Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 36


__ADS_3

Sinar matahari sudah memancarkan cahaya hingga terasa begitu menyengat, hingga masuk ke sela-sela jendela kaca ruangku yang memang sengaja tidak aku tutup tirainya.


Aku menggeliat untuk merenggangkan otot-otot aku yang terasa kaku, mataku mengerjap berkali-kali, terdiam sesaat untuk mengumpulkan nyawaku, apalagi aku mencium aroma kopi yang begitu nikmat di Indra penciuman ku, hingga membuat mataku mau tak mau terbuka lebar dan bibirku melengkung berbentuk bulan sabit.


Tanpa aku menoleh ke belakang sebuah tangan lentik mengulur dan menepuk bahuku, hingga membuat aku kaget karenanya, " Mas bangun" serunya sambil menepuk bahuku.


" Mas bangun dulu, mandi terus habis itu sarapan," itulah yang aku dengar, suara lirih itu masih mengguncang tubuhku yang masih terlentang di atas sofa kantor dengan baju yang sama seperti kemarin.


" Karina," seketika aku menyadari sesuatu, lalu duduk ketika yang membangunkan aku adalah Istriku yang aku rindukan. Seharian di diamkan bagaikan sebuah hukuman terberat dalam hidupku.


" Kamu bau banget Mas, berapa bungkus rokok yang kamu habiskan, hah?" ucapnya dengan kesal, ini lah yang aku suka dari dia mulai marah padaku, berarti dia peduli sama aku.


" Maaf Dek, soalnya kemaren itu kerjaan banyak banget, jadi Mas stres kalau tidak merokok" balasku beralasan.


" Ih... sebel deh," serunya padaku, " udah sana mandi dulu habis itu baru makan." Imbuhnya kemudian.


Aku tersenyum ketika Karina mengomeli aku sambil mengeluarkan bekal makanan yang sangat aku rindukan, nasi uduk, serta ayam goreng dan tempe goreng, tahu goreng dan tak lupa ada sambal tomat, ini pasti bikinan Ibu.


Dan tak lupa dia membawakan aku vitamin yang biasa dia siapkan setiap pagi untuk aku, aku sangat bahagia sekali walaupun aku di omeli sama dia, tetapi menurut aku ini adalah sebuah bentuk kepedulian seorang istri terhadap suami.


Aku lebih suka di omeli kaya gini dari pada di diamkan, aku hanya jawab "ia dek" itu saja, itu sudah membuat Karina puas, dan dia akan diam begitu saja dengan sendirinya.


" Nih baju gantinya, mandi dulu gih" suruhnya padaku, sambil menyodorkan paper bag padaku. " Udah jangan banyakan senyum gitu" balasnya sambil mendorong tubuhku untuk masuk ke dalam kamar mandi.


" Ia Dek," jawabku sambil aku mau mencomot tahu goreng yang membuat aku lapar, tetapi sebelum aku berhasil mengambil tahu itu, tangannya sudah terlebih dulu menepis tangan aku yang mau mengambil tahu itu, " Haduh" gerutuku.


" Ih kebiasaan, mandi dulu sana" serunya sambil mendorong tubuhku ke arah kamar mandi.


" Ia Dek," jawabku, ya nurut sajalah dari pada nanti ga dapat jatah bisa mati berdiri aku nanti.

__ADS_1


Sebelum aku masuk kamar mandi aku mencuri ciuman pada nya, dan sebelum kepalaku kena timpuk buru-buru aku melesat pergi ke kamar mandi.


" MAS... PRAM IH... AWAS YA..." teriakannya melengking sampai terdengar di dalam kamar mandi, aku terkekeh sendiri di kamar mandi, sambil mengelus dada ku, aku bahagia sekali saat ini, walaupun badanku rasanya seperti habis di gampar orang sekampung, tetapi istri ku kalau sudah tidak marah sama aku lagi, membuat aku lega dan bahagia sekali.


Selama lima belas menit aku habiskan waktu aku di kamar mandi, ya maklum dari kemarin pagi aku tak mandi, rasanya sabun yang aku tuangkan saja sampai tak banyak berbusa, jadi kali ini waktuku banyak ku habiskan di dalam kamar mandi.


" Mas, lama banget deh mandinya, kaya anak prawan saja," seru Karina di luar sana yang sudah tidak sabaran menunggu aku.


" Cie...di tinggal sebentar saja sudah kangen nih" godaku padanya.


" Idih ke PD an siapa juga yang kangen, tuh nasinya keburu dingin tahu, aku juga sudah lapar" balasnya sambil menggerutu.


" Ia sayang maaf" balasku, sebab aku merasakan mode marah lagi.


" Ya sudah yuk sini duduk dan makan," imbuhnya.


Lalu Karina dengan cekatan mengambilkan aku nasi berikut lauknya, setelah itu di berikan nasi itu padaku.


" Ia dek, terimakasih," seruku sambil aku tersenyum manis padanya, aku pandangi wajah cantik istriku itu dengan sayu, sepertinya dia mau mengatakan sesuatu.


" Adek tidak makan sekalian" tanyaku padanya sambil aku siapkan nasi ke dalam mulut ku.


" Sini Mas suapi" ucapku dengan lembut, tanpa penolakan diapun membuka mulutnya dan mengunyah makanan berlahan-lahan, kamipun larut dalam kesunyian sambil menikmati sarapan pagi buatan Ibuku, sepiring berdua terasa nikmat rasanya.


" Kamu kenapa sayang? kok kelihatanya kamu ga semangat sih" tanyaku sambil kami menikmati makanannya.


" Adek minta maaf Mas, kemaren Adek cuekin Mas, habis Bu Marni itu membuat aku emosi sih Mas," tutur Karina dengan raut muka yang cemberut.


Lalu akupun hanya tersenyum bahagia mendengar permintaan maafnya padaku.

__ADS_1


" Ia sayang maafkan Mas juga, tak bisa seperti yang kamu harapkan, tapi Mas janji akan selesaikan semuanya, bila kerjaan kantor ini sudah selesai, kasih Mas waktu ya Yank" balasku dengan mengiba padanya.


" Ia Mas, Karina juga salah, harusnya Karina jadi lebih sabar lagi menghadapi semuanya ini, tadi malam Ayah marah sama Karina, sebab mengabaikan Mas ketika keadaan seperti ini" ucap Karina dengan jujur.


" Jadi ayah sudah ada di rumah sayang?" tanyaku ingin tahu.


" Ia Mas, Karina sudah menceritakan semuanya masalah kita, Ayah bilang kalau untuk sementara kita di suruh tinggal di Apartemen Mas, itu usul dari Ayah" tutur Karina memberitahu.


Aku mengangguk-angguk mendengar penuturan wanita cantik itu, dia seperti magnet tersendiri buat aku.


" Alhamdulillah kalau begitu, sayang Ayah sudah tahu semuanya, jadi Mas ga perlu menjelaskan lagi, Mas janji akan menyelesaikan semuanya bila proyek ini sudah berjalan dengan lancar nantinya, dan membangun kepercayaan pada pihak investor lagi untuk bergabung bersama kita" tuturku menjelaskan.


" Ia Mas, Ayah juga bilang begitu kok, aku malah di marahi sama Ayah, karena marah-marah sama kamu yang telah berjuang mempertahankan Perusahaan ini." ucap Karina dengan sedih.


" Maafkan Mas ya Dek, gara-gara Mas Adek di marahi sama Ayah" ucapku dengan sendu membuat istriku jadi tersipu malu dan menundukkan kepalanya.


" Ia Mas," setelah itu dia memeluk tubuh kau dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang ku ini, nyaman sekali kalau sudah berdamai begini, aku jadi bersemangat lagi untuk memulai kerja lagi.


" Mas ini sudah aku bawakan sarapan buat kamu" terdengar suara di balik pintu yang tak asing lagi bagiku.


" B-bu Karin" cicitnya sambil menunduk malu. " Maaf kan saya, saya tidak tahu kalau Bu Karina ada di sini" ucap Mila dengan nada lirih sekali.


" Jangan marah sayang " bisikku pada istriku itu, Karina hanya menatap aku dengan sendu, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Mila yang masih berdiri di ambang pintu.


" Tidak apa-apa Mil, makasih banyak ya Mil, kamu memperhatikan suami aku, tapi mulai nanti biar aku yang akan mengurus segala keperluan suami aku, dan kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang lain" ucap istriku lembut, tak seperti biasanya dia judes kalau Mila perhatian padaku.


" I-ia Ibu, saya permisi dulu" ucapnya dengan menunduk dan meraih handel pintu dan menutup pintu itu kembali.


" Baru saja sehari Mas ga di kawal sudah ada yang mengincar" gerutu Karin, aku terkekeh sendiri melihat istriku manyun bibirnya membuat aku gemas saja.

__ADS_1


" Udah ayok makan lagi." Ucapku untuk mengalihkan perhatian, aku tidak mau dia kesel, dan membuat moodnya turun.


__ADS_2