
" Lho Pak Biyan tidak apa-apa membawa mobil ini?" tanya Mitha yang nampak kebingungan, sambil mengambil Dimas dari pangkuan pria berparas tampan itu.
" Tidak apa-apa kok, lagian Malika tak akan rewel di sana, kan sudah ada Siti yang bisa mengendalikan ulah Niken." Ucap Pak Biyan dengan senyum tipis.
" Hm...atau kamu ga suka aku menyetir mobil ini hah? lebih suka Bimo yang membawa mobil ini?" crocos Biyan pada Mitha sambil menatap wanita itu lekat-lekat, sebab Biyan takut bila Mitha dan Bimo ada hati.
" Ah, t-tidak kok Pak maksud saya bukan begitu, malah Mitha tidak enak sama Bu Niken, beliau nanti pasti akan marah sama Bapak dan saya," Cicitnya, lalu Mitha menundukkan kepalanya, seperti biasa wanita cantik itu menggigit bibirnya kalau lagi gugup, dan membuat Abiyan menjadi gemas sendiri melihat kelucuan wanita yang sebentar lagi akan menjanda itu.
Sebab Biyan sudah mengurus semua berkas Mitha lewat pengacara keluarganya.
Memang beberapa bulan lalu Mitha tanya-tanya sama Biyan mengenai pengacara yang bisa membantu dia mengurus surat perceraian dengan Andra suaminya, secara Biyan seorang pengusaha, punya banyak relasi.
Dan saat itu juga Biyan menanggapinya dengan serius dan dengan cepat, lalu Abiyan meminta dokumen persyaratan yang di butuhkan.
Dan Mitha sudah memberikan dokumen-dokumen yang di perlukan pada Biyan, dengan cepat kilat Biyan mengurus lewat pengacara Perusahaan dan keluarganya, dia tak ingin berlama-lama melihat Mitha di gantung status nya sama suaminya yang brengs*k itu
" Tidur lah Mitha selagi Dimas tidur, perjalanan masih jauh, lumayan lho buat istirahat sejenak." Ucap Biyan dan matanya menatap Mitha dengan lembut.
" I-ia Pak, tapi bagaimana dengan Bapak saya tidak enak bila tidur sementara Bapak nyetir sendiri." Ucap Mitha dengan jujur.
" Aku Mah sudah biasa kok seperti ini, sudah kamu tidur saja dan jangan khawatir kan aku." Ucap Biyan sambil tersenyum manis pada wanita itu.
Tiga jam perjalan di tempuh, akhirnya sampai juga di kampung Siti, kampung yang letaknya di pelosok itu terlihat asri, hawa sejuk masih terasa walaupun hari menjelang siang.
Ibunya Siti yang sudah di bawa pulang nampak kegirangan melihat anak satu-satunya pulang bersama dengan duda tampan itu.
__ADS_1
Rumah Siti terlihat sederhana begitupun dengan rumah-rumah di sebelahnya, dindingnya hanya sebatas pinggang, dan selebihnya adalah papan saja yang menjadi dindingnya, masih banyak pepohonan besar mengitari sekeliling rumah-rumah di sana.
Rumah Siti cukup besar, ya maklum rumah kampung biasanya memang seperti itu, jarak antara rumah satu dengan yang lain cukup jauh.
Kerabat Siti yang tinggalnya di dekat rumah Siti ikut kalang kabut menyambut kedatangan Siti dan Bosnya itu, mereka tak menyangka Bosnya ikut menengok Ibunya Siti. Siti adalah salah satu kembang desa di kampung tersebut, Siti wanita yang lembut juga seperti Mitha, bedanya Siti hanyalah lulusan SMA sementara Mitha adalah seorang sarjana walaupun dia adalah orang kampung seperti Siti.
Dengan cepat keluarga Siti menyiapkan kamar untuk tamu mereka, serta makanan tradisional ala kampung setempat.
" Mas Biyan yakin mau menginap di sini?" bisik Niken dengan suaranya yang lirih.
Mata Niken sudah menyapu seluruh rumah milik keluarga Siti, dan melihat keadaan rumah Siti yang nampak sederhana itu membuat Niken tak bergeming, bahkan lantai rumahnya saja belum keramik, masih memakai alas plester biasa saja, Niken sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam pastinya sangat mencekam, apalagi tadi mereka sempat melewati hutan yang lumayan lebat, ngeri Niken membayangkan bila menjelang malam nanti, semua tak seperti dalam bayangan Niken, Niken dulu pernah ke kampung tetapi tak terlalu pelosok seperti rumah Siti ini.
Aku hanya bisa tersenyum dalam hati, semoga Niken tidak betah dan mengajak pulang, kalau sudah merengek dan mengajak pulang, maka Bimo yang akan aku andalkan, biar Bimo yang mengurusi cewek manja ini.
Biyan mendesah panjang." Oke, pulanglah bersama Bimo, aku ke sini untuk silaturahmi dengan orang tua Siti jadi aku tidak mau langsung pulang begitu saja, aku sudah memperingatkan padamu tetapi kamu tetap saja tak mendengar kan." Ucap Biyan dengan lirih dan penuh dengan penekanan.
Muka Niken berubah menjadi masam dan tak henti-hentinya wanita cantik dan sexy itu menggerutu, bibirnya manyun ke depan, beberapa kali tangannya mengibas karena kepanasan, pada hal cuaca sejuk walaupun hari menjelang siang.
Dan akhirnya Bimo pulang bersama dengan Niken, wanita itu benar-benar tak sanggup untuk tinggal lebih lama di sana, baru beberapa menit sudah mengeluh gerah apalagi sampai menginap, ah senang hati Biyan, dengan begitu Bimo juga tak dapat pdkt dengan Mitha.
Biyan akan lebih leluasa pdkt sama dengan pujaan hatinya itu, Biyan masih betah duduk di kursi teras depan, sambil menikmati secangkir kopi dan ubi rebus yang sudah di sajikan di atas meja, pria tampan nan menawan itu, dengan sabar menemani Dimas yang sedang bermain mobil-mobilan yang di bawa dari rumah tadi.
Sementara keluarga Siti masih sibuk di belakang, dan belum mengobrol bersama dengan mereka, sementara Mitha ikut Siti masuk ke kamar ibunya Siti sambil melihat keadaan wanita paruh baya itu.
Hari menjelang Mahrib, semua keluarga Siti berkumpul untuk makan bersama tamunya, rumah Siti cukup besar, maklum rumah kampung memenang terlihat besar. dan punya halaman yang luas.
__ADS_1
Ibu Siti yang masih lemah tak ikut makan bersama mereka, sebab keadaannya belum memungkinkan untuk berkumpul bersama.
Hanya kakak Siti dan keluarga lain ikut bersama makan di sana.
" Terimakasih banyak Pak Biyan atas kunjungannya ke sini, dan kami minta maaf tempatnya Siti memang seperti ini, tidak seperti di kota." Ucap Kakaknya Siti mengawali obrolan.
" Tak masalah Mas, saya malah suka di kampung seperti ini, udaranya masih bersih dan hawanya sejuk, tak seperti di kota." Balas Biyan dengan ramah.
" Mari Pak kita makan malam dulu, maaf ini hidangan ala kampung seadanya saja?" ucap Kakaknya Siti dengan ramah dan terlihat sungkan sekali.
" Saya malah suka seperti ini, sebab ini makanan langka susah nyarinya di kota." Ucap Biyan, lalu pria itu tersenyum sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Sambil sesekali membantu Dimas untuk makan, pria itu dengan telatennya menyuapi Dimas yang terlihat masih keteteran saat makan.
" Maaf Pak Biyan, biar saya urusi Dimas saja, Bapak makan dulu saja." Ucap Mitha yang baru saja keluar dari dalam, sambil menggendong Malika yang sudah terlelap setelah minum susu.
" Tidak apa-apa Mitha, sini kamu juga harus makan dong, dari tadi kamu juga belum makan, dan letakkan Malika di kasurnya, paling dia akan kebangun nanti tengah malam minta susu saja." Ajak Biyan pada wanita cantik itu, Biyan tahu kebiasaan Malika yang bangun tengah malam dan minum susu habis itu tidur lagi.
" Ia Pak," Ucap Mitha sambil tersenyum, lalu wanita cantik itu mendekat ke arah tikar yang sudah di gelar di lantai, lalu duduk di sebelah Dimas yang terlihat lahap menyantap makanannya.
Mitha tersenyum melihat anaknya lahap makan dengan ayam goreng kesukaannya itu, oleh-oleh yang di bawa mereka untuk keluarga Siti, di sajikan untuk lauk mereka.
Sementara Niken sudah pulang bersama dengan Bimo sebelum sholat Maghrib tadi, wanita sexy itu langsung mengajak pulang ketika melihat toilet Siti yang hanya satu saja dan di pakai ramai-ramai, membuat Niken jadi J*jik dan langsung meminta pulang tanpa Biyan mengusir dia, puas hati Biyan melihat Niken ngacir pulang.
Besuk Biyan akan pulang bersama dengan Mitha dan anak mereka, dan rencana Biyan akan mampir di obyek wisata, untuk menyenangkan kedua ibu dan anak tersebut.
__ADS_1