
Sementara itu Niken mengekori pria tampan itu di belakang dengan wajah yang terlihat kesal sekali, karena di cuekin sama Abiyan.
" Mas, aku juga ikut ke kampungnya Siti lho, aku mau ambil bajunya Mbak Nilam ya untuk ganti aku di sana." Ucap Niken ketika sampai rumah mewah milik Biyan.
Nilam adalah Istri Abiyan yang sudah meninggal, dan kakak dari Niken.
" Ga usah aneh-aneh kamu Niken, pulang saja sana, dari pada kamu nanti buat ribut di jalan, aku tidak mau kalau kamu malah merepotkan pemilik rumah, sebab aku nanti mau nginep di sana beberapa hari, dan kami ke sana bukan dalam rangka liburan tetapi mau menengok Ibunya Siti yang sakit." Balas Biyan yang tak suka iparnya itu mengekorinya ke mana-mana, Abiyan tahu betul siapa Niken, wanita itu beda jauh dengan sang istri, sifatnya manja, suka foya-foya dan seenaknya sendiri membuat Abiyan jengah.
" Lagian di kampung kamu nanti ga bisa tidur, banyak nyamuk, banyak tokek, terus ga ada AC lagi, mau kamu di gigit nyamuk dan tak bisa tidur karena kepanasan?" seru Biyan menakut-nakuti Niken, biar wanita cantik itu mengurungkan niatnya untuk ikut dirinya ke kampung.
" Ah masak sih Mas, trus kenapa Mas Biyan malah mau ke sana pakai acara nginep segala lagi, Mas ga takut apa nanti di gigit nyamuk?" Pertanyaan Niken sungguh menggelikan bagi Biyan, ini bocah tak kapok-kapoknya ya pergi sama aku, gerutu Biyan dalam hati.
" Ya kalau aku sih tidak apa-apalah di gigit nyamuk dan kepanasan sudah hal biasa kok, ga kaya kamu nanti malah ribut sendiri, pokoknya aku ga mau tahu nanti kamu malah merepotkan aku." Sambung Biyan dengan jujur, pria itu berucap tanpa harus menjaga hati wanita cantik di sebelahnya itu, perkataan Biyan selalu membuat kuping panas tetapi Niken tak pernah mau ambil pusing.
" Pokoknya aku harus ikut, titik." balas Niken yang sama sekali tak mau kalah.
" Terserah!! tetapi perlu aku ingatkan untuk bawa mobil sendiri, dan di sopir Bimo aku tidak mau nanti belum genap sehari kamu sudah ribut ngajak pulang, kalau kamu tidak mau ga usah ikut." Biyan memutuskan tanpa penolakan.
Mendengar pernyataan Abiyan membuat wanita itu merenggut kesal, wajahnya di tekuk sambil mengentak-hentakkan kakinya persis seperti anak kecil yang meminta di belikan kembang gula.
Abiyan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu pergi berlalu meninggalkan Niken di ruang tamu, lalu dengan cepat tubuh pria kekar itu melangkah menaiki tangga sambil menggendong Dimas di bahunya, sampai di lantai dua Abiyan membawa Dimas masuk ke dalam kamarnya.
Abiyan melekatkan lelaki kecil itu di atas sofa. " Duduk di sini dulu ya nak sambil nonton kartun, Om mau ganti baju." Ucap Abiyan dengan lembut.
Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum pada Pria tampan itu, lalu Abiyan meraih remote televisi untuk mencari acara kartun kesukaan Dimas, setelah itu Biyan meninggalkan Dimas yang tengah asik menonton televisi, sementara itu Biyan mandi dan berkemas-kemas menata semua keperluan dia di kampung nanti.
__ADS_1
Dimas sudah terbiasa dengan pria itu, Biyan pernah mengajak Dimas menginap di kamarnya dan sementara Malika tidur bersama dengan Mitha di rumah kontrakan miliknya, kala waktu itu Malika lagi sakit dan Siti lagi cuti pulang kampung, hanya Mitha yang bisa mengendalikan Malika yang suka uring-uringan bila sedang sakit, dan untuk Dimas ga rewel juga, lelaki kecil itu sungguh pengertian.
Dimas sepertinya sudah tak mengenal lagi yang namanya Andra sang ayah, Biyan menggantikan posisi Andra secara tidak langsung, bocah itu begitu dekat dengan Biyan, karena Biyan sering mengajak main bocah kecil itu, sementara Malika anteng bermain dengan Mitha maupun Siti.
***
Dalam perjalanan Abiyan mengemudi dengan muka yang murung, dalam hatinya menggerutu tak menentu sebab di sebelah dia ada Niken yang tengah asik dengan ponselnya, dan di kursi penumpang ada Siti yang tengah memangku Malika yang tertidur pulas.
Sementara Mitha bersama dengan Dimas berada di mobil yang di kendarai oleh Bimo, Bimo adalah sopir kantor Abiyan, pria itu masih muda dan usianya sebaya dengan Mitha, Biyan masih ingat apa yang di kata pak Ujang beberapa hari yang lalu bahwa Bimo itu suka sama Mitha, Bimo pernah mengutarakan perasaannya itu pada pak Ujang, bila Mitha jadi berpisah dengan suaminya, maka dengan senang hati Bimo akan melamar wanita cantik itu.
Itulah yang membuat Biyan jadi kesal, semuanya tak sesuai dengan rencana yang dia susun dari awal, ini semua gara-gara Niken yang harus ikut dalam perjalanan ke kampung Siti.
Ketika perjalanan mulai keluar dari jalur tol tiba-tiba ponsel Abiyan berdering, dan muncullah nama pujaan hati Abiyan, senyum mengembang di bibirnya, di gesernya ke atas ketika melihat tanda hijau di ponsel pria itu.
" Pak maaf nanti kalau ada pom bensin kita mampir dulu ya, sebab ini Dimas rewel mungkin pingin ke belakang, sebab tak biasa pakai pempes" Ucap Mitha di sebrang sana.
" Oke" Jawab Abi dengan singkat.
Ketika Mobil sport itu meluncur dari kejauhan Abiyan melihat tanda pom bensin di depan mereka, dengan sigap Abiyan membelokkan mobilnya ke arah pengisian bahan bakar itu, sekalian Biyan menyuruh Bimo untuk mengisi bahan bakar mobilnya.
Sementara Abiyan menyuruh Mitha keluar dari dalam mobil, dan mengambil Dimas dari gendongan wanita cantik berkerudung Pasmina itu.
" Bagaimana keadaannya?" tanya Biyan yang terlihat khawatir.
" Dia mengeluh sakit perut Pak." Ujar Mitha pada Biyan yang terlihat panik.
__ADS_1
" Dimas mau pipis Nak?" tanya pria itu dengan lembut, dan bocah kecil itu menggeleng kan kepalanya dan lalu menangis.
" Dimas mau apa sayang?" Tanya Biyan dengan sabar, agar bocah itu berhenti menangis.
Lalu Biyan dengan sigapnya menggendong dan menenangkan lelaki kecil itu dengan sabar.
" Mam... Om, mau ayam goleng" ucap bocah kecil itu dengan cedalnya, Abiyan terkekeh mendengar kepolosan bocah itu.
" Oke kita cari ayam goreng setelah ini, dah ya jangan nangis lagi ya, tapi pipis dulu yuk biar ga ngompol" Bujuk Biyan dengan lembut.
" Yeahh... " seru bocah kecil itu dengan polosnya, hanya mau ayam goreng saja membuat dia bahagia.
Mitha yang ada di sebelah Biyan sampai ingin menangis mendengar pernyataan jujur anaknya itu. ' Dimas kenapa juga tidak bilang sama ibu hanya untuk minta ayam goreng, dasar bocah bikin malu saja, lirih Mitha dalam hati, tetapi keharuan mitha membuat hatinya teriris dan matanya berkaca-kaca.
" Maaf ya Bapak, anak saya merepotkan." Ucap Mitha yang berdiri di sebelah pria itu sambil tertunduk malu.
" Udah Mit, namanya juga anak kecil ga masalah kok, dia cuma mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya." Ucap Biyan menasehati Mitha.
Setelah mengisi bahan bakar, dan mengisi perut dengan ayam goreng permintaan Dimas, terlihat Bimo dan Biyan ngobrol di luar, lalu setelah itu Bimo berjalan ke mobil sport milik Biyan, dan Biyan sendiri masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Bimo tadi.
Senang hati Biyan yang sudah bisa satu mobil bersama dengan Mitha, rasa sesak di dadanya sudah berkurang, bisa duduk di sebelah wanita idamannya itu.
Tadi ketika Mitha satu mobil dengan Bimo Biyan tak banyak bicara, wajahnya terlihat cemberut, sekarang wajah pria itu berseri-seri dan senyum tak lepas dari wajahnya yang tampan itu.
" Lho Pak Biyan tidak apa-apa membawa mobil ini?" tanya Mitha yang nampak kebingungan, sambil mengambil Dimas dari pangkuan pria tampan itu, Dan.
__ADS_1