
Setelah kejadian semalam aku sudah menyuruh Siti untuk menceritakan semua pada Mitha, aku tak mau Mitha salah paham padaku mengenai Niken.
Bu RT dan Siti memaksa Niken untuk pulang dengan di antar oleh Pak Ujang dan Bimo, karena tak terima Niken Pun memfitnah aku, kalau kami habis melakukan hubungan badan, dan semua tak percaya apa yang Niken ucapkan, sebab aku langsung memperlihatkan cctv yang ada di dalam rumah untuk menepis semua fitnahan Niken padaku.
Ada-ada saja ulah Niken, padahal aku sendiri yang menyuruh Bu RT dan Siti untuk menyeret wanita itu dari kamarku, bukan menggerebek kami.
Dan lebih kejam lagi ternyata Bi Pur dan Lastri art di rumah ini di kunci di dalam gudang oleh Niken, benar-benar wanita itu sungguh kurang ajar, si*lan dia itu tak tahu terimakasih, aku menyesal selama ini memberikan dia uang jajan, mulai besuk aku akan melepas tanggungan itu, lagipula itu bukan tanggung jawab aku, dia sudah besar dan bisa bekerja, aku sudah geram akan tingkah Niken yang keterlaluan.
Bila tidak mengingat dia adalah iparku maka aku sudah melaporkan dia ke kantor polisi.
Sementara itu Mitha dari pagi belum juga merespon pesan yang aku kirim, wanita itu masih merajuk, gemas rasanya melihat dia merajuk, rasanya aku ingin sekali nyamperin dan menyelesaikan segera urusanku yang tertunda dengan dia, tapi aku harus banyak bersabar.
Menjelang hari pernikahan banyak sekali cobaan datang silih berganti, hingga hari-hari berlalu tanpa terasa hari sakral itupun tiba, aku bagaikan abg saja sejak semalam rasanya mata ini sulit aku pejamkan.
Membayangkan pernikahan yang indah di depan mata, apa yang terjadi besuk membuat aku bahagia saat ini, sebab aku besuk sudah bisa ketemu dengan dia lagi, kangen sekali rasanya, sudah seminggu semenjak fitting baju itu aku belum ketemu sama Mitha lagi, biasanya aku akan ke sana dengan alasan menjemput Malika.
POV Mitha.
__ADS_1
Hari yang di tunggu telah tiba, setelah acara ijab Kabul di laksanakan, acara di lanjutkan dengan resepsi yang begitu sangat melelahkan, perasaan gugup lebih mendominasi dari segala-galanya, sebab yang menikah dengan aku bukanlah orang sembarangan, dia adalah seorang pengusaha kaya raya dan tentu saja beda jauh dari aku yang hanya seorang janda beranak satu, orang kampung yang tak sepadannya dengan dia, sebenarnya aku sudah beberapa kali mengingatkan pada Mas Biyan untuk berpikir ulang untuk mempersunting aku menjadi istrinya, tetapi jawabnya tetap sama, pria yang sah menjadi suamiku itu begitu keras kepala dan posesif, hingga aku tak mampu lagi untuk menolaknya, aku tahu diri siapa diriku dan keluarga aku, dan dari mana aku berasal, tetapi semuanya tak membuat dia mundur, terlebih lagi keluarga Mas Biyan begitu baik sekali sama aku, memperlakukan aku begitu baik, berbanding terbalik dengan mantan mertua aku yang tak tahu akhlak itu.
Gedung yang di sewa Mas Biyan begitu besar dan mewah, rangkaian Bunya Lily kesukaan ku menghiasi tiap sudut ruangan ini, nuansa putih mendominasi perta pernikahan ini, benar-benar begitu mewah sekali. Hidangan Pramana terlihat begitu lengkap dan mewah,
Satu persatu kami pun menyalami para tamu penting yang di dominasi para relasi kerjanya Mas Biyan, dan terakhir aku begitu kagetnya ternyata mantan ibu mertua dengan keluarganya turut di undang juga oleh Mas Biyan.
" Mas, mereka Mas yang undangan?" Bisikku ketika melihat dari kejauhan Mas Andra dan istrinya, Mantan ibu mertua dan saudara Mas Andra berjalan mendekat ke arah pelaminan. Lalu kamipun berdiri.
" Ia dek, kamu jangan khawatir mereka tak akan mengganggu kamu lagi Yank." Ucap Mas Biyan menenangkan aku.
" Ia Mas," jawabku dengan cepat seiring dengan tamu yang aku maksud mulai mendekat ke arah kami dan di awali Mas Andra yang memberi selamat kepadaku dengan raut muka yang terlihat begitu sendu, dia menggendong anak sambungnya itu, selain mengucapkan selamat Mas Andra juga meminta maaf atas segala kelakuan dia dan keluarganya itu.
Buat aku tak masalah, mereka sudah bukan siapa-siapa aku lagi, aku tak punya kewajiban untuk memaksa mereka untuk menghormati aku dan keberadaan aku.
Usai bersalaman dan menikmati makanan para tamu satu persatu berpamitan dan meninggalkan gedung pernikahan kami. Tak terasa hari mulai senja, kini tinggal keluarga besar saja yang tinggal di gedung ini, mereka semua memanfaatkan acara ini untuk berkumpul dan ngobrol bertukar kabar, momen ini di gunakan untuk reuni kecil keluarga besar Mas Biyan yang begitu hangat sekali, semuanya begitu baik padaku, sejauh ini mereka semua tampak menerima aku dengan baik.
Tubuhku rasanya kaku sekali, pergelangan kakiku sudah sedari tadi begah rasanya, karena terlalu lama berdiri.
__ADS_1
Malika yang sedari tadi di ajak sembunyi sama Mbak Siti, kini dia sudah terlihat di hadapanku, dan begitu melihat aku bocah kecil itu menangis melengking, tangannya yang mungil itu sudah menunjuk ke arah di mana aku papanya berada.
" Mama-mama" serunya sambil menangis hingga tampak giginya yang baru tumbuh dua itu, begitu mengemaskan sekali.
Akhirnya aku tak tega melihat dia, dan memberi isyarat pada Mbak Siti untuk membawanya ke arahku.
Ketika sampai di depanku, bocah cantik itu berhenti menangis lalu mencebik ke arahku dan menatap lalu tangannya terulur ke arahku. Aku pun sudah tak sanggup melihat wajah mengemaskan itu aku raih tubuh mungil itu dan menggendong dengan sesekali aku ciumi di cekuk lehernya hingga membuat dia tertawa kegelian.
" Aduh kangen ya dek" Ucapku pada gadis mungil itu yang terlihat sangat bahagia sekali ketika aku sudah menggendong nya.
" Apa lagi bapaknya kangen banget seminggu tak ketemu sama Mamanya Dimas." Bisik pria yang sudah sah menjadi suamiku itu, dengan cara beratnya itu.
Mataku melotot ke arah Mas Biyan, sebab Mbak Siti masih ada di sebelah aku dengan menahan senyum, ketika mendengar pernyataan suamiku itu, betapa malunya aku dengan ucapnya yang selalu los tak pernah ada saringnya itu, Huft dasar Mas Biyan ini orangnya pemaksa sekali.
Akhirnya semua keluarga besar berangsur meninggalkan gedung pernikahan ini dan menuju kamar masing-masing, sebab kebanyakan keluarga besar Mas Biyan berasal dari luar pulau, jadi Mas Biyan memboking beberapa kamar untuk keluarga besarnya itu.
Setelah itu aku dan Mas Biyan di persilahkan untuk istirahat di kamar hotel yang sudah di pesan oleh mama mertua juga, malam pertama kami habiskan di hotel selama tiga hari dan selama tiga hari itu pula aku harus berpisah dengan Dimas dan Malika, jujur itu yang membuat aku tersiksa sekali, sebab kedua bocah itu tiap harinya tak pernah lepas dari pengawasan aku.
__ADS_1
" Kenapa tidak pulang saja Mas, lagipula rumah kitakan dekat, kasihan anak-anak." Ucapku kemudian, sebab aku tak tega ketika mengingat tadi Malika rewel ketika harus pisah sama aku, kalau Dimas anaknya penurut dia mau sama siapa saja asal orangnya baik pada Dimas.
" Sesekali Dek, ini kan hari istimewa kita, kamu juga butuh waktu untuk menyenangkan diri kamu sendiri Yank, sesaat lepaskan dulu pikiran kamu dari anak-anak kita, nikmati dulu malam pertama kita, mereka akan baik-baik saja kok kan ada mama yang bantuin Siti." Ucap Mas Biyan begitu lembut di dekat telingaku, hingga membuat bulu kuduku meremang seketika, aku menjadi lebih tegang dari sebelumnya, begitu sadar dan mengingat kalau aku ini sudah sah menjadi istrinya Mas Biyan yang super cool itu, begitu kata para karyawan dan rekan kerjanya itu, yang tak sengaja aku dengar dari Mama mertua dan saudaranya itu.