oleh ke dua orang tua nya karena sikap putra nya yang membuat Amel serta Akio kecewa.
"Sudah berkali-kali mama katakan untuk tidak melihat segala sesuatu dari fisik. Ya sudah lah semua telah terjadi. Mulai besok berangkat dan pulang sekolah mu akan di antar oleh pak supir saja tanpa mama dan papa dampingi," ucap Amel dengan segera berlalu meninggalkan putra nya tersebut di ruang keluarga seorang diri.
"Renungi kesalahan kamu itu," ucap Akio kepada putra nya dan kemudian mengikuti kemana istrinya melangkah.
***
Hari pun berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Zey, dan Zia pun telah memasuki bangku sekolah dasar.
Zia pun telah terlihat akrab dengan tetangga-tetangga mereka yang ada di Bali. Bahkan Zia pun nampak berteman baik dengan salah satu gadis kecil yang rumahnya persis bersebelahan dengan kediaman orang tua nya tersebut.
"Kak Zia!! Kak Zey!!" teriak gadis kecil tersebut seperti biasa yang nampak menunggu di depan gerbang rumah orang tua nya bersama pengasuhnya.
__ADS_1
"Mau berangkat bersama lagi?" tanya Zia dengan menurunkan kaca jendela.
"Iya kak ... Ayuna dan nani ingin nebeng lagi ke sekolah. Boleh ya kak??" ucap Ayuna dengan tatapan memohon kepada Zia.
"Boleh dong. Kan kita berada di satu sekolah yang sama. Walaupun kamu masih di kelas TK sedang kan diriku dan kak Zey telah memasuki bangku sekolah dasar. Ayo cepat masuk," tutur Zia dengan cepat.
Ayuna dan pengasuh nya pun segera masuk ke dalam mobil milik orang tua Zia. Ayuna pun nampak tersenyum dengan ceria dengan sesekali terlihat memandang wajah tampan dan teduh milik Zey.
Itulah alasan Ayuna yang setiap hari selalu mencari-cari alasan agar bisa berada di dalam satu mobil dengan seseorang yang di kagumi nya sejak pertama kali Ayuna melihat.
Ya, Ayuna kecil terlihat sangat mengagumi ketampanan yang di miliki oleh Zey kecil.
Bahkan Ayuna selalu mengikuti langkah Zey secara diam-diam hingga setiap akhir pekan Ayuna pun terlihat berkunjung ke rumah orang tua Zey dan Zia dengan membawa beberapa buah tangan.
"Wahh Ayuna cantik datang lagi ke rumah mami Anin. Yuk masuk, Nak," ucap Aninda dengan mempersilahkan Ayuna masuk ke dalam kediaman nya.
Ayuna pun nampak tersenyum cerah begitu melihat Zey dan Zia yang terlihat sedang belajar ilmu bela diri bersama guru privat nya.
Ayuna pun tampak menggeleng dan terus melihat ke arah Zey dan Zia yang terlihat sangat serius mengikuti pelatihan bela diri tersebut.
"Ayuna kesepian di rumah. Jadinya Ayuna lebih baik main ke rumah mami Anin saja dari pada bengong di rumah dan hanya di temani nanny saja. Disini ramai bisa memandang wajah Kak Zey dan Kak Zia," jawab Ayuna yang kemudian terlihat berdiri mendekat ke arah Aninda.
Ayuna pun kemudian tanpa segan terlihat mengelus perut milik Aninda yang sudah terlihat membuncit.
"Mami Anin ... sebenarnya Ayuna juga ingin memiliki adik bayi agar memiliki saudara sekaligus teman bermain. Tapi kata mama dan papa sudah tidak ada waktu lagi untuk memiliki bayi lagi. Apakah adik di dalam perut mami Anin adalah bayi perempuan?" tanya Ayuna yang masih terlihat memegangi perut Aninda dengan penuh kasih sayang.
"Adik bayi nya perempuan dan cantik seperti Ayuna. Adik bayi ini nanti juga boleh di jadikan adik oleh Ayuna," ucap Aninda dengan menyunggingkan senyuman untuk Ayuna.
Setiap hari Ayuna tidak ada kata absen untuk berkunjung ke rumah Zey dan Zia. Ketiga nya pun telah sangat akrab dan kompak.
__ADS_1
Hingga adik Zey dan Zia lahir pun tampak Ayuna setia menunggu untuk melihat adik bayi yang baru lahir tersebut dengan senyum yang terus mengembang.
Hingga Ryu dan kedua orang tua nya serta adik kecilnya pun terlihat bertandang ke rumah Aninda dari Jakarta menuju ke Bali.
Ryu pun nampak melihat Zia, dan Zey yang terlihat asik bermain dengan gadis yang usia nya terlihat lebih kecil dari keduanya.
Zia dan Zey yang melihat kedatangan Ryu pun hanya menatap sekilas dan terlihat tidak begitu menganggap keberadaan Ryu.
Ryu pun terlihat mencoba mendekati Zia dan Zey. Pada akhirnya mereka pun kembali bermain bersama kembali hingga kedua orang tua Ryu pun terlihat undur diri karena masih banyak pekerjaan yang lain nya yang harus segera di selesaikan.
"Kapan-kapan main lagi kesini Ryu. Kita pulang dulu ya karena papa masih ada banyak pekerjaan yang mendesak," ucapa Akio yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh Ryu dengan wajah yang nampak kecewa.
Kedua orang tua Ryu pun undur diri dan terlihat mobilnya yang telah melaju keluar dari halaman rumah Dio tersebut.
Hingga suatu hari keluarga Ayuna pun terlihat pamit dengan keluarga Zia serta tetangga yang lain karena papa Ayuna yang telah di pindah tugaskan ke negeri kincir angin selama kurun waktu yang belum bisa di pastikan.
Terlihat wajah sedih yang terpancar dari muka Ayuna. Ayuna pun segera memeluk Zia dan Zey secara bergantian.
"Kak, jangan lupakan Ayuna ya. Jika nanti papa sudah selesai bertugas maka Ayuna akan kembali ke rumah semula lagi. Jika belum kunjung kembali pun nanti Ayuna akan berkuliah di negera ini agar bisa segera bertemu kembali dengan kak Zey dan Kak Zia segera," tutur Ayuna dengan melambaikan ke dua tangan nya tersebut ke arah Zey dan Zia beserta kedua orang nya.
Ayuna dan kedua orang tua nya pun segera meninggalkan tempat tersebut untuk mengejar pesawat menuju ke Amsterdam.
Hingga bertahun-tahun kemudian, Ayuna tidak juga ada tanda-tanda untuk berkunjung kembali menuju ke tanah kelahirannya.
Hingga suatu pagi, Zia yang nampak telah tumbuh dewasa pun memekik dengan sangat girang.
"Kak! Lihat lah foto ini! Ini adalah Ayuna kecil tetangga kita kan?? Wah hebat ya, diam-diam Ayuna telah menjadi seorang super model dan terkenal di kancah internasional. Sayang sekali seperti nya Ayuna telah melupakan kita," ucap Zia dengan menunjukkan wajah-wajah cantik Ayuna yang terlihat memenuhi halaman berita online.
Padahal, tanpa Zia ketahui bahwa selama ini Ayuna sering sekali bertukar kabar dengan dengan Zey yang terlihat kaku dan tidak terlalu menanggapi perhatian yang diberikan oleh Ayuna.
__ADS_1
Bahkan Ayuna pun sering kembali ke Indonesia secara diam-diam hanya karena ingin melihat wajah Zey dari kejauhan.
"Wanita memang merepotkan! Lebih baik aku lebih fokus lagi dengan kuliah serta belajar memegang perusahaan yang papi miliki agar semakin berjaya," gumam Zey di dalam hati yang kemudian terlihat kembali memfokuskan pandangannya ke arah layar monitor.