
Aninda dan Dio pun nampak kembali mengulang kenangan kencan pertama mereka di Odaiba Seaside Park. Bedanya kalau kencan kali ini keduanya sudah memiliki status berpacaran dengan terik sinar matahari yang nampak menyinari keduanya.
"I love you sayang ku," ucap Dio dengan mengecup kening Aninda dengan penuh kasih.
"Apa kamu tidak akan mengkhianati ku seperti kak Dewa?" tanya Aninda penuh dengan selidik.
"Tidak akan! Aku tidak mau jika harus kehilangan mu lagi dan pastinya aku akan sangat menyesal jika berani mengkhianati mu," ucap Dio dengan menyelipkan rambut Aninda yang nampak diterpa oleh Angin.
Keduanya pun nampak duduk di bawah pohon sakura dengan menikmati pemandangan yang sangat luar biasa indahnya.
"Aku ingin setelah kita menikah nanti walaupun sudah memiliki anak pun aku akan mengusahakan untuk berbulan madu mengulang kisah kita di Tokyo ini. Kamu mau kan sayang?" tanya Dio kemudian.
Aninda pun mengangguk dengan senyum yang lebih cerah kali ini. Dio pun sangat ingin segera mencium Aninda di tempat itu juga. Namun keinginan nya tersebut nampak ditolak dengan keras oleh Aninda karena mereka berada di tempat umum.
"Sayang, aku ingin memiliki banyak anak bersama mu. Apa kamu mau?" tanya Dio kepada Aninda dengan mengelus perut rata Aninda.
"Dio, singkirkan tangan mu ini dari perutku!" ucap Aninda dengan galak karena Dio pun nampak sudah sangat melantur.
Dio pun segera menyingkirkan tangan nya tersebut dari perut Aninda dengan wajah yang nampak canggung. Keduanya pun nampak terdiam dalam pemikiran masing-masing.
"Sayang," ucap Dio memanggil Aninda.
"Ada apa?" tanya Aninda kembali.
"Mau tidak jika kamu aku ajak menengok anak Akano yang sedang terbaring lemah karena sakit leukemia?" tutur Dio.
"Lelaki gila itu punya anak?" tanya Aninda.
"Iya, mau tidak kamu untuk aku ajak menengok dan menghibur putra nya?" tanya Dio dengan penuh harap.
Tanpa basa-basi lagi Aninda pun langsung menolak ajakan Dio tersebut.
"Sampai kapan pun aku tidak ingin melihat wajah lelaki tersebut atau pun anaknya," tolak Aninda dengan tegas karena dirinya tidak ingin melihat bayangan kelam yang sudah berusaha untuk ia lupakan tersebut.
__ADS_1
"Hem, baiklah sayangku," ucap Dio yang kemudian nampak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Aninda.
"Ayo kita nyari restoran terdekat untuk makan siang kita. Kamu ingin makan apa?" tanya Dio dengan menggandeng tangan Aninda lagi.
"Terserah," jawab Aninda.
"Kenapa sih jawaban terserah sayang? Nanti kalau tidak sesuai dengan selera kamu itu kamu tidak mau memakan nya?" tanya Dio setengah tidak percaya dengan jawaban kata terserah yang terlontar dari bibir Aninda tersebut.
"Iya kali ini beneran terserah. Seadanya saja yang mirip-mirip makanan Indonesia saja," jawab Aninda.
"Itu namanya bukan lagi terserah sayang kalau rasa makanan nya pun mirip dengan masakan Indonesia," ucap Dio yang kemudian nampak bingung untuk mendapatkan restoran yang mirip dengan masakan Indonesia di sekitar tersebut.
"Apa ya sayang? Hah ayo makan steak sajalah kalau begitu," ucap Dio dengan menggandeng lengan Aninda dan segera menuju ke restoran yang tak jauh dari mereka.
Kedua nya pun telah memasuki restoran tersebut dan melihat-lihat menu yang tersedia tersebut.
"Aku spaghetti saja," ucap Aninda sesuka hatinya tanpa melihat terlebih dahulu di dalam buku menu tersebut ada menu spaghetti nya atau tidak.
Dio pun nampak kebingungan. "Spaghetti?" ucap Dio dengan membalikan lembar demi lembar buku menu yang tersedia tersedia tersebut dan berusaha mencari menu spaghetti.
Untung saja di halaman terakhir di buku menu tersebut tersedia menu spaghetti dengan beberapa pilihan rasa. Tanpa bertanya lagi kemudian Dio pun segera menuliskan menu pesanan yang keduanya inginkan.
"Sayang, orang tua kamu di undang datang ke pernikahan Akio yang ada di Jepang sini lho?" ucap Dio yang membuat Aninda terkejut.
"Hah? Di undang? Nanti yang ada jadinya beberapa motor dan hewan ternak milik ayah ibuku di kampung habis terjual hanya untuk datang ke pernikahan Amel disini? Ah jangan deh. Kasihan ayah ibuku tahu kalau mesti dapat undangan nikah yang di rayain di Jepang. Sedangkan ayah ibuku juga tidak mengerti bahasa Inggris ataupun bahasa Jepang. Bagaimana bisa dengan mudahnya langsung sampai kesini? Enggak usah deh Dio. Jangan aneh-aneh," ucap Aninda dengan wajah cemas.
"Sudah aku atur sayang. Semua sudah ada yang menanggung. Kamu tidak usah cemas soal itu," ucap Dio yang kemudian menghentikan obrolan nya sejenak karena menu pesanan mereka pun telah sampai.
"Baiklah jika ayah ibuku mau pun aku nggak ada masalah," jawab Aninda yang kemudian memakan spaghetti dengan perlahan dan santai.
"Mau steak sayang?" tanya Dio yang sedari tadi melihat Aninda pun nampak mencuri lihat steak yang sedang ia potong-potong tersebut.
__ADS_1
"Boleh, aaa'?" jawab Aninda dengan membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Dio.
Dio dengan senang hati pun segera menyuapi Aninda dengan steak yang telah ia pesan tersebut itu hingga habis.
"Astaga Dio, itu kan milikmu? Kenapa aku habiskan semua seorang diri?!" pekik Aninda yang baru tersadar jika telah menghabiskan satu porsi steak milik Dio tersebut.
"Nggak masalah sih, tinggal pesan lagi saja," jawab Dio dengan memesan menu yang sama lagi.
"Mau nambah enggak?" tanya Dio dengan cepat.
"Enggak usah, aku sudah sangat kenyang," ucap nya.
Disaat kedua nya sedang menunggu menu tambahan yang di pesan oleh Dio pun tanpa sengaja melihat Edrick bersama Fujiwara yang nampak memasuki restoran tersebut.
"Edrick, sinii," ucap Dio setengah berteriak memangg Edrick.
Edrick pun nampak melihat kearahnya dengan segera berjalan menuju ke meja dimana Dio dan Aninda berada.
Dio dan Aninda pun nampak melirik perut Fujiwara yang sudah terlihat sedikit membuncit. Dio pun mendadak membayangkan jika perut Aninda pun nampak membuncit karena telah mengandung buah cinta nya tersebut.
"Ed, ini calon istriku namanya Aninda," ucap Dio memperkenalkan Aninda kepada Edrick dan Fujiwara.
Mereka pun nampak mengobrol dengan santai dan Aninda pun sudah mulai terlihat akrab dengan Fujiwara.
Fujiwara dan Edrick pun serlgera memesan menu yang mereka inginkan sembari melanjutkan obrolan mereka.
"Kalian jangan lupa datang ke pesta pernikahan kami ya?" ucap Fujiwara yang telah saling bertukar akun sosmed mereka.
Aninda pun nampak mengangguk antusias dan kedua nya pun terlibat obrolan seru hingga mengabaikan Dio dan Edrick.
"Sudahlah bro biarkan saja. Selagi kita masih berada di sampingnya," ucap Edrick yang nampak mengerti maksud Dio karena nampak di abaikannoleh Aninda.
"Kalau aku dan kamu pulang ke Indonesia boleh lah ya aku main ke kampung kamu di Yogyakarta?" ucap Fujiwara yang nampak tertarik dengan kampung halaman Anindya tersebut.
__ADS_1