
POV Andra
Pagi yang begitu cerah, sinar mentari masuk ke sela-sela jendela kamar ini, suara burung tetangga berkicau membuat aku terhenyak bangun, dan dari arah depan terdengar aktivitas dari para tetangga dan orang lewat sudah mulai terdengar.
Aku membuka mata ini dengan berat, sebab mata ini rasanya masih lengket untuk aku buka, ini semua karena aku tak dapat tidur semalaman, baru dini hari aku bisa tidur.
Sebab aku kepikiran oleh status Bosnya Wulan yang memperlihatkan keberadaan dia dengan istri dan anakku Dimas, sepertinya mereka lagi dalam perjalanan jauh, di status pada aplikasi berlogo warna hijau itu, nampak Dimas dengan lahapnya sedang makan di suapi oleh Pak Biyan sedangkan di sebelah Pak Biyan ada Wanita cantik, kata Wulan wanita itu bernama Niken, Wulan bilang wanita itu adalah adik dari Almarhum dari istrinya Pak Biyan, dan dia suka sama Pak Biyan, Niken selalu datang ke kantor hanya sekedar mengajak bosnya itu untuk makan siang bersama.
Tetapi kata Wulan, Pak Biyan tak menyukai wanita yang bernama Niken itu.
Aku masih fokus pada anakku Dimas, yang terlihat bahagia sambil makan dengan lahap, bocah kecil itu duduk di dekat Pak Biyan dan sesekali pria itu menyuapi anakku itu, hati ini rasanya sakit seperti di taburi dengan garam, anak kandung aku begitu bahagia dan makan dengan lahapnya, terlihat jelas Dimas sangat bahagia, sebab Mitha dan Dimas tak pernah sekalipun aku ajak jajan di luar, aku hanya mementingkan keluarga aku saja.
Ayah macam apa aku ini, membelikan mainan untuk dia saja tidak pernah, aku malu tidak bisa membahagiakan anak sendiri, nafkah bulanan belum juga aku kasih, uang gajian aku habis untuk Ibu dan saudara-saudara ku, dan juga untuk Wulan, tak ada sisa uang gajiku untuk anak kandung aku dan istri sah ku sendiri.
Aku hanya memegang satu juta untuk makan dan beli bensin saja, biasanya dulu waktu Mitha masih satu rumah bersama dengan ibuku aku masih bisa menabung walaupun hanya sedikit.
__ADS_1
Tapi sekarang jangankan menabung, memberikan uang nafkah pada Mitha saja aku tak mampu, walaupun sekedar untuk membeli susu.
Lebih-lebih semua itu bersamaan dengan surat gugatan cerai dari pengadilan agama yang di kiriman ke rumah Wulan kemarin pagi, hingga malamnya aku tak dapat tidur, rumah Wulan posisinya hanya di belakang rumah Mitha, membuat aku enggan untuk bergaul dengan warga di sini sebab aku malu bila ketahuan aku adalah suaminya Mitha juga, ya walaupun lambat laun rahasia itu pasti akan terbongkar juga.
Malu sekali aku teramat sangat malu pada diri sendiri dan terlebih lagi pada Mitha.
Aku masih ingin penjelasan dari Mitha langsung mengenai surat gugatan itu, sebab aku tidak terima, dia seenaknya menggugat aku begitu saja, tanpa adanya komunikasi lebih dahulu dengan aku, aku sebagai seorang suami merasa harga diri ini di injak-injak atas ulah Mitha, terlepas aku yang salah di sini.
Apalagi aku lihat sepintas usahanya begitu ramai sekali, banyak orang sini yang berlangganan dengan dia, karena usaha laundry begitu ramai hingga membuatnya dia biasa menyewa pengacara untuk mengurus surat perceraian ini, sebab butuh biaya tak sedikit untuk membiayai perceraian ini.
Dan berawal dari sini lah akhirnya aku baru terbuka pada Wulan bahwa aku dan Mitha adalah seorang suami istri, awalnya aku bilang sama Wulan bahwa aku adalah seorang duda tanpa anak, dan akibat surat gugatan perceraian dari pengadilan agama tersebut, aku jadi ketahuan kalau status aku masih seorang pria yang masih punya ikatan pernikahan dengan wanita lain.
Tadinya bila Wulan tak mau menerima aku maka aku akan menalak Wulan, dan aku akan kembali pada Mitha dan membujuk dia untuk kembali bersama dengan aku, tak sulit membujuk Mitha, secara dia begitu mencintai aku pasti dia tak mau kehilangan aku, begitu pikir ku.
Ternyata semua tak seperti yang aku bayangkan Wulan bersedia menerima aku apa adanya, asalkan nafkah yang di berikan tak kurang dari sebelumnya, dan akupun menyanggupi hal itu.
__ADS_1
Jujur Wulan begitu lihai dalam urusan ranjang sementara Mitha dia tak membuat aku bergairah di tempat tidur, tetapi untuk urusan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan aku Mitha jagonya.
***
Akhirnya pagi ini aku harus ke pengadilan agama untuk sidang pertama, aku begitu takut sekali kehilangan wanita yang sudah empat tahun bersama dengan aku itu, sifatnya yang sabar dan penurut sangat beda jauh dengan Wulansari yang manja dan suka belanja barang-barang mewah dan tak penting, terlebih lagi tak bisa mengurusi aku, justru aku harus mengurus diri sendiri.
Aku belum siap untuk kehilangan Mitha, selama tinggal bersama dengan Wulan dari baju sampai makan harus mandiri, aku harus makan mencari sendiri di luar, dan baju pun harus menyetrika sendiri, dan satu lagi aku harus mengurusi anaknya itu dari memandikan dia sampai makan, bahkan mengantarkan ke sekolah pun aku juga yang melakukannya, Wulan tahunya hanya kerja dan ke kantor saja, rumah begitu berantakan, sebab tak ada art yang di pekerjaan Wulan, aku lelah sekali tetapi bagaimana lagi.
Aku tahu aku salah aku ingin memperbaiki semuanya, tetapi apa aku mampu untuk nafkahi mereka, istri sah ku yang semenjak dia di rawat di rumah sakit itu belum aku temui dan beri nafkah sampai sekarang, dan semenjak Mitha meninggalkan rumah ibuku, aku jadi tambah banyak pengeluaran, sebab ibu tak dapat mengurus rumah, dan akhirnya mereka sering jajan di luar untuk sekedar makan saja, padahal Santi dan Sinta tak ada kegiatan di rumah, hanya masak saja tak mau, dan baju pun tidak mau mencuci sendiri harus masuk ke laundry semua, parah benar.
kalau ada Mitha pasti rumah itu terurus dan aku bisa menghemat pengeluaran, agar tidak membengkak seperti ini.
aku harus membuat Mitha kembali padaku dan ke rumah ibu, biar ibu tak boros.
Apalagi usaha laundry dia begitu ramai, pasti Mitha banyak uang, dan aku tak perlu pusing memikirkan masalah uang, ibuku dan saudara-saudara aku bisa hidup enak bersama Mitha, aku akan mengajukan keberatan untuk gugatan ini, aku harus membuat Mitha pulang ke rumah aku.
__ADS_1
Intinya bila Mitha pergi semua akan kacau, sebab hanya Mitha yang bisa di andalkan.
***