
Dio pun nampak sangat kusut. Bekerja pun menjadi tidak ada semangat sama sekali. Beberapa kali nampak terdengar helaan nafas panjang darinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya di dalam hati dengan raut muka bingung.
Dio pun kemudian nampak mengambil hp nya dan segera menelepon seseorang.
"Hallo Dio, ada apa tengah malam begini menelepon ku?" jawab seorang lelaki di seberang telepon.
"Aku masih butuh bantuanmu Ed," ujar Dio dengan menyugar kasar rambut nya tersebut karena merasa sangat frustasi.
"Iya. Katakanlah," jawab Edrick.
"Tolong jangan kamu jual Akano ke pasar gelap lebih dulu. Ada seseorang yang sangat membutuhkan nya saat ini," ujar Dio yang membuat Edrick nampak kebingungan.
"Bagaimana bisa kamu dengan mudah nya memberikan belas kasih kepada orang seperti Akano?? Apalagi dia hampir mencelakai Aninda lho Dio?!" jawab Edrick dengan raut muka kecewa.
"Aku pun sebenarnya sangat tidak ingin berbelas kasih kepada Akano. Namun putra Akano nampaknya sangat membutuhkan Akano untuk kelangsungan hidupnya," jawab Dio dengan menghela nafas panjang.
"Anak? Bagaimana mungkin Akano memiliki anak? Apa mungkin anak dari para pe la cur yang telah ia nodai itu?" tanya Edrick dengan kebingungan.
"Aku belum mengetahui pastinya. Kembaran Akano lah yang menghubungi ku dengan memohon dengan sangat agar aku membantunya demi keponakan yang sedang membutuhkan donor sumsum tulang belakang untuk putra Akano tersebut. Ayo besok ikutlah denganku untuk bertemu dengan kembaran Akano tersebut agar kamu mengetahui lebih jelas nya," ucap Dio dengan raut muka yang sulit untuk di jelaskan.
"Baiklah, besok aku akan ikut dengan kamu. Kabari saja waktu dan tempat kalian akan bertemu," jawab Edrick yang nampak mempertimbangkan keinginan Dio tersebut.
"Terimakasih ya Ed," ucap Dio dengan segera menutup telepon nya.
Akhirnya Dio pun nampak bisa bernafas lebih lega. Kemudian Dio pun segera menuju ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya berusaha untuk melupakan masalah demi masalah yang sedang menderanya itu.
"Setiap masalah pasti akan ada solusi. Semangat Dio!" ucap Dio menyemangati dirinya sendiri dan segera berlabuh ke dalam alam mimpi.
Sayup-sayup di alam mimpi Dio pun seperti di panggil-panggil oleh Dio.
"Dio ..."
"Dio ..."
__ADS_1
Dio pun nampak bingung karena tubuhnya pun nampak seperti ada yang menepuk.
Tepukan di tubuhnya pun menjadi sangat keras hingga Dio pun terlonjak terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Astaga, ku kira mimpi. Ada apa sayang?" tanya Dio sembari mengerjapkan matanya.
"Dio ... tolong belikan pembalut," rengek Aninda.
"Nanti ya sayang? soalnya minimarket di apartemen sini kalau belum ada jam 6 pagi belum buka," ucap Dio.
"Kenapa nunggu nanti dan enggak nyari sekarang saja yang sudah buka? Perutku rasanya sakit banget dan darah menstruasi ku pun banyak bercecer di seprai kamar lho Dio," ucap Aninda dengan wajah yang memang sedikit pucat.
"Baiklah, aku belikan lebih dulu. Mau ikut tidak?" tanya Dio.
"Aku tidak usah ikut. Aku menunggu mu ya disini ya. Cepat jangan lama keburu tembus kemana-mana," ucap Aninda.
Dengan secepat kilat Dio pun nampak mengambil kunci mobil dan segera keluar dari apartemen tersebut mencari minimarket yang sudah nampak buka.
Mobilnya pun melaju perlahan mencari minimarket yang telah buka. Tak lama kemudian Dio pun memarkirkan mobilnya tersebut di sebuah supermarket yang tak jauh dari apartemen itu.
Dio pun nampak melenggang masuk ke dalam supermarket tersebut dan bertanya kepada petugas letak pembalut. Sang petugas pun dengan cekatan mengantarkan Dio ke bagian rak pembalut.
Dio pun nampak kebingungan dengan merek pembalut apa yang di pakai oleh Aninda tersebut.
Ketika sang petugas hendak melangkah keluar ke tempat lain dengan cepat Dio pun memanggil petugas tersebut lagi.
"Mbak?"
"Iya kak ada yang bisa saya bantu?"
"Saya bingung memilihkan pembalut untuk pac- makasut saya adalah untuk calon istri saya. Bisa tolong di pilihkan tidak? Soalnya saya kurang paham belanja yang seperti ini,"
"Awal periode tuan?"
"Eum, seperti nya sih begitu,"
__ADS_1
Petugas tersebut pun tampak memilih kan pembalut bersayap dengan ukuran yang agak lebar dan kemudian di serahkan kepada Dio.
"Biasanya wanita di awal period nya menggunakan yang bersayap dan yang lebar tuan untuk mencegah agar tidak bocor kemana-mana,"
"Baiklah mbak, terimakasih,"
Dio pun segera mengantri ke kasir dengan membeli beberapa camilan untuk Aninda nanti.
Setelah selesai membayar, Dio pun segera melajukan mobilnya kembali menuju ke apartemen.
"Sayang, aku pulang," teriak Dio.
Aninda pun segera mendekat dan membongkar belanjaan yang di beli oleh Dio.
Dengan segera Aninda pun mengambil pembalut tersebut dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Dio pun nampak berfikir dan melamun melihat Aninda menuju ke kamar mandi.
"Jika Aninda menstruasi, itu artinya kecebongku yang kemarin tidak berhasil menjadi calon penerus ku di rahim Aninda?" gumam Dio dengan wajah syok.
"Astaga, kenapa nasib percintaan ku tidak bisa semulus mereka sih?? Akio dengan mudahnya dengan sekali tembak berudunya pun langsung jadi. Begitu juga dengan Edrick. Seandainya beruduku sudah tumbuh di rahim milik Aninda kan aku menjadi lebih mudah untuk menjerat Aninda. Seperti Akio dengan Amel. Jangan menyerah Dio," ucap Dio berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Nampak Aninda yang telah keluar dari kamar mandi dan kemudian mendekat ke arah Dio.
"Dio, aku nanti ingin pergi ke kampus kuliah kembali," ujar Aninda.
"Tapi Nin, kata mama Akio kemarin pengajuan kuliah online kamu sudah di berikan izin oleh pihak kampus untuk kuliah daring hingga semester ini selesai. Jadi kamu tidak usah repot-repot pergi ke kampus lagi jika tidak ada keperluan yang mendesak," tutur Dio memberikan penjelasan kepada Aninda.
Aninda pun nampak terdiam dan kemudian menganggukan kepalanya dengan perlahan.
"Jika aku kuliah daring apa aku boleh mencari kerja paruh waktu?" tanya Aninda kepada Dio.
"Tidak boleh!" jawab Dio dengan cepat.
"Kenapa begitu sih Dio?" tanya Aninda dengan sedikit merasa jengkel dengan Dio karena keinginan nya tidak di setujui.
__ADS_1
"Biar aku saja yang bekerja. Kamu cukup fokus dengan belajar kamu. Jika butuh sesuatu tinggal bilang ke aku. Setuju atau tidak setuju aku akan secepatnya meminta restu kepada kedua orang tua kamu untuk kita agar segera menikah," ucap Dio dengan melenggang pergi menuju ke ruang kerjanya dan meninggalkan Aninda seorang diri di ruang televisi.
"Astaga, kenapa Dio terus-menerus mengajakku untuk segera menikah sih? Aku kan belum siap. Bagaimana jika nanti setelah menikah tak lama kemudian aku hamil? Terus masih kuliah lagi? Terus setelah nya melahirkan? Bagaimana aku bisa membagi waktuku? Belum lagi mengejar cita-cita ku? Jika aku menjadi seorang istri otomatis cepat atau lambat aku harus menjadi seorang ibu?? Apa aku masih bisa mengejar cita-cita ku jika sudah menjadi seorang ibu?" ucap Aninda dengan muka linglung dan bingung.