
Aninda segera melihat satu persatu buah hati nya sudah terlelap semua nya atau kah belum.
Pintu kamar Zey segera Aninda buka secara perlahan. Nampak putranya tersebut tengah tertidur dengan sangat lelap.
Kemudian Aninda pun segera membenarkan letak selimut yang telah keluar dari jalur semestinya dengan menyelimut kan kembali ke tubuh putranya tersebut.
Dengan perlahan Aninda pun segera menutup pintu kamar putra nya tersebut dan segera melangkah kan kaki nya menuju ke dalam kamar milik Zia.
Pandangan mata Aninda pun seketika tertuju pada sosok Ryu yang tengah tertidur dengan sangat lelap di samping putri nya tersebut. Tangan Ryu pun juga terlihat menggenggam jemari Zia di dalam tidur lelap ke dua bocah tersebut.
"Jika kedua nya sedang tertidur pulas seperti ini, terlihat sangat menggemas kan. Berbeda setelah kedua nya terbangun dari tidur, pasti mereka nampak terlihat seperti kucing dan tikus," gumam Aninda dengan memotret kedua bocah tersebut.
Dengan cepat Aninda pun mengirim foto tersebut ke nomer ponsel milik Amel. Sedangkan Amel yang menerima pesan foto tersebut tersenyum samar.
"Kedua nya nampak serasi. Ryu kan lain di mulut lain di hati. Lihat saja pasti anak badung ku itu ketika beranjak dewasa nanti akan selalu mengikuti kemana pun Zia pergi," balas Amel dengan cepat dan kemudian segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Aninda membaca pesan balasan dari Amel pun terkekeh pelan.
"Memang putra kamu itu lain di mulut, lain di hati. Hahaha," ucap Aninda dengan tertawa dan kemudian segera menutup pintu kamar putri nya itu dengan perlahan.
Sedangkan Dio yang melihat aksi istrinya yang terlihat tersenyum dengan terus menatap layar hp nya pun menjadi curiga.
"Sayang, kamu tersenyum dengan siapa?" tanya Dio dengan ikut serta melihat ke dalam ponsel milik istrinya itu.
"Melihat foto putrimu dengan Ryu," jawab Aninda dengan segera menuju ke kamar tidurnya.
Sedangkan Dio pun segera mengikuti langkah istrinya tersebut dan segera merebahkan diri nya di atas ranjang bersama dengan Aninda.
"Sayang ... apa aku terlalu berlebihan jika mendandani putri kita seperti itu?" tanya Dio dengan lirih menghadap kearah wajah istrinya yang terlihat sangat cantik tersebut.
__ADS_1
"Niat kamu sebenarnya baik. Namun kasihan juga jika tidak ada seorang pun yang mau berteman dengan putri mu," jawab Aninda yang memang kasihan melihat putrinya selalu terlihat murung ketika akan berangkat ke sekolah.
"Nanti kalau Zia tidak aku dandani seperti itu yang ada banyak teman perempuan Zia yang iri melihat kecantikan yang Zia miliki. Berkebalikan dengan teman laki-laki di sekolah nya yang pasti akan berebut untuk berteman dengan putri kita kan sayang. Yang ada nanti Zia akan mengalami hal serupa dengan mu dulu," tutur Dio yang masih kekeh dengan niat awal nya namun juga terlihat bimbang.
"Yasudah jika kamu teguh dengan pendirian kamu. Untuk apa susah-susah bertanya kepada ku jika pada akhirnya tetap mendandani putri kita seperti itu. Sudah lah sayang aku lelah ingin segera tidur," jawab Aninda dengan cepat dan segera memunggungi suami nya yang masih terlihat bingung tersebut.
"Haih, pilihan yang sulit," gumam Dio yang kemudian memeluk tubuh istrinya tersebut dan segera memejamkan kedua matanya menuju ke alam mimpi.
Malam pun berganti pagi. Seperti biasa Aninda pun merasakan mual yang kembali mendera nya dan membuat nya tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun selain bolak balik menuju ke wastafel memuntahkan seluruh isi perut nya tersebut.
"Sayang, kamu tidak apa kan??" tanya Dio dengan panik nya setiap kali melihat Aninda yang terlihat tergolek lemah setelah memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya.
"Aku tidak masalah. Cepatlah bangun kan Zia agar tidak terlambat menuju ke sekolah. Zia pasti sengaja selalu bangun terlambat karena takut untuk masuk ke kelas nya sendiri. Berikan motivasi kepada Zia agar tidak menjadi penakut seperti itu," ucap Aninda dengan wajah pucat nya tersebut.
"Baiklah sayang. Aku akan membangun kan Zia terlebih dahulu," jawab Dio yang kemudian melenggang keluar dari kamar nya menuju ke arah pintu kamar putrinya tersebut.
"Tapi papi ... Zia masih benar-benar mengantuk. Kepala Zia pusing juga papi. Bagaimana kalau Zia izin sehari tidak masih sekolah?" tanya Zia yang kemudian menggulung tubuh nya dengan selimut milik nya.
"No! Mulai nanti pulang sekolah akan ada guru privat yang mengajari kamu dan Zey untuk belajar beladiri. Ayo jangan takut untuk pergi ke sekolah. Lawan saja dan jangan takut. Kalau terjadi sesuatu papi siap membela kamu. Kalau Rossaline atau yang lain nya menubruk tubuh mu, balas dengan tubruk tubuh mereka juga," tutur Dio.
"Baiklah, Papi," ucap Zia yang kemudian segera menuju ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.
Di dalam kamar mandi pun Zia mensugesti diri nya bahwa berpenampilan culun pun tidak akan menjadi masalah jika diri nya berani melawan mereka yang berlaku sesuka hati terhadap dirinya.
"Baiklah! Aku akan melawan mereka yang berani menindasku!" pekik Zia di dalam kamar mandi dengan segera menyelesaikan mandi nya tersebut.
Tak lama kemudian, terlihat Zey, Zia, dan Ryu yang telah duduk berjajar di meja makan dengan memakan sarapan mereka dengan khidmat.
Zia pun nampak sangat antusias memakan seluruh makanan nya dengan cepat dan sudah tidak sabar untuk segera sampai di sekolahan nya tersebut.
__ADS_1
"Zia telah selesai sarapan. Papi, Mami, akan Zia tunggu di dalam mobil ya," ucap Zia yang kemudian melesat dengan cepat menuju ke mobil yang biasa di gunakan oleh papi nya tersebut untuk mengantarnya sekolah.
Tak berapa lama, semua nya pun telah siap di dalam mobil dan Dio pun melajukan mobilnya menuju ke sekolah anak-anak nya tersebut.
Setelah sampai di depan lobby sekolahnya tersebut, ketiga nya pun nampak mencium tangan papi nya satu persatu dengan cepat.
"Zi, ingat apa kata papi. Lawan!" teriak Dio kepada putri kecilnya tersebut.
"Baik papi. Daaa!!" teriak Zia dengan melambaikan tangan nya dan berjalan tergesa menuju ke ruang kelas nya.
Benar saja, baru juga sampai di depan kelas nya Rossaline dan ke dua teman nya pun terlihat menghadang langkah Zia.
"Minggir!" ucap Zia dengan menatap tajam ke arah ke tiga teman nya yang kelewat jahat tersebut.
"Kamu sudah berani membentak kami?!" hardik Rossaline dengan menarik rambut milik Zia.
Zia yang mendengar suara lantang Rossaline pun mendadak nyali nya menciut kembali.
"Ayo kita siksa Zia seperti biasa!" ucap Rossaline memberikan perintah kepada kedua teman nya tersebut.
Lantas mereka pun mengepung Zia, tiga lawan satu. Terdengar sorak sorai teman-teman yang lain nya di kelas tersebut hingga menjadi sangat ramai.
Zey yang melihat adiknya di keroyok seperti itu pun menjadi naik pitam dan menarik tubuh Rossaline hingga membentur tembok.
"Jangan sakiti adikku lagi!!" pekik Zey dengan bersiap memukuli ketiga teman Zia tersebut.
Namun gerakan Zey yang ingin memukuli ke tiga gadis kecil tersebut pun terhenti oleh datang nya seorang guru yang berhasil Ryu panggil untuk melerai mereka semua.
"Ada apa ini?? Ini sekolah dan bukan tempat untuk berkelahi!" bentak seorang guru yang terlihat datang tergopoh-gopoh melihat anak didik nya yang masih sangat kecil-kecil namun sudah berani membuat ke gaduhan apalagi hingga bertengkar dengan sengit seperti itu.
__ADS_1