
Malam pun berganti menjadi pagi. Aninda yang tengah bersiap di depan cermin pun di hampiri oleh Dio.
"Sayang, maaf iya hari ini aku hanya bisa mengantar dan menjemput kamu," ucap Dio dengan menyisir rambut Aninda dan menguncir dengan menggunakan kuncir rambut buatan Dio yang telah di rekat kan dengan mini chip yang sama sekali tidak nampak terlihat.
Wajah Aninda pun berubah menjadi murung mendengar penuturan Dio tersebut.
"Kamu mau kemana?" tanya Aninda dengan memandang wajah Dio dari pantulan cermin.
"Aku ada presentasi zoom buat laporan kemarin dari Thailand itu. Kamu tenang saja, sudah ada orang yang menjaga kamu dari jarak dekat," jawab Dio.
"Baiklah," ucap Aninda dengan segera berdiri untuk bersiap menuju kampus.
Sepanjang perjalanan pun Aninda nampak terdiam. Ia pun nampak memandangi jalanan di sisi kanan nya tersebut.
Sedangkan Dio nampak melirik spion mobilnya tersebut mencari dan melihat apakah bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Aninda tersebut sudah nampak mengikuti nya atau belum.
Benar saja jika ternyata bodyguard tersebut nampak berkendara dengan santai menggunakan motor trail dan mengikutinya namun tidak terlalu nampak mencolok.
"Nin ... " panggil Dio dengan lirih.
"Heemm ..."
"Kamu marah ya sama aku?"
"Enggak kok,"
"Terus kenapa enggak ngobrol dari tadi dan cuma diam saja?"
"Aku lagi bingung mau ngobrol apa,"
Percakapan di antara kedua nya pun berakhir begitu saja ketika nampak sudah dekat dengan kampus.
"Turun disini saja Dio,"
"Lho kenapa? Biasanya juga sampai depan gerbang?"
"Mobil yang kamu pakai terlalu mencolok," jawab Aninda sekenanya saja.
__ADS_1
"Yasudahlah, hati-hati ya. Kalau butuh sesuatu segera hubungi aku!" ucap Dio dengan setengah berteriak karena Aninda pun nampak melangkah dengan cepat menjauh dari mobilnya.
"Hufh, pasti Aninda lagi ngambek," gumam Dio dengan menghela nafas panjang sembari melihat dan memastikan Aninda dari kejauhan jika telah sampai di kampus nya tersebut dengan aman.
Aninda sepanjang menuju kelasnya pun nampak cemberut dan tidak bersemangat sama sekali.
Biasa nya jika diri nya ke kampus pasti di buntuti oleh Dio dari jarak pandang yang cukup bisa ia lihat dan kini ia pun melangkah dengan gontai seolah kata hati nya ingin tetap untuk di temani oleh Dio.
Aninda pun memasuki kelas dan duduk di deretan bangku yang tersisa. Belum juga ada tanda-tanda Ammar masuk ke dalam kelas nya tersebut.
"Tumben banget sih Ammar pun belum datang," gumam Aninda.
Akano pun nampak melihat Aninda dari kejauhan. Dan sedari tadi dirinya pun sebenarnya telah melihat jika Aninda di antar oleh seseorang dengan menggunakan mobil dan tidak menggunakan kendaraan umum lagi.
Akano kali ini terlihat memakai style ala anak kuliahan agar tidak terlalu mencolok. Karena sedari tadi dirinya pun telah paham jika Aninda pun telah di ikuti oleh seseorang bodyguard yang berpenampilan ala anak kuliahan juga seperti dirinya yang tidak terlalu mencolok.
"Seperti nya Aninda sudah diberikan pengawalan oleh seorang. Hemm, kalau begitu aku harus bertindak dengan cepat dan bersih," gumam Akano.
Tak lama kemudian tampak Akano menghubungi seseorang.
"Segera laksanakan eksekusi hari ini, buat pengawal tersebut berpencar dengan Aninda selama jam pergantian kuliah nanti. Ku tunggu hasilnya di gedung terbengkalai tidak jauh dari sini," ujar Akano dan segera mengakhiri telepon nya tersebut.
Setelah ia menyelaikan buang air nya tersebut, mendadak Aninda pun di tubruk dan di mintai tolong oleh seorang wanita yang nampak tergopoh-gopoh mendekati nya dengan wajah panik.
"Tolong! tolong selamatkan adik saya yang mendadak pingsan di belakang gedung ini. Nona adalah orang pertama yang bisa ku temui disini dan saya mohon untuk bantuannya," ucap wanita tersebut dengan langsung menggandeng paksa Aninda menuju ke gedung belakang.
Aninda pun nampak terlihat kebingungan dengan maksut dari wanita yang menariknya paksa tersebut.
Sebelum Aninda sampai di gedung belakang pun Aninda tiba-tiba nampak telahdi bekap dan di bius oleh lelaki asing yang bekerjasama dengan wanita tadi atas instruksi dari Akano tersebut.
Aninda nampak terkejut dan berusaha untuk memberontak di saat dirinya masih tersadar dan berusaha untuk melarikan diri.
Namun sialnya rambut Aninda tersebut nampak berhasil di tarik oleh wanita tadi hingga kuncir rambutnya pun terlepas dan setelah itu kesadaran nya pun melemah hingga dirinya pun jatuh tertidur dalam pengaruh obat bius tersebut.
Kedua nya pun nampak membopong tubuh Aninda menuju ke dalam mobil milik Akano yang tidak terdeteksi oleh cctv dan di dalam mobil tersebut pun Akano telah menunggu Aninda dengan tersenyum senang karena rencana nya untuk menculik Aninda pun telah berhasil.
"Segera menuju ke rumah ku," titah Akano kepada supir nya tersebut.
__ADS_1
Mobil pun nampak melaju menuju ke rumah Akano yang nampak sangat besar dan di jaga oleh banyak bodyguard tersebut.
Dengan sigap Akano pun menggendong Aninda untuk di bawa ke dalam kamar tidur miliknya itu.
Sebelum ia menutup pintu kamarnya, Akano pun dengan segera memberikan titah kepada anak buah nya untuk memperketat pengamanan rumah nya tersebut dan jangan sampai ada yang boleh masuk ke dalam rumahnya itu.
"Baik boss siap laksanakan," jawab seorang lelaki dengan tubuh tinggi besar dengan memiliki banyak tatto di tubuhnya tersebut.
Dengan cepat Akano pun nampak mengunci pintu tersebut dari dalam dan segera membaringkan tubuh Aninda di kasur miliknya itu.
Akano pun nampak meracik serbuk yang kemudian ia masukkan ke dalam gelas yang berisi sedikit wine.
Dengan segera Akano pun membawa gelas tersebut dan meletakkan nya di meja nakas didekat tempat Aninda di baringkan.
Akano pun nampak menopang kepala Aninda. Sedikit demi sedikit Akano segera meminumkan wine yang telah ia campur dengan obat pe*rangsang ke dalam mulut Aninda yang masih nampak tidur terlelap akibat obat bius hingga sedikit demi sedikit secara keseluruhan nya pun minuman tersebut telah habis tanpa sisa.
Akano pun nampak tersenyum senang dan menunggu reaksi akan tubuh Aninda yang sebentar lagi secara otomatis akan merengek memintanya untuk menuntaskan hasratnya itu.
Sedangkan disisi lain Dio pun nampak di buat kalang kabut mengetahui jika chip yang digunakan Aninda nampak terlepas akibat ulah orang yang berusaha menculik Aninda tersebut.
"Sialan! Edrick sialan! Bodyguard tidak berguna!" umpat Dio dengan segera menyambar kunci mobil nya dan dengan segera menghubungi Edrick.
"Ed! Cara kerja anak buah mu itu kenapa tidak bisa di andalkan! Lihat saja saat ini Aninda seperti nya telah jatuh ke dalam perangkap Akano! Padahal aku telah mempercayakan Aninda kepada bodyguard kamu itu! Arrghh sialan!" umpat Dio kepada Edrick.
Dengan sigap Edrick pun meminta maaf kepada Dio dan akan berusaha bertanggung jawab dan ikut mencari keberadaan Aninda saat ini.
Edrick pun meminta kepada seluruh anak buah nya untuk mencari keberadaan Aninda dengan mencari titik terakhir dimana Akano terlihat.
Dengan cepat Edrick pun mendapatkan jawaban dari anak buah nya jika Aninda pun telah di bawa Akano ke rumah mewah Akano yang selalu di jaga dengan banyak bodyguard.
"Kerah kan seluruh bodyguard yang kita punya untuk mendapatkan Aninda secepatnya. Karena yang aku khawatir kan jika kita terlambat menemukan Aninda sedetik maka sudah di pastikan kesucian tubuh Aninda pasti telah ternodai!" ucap Edrick dengan jantung yang berdebar karena ini semua terjadi karena kelalaian dari anak buah nya.
"Segera menuju ke lokasi yang aku share. Aninda terdeteksi oleh anak buah ku jika telah di bawa oleh Akano ke alamat tersebut," ucap Edrick kepada Dio melalui sambungan telepon nya dan segera memutus telepon tersebut secara sepihak.
Dio pun nampak sangat-sangat lah emosi dan sangat kawatir dengan keadaan Aninda.
Tak lupa Dio pun dengan segera menghubungi Akio dan meminta bantuan nya tanpa memberitahu Amel dan mama nya tersebut.
__ADS_1
"Astaga, baiklah aku pun akan membawa anak buah ku untuk menuju kesana," jawab Akio di dalam sambungan teleponnya tersebut.