Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Setelah menghadiri pesta pernikahan Fujiwara dan Edrick nampaknya wajahnya Aninda pun masih terlihat jengkel sedari tadi.


"Sudahlah sayang jangan di bawa ke hati omongan Amel ya. Emang kan Amel orang nya dari dulu ceplas ceplos. Jadi balik ke Indonesia enggak nih?" tanya Dio mengalihkan pembicaraan.


Aninda pun nampak menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias mendengar kata kembali ke Indonesia.


"Jadi dong!" pekik Aninda.


"Yasudah ayo kita ambil koper yang telah kita siapkan kemarin ke apartemen," ajak Dio kepada Aninda.


Keduanya pun kembali ke apartemen terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang yang akan ia bawa kembali ke Indonesia.


"Dio, kamu beneran membelikan oleh-oleh untuk keluarga ku yang ada di Jogja sebanyak ini? Tiga koper lho ini hanya buat oleh-oleh doang? Apa itu nama nya bukan pemborosan?" tanya Aninda dengan wajah serius.


"Jadikan satu koper saja sayangku. Kamu pilihlah lagi oleh-oleh yang khusus buat kamu pribadi kamu sisihkan di koper satunya," ucap Dio membantu membongkar oleh-oleh yang Dio belikan kemarin.


Aninda pun nampak antusias mengambil beberapa oleh-oleh untuk dirinya pribadi yang ia sisihkan dikoper khusus. "Aku mau ini, itu pun mau. Mie ramen super hot spicy pun aku mau. Permen warna warni itu. Kue kering itu. jepit rambut lucu itu aku juga mau. Yaya sayang bawa kemari bando pink lucu itu masukkan ke koperku. Bla bla bla ..." ucap Aninda dengan antusias mengambil satu persatu oleh-oleh tersebut.


"Sayang, ini sudah lebih dari satu koper lho yang kamu pilih?" tanya Dio dengan kebingungan.


"Enggak masalah sayang, yang terakhir masukin coklat yang di sebelah kiri dekat tangan kamu itu. Ya! nah yang itu! Sudah itu semua pilihan aku untuk ku seorang," ucap Aninda dengan mata berbinar.


"Yasudah enggak usah membawa baju-baju kamu yang disini ya. Bawa dokumen penting kamu saja. Yang lain nya nanti aku belikan yang baru setelah sampai di Jogjakarta," ucap Dio yang kemudian di setujui oleh Aninda.


Keduanya pun nampak menyeret koper dengan di bantu petugas apartemen. Tak lama kemudian seluruh barang bawaan mereka pun di masukkan kedalam sebuah taksi yang telah di pesankan oleh petugas apartemen.


Tak lupa Dio dan Aninda pun mengucapkan banyak terimakasih kepada petugas apartemen dan memberikan tips untuk petugas tersebut.


Taksi pun telah melaju menuju bandara. Tak lama kemudian taksi pun telah berhenti tepat di depan lobby utama bandara Narita. Dengan cekatan supir taksi tersebut pun segera membantu Dio dan Aninda menurunkan barang bawaan koper yang keduanya bawa.


"Sayang, kopernya ini koper milikku rasanya berat sekali," ucap Aninda dengan mengusap keringat yang menetes di wajahnya.


"Kamu peganglah lenganku agar tidak tersesat," ucap Dio dan dengan sigap Dio pun membawakan koper milik Aninda tersebut hingga sampai ke dalam pesawat.

__ADS_1


Tak berapa lama pesawat pun telah lepas landas. Begitu juga dengan Aninda yang sudah mulai menguap lebar pertanda bahwa dirinya pun telah mengantuk dan tak lama kemudian Aninda pun sudah tertidur dengan lelapnya.


Sedangkan Dio dengan penuh kasih sayang pun terlihat membagikan bahu nya sebagai tempat bersandar Aninda di dalam tidur nyenyak nya tersebut.


Hingga pesawat pun transit di bandara Soekarno Hatta pukul 2 dini hari dan kemudian Aninda serta Dio pun menunggu transit pesawat tersebut dan nampak sampai di Jogjakarta pun pukul 6 pagi.


Keduanya pun nampak sangat antusias kembali menginjakkan kakinya di Jogyakarta tempat mereka tumbuh dan bersekolah dulu.


"Jangan lupa pegang lengan ku sayang. Ayo nyari taksi dulu. Kita cari warung atau restoran yang menyajikan rawon keinginan kamu yang kemarin itu," ucap Dio dengan antusias.


Didalam taksi kedua nya pun nampak mencari lokasi tempat yang berjualan rawon.


Dio pun segera mencari lewat google maps yang ternyata lokasi nya pun tidak terlalu jauh.


Supir taksi pun menurunkan keduanya di warung yang menjual rawon, soto daging, pecel dan segala macam jenis masakan khas Jawa timuran.


Aninda pun nampak sangat antusias membaca menu-menu yang tersedia dan pilihan nya pun tetap jatuh pada rawon dengan empal goreng dan tempe goreng daun jati yang biasa tersedia di warung-warung yang menjual rawon.


Dua porsi rawon pun nampak tersaji dengan kuah yang mengepulkan aroma khas dari rawon tersebut.


Aninda pun nampak memakan rawon tersebut dengan sangat lahap. Begitu juga dengan Dio yang memang sudah sangat lapar semenjak tiba di Soekarno Hatta.


"Enak sekali Dio. Ah aku sudah lama sekali tidak memakan ini. Sayang aku boleh nambah lagi kan?" tanya Aninda kepada Dio tanpa malu sedikit pun.


"Boleh," jawab Dio dengan tersenyum memaklumi Aninda yang sedari dulu memang pecinta rawon.


Tak lama kemudian rawon pun tersaji satu mangkok lagi dan segera di makan habis oleh Aninda.


"Alhamdulillah," ucapnya ketika perutnya pun di rasa sudah sangat kenyang.


Sedangkan Dio pun nampak sibuk dengan gawai nya. Memberikan kabar kepada kedua orang tuanya dan orang tua Aninda jika kedua nya pun telah sampai di Jogja dan mampir untuk sarapan pagi sebentar.


"Mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang?" tanya Dio kemudian.

__ADS_1


"Langsung pulang sajalah," jawab Aninda dengan cepat.


Dio pun kemudian segera memesan taksi online dari sebuah aplikasi. Dan tak lama kemudian nampak sebuah mobil Avanza pun berhenti tepat di depan mereka yang mana merupakan taksi online yang telah di pesan oleh Dio tersebut.


Keduanya pun segera masuk ke dalam mobil tersebut. Dan mobil pun melaju menuju ke alamat rumah Aninda.


Setengah jam kemudian nampak mobil pun telah berhenti didepan rumah Aninda yang terlihat sangat ramai dan banyak mobil yang memenuhi halaman rumahnya.


"Kenapa di rumah ku ada orang banyak sekali Dio?" tanya Aninda dengan cemas karena takut terjadi sesuatu terhadap keluarga nya.


"Sudah kamu jangan cemas ayo masuklah lebih dahulu," ucap Dio dengan melihat wajah Aninda yang sudah terlihat panik tersebut.


Aninda pun melangkahkan kakinya dengan sangat cepat memasuki pekarangan rumahnya.


"Nah itu mereka calon pengantin nya," teriak salah kerabat Aninda ketika melihat Aninda dan Dio yang telah datang.


Aninda pun nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi. Dan ternyata setelah memasuki rumahnya tersebut pun sudah nampak kedua orang tua Dio dan kerabat Dio yang telah menunggu kedatangan keduanya dengan bercengkerama dengan hangat bersama orang tua Aninda dan kerabat Aninda.


"Sini kalian duduklah mendekat kemari," ucap mama Dio dengan menggandeng tangan calon mantunya tersebut untuk duduk berdekatan dengan nya.


Aninda pun menjadi salah fokus menatap perut mama Dio tersebut yang memang sudah membesar. Begitu juga Dio yang melihatnya pun nampak canggung dengan perubahan bentuk mama nya tersebut.


"Sudah jangan heran. Mama memang hamil adik Dio di usia mama yang menginjak 40 tahun," ucap mama Dio yang mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Dio dan Aninda.


Aninda dan Dio pun kemudian duduk berdekatan dengan keduanya orang tua nya dan kemudian papa Dio pun memulai acara tersebut mengawali maksud kedatangan nya hari itu juga.


"Saya ingin menikahkan putra saya dengan putri bapak secepatnya. Bukan karena maksud hal-hal yang lain namun karena keduanya pun sudah saling mencintai dan sudah sama-sama dewasa. Putra kami pun telah memiliki pekerjaan mapan, jadi ibu dan ayaj Aninda jangan mencemaskan soal masa depan keduanya," tutur papa Dio dengan langsing pada intinya.


Ayah Aninda pun menerima lamaran dari pihak keluarga Dio dan segera mencari tanggal yang baik untuk mereka menikah.


Setelah tetua keluarga masing-masing berdiskusi maka tanggal pernikahan pun telah di putuskan jika 22hari kedua nya akan segera melangsungkan pernikahan.


Aninda pun nampak menitikkan air matanya jika sebentar lagi dirinya pun akan benar-benar menikah.

__ADS_1


__ADS_2