
Peluh keringat pun membasahi tubuh kedua nya. Dio yang seolah lupa waktu pun tampak tidak ada rasa puas untuk nya agar segera mengakhiri aktivitas nya tersebut.
"Di-dio, perutku sakit sekali. Tolong segera akhiri ini semua," ucap Aninda dengan suara terbata dengan wajah yang nampak menjadi pucat.
Melihat Aninda yang nampak kesakitan pun membuat Dio kembali tersadar. Dengan cepat Dio pun segera mengenakan pakaian nya kembali.
Setelahnya nampak Dio segera memakaikan piyama Aninda kembali seperti semula. Dio pun mengecup kening Aninda secara singkat dan segera membuatkan teh jahe hangat untuk Aninda agar rasa sakit di perutnya segera hilang.
"Sayang, ayo di minum dulu," ucap Dio dengan penuh kasih sayang kepada Aninda.
Dengan telaten Dio pun menyuapi Aninda dengan seporsi bubur ayam instan untuk mempersingkat waktu supaya perut Aninda pun kembali terisi.
"Gimana sayang? Apa sekarang sudah ingat?" tanya Dio kepada Aninda kemudian.
"Uhuk! Uhukk!" Aninda pun nampak tersedak mendengar ucapan kekasihnya tersebut.
Dengan sigap Dio pun segera menyodorkan minuman untuk Aninda hingga tandas di minum tanpa sisa.
"Dio ih, kenapa kamu ngomong nya seperti itu terus sih?" ucap Aninda dengan menyilangkan kedua tangannya di dada karena takut jika ia kembali diterkam oleh Dio.
"Hahaha, kamu lucu," ucap Dio terkekeh.
Sedangkan Aninda pun nampak cemberut karena terus di goda oleh Dio. Dengan perlahan Aninda pun turun perlahan menuju ke kamar mandi.
"Awww aww," ucap Aninda menahan nyeri di area miliknya tersebut.
Dio pun dengan segera menggendong Aninda menuju ke kamar mandi.
"Bisa sendiri kan?" ucap Dio.
"Bisa, keluar lah," ucap Aninda kemudian.
Dengan segera Dio pun segera keluar dari kamar mandi tersebut dan mengganti seprai yang telah nampak kusut dengan seprai yang baru.
__ADS_1
Tak lupa Dio pun menyemprotkan parfum ruangan agar kamar Aninda tersebut menjadi tampak fresh dan wangi kembali.
Sedangkan Aninda yang berada di dalam kamar mandi pun menjadi syok melihat miliknya yang nampak bengkak dan kemerahan.
"Pantas saja rasanya sakit sekali. Apa setiap wanita yang di awal-awal melakukan hubungan pun miliknya akan membengkak seperti punyaku ini??" gumam Aninda dengan membasuh milik nya dengan air hangat secara perlahan.
"Setelah ku basuh dengan air hangat nampak sudah tidak terlalu nyeri lagi," ucap Aninda yang kemudian berdiri lagi dan kemudian keluar dari kamar mandi.
Aninda pun nampak melihat seluruh ruang kamarnya yang telah berganti seprai dan sangat wangi. Dengan cepat Aninda pun merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur.
"Dio ternyata selalu menjaga kebersihan apartemen nya. Bahkan sangat rapi dan sangat cekatan. Dimana dia? Selalu datang dan pergi seperti sesuka hati, huh," ucap Aninda dengan mencebikkan bibirnya dan nampak berguling ke kanan dan ke kiri.
"Baru ditinggal beberapa menit udah kangen aku nih?" ucap Dio melangkah mendekat membawa sebuah salep.
Melihat kedatangan Dio pun membuat Aninda nampak terkejut dan segera duduk kembali dengan cepat.
"Sayang, ini salepnya untuk kamu oleskan dua kali sehari setelah mandi ya. Biar milikmu enggak nyeri. Atau aku bantu oles kan ya? Berbaringlah," ucap Dio dengan santainya.
"Dio, no! Aku bisa sendiri," ucap Aninda dengan merebut salep tersebut dari genggaman Dio.
Dengan cepat Aninda pun menuju ke dalam kamar mandi dengan langkah sedikit tertatih. Sedangkan Dio pun segera merebahkan tubuhnya di kasur yang Aninda tempati tersebut.
Tak lama kemudian nampak Dio yang telah tertidur dengan sangat pulas. Sedangkan Aninda yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Dio yang tengah tertidur pun menggelengkan kepalanya.
"Haish, sebaiknya tidak usah aku bangunkan singa yang sedang tidur," ucap Aninda secara perlahan dengan mengambil bantalnya dan segera berpindah menuju ke sofa dan menyalakan televisi.
Aninda pun merebahkan tubuhnya tersebut di atas sofa dan tak lama kemudian dirinya pun tertidur dengan sangat lelap.
Ditempat yang berbeda, disebuah rumah mewah dan sangat besar nampaklah Amel yang nampak kebingungan seorang diri karena mama Akio yang telah pergi sejak pagi hari menuju ke Indonesia karena banyak urusan yang harus ia kerjakan untuk menyambut hari pernikahan putranya tersebut.
Amel berusaha memejamkan mata nya namun matanya pun masih tidak juga bisa untuk ia pejamkan. Dengan langkah gontai Amel pun segera menuju ke dapur dan mencari beberapa camilan.
Melihat banyak nya camilan yang tersedia tersebut pun membuat mata Amel kembali berbinar. Dengan cekatan Amel pun membawa semua makanan tersebut ke depan televisi.
__ADS_1
Dengan wajah sumringah Amel pun menyalakan televisi tersebut dan segera memakan camilan tersebut satu persatu.
"Ah entahlah, aku menjadi sangat mudah lapar. Sebentar-sebentar ingin makan ini dan itu. Tubuhku saja sekarang nampaknya sudah muncul lemak-lemak jahat apalagi perutku menjadi lebih buncit karena terlalu banyak makan," gerutu Amel dengan terus melahap camilan tersebut.
Sedangkan Akio yang telah selesai memperbaiki sedikit alat-alat yang telah ia kembangkan kemudian turun menuju ke dapur dan nampak melihat Amel yang ternyata masih terjaga dengan mengunyah banyak camilan.
"Sayang," ucap Akio dengan memeluk Amel dengan sangat erat.
"Hemmm," jawab Amel dengan nampak masih mengunyah makanan nya tersebut.
Akio yang merasa di abaikan oleh Amel pun nampak memeluk Amel dengan sangat posesif. Tangan Akio pun nampak telah bergerak meraba-raba mochi milik Amel yang nampak menjadi lebih besar dari terakhir kali Akio memanjakan nya.
"Sayang, satu Minggu lebih aku tidak menyentuh mochi kesayangan ku rasanya sedikit berbeda. Nampak menjadi lebih besar dari biasa," ucap Akio dengan menelusupkan tangan nya menyentuh kedua mochi tersebut secara langsung dan segera me re mas nya dengan lembut.
Amel yang sudah lama tidak di sentuh oleh Akio pun menjadi lebih sensitif dari biasa nya hingga de sa han pun keluar dari mulut nya secara perlahan. "Aahh ouuchh, sayang nakal ih."
Akio pun nampak menyeringai dengan tatapan senyum me sum nya tersebut. Dengan cepat Akio pun segera menyambar dan me lu mat bibir Amel dengan brutal dan penuh naf su.
"Sayang, aku kangen," ucap Akio dengan terus mengendus dan mencium leher Amel dan kemudian melepaskan kancing piyama milik Amel tersebut hingga terpampang dua mochi Amel yang memang terlihat menjadi lebih besar dan sangat menggoda.
"Sayang, kamu apain mochi ku ini hingga sekarang menjadi tampak lebih besar?" tanya Akio dengan tanpa menunggu jawaban dari Amel pun segera me lu mat kedua mochinya dengan bergantian.
Hingga Amel pun menjadi te rang sang dengan sentuhan demi sentuhan yang Akio berikan hingga kedua nya pun terlibat polos tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.
Dengan cepat Akio pun melakukan pemanas mengobrak abrik lembah gua milik Amel dengan jari nya secara langsung hingga terdengar de sahan yang terlontar dari mulut Amel hingga tak lama kemudian Amel pun tampak me nge rang dan me lu mat bibir Akio.
Kali ini Amel nampak memberikan instruksi kepada Dio agar segera telentang karena Amel lah yang akan mengendalikan dan meng hen tak kan milik Akio hingga Akio pun menjadi semakin terposan oleh pelayanan yang Amel berikan.
Tubuh Amel yang semakin padat dan berisi pun membuat naf su Dio pun semakin tidak tertahan kan untuk tidak melewatkan tubuh Amel seinci pun.
Kedua nya pun nampak melakukan berkali-kali di depan layar televisi dengan suara de sa han era ngan kedua nya yang nampak menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Sayang, tubuhmu semakin membuatku tidak terkendali. Ahh ahh ouchh astaga, sungguh nikmat sekali milikku telah keluar lagi," rin tuh Dio dengan terus melakukan dengan berganti-ganti gaya.
__ADS_1