Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Memilih Cincin


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dio nampak sudah terbangun tapi tidak mendapati Aninda di sampingnya.


"Dimana Aninda?" gumam Dio mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di kamar tersebut.


Dengan wajah panik Dio pun segera terbangun dari tidurnya dan mencari keberadaan Aninda. Pandangan mata Dio pun tertuju pada Aninda yang nampak tertidur dengan pulas di sofa.


"Syukurlah, aku kira pergi kemana dia," ucap Dio dengan mengecup pelan kening Aninda.


Setelah Dio pun segera menuju ke dapur membuat resep masakan yang bagus untuk menyuburkan kandungan agar Aninda pun segera hamil benih darinya.


Membahas soal kehamilan Dio pun menjadi kembali tertegun. Karena Aninda yang sudah tidak nampak menstruasi padahal baru kemarin ia membelikan Aninda pembalut.


"Apa itu normal jika menstruasi wanita hanya sehari saja?" gumam Dio dengan wajah panik.


Dio pun segera menghentikan aktivitas nya sejenak untuk mengambil hp dan mencari info seputar menstruasi yang terjadi hanya sehari saja.


"Hemm, disini ada jawaban jika seorang wanita merasa tertekan maka periode menstruasi nya memang akan terganggu. Disini pun juga di jelaskan lagi jika ada kemungkinan awal kehamilan yang di tandai dengan keluarnya flek seperti menstruasi namun hanya keluar sedikit saja," gumam Dio membaca sebuah artikel di google.


Dio pun nampak mengernyitkan keningnya.


"Mana ini yang benar? Aninda saat ini juga sedang pemulihan akibat dirinya yang syok atas penculikan kemarin. Namun bisa saja Aninda pun tengah hamil satu Minggu?" ucap Dio dengan praduga nya sendiri.


Nampak binar di wajah Dio pun semakin jelas dengan adanya harapan bahwa Aninda pun ada kemungkinan jika telah hamil anaknya.


"Sebaiknya setelah ini aku ajak Aninda untuk memesan cincin yang akan aku gunakan untuk melamar Aninda di depan orang tua nya besok di pernikahan Akio," gumam Dio dengan bersiul ceria.


Dio pun membuat menu sehat untuk Aninda agar benih di dalam perutnya Aninda itu tumbuh dengan sehat.


Wangi aroma masakan Dio pun tercium menyeruk hingga membangunkan tidur Aninda. Aninda pun segera mengerjapkan kedua matanya dan perutnya pun terlihat semakin keroncongan ketika hidungnya tersebut mencium bau sedap masakan yang telah Dio masak.


"Harum sekali. Astaga, perutku semakin berdemo hanya dengan mencium bau wangi masakan Dio," tutur Aninda dengan segera melangkah menuju ke dapur dan membantu Dio membawakan dan menyiapkan peralatan makan di meja.

__ADS_1


Dengan cepat Dio pun merebut apa yang sedang Aninda bawa.


"Biar aku saja yang bawa sayang. Kamu di larang membawa barang-barang yang berat dan berbahaya," ucap Dio yang menjadi protektif berlebihan terhadap Aninda.


Kemudian Dio pun menuntut Aninda dengan pelan dan mendudukkan tubuh Aninda di kursi serta mengambilkan makanan sehat yang telah ia masak tersebut dengan porsi yang banyak.


"Ini di habiskan ya sayang. Ini sangat sehat untuk tubuhnya dan perkembangan nya," ucap Dio yang kembali membuat Aninda melongo.


"Kamu kenapa sih Dio? Aneh. Ini terlalu banyak tau makanan nya," sanggah Aninda dengan cepat.


"Sudah lah jangan banyak protes dan menurut saja dengan ku ya sayang," ucap Dio dengan penuh kasih sayang.


"Ayo di makan," ucap Dio dengan melihat wajah Aninda yang sangat cantik tersebut dengan memakan masakan yang telah ia buat.


Aninda yang di pandangi oleh Dio seperti itu pun menjadi risih. Namun protes pun rasanya percuma. Tanpa terasa Aninda pun telah menghabiskan satu porsi yang nampak banyak tersebut tanpa sisa.


"Masakan mu selalu enak Dio," ucap Aninda dengan membawa piring kotornya tersebut ke wastafel.


Aninda pun kembali duduk di kursi nya dengan wajah manyun. "Huh, dasar orang aneh. Apa-apa sedikit dilarang. Nanti kalau aku keterusan jadi pemalas gimana," gumam Aninda di dalam hati.


"Sayang, nanti temani aku membeli sesuatu di luar ya?" pinta Dio dengan wajah memohon nya.


Aninda pun nampak berpikir dan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku pun ingin pergi keluar menghirup udara," jawab Aninda yang membuat Dio semakin berbinar senang.


"Kamu bersiaplah dulu sayang. Awas langkahnya diperhatikan iya?" ucap Dio dengan posesif nya.


Aninda pun nampak menganggukkan kepala dan segera kembali menuju ke kamarnya dan bersiap. Sedangkan Dio dengan cekatan membereskan piring-piring kotor di meja makan nya tersebut dan bersiap untuk pergi bersama dengan Aninda.


Keduanya pun telah siap. Aninda seperti biasanya tetap terlihat cantik dan menawan membuat Dio pun sangat ingin menerkam nya di tempat jika tidak ingat apa tujuan nya mengajak Aninda.

__ADS_1


Dengan cepat Dio pun segera menggenggam tangan Aninda dengan erat dan segera keluar dari apartemen nya tersebut. Di dalam mobil pun Dio masih tetap memegang jemari Aninda yang membuat Aninda nampak risih dan juga malu.


"Dio, tangan ku di dalam mobil kenapa juga masih di pegang sih?" tanya Aninda dengan berusaha melepaskan genggaman tangan Dio.


"Hem, yasudah untuk di dalam mobil saja ya kita tidak bergenggaman tangan?" ucap Dio hang kemudian nampak fokus mengendarai mobilnya.


Tak lama kemudian mobil pun berhenti di sebuah toko perhiasan ternama. Dio pun turun dengan cepat dan membukakan pintu mobil untuk Aninda.


Keduanya pun memasuki toko tersebut dengan Dio yang nampak merangkul pinggang Aninda dan sesekali mengelus pelan perut Aninda.


"Sayang pilihkan satu cincin yang menurut kamu bagus," ucap Dio dengan menuju ke etalase cincin bertabur dengan berlian tersebut.


"Untuk siapa kamu ingin membelinya?" tanya Aninda penuh selidik.


"Untuk hadiah pernikahan Akio," jawabnya asal. Padahal cincin tersebut lah yang akan ia gunakan untuk melamar Aninda.


Aninda pun segera memilih sebuah cincin yang sangat simpel namun terlihat sangat menawan.


"Cobalah lebih dulu. Pas atau tidak dijari manis kamu?" tanya Dio.


Kemudian Aninda pun segera memakai cincin tersebut dan terlihat sangat pas serta cocok di tangan lentik Aninda. Kecantikan nya pun semakin memancar membuat Dio pun tersenyum senang sekaligus bersyukur karena berhasil menjerat wanita secantik Aninda.


"Tolong bungkuskan yang ini," ucap Dio dengan antusias dan segera menuju ke etalase bagian kalung. Kali ini Dio memilihkan kalung pilihan nya dan memakai kan untuk Aninda.


"Sangat cantik," puji Dio dan kemudian segera membayar kalung dan cincin tersebut.


Setalah itu, keduanya pun kembali ke dalam mobil dan Dio pun melajukan mobilnya tersebut menuju ke Odaiba Seaside Park yang pernah kedua nya kunjungi.


"Kita berkunjung kesini kembali?" ucap Aninda dengan wajah yang nampak berbinar senang.


Dio pun menganggukkan kepalanya. "Aku ingin mengulang kencan kita disini," ucap Dio dengan menci um bibir Aninda dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2